Garam
dapur betul enak di lidah, tapi bikin badan rusak jika berlebihan.
Memang pantas kalau jadi garam dunia, tapi berapa sebetulnya tubuh
membutuhkan garam? Siapa saja yang perlu pantang garam ?
Dalam
hal mengonsumsi garam, tirulah orang Eskimo, warga Dayak atau Indian
Inca. Mereka nyaris tidak makan garam, tapi tetap bisa hidup. Menu
mereka cenderung hambar, namun tidak ada yang kurang dalam kelangsungan
kerja mesin tubuhnya. Dan memang seperti itulah yang sesungguhnya tubuh
kita butuhkan. Maka jangan sering masuk restoran Cina atau India kalau
lagi pantang garam. Menu asin terbentuk lebih karena budaya orang urban
manakala rasa enak garam dapur orang temukan. Budaya doyan garam begini
yang tanpa disadari telah merongrong ginjal orang-orang di dunia untuk
bekerja lebih keras membuang kelebihan natrium (sodium) dari garam yang
ditelan setiap hari. Padahal, tubuh tidak memerlukan garam sebanyak
kebiasaan budaya makan kita. Kita rata-rata menelan lima-enam kali lipat
kebutuhan garam tubuh dari menu harian.
Garam
dikenal identik dengan penyakit darah tinggi. Itu sebab bukan cuma orang
gedongan yang bisa kena darah tinggi, jika masih banyak rakyat kecil
yang menu hariannya lagi-lagi ikan asin.
Kabupaten
Bogor konon menghabiskan puluhan ton ikan asin sehari. Pada saat yang
sama kita mudah menghitung banyaknya kasus warga desa yang darah tinggi.
Bisa jadi gara-gara konsumsi garam yang berlebihan dari ikan asin sejak
usia kanak-kanak.
Memang
betul enak punya istri orang Sunda. Katanya dilepas di kebun saja sudah
bisa hidup, sebab menunya lalap dan sambal doang. Namun, kalau tambahan
lauknya adanya cuma ikan asin, istri tersayang bisa sekonyong-konyong
berubah menjadi istri malang, sebab baru kawin tiga tahun saja sudah
galak dan doyan mengomel. Ikan asin bikin istri darah tinggi.
Garam
Tersembunyi
Dalam
garam dapur terkandung unsur sodium dan chlor (NaCl). Unsur sodium
penting untuk mengatur keseimbangan cairan di dalam tubuh, selain
bertugas dalam transmisi saraf dan kerja otot.
Kita
boleh tidak makan garam, asal ada sodium dalam menu harian. Banyak menu
harian yang menyimpan sodium dan itu sudah bisa mencukupi kebutuhan
tubuh. Namun, oleh karena sodium yang secara alami terkandung dalam
bahan makanan tidak berikatan dengan chlor, tak memberi cita rasa asin
pada lidah kita.
Itu
berarti, kendati menu yang kita konsumsi tanpa garam atau tak bercita
rasa asin, tidak bermakna tubuh tak memperoleh kecukupan sodium. Walau
tidak terasa asin, daging sapi, sarden, keju, roti jagung, dan keripik
kentang kaya unsur sodium. Demikian pula kebanyakan menu harian orang
Eskimo, Dayak dan Indian yang tidak asin namun tubuh tidak kekurangan
sodium.
Jadi
sebetulnya lidah kitalah yang sudah dirusak oleh budaya makan asin,
sehingga cenderung salah memilih menu yang sesuai dengan yang tubuh
butuhkan. Dan rasa asin memang meningkatkan cita rasa menu alami. Garam
di meja makan kita bukti tradisi bahwa tuntutan lidah orang modern
cenderung merasa menunya kurang asin.
Kurang
dari Tujuh Gram
Tubuh
membutuhkan kurang dari tujuh gram garam dapur sehari atau setara dengan
3.000 mg sodium. Kebanyakan menu harian kita memberi berlipat-lipat kali
lebih banyak dari itu. Selain meninggikan tekanan darah, kerja ginjal
jadi jauh lebih berat untuk membuangnya. Jika sangat berlebihan bisa
bikin pikiran kacau dan jatuh koma.
Satu
sendok teh garam dapur berisi 2.000 mg sodium. Sodium yang
terkandungdalam setiap menu modern rata-rata sekitar 500 mg. Pada
takaran itu ginjal sudah perlu lembur untuk tetapmempertahankan
keseimbangan cairan dan asam-basa agar mesin tubuh tak kacau dari
penyakit akibat kelebihan sodium tidak sampai muncul.
Jenis
makanan yang banyak mengandung sodium, antara lain, soda kue, bubuk soda
sebagai pengawet, obat pencahar (laxative), menu yang dipanggang, keju,
makanan kaleng dan laut (seafood), serta padi-padian (cereals). Bagi
yang pantang garam, juga perlu menjauhi jenis sumber sodium tinggi ini.
Jenis
makanan yang rendah sodium, antara lain, buah dan sayur-mayur segar,
daging dan unggas segar, jenis cereals dan gandum yang dimasak. Di
kawasan Uni Eropa sekarang ini ada ketentuan labelisasi produk untuk
beberapa jenis makanan yang tinggi sodium, agar konsumen tidak terjebak
mengonsumsinya secara berlebihan. Di antaranya, aneka jenis saus, ikan
yang sudah diproses, roti, sup, bumbu bergaram (MSG), dan sekarang
termasuk juga semua jenis makanan bayi (dulu garam dapur bukan tergolong
bahan tambahan dalam makanan atau food additive).
Bukan
cuma darah tinggi, orang yang mengidap penyakit jantung dan tungkainya
bengkak, perlu membatasi asupan sodium juga. Begitu juga jika mengidap
penyakit ginjal, keracunan kehamilan (toxemia gravidarum), dan gangguan
hati. Termasuk mereka yang sedang menjalani terapi dengan obat golongan
corticosteroid (pasien asam kena penyakit autoimmune, kulit, ginjal
nephritic syndrome).
Selain
itu, banyak gangguan yang meninggikan kadar sodium dalam darah
(hypernatremia), seperti pada penyakit diabetes insipidus (kencing
terus), gagal ginjal menahun, kelebihan zat kapur (hypercalcemia), atau
kekurangan kalium (hypokalemia), termasuk jika tubuh kehilangan cairan
seperti pada banyak berkeringat, diare, dan penyakit kurang minum
(gangguan rasa haus). Dan tentu banyak makan garam, tanpa dibarengi
kecukupan minum.
Namun,
jika pantang garam kelewat ketat bisa berbahaya juga. Kekurangan sodium
dan chlor secara drastis bisa menjadi beban lain bagi ginjal, dengan
gejala pembengkakan (oedema) juga. Kaki bengkak lantaran penyakit
jantung, hati, atau ginjal, berbeda dengan bengkak sebab kekurangan
sodium.
Yang
pantang sodium dibagi menjadi pantang ketat, cukup 500 gram sodium
setara dengan 1,5 gram garam dapur, pantang sedang 800 gram (2 gram),
dan pantang ringan 2.000 gram (5 gram). q
Dr.
Handrawan Nadesul, Dokter Umum