Halaman DepanArtikelTanya JawabKontak Kami

Global Network Marketing


IndoBanner Exchanges
 
Profil PerusahaanMarketing PlanProduk TianshiDaftar TianshiSupport TianshiBerita Tianshi
 

Artikel

Artikel Kesehatan

Artikel Seputar MLM

Artikel Pengembangan Diri

Artikel Lain-lain

 

 

 

 

 

Sponsor Anda :

Sponsor Anda

 

 

Formula Bisnis

 

 

Make Money While Online

 

 

Toko Buku Online

 

Dalam buku bertajuk Mematahkan Belenggu Motivasi (Gramedia, 1999) telah saya uraikan pandangan yang mengatakan "gagal itu penting". Dengan berbagai contoh nyata, saya berusaha mengajak pembaca untuk menyikapi kegagalan secara lebih 'proporsional' dalam arti tidak melulu bermakna negatif. Sebaliknya kegagalan justru bermakna sangat positif jika dipahami dengan menggunakan akal dan nurani yang sehat. 


Kegagalan menjadi sesuatu yang benar-benar penting dan kita perlukan jika kita dapat memahami hal-hal berikut. Pertama, kita belum gagal, kecuali bila kita memutuskan untuk berhenti berusaha (Contoh: Colonel Sanders, Werner von Braun, dan Zainal Arifin). Kedua, kita belum gagal jika masih ada hari esok yang memungkinkan kita untuk mencoba lagi (Contoh : Kuntoro Mangkusubroto, Cacuk Sudarijanto, William Soeryadjaya, A.H. Nasution, dan Goenawan Muhammad). Ketiga, kita belum gagal jika kita menerima kebelumberhasilan sebagai umpan balik (feedback) untuk memfokuskan usaha selanjutnya (Contoh: Ade Padillah). Keempat, kita belum gagal jika kebelumberhasilan kita tanggapi dengan selera humor yang tinggi (Contoh: Gus Dur dan Cak Nun). Kelima, kita belum gagal, jika kebelumberhasilan kita anggap bagian dari pengalaman hidup untuk lebih bijak, beriman dan bertakwa. Keenam, kita belum gagal bila kebelumberhasilan kita terima sebagai jalan yang memang harus dilalui untuk sampai pada suatu berhasil (Contoh: Thomas Alva Edison dan Walt Disney). Ketujuh, kita belum gagal, jika kita sadar bahwa tak ada yang abadi di dunia ini, kegagalan pun tidak.

Lewat pemahaman seperti itu, kita dapat belajar untuk menyikapi kegagalan tanpa harus menjadi putus asa atau kehilangan harapan. Bahkan lebih dari itu, kegagalan--seperti juga kemiskinan dan kebodohan yang disadari--dapat menjadi pemicu semangat dan pembangkit motivasi juang.

Bagi saya sendiri, yang terpenting dari suatu pengalaman--entah itu disebut kegagalan ataupun keberhasilan, dan baik yang dialami sendiri atau pun dipetik dari orang lain--adalah apa yang bisa kita pelajari dari hal itu. Dan sepanjang kita belajar sesuatu, maka pengalaman itu menjadi penting. Pengalaman yang tidak membuat kita belajar, itulah satu-satunya hal yang saya anggap kegagalan yang sesungguhnya.

Dengan menawarkan "cara" memaknai kegagalan (juga 'kesalahan') seperti di atas, saya sesungguhnya mengajak pembaca untuk menggunakan potensi dirinya sebagai homo significant (mahluk pemberi makna). Hal ini merupakan salah satu keunggulan manusia dibandingkan dengan binatang. Binatang tidak bisa, dan memang tidak diciptakan dengan kemungkinan untuk mampu memberikan makna terhadap peristiwa yang dialaminya. Binatang tidak mempunyai the power of choice sebab mereka tidak memiliki kesadaran diri, tidak memiliki iman dan nurani, tidak memiliki akal budi, tidak mampu berimajinasi, dan seterusnya.

Ada cerita tentang seekor anak gajah yang diikat kakinya dengan rantai besi yang dililitkan pada sebuah pohon besar. Awalnya, gajah itu berusaha melepaskan diri berulang kali, sampai akhirnya 'sadar' bahwa usahanya itu sia-sia belaka. Setelah cukup lama, lilitan pada pohon itu dilepaskan, meski rantainya tetap menempel di kaki sang gajah. Apa yang terjadi? Anak gajah itu tetap ditempatnya. Ia terpenjara oleh pengalaman masa lalunya (semacam trauma psikologis). Ia dibelenggu oleh 'kegagalannya'.

Manusia bukan gajah. Namun, bila pengalaman negatif (yakni kegagalan) di masa lalu membelenggu hidupnya, maka ia dapat 'menyerupai' gajah tersebut. Sebab bila seseorang sudah bebas (masa lalu sudah lewat, bukan?) tetapi merasa masih terbelenggu oleh banyak trauma masa lalu, maka bagaimana mungkin ia dapat bergerak maju ke arah yang diinginkannya?

Aplikasi di Bisnis MLM
Saya menyadari sepenuhnya bahwa mencapai peringkat papan atas di bisnis MLM bukanlah hal yang mudah. Kalau ada yang mengatakan sebaliknya, maka kemungkinan besar ia berdusta. Atau ia sesungguhnya tidak terlibat dalam bisnis MLM, tetapi dalam usaha tercela skema piramid dan seribu wajah money game (termasuk arisan berantai di internet) berkedok bisnis MLM.

Celakanya, meski bukan tanpa tujuan, masih saja ada para distributor MLM yang berusaha melakukan perekrutan dengan janji-janji muluk yang melahirkan harapan-harapan yang tidak realistis. Bisnis MLM dikesankan sebagai bisnis yang dapat membuat orang malas menjadi kaya seketika, nyaris tanpa usaha nyata.

Mengapa harapan-harapan yang tidak realistis itu ditawarkan? Bisa jadi karena pengalaman pribadi yang bersangkutan mengatakan bahwa hanya dengan cara demikian mereka akan dapat menarik calon distributor baru (atau ia dulu tertarik dengan bisnis MLM karena iming-iming semacam ini). Dengan kata lain, tanpa trik dan siasat semacam itu, mereka merasa akan 'gagal' merekrut. Ini berarti mereka terjebak pada pengalaman (negatif) masa lalu.

Pertanyaannya adalah apakah dengan iming-iming dan janji-janji muluk itu hasilnya benar-benar akan lebih baik? Saya meragukannya. Sebab janji-janji muluk adalah janji-janji yang tidak mungkin ditepati. Dan bila janji tidak ditepati, maka harapan-harapan yang tidak realistis itu beralih wujud menjadi sikap antipati. Itu sebabnya beberapa (banyak?) mantan distributor MLM justru sangat anti MLM. Mereka merasa ditipu, dimanipulasi, dimanfaatkan, dan dibohongi.

Adalah lebih baik, jika usaha merekrut calon distibutor baru itu disertai dengan ajaran untuk tidak takut gagal. Tanyakan pada calon distributor baru itu pertanyaan-pertanyaan cerdas seperti: "Apakah Anda seorang penakut?" dan "Apakah Anda takut gagal dalam berusaha?" Jika ia menjawab "Tidak!", maka undang dia untuk menghadiri presentasi. Katakan bahwa Anda punya bisnis yang menarik untuk orang pemberani seperti dirinya.

Bagaimana jika jawabannya "Ya"? Usul saya, tetaplah mengundangkannya untuk menghadiri presentasi. Katakan bahwa Anda ingin menawarkan bisnis yang memberi jawaban terhadap ketakutan semacam itu.

Dengan cara semacam itu calon distributor baru sejak awal sudah dipersiapkan untuk belajar memaknai kegagalan secara 'proporsional'. Jika ia belajar sungguh-sungguh, maka ia akan menjadi orang yang tidak mudah putus asa atau patah semangat. Dan --yang mungkin lebih penting adalah--Anda tidak 'menjual' dusta yang selalu berakhir dengan malapetaka. Bukankah demikian?
q  Andrias Harefa

 

Back

Next

 

  Copyright © 2003 Tianshi - Global Network Marketing

Situs ini bukanlah situs resmi dari Tianshi ataupun PT Singa Langit Jaya. Situs ini dibuat untuk mempermudah mereka yang ingin bergabung serta mendapatkan informasi penting agar dapat mengembangkan jaringan bisnis mereka dengan cepat.

Creative Design By :

MassGoeh Multimedia

Hosted by www.Geocities.ws

1