|

Artikel Kesehatan
Artikel Seputar MLM
Artikel Pengembangan Diri
Artikel Lain-lain



Sponsor
Anda :



|

Makin banyak produk suplemen di pasar bebas terutama suplemen serat, telah mendorong kalangan medis untuk membahasnya secara khusus. Mereka menilai, kebutuhan terhadap serat memang tidak bisa dikesampingkan karena dapat menekan adanya serangan berbagai penyakit.
"Peningkatan kemakmuran suatu bangsa menyebabkan peningkatan pada prevalensi gizi lebih. Dengan demikian, masyarakat cenderung mengabaikan untuk mengonsumsi sayur dan buah-buahan. Padahal, selain sebagai sumber vitamin dan mineral kedua jenis itu, juga sebagai sumber serat dan anti oksidan," kata Prof. Dr. Dedi Muchtadi, ahli pangan dari IPB di Jakarta.
Menurutnya, sejumlah penyakit seperti jantung koroner, obesitas, dan diabetes telah menanti mereka yang rendah mengonsumsi serat pangan, namun mengonsumsi makanan berkalori dan berlemak tinggi. "Serat itulah yang mampu mengurangi kadar kolesterol dalam plasma darah," ujarnya. Dalam diskusi yang digelar di aula Fakultas Kedokteran UI juga menampilkan Farmakolog FKUI Dr. Purwantyastuti dan Dr. pengajar FKUI Elvina Karyadi, M.Sc., Ph.D.
Dedi mengatakan bahwa data peneliti Inggris Burkitt dan Trowell beberapa tahun lalu menunjukkan, penduduk di pedalaman Afrika yang mengonsumsi lebih banyak makan serat lebih kebal dari penyakit jantung, obesitas dan kanker usus daripada penduduk negara maju.
Selain sayur, buah, sereal, serta biji-bijian, lanjutnya, kebutuhan serat bisa terpenuhi plantago ovata dan inulin chicory yang terkandung dalam suplemen serat yang dijual di pasar bebas. Serat juga berfungsi sebagai prebiotik yang akan menstimuli pertumbuhan bakteri asam laktat.
Ketika ditanya apakah suplemen serat yang bisa beredar di pasar bisa mengganti fungsi serat pangan, Dedi mengatakan, sebaiknya diusahakan mengonsumsi serat alami. Meski demikian, suplemen serat bisa menjadi alternatif pengganti. Dr. Elvina Karyadi menyatakan bahwa inulin yang bisa ditemukan pada suplemen serat memiliki fungsi penting dalam pencernaan. Hal ini mampu meningkatkan frekuensi buang air besar dan meningkatkan volumenya pada pasien konstipasi atau mereka yang mengalami susah buang air besar.
Sementara itu, Dr. Purwantyastuti mengingatkan masyarakat agar selektif dalam memilih serat suplemen yang beredar di pasaran. Masyarakat harus memastikan apakah suplemen serat tersebut sudah lolos uji klinis atau belum. "Suplemen serat yang sudah melewati hasil uji klinis dipersilakan mengklaim dapat mencegah dan mengobati penyakit. Sedangkan yang belum, tentu hanya bisa mengklaim menjaga kesehatan dan menurunkan risiko munculnya penyakit."
Ahli jantung dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Dr. Fadillah Supari membenarkan pernyataan Purwantyastuti. "Masyarakat juga harus memerhatikan aturan pakai yang normal," ujarnya. Seperti diketahui, Fadillah tahun lalu telah melakukan uji klinis terhadap suplemen serat dengan mengambil sampel suplemen yang banyak dikonsumsi masyarakat. Hasilnya, suplemen serat tersebut berguna untuk tubuh dan memang tidak memiliki efek samping.q
Harian
Pikiran Rakyat
|