Ada
banyak cara untuk memotivasi orang lain mencapai sasaran atau
menyelesaikan suatu tugas maupun mengatasi persoalan atau tantangan yang
dihadapinya. Salah satu karakteristik utama yang harus dimiliki oleh
seorang pemimpin adalah kemampuannya untuk memotivasi orang lain dalam
mencapai tujuan atau misi dari organisasinya. Seorang pemimpin yang
tidak mampu memotivasi orang-orangnya, tidak lebih dari seorang penunjuk
jalan, yang tahu ke mana harus pergi tetapi sepenuhnya tidak dapat
mengendalikan mereka yang dipandunya.
Jenderal Norman Schwarzkopff,
pemimpin Sekutu semasa Perang Teluk menunjukkan bahwa seorang pemimpin
dalam militer yang memiliki wewenang untuk memaksakan kepatuhan,
biasanya adalah seorang motivator yang buruk. Pada prinsipnya, jika kita
selalu menggunakan pendekatan kekuasaan untuk memaksa orang lain
melakukan sesuatu, maka organisasi kita tidak akan bertahan lama. Jika
ada sedikit kesempatan, maka orang-orang dalam organisasi kita akan
keluar atau paling tidak kinerja (performance) mereka jauh dari yang
kita harapkan. Banyak sekali organisasi atau perusahaan mengalami
turnover yang besar karena pegawainya tidak memiliki motivasi yang
benar.
Hubungan Motivasi dengan Emosi
Kemampuan seorang pemimpin untuk
memotivasi anggota timnya sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosinya
(EQ-nya). Ada 6(enam) keterampilan yang perlu dimiliki oleh seorang
pemimpin, sebelum dia dapat memimpin orang lain, yaitu:
|
1. |
Mengenali
emosi diri
Keterampilan ini meliputi kemampuan kita untuk
mengidentifikasi apa yang sesungguhnya kita rasakan. Setiap kali suatu
emosi tertentu muncul dalam pikiran, kita harus dapat menangkap pesan
apa yang ingin disampaikan. Ketidakmampuan untuk mengenali perasaan
membuat kita berada dalam kekuasaan emosi kita, artinya kita kehilangan
kendali atas perasaan kita yang pada gilirannya membuat kita kehilangan
kendali atas diri dan hidup kita.
|
|
2. |
Mengelola emosi diri sendiri
Ada
beberapa langkah dalam mengelola emosi diri sendiri, yaitu: pertama
adalah menghargai emosi dan menyadari dukungannya kepada kita. Kedua
berusaha mengetahui pesan yang disampaikan emosi, dan meyakini bahwa
kita pernah berhasil menangani emosi ini sebelumnya. Ketiga adalah
dengan bergembira kita mengambil tindakan untuk menanganinya. Kemampuan
kita mengelola emosi adalah bentuk pengendalian diri (self controlled)
yang paling penting dalam manajemen diri, karena kitalah sesungguhnya
yang mengendalikan emosi atau perasaan kita, bukan sebaliknya.
|
|
3. |
Memotivasi diri sendiri
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan
merupakan hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian,
untuk memotivasi diri sendiri (achievement motivation). Kendali diri
emosional – menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan
hati – adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang.
Keterampilan memotivasi diri memungkinkan terwujudnya kinerja yang
tinggi dalam segala bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini
cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apa pun yang mereka
kerjakan.
|
|
4. |
Mengenali emosi orang lain
Mengenali emosi orang lain
berarti kita memiliki empati terhadap apa yang dirasakan orang lain.
Penguasaan keterampilan ini membuat kita lebih efektif dalam
berkomunikasi dengan orang lain. Inilah yang disebut Covey sebagai
komunikasi empatik. Berusaha mengerti terlebih dahulu sebelum
dimengerti. Keterampilan ini merupakan dasar dalam berhubungan dengan
manusia secara efektif.
|
|
5. |
Mengelola emosi orang lain
Jika keterampilan
mengenali emosi orang lain merupakan dasar dalam berhubungan
antarpribadi, maka keterampilan mengelola emosi orang lain merupakan
pilar dalam membina hubungan dengan orang lain. Manusia adalah makhluk
emosional. Semua hubungan sebagian besar dibangun atas dasar emosi yang
muncul dari interaksi antarmanusia. Keterampilan mengelola emosi orang
lain merupakan kemampuan yang dahsyat jika kita dapat mengoptimalkannya.
Sehingga kita mampu membangun hubungan antarpribadi yang kokoh dan
berkelanjutan. Dalam dunia industri hubungan antarkorporasi atau
organisasi sebenarnya dibangun atas hubungan antarindividu. Semakin
tinggi kemampuan individu dalam organisasi untuk mengelola emosi orang
lain (baca: membina hubungan yang efektif dengan pihak lain) semakin
tinggi kinerja organisasi itu secara keseluruhan.
|
|
6. |
Memotivasi orang
lain
Keterampilan memotivasi orang lain adalah kelanjutan dari
keterampilan mengenali dan mengelola emosi orang lain. Keterampilan ini
adalah bentuk lain dari kemampuan kepemimpinan, yaitu kemampuan
menginspirasi, mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk mencapai
tujuan bersama. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan membangun kerja
sama tim yang tangguh dan handal.
|
Ada 3(tiga) Jenis Motivasi
Jadi
memotivasi orang lain, bukan sekadar mendorong atau bahkan memerintahkan
seseorang melakukan sesuatu, melainkan sebuah seni yang melibatkan
berbagai kemampuan dalam mengenali dan mengelola emosi diri sendiri dan
orang lain. Paling tidak kita harus tahu bahwa seseorang melakukan
sesuatu karena didorong oleh motivasinya. Ada tiga jenis atau tingkatan
motivasi seseorang, yaitu:
Pertama, motivasi yang didasarkan atas
ketakutan (fear motivation). Dia melakukan sesuatu karena takut jika
tidak maka sesuatu yang buruk akan terjadi, misalnya orang patuh pada
bos karena takut dipecat, orang membeli polis asuransi karena takut jika
terjadi apa-apa dengannya, anak-istrinya akan menderita.
Kedua adalah
motivasi yang karena ingin mencapai sesuatu (achievement motivation).
Motivasi ini jauh lebih baik dari motivasi yang pertama, karena sudah
ada tujuan di dalamnya. Seseorang mau melakukan sesuatu karena dia ingin
mencapai suatu sasaran atau prestasi tertentu.
Ketiga adalah motivasi
yang didorong oleh kekuatan dari dalam (inner motivation), yaitu karena
didasarkan oleh misi atau tujuan hidupnya. Seseorang yang telah
menemukan misi hidupnya bekerja berdasarkan nilai (values) yang
diyakininya. Nilai-nilai itu bisa berupa rasa kasih (love) pada sesama
atau ingin memiliki makna dalam menjalani hidupnya. Orang yang memiliki
motivasi seperti ini biasanya memiliki visi yang jauh ke depan. Baginya
bekerja bukan sekadar untuk memperoleh sesuatu (uang, harga diri,
kebanggaan, prestasi) tetapi adalah proses belajar dan proses yang harus
dilaluinya untuk mencapai misi hidupnya.
Dalam buku The One Minute
Manager, kedua penulis (Kenneth Blanchard dan Spencer Johnson) merangkum
topik bahasan kita mengenai motivasi ini dalam sebuah ilustrasi yang
amat menarik mengenai Manajer Satu Menit. Untuk menjadi manajer yang
efektif dan dapat memotivasi anak buah untuk mencapai sasaran
perusahaan, maka ada tiga hal yang harus dilakukan.
Pertama adalah
membangkitkan inner motivation dari orang yang dipimpinnya dengan
menetapkan berbagi misi atau sasaran yang akan dicapai. Kita sebagai
pemimpin perlu berbagi dengan tim kita untuk secara bersama melihat visi
secara jelas dan mengapa kita melakukannya. Motivasi yang benar akan
tumbuh dengan sendirinya ketika seseorang telah dapat melihat visi yang
jauh lebih besar dari sekadar pencapaian target. Sehingga setiap orang
dalam organisasi kita dapat bekerja dengan lebih efektif karena didorong
oleh motivasi dari dalam dirinya.
Hal kedua dan ketiga yang perlu
dilakukan oleh seorang manajer efektif adalah memberikan pujian yang
tulus dan teguran yang tepat. Kita dapat membuat orang lain melakukan
sesuatu secara efektif dengan cara memberikan pujian, dorongan dan
kata-kata atau gesture yang positif. Bahkan dalam bukunya yang
melegenda.
Dale Carnegie (How to Win Friends and Influence People)
menempatkan ini sebagai prisip pertama dan kedua dalam menangani
manusia, yaitu: (1) jangan mengkritik, mencerca atau mengeluh, dan (2)
berikan penghargaan yang jujur dan tulus.
Manusia pada prinsipnya tidak
senang dikritik, dicemooh atau dicerca, tetapi sangat haus akan pujian
dan apresiasi. Tetapi kritik atau teguran yang tepat seringkali justru
diperlukan untuk membangun tim kerja yang kokoh dan handal. Yang penting
dalam menegur orang lain adalah bukan pada apa yang kita sampaikan
tetapi cara menyampaikannya. Teguran yang tepat justru dapat menjadi
motivasi dan menimbulkan reaksi yang positif.
Penelitian yang dilakukan
dalam lima puluh tahun terakhir menunjukkan bahwa motivasi kerja tidak
semata didasarkan pada nilai uang yang diperoleh (monetary value).
Ketika kebutuhan dasar (to live) seseorang terpenuhi, maka dia akan
membutuhkan hal-hal yang memuaskan jiwanya (to love) seperti kepuasan
kerja, penghargaan, respek, suasana kerja , dan hal-hal yang memuaskan
hasratnya untuk berkembang (to learn), yaitu kesempatan untuk belajar
dan mengembangkan dirinya. Sehingga akhirnya orang bekerja atau
melakukan sesuatu karena nilai, ingin memiliki hidup yang bermakna dan
dapat mewariskan sesuatu kepada yang dicintainya (to leave a legacy). q