KISAH - KISAH NABI |
1 . Nabi Adam A.S.
2. Nabi Idris A.S.
4. Nabi Hud A.S.
3. Nabi Nuh A.S.
|
Nabi Idris A.S.
Qabil yang telah membunuh adiknya memang sempat mengalami penyesalan. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Itulah kebiasaan manusia, penyesalan muncul belakangan, setelah melakukan kemungkaran atau kezaliman tanpa melalui proses pertimbangan. Apalagi kenyataannya Qabil tetap mengawini Iqlima, dibawa lari, diajak kawin lari, menjauhi kedua orang tua, Adam dan Hawa. Dari perkawinan Qabil dan Iqlima, akhirnya beranak pinak dalam jumlah banyak. Kepada keturunan Qabil inilah Idris ditugaskan Tuhan mengajak pada kebenaran. Idris adalah orang pertama yang menerima wahyu lewat Malaikat Jibril, ketika berumur 82 tahun. Tak ada informasi tentang lokasi pasti kehidupan Idris (hurmus al-Haramisah) yang ditugaskan untuk membenahi ahklak anak cucu Qabil ini. Ada yang menyebut daerah Munaf, Mesir namun ada pula yang menyebut Babilonia. Yang pasti Idris yang sejak kecil ngunduh ngilmu (elajar ilmu) dari Nabi Syits putra AdamA.S., kepadanya telah diturunkan wahyu kenabian (Lihat Q.S. Maryam: 56-576). Idris menurut riwayat dalam hadis Bukhari adalah kakenya bapak Nuh A.S. Berarti Idris merupakan generasi keenam dari Adam, mengingat Nuh sendirisebagai keturunan ke-10 dari Adam. Idris memiliki beberapa kelebihan alias mukjizat dari Tuhan: 1) Dia manusia pertama yang pandai baca tulis dengan pena. Kepada Idris-lah Tuhan memberikan 30 sahifah alias suhuf, lembaran-lembaran ajaran Tuhan, berisi petunjuk untuk disampaikan kepada umatnya. 2) Idris diberi bermacam-macam pengetahuan mulai dari merancak (merawat) kuda, ilmu perbintangan (falaq), sampai ilmu behitung alias matematika. 3) Bahkan, nama Idris sendiri berasal dari kata Darasa yang artinya belajar, yang dalam bahasa jawa disebut ndere. Idris memang sangat rajin nderes piwulang (mengkaji ajaran) Allah Ta'ala yang diturunkan kepada Adam dan Nabi Syits, bhkan yang langsung kepada dirinya. Dia rajin pula mengkaji fenomena alam semesta, yang semua merupakan ayat dan pertanda dari Tuhannya. 4) Idris juga sewbagai manusia perdana yang pandai memotong dan menjahit pakainnya. Orang-orang sebelumnya konon hanya mengenakan kulit binatang secara sederhana apa adanya untuk menjadi cancut (penutup) aurat alias alat vitalnya. Idris yang "rakus" pengetahuan sehari-hari memang sidibukkan oleh berbagai kepentingan, terutama nderes pawulangan, tapi dia tetap selalu ingat kepada Tuhan. Dengan berbekal pengetahuan yang mencapai kelengkapan, dengan kekuatan dan kehebatan yang mumpuni (piawai), Idris menjadi gagah berani tak takut mati, tak gentar kepada siapa saja, terutama dalam upaya menyadarkan keturunan Qabil-Iqlima yang penuh kesesatan. Dapat dipahami jika ia mendapat gelar kehormatan Asadul Usud alias "Singa di atas segala singa" dari Tuhan. Kepada kaumnya Idris diperintahkan memberantas kebiasaan melakukan kenistaan. Idris ditugaskan membenahi pekerti rendah, zalim terhadap sesama, suka permusuhan, serta berbuat kerusakan. Kepada keturunan Qabil, Idris menandaskan, iman kepada Allah bisa memberikan keberuntungan. "Untuk itu wahai kaumku," kata Idris, "Peganglah tali agama Allah, beribadalah hanya kepada Allah. Bebaskan diri dari azab akhirat dengn cara amal saleh dan kebajikan. Zuhudlah di dunia dan berlaku adil, mengerjakan salat sesuai dengan ajaran Tuhan. Berpuasa pada hari tertentu setiap bulan, jihad melawan musuh agama bikinan setan, serta keluarkan zakat dan sedekah membantu kaum papa dan kaum yang ditimpa kemalanga." Selain itu, Idris juga selalu menyatakan beberapa pesan kebajikan: a) salat mayit lebih sebagai penghormatan, karena pemberi syafat hanya Tuhan sesuai ukuran amal kebajikan, b) besarnya rasa syukur yang diucapkan, tetap tak akan mampu mengalahkan besarnya nikmat Tuhan yang diberikan, c) sambutlah seruan Tuhan secara ikhlas, untuk salat, puasa, maupun menaati semua perinth-Nya, d) hindari hasad alias dengki kepada sesama yang mendapat rizqi, karena hakekat jumlahnya tidaklah seberapa, e) menumpuk-numpuk harta tak ada manfaat bagi dirinya, f) kehidupan hendaknya diisi hikmah keijakan (simak: Ma'al anbiya' fil Qur'anil Karim: 78). ![]() |