DEEP LEARNING BERTUMBUH DI INDONESIA
Sebagaimana kita ketahui bahwa Deep Learning dikembangkan oleh Michael Fullan, Ph. D, Joanne Quinne, Joanne McEachen, Mag Gardner, dan Max Drummy. Ada tujuh negara yang menerapkan pendekatan pembelajaran Deep Learning ini, yaitu: Australia, Kanada, Finlandia, Belanda, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Uruguay.
Gagasan penerapan Deep Learning di Indonesia diusung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dari Kemendikdasmen Abdul Mu’thi. Deep Learning yang dikembangkan di Indonesia mengalami perubahan yang banyak dibanding gagasan semula (original knowledge) yang diimplementasikan di ketujuh negara tersebut.
Keduanya memiliki 4 layer. Deep Learning di ketujuh negara tersebut mengembangkan 4 layer. Layer yang pertama mendiskusi kompetensi global (global competencies) yang akan dibawa ke dalam ruang kelas, yang dikenal dengan 6C, yang meliputi: Citizenship (kewarganegaraan), Character (Karakter), Collaboration (Kolaborasi), Communication (Komunikasi), Critical Thinking (Penalaran Kritis), serta Creativity (Kreativitas). Citizenship dan Character ditambahkan terhadap 21st century skills (Kecakapan Abad 21) yang dulu populer dengan istilah 4C, yaitu: Collaboration (Kolaborasi), Communication (Komunikasi), Critical Thinking (Penalaran Kritis), serta Creativity (Kreativitas).
Layer di kemendikdasmen terdiri dari 4 layer. Layer pertama pembelajaran mendalam yang berisi delapan kompetensi. Layer kedua, Prinsip Pembelajaran, yaitu pembelajaran bermakna (meaningful learning), pembelajaran berkesadaran (mindful learning), dan pembelajaran menggembirakan (joyful learning). Layer ke tiga adalah merupakan pengalaman belajar yang meliputi memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Layer terakhir atau layer ke empat yaitu Kerangka Pembelajaran dengan layer 2 ke dua, Learning Design, yang dikembangkan oleh Michael Fullan dan kawan-kawan yaitu: Pedagogical Practices, Learning Environment, Learning Partnership, dan Leveraging Digital, yang di Kemendikdasmen diterjemahkan sebagai Praktek Pedagogogis, Lingkungan Pembelajaran, Kemitraan Pembelajaran, dan Pemanfaatan Digital.
Bagaimana pengembangan Deep Learning di Indonesia. Dari keenam kompetensi global yang ada, Indonesia (dalam hal ini Kemdikdasmen atau Puskurjar) hanya mengadopsi 4 hal saja, yaitu: Collaboration (Kolaborasi), Communication (Komunikasi), Critical Thinking (Penalaran Kritis), serta Creativity (Kreativitas). Indonesia hanya mengambil 21 century skills atau kecakapan abad 21 saja, yaitu: Collaboration (Kolaborasi), Communication (Komunikasi), Critical Thinking (Penalaran Kritis), serta Creativity (Kreativitas) ditambah dengan: Keimanan dan Ketakwaan Terhadap Tuhan YME, Kewargaan, Kesehatan, dan Kemandirian, sehingga menjadi delapan kompetensi yang perlu diusung dalam pembelajaran di kelas. Kedelapan kompetensi ini di kemendikdasmen dikenal dengan nama: Dimensi Profil Lulusan. Kedelapan hal ini nanti akan disandingkan secara selektif dengan tujuan pembelajaran (standard curriculum) yang ada.