Sepintas
fenomena takut sukses hanya pantas diberikan kepada orang yang tidak
waras mengingat semua orang normal pasti menginginkan kesuksesan. Tetapi
tidak demikian menurut temuan professor Schein yang hasil temuannya
pernah dipublikasikan di Sloan Management Review (dalam The Interactive
manager: 1995). Menurut Schein justru yang paling banyak menderita rasa
takut sukses adalah orang normal.
Takut
sukses adalah fenomena di mana pikiran, perasaan, dan keyakinan kita
hanya bekerja untuk menghindari kemungkinan gagal dan titik. Jika
kemudian "menghindari ini" dikatakan takut sukses karena
kegagalan adalah jalan tunggal menuju kesuksesan. Sejauh apapun orang
bisa menghindari kegagalan tetapi penghindaran itu tidak akan
memperdekat dia seinci pun dengan kesuksesan. Berdasarkan pengalaman
orang sukses dapat disimpulkan bahwa jika anda ingin menemukan
kesuksesan tanpa kegagalan, percayalah hal itu hanya akan anda temukan
di kamus.
Selain
tidak memperdekat, menghindari kegagalan juga akan membuat kita menerima
apa yang kita hindari sesuai hukum alam daya tarik bekerja. Kita akan
menjadi sosok yang mendominiasi muatan pikiran atau apa yang
mendominiasi muatan pikiran akan menarik sesuatu untuk terjadi. Kalau
yang mendominasi adalah kegagalan, maka kegagalan itulah yang akan kita
terima. Disadari atau tidak, rasa takut sukses telah membatasi kita
untuk bergerak maju. Kita takut kehilangan pekerjaan tetapi yang kita
lakukan adalah menghindari usaha memperbaiki. Kita takut dibilang tidak
sosialis tetapi yang kita lakukan adalah menghindari menjadi orang
kreatif di tempat kerja. Dengan praktek menghindar demikian maka
logislah kalau dikatakan takut sukses.
Penyebab
Ada
dua alasan yang mendorong orang menghindari kegagalan. Alasan pertama
adalah ketakutan (menghindari) karena diri sendiri dan alasan kedua
adalah ketakutan karena orang lain. Menghindari kegagalan karena diri
sendiri disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
|
1. |
Kebiasaan.
Orang
yang tidak biasa menjalani gagasan orisinil dari dirinya ke
tindakan nyata cenderung punya definisi lebih sempit tentang
kegagalan di banding orang yang sudah biasa melakukan proses
transformasi dari ide ke tindakan nyata. Kata: "Bisa karena
biasa" mungkin cocok untuk menggambarkan hal ini. Para
pengusaha yang sudah kenyang dengan asam-garam untung dan rugi
pada umumnya lebih berani menghadapi kegagalan.
|
|
2. |
Kemauan.
Orang
yang memiliki dorongan berprestasi kuat lebih berani menghadapi
risiko kegagalan oleh dirinya ketimbang orang yang memilih untuk
menjadi orang "biasa-biasa" atau "baik-baik"
saja. Dorongan berprestasi adalah kekuatan mendobrak dari predikat
"baik-baik saja" menjadi baik (good) kemudian menjadi
besar (great) atau bergerak dari eskalasi mentalitas mengambil (to
take), mendapatkan (to get) ke menciptakan (to create).
|
|
3. |
Kemampuan.
Orang
yang tidak memiliki pengetahuan akurat tentang diri, orang lain,
dan keadaan yang terjadi di sekitarnya secara otomatis lebih
terdorong untuk menghindari kegagalan. Sebaliknya orang yang
memiliki pengetahuan akurat tentang diri, orang lain dan
lingkungan sekitarnya akan bisa memprediksikan apa yang akan dia
hadapi sehingga siap jika harus gagal. Dalam strategi peperangan,
Sun Tzu mengatakan, kalau anda memiliki pengetahuan akurat tentang
siapa anda dan musuh anda maka peperangan sedahsyat apapun yang
akan terjadi tidak akan membuat anda takut kalah.
|
|
4. |
Keterbatasan.
Tidak
memiliki cadangan berupa dukungan materi, relasi, dan kekuasaan
juga dapat membuat orang menghindari kegagalan hanya untuk
menghindari. Keterbatasan ini merupakan penyebab yang sering
dijadikan "pembenar" mengapa kita takut gagal hanya
karena takut alias tidak "pede" menghadapi keadaan. Dale
Carnegie pernah menyarankan agar orang senantiasa punya
"tabungan" dalam bentuk apapun agar tidak mudah diserang
oleh rasa takut sukses.
|
|
5. |
Kekhawatiran.
Orang
bisa terjangkit penyakit takut sukses karena kekhawatiran emosi
yang berlebihan. Apa yang dikhawatirkan itu umumnya tidak terjadi
secara riil menurut standar rasio yang logis. Orang semacam inilah
yang oleh Mark Twin dikatakan orang yang tidak berani:
"Courage is not the absent of fear but the mastery of
fear". Orang yang berani bukan orang yang tidak normal (tidak
memiliki rasa takut) tetapi murni orang yang menguasai rasa takut.
Ralph Marstone menawarkan formula, begitu anda diserang oleh rasa
takut yang tidak beralasan, maka lakukan hal yang sebaliknya untuk
menantang rasa takut. Hanya dengan melakukan sesuatu-lah yang akan
membuat anda berubah menjadi pengontrol rasa takut.
|
Sementara
penyebab takut sukses karena orang lain dapat dikembalikan pada kualitas
keyakinan yang rendah atas:
1.
Kemampuan diri (confidence)
2.
Kebenaran pendirian hidup (faith)
3.
Kualitas untuk diyakini (trust)
Ketakutan
karena orang lain adalah imajinasi yang bekerja secara negatif dan
mestinya tidak muncul kalau kita yakin bahwa diri kita mampu
merealisasikan kesuksesan yang kita inginkan meskipun harus gagal.
Ketakutan juga tidak akan terjadi kalau kita yakin bahwa setiap
kegagalan mengandung makna tertentu berupa panggilan untuk menjadi lebih
jenius. Ketakutan juga tidak akan terjadi kalau kita yakin bahwa cara
yang kita tempuh merealisasikan gagasan tidak melanggar nilai dan hukum
apapun. Dalam praktek, hidup ini penuh dengan tawaran tipu daya berupa
imajinasi kita tentang orang lain dan hanya bisa diselesaikan apabila
kita kembali pada esensi, "Who we are". Sedikit saja esensi
itu kita lepaskan, tipuan tersebut akan menyeret pada lingkaran
persoalan imajinatif yang tidak berujung.
Mahamami
Perbedaan
Merujuk
pada ajaran Hukum Alam bahwa semua makhluk yang diciptakan di alam raya
ini pastilah ada gunanya. Demikian pula berlaku pada rasa takut. Tidak
seluruh rasa takut yang kita miliki berfungsi menggagalkan rencana
sukses sebab pada dasarnya rasa takut adalah kekuatan (energi) potensial
yang kalau diaktualkan dapat mendukung rencana kesuksesan kita.
Aktualisasi rasa takut menuntut persyaratan mutlak sebagai pemilik
perasaan. Menjadi pemilik rasa takut diperlukan mengasah kecerdasan
emosi yang salah satu pilarnya adalah merebut tanggung jawab atas muatan
perasaan ketika sedang merasakan sesuatu (proactive). Begitu tanggung
jawab kita rebut maka kita bisa mengubah atau memberdayakan rasa takut
yang oleh pendapat para pakar memiliki daya dorong tinggi. Ralph
Marstone (dalam: Greatday: 1997) mengatakan: "Ada dua motivator
dalam diri kita yaitu: motivator menginginkan sesuatu dan menghindari
sesuatu. Motivator kedua lebih perkasa mendorong seseorang ketimbang
motivator pertama".
Takut
gagal semata karena ingin menghindari berbeda dengan menghindari
kegagalan karena menginginkan kesuksesan seperti ketika kita dikejar
oleh binatang buas. Karena rasa takutlah yang membuat kita berlari
sekencang yang belum pernah kita lakukan. Menghindari kegagalan karena
menghindari juga berbeda dengan menghindari untuk mengantisipasi agar
kegagalan serupa tidak terjadi lagi dengan mempelajari aspek yang
membedakan. Menghindari kegagalan semata karena menghindari pun berbeda
dengan menghindari untuk mendorong-membuka kemungkinan peluang.
Menghindari takut gagal hanya karena ingin selamat justru akan
menjauhkan kita pada kepastian peluang. Takut kehilangan pekerjaan yang
diberdayakan dengan mengembangkan diri (dorongan berprestasi) berbeda
dengan orang yang dikuasai perasaan takut kehilangan pekerjaan semata.
Dengan
memahami perbedaan di atas, kemungkinan besar kita dapat mempercepat
proses identifikasi mana rasa takut yang justru mendekte,
mengkondisikan, membatasi dan menutup kita untuk segera digantikan
dengan muatan perasaan yang kita butuhkan.
Pembelajaran
Hidup
Agar
fenomena takut sukses jangan semata-mata didasarkan atas keinginan untuk
menghindari kegagalan, maka apa yang kita butuhkan adalah menguasai rasa
takut agar dapat digunakan sesuai kepentingan kita untuk menginginkan
atau menghindar secara positif. Beberapa ide berikut dapat kita jadikan
benih-benih kebiasaan hidup yang bisa mengasah kemampuan menguasai rasa
takut sukses dalam kondisi hidup normal baik di kantor atau di mana
saja.
|
1. |
Membiasakan
diri dengan keberanian berinisitif. Apa pun yang anda lakukan,
jalankanlah atas inisiatif dari dalam, bukan karena ajakan orang
lain atau karena mengajak orang lain. Keberanian berinisiatif akan
memperjelas jawaban bahwa ternyata apa yang kita takuti selama ini
bukanlah hal yang menakutkan. Keberanian berinisitif juga akan
menanamkan rasa tanggung atas resiko hidup.
|
|
2. |
Membiasakan
diri dengan berpegang teguh pada pendirian hidup (to persist)
ketika inisiatif bertindak telah kita cetuskan. Apapun yang
anda mulai, ketika gagal jangan lantas ditinggalkan meskipun anda
tidak melakukan pertahanan di jalur yang sedang
"berbadai". Berhentilah sejenak (to pause) atau
berubahlah secara kreatif. Sampai anda bisa berhasil dengan
realisasi inisiatif, anda belum pernah akan merasakan rasa percaya
diri bahwa diri anda mampu. Dengan pengalaman merasakan sukses,
kita akan dibimbing untuk menjauhkan hidup dari pola lama yang
didominasi oleh kontrol the perceived self menuju pola baru the
real self.
|
|
3. |
Membiasakan
diri dengan keberanian menaklukkan tantangan hidup (to conquer
challenge) atau memiliki mentalitas "I CAN".
Prestasi hidup tidak dapat diraih kecuali setelah anda berani
meyakini bahwa apa yang di dalam diri lebih besar ketimbang
tantangan di luar. Mentalitas bangkit demikian merupakan awal
menuju realisasi kebangkitan yang sebenarnya. Kebangkitan tidak
bisa dimiliki oleh orang yang bermentalitas roboh oleh tantangan.
Tepatlah apa yang dikatakan Jim Rohn, kebangkitan finansial
seseorang tidak dimulai dari faktor kebangkitan ekonomi tetapi
dari faktor kebangkitan filosofi. Hanya saja yang sering kita
lakukan adalah menunggu terjadinya kebangkitan ekonomi untuk
membangkitkan kemakmuran finansial. Menunggu situasi sempurna dan
bebas dari hambatan sebagai syarat untuk berinisiatif, padahal
kesempurnaan itu hakekatnya tidak pernah ada kecuali kita
ciptakan.
|
|
4. |
Membiasakan
diri untuk memperkecil "zona unknown" di wilayah hidup
kita dengan mempelajari pengetahuan (knowledge), meningkatkan
kemampuan (ability) dan menambah keahlian (skill). Logika
alamiahnya sangat jelas. Bagi orang yang tidak tahu seluk beluk
hutan mungkin mendengar kata hutan saja sudah takut tetapi tidak
demikian bagi yang mengetahuinya. Memperkecil zone unknown dengan
pembelajaran adalah kurikulum alamiah di mana semua keahlian
manusia diperoleh dengan cara ini (baca: maksudnya belajar) yang
terkadang melibatkan try dan errors.
|
|
5. |
Membiasakan
diri dengan menambah dukungan eksternal. Tidak selamanya benar
kalau dukungan ditafsirkan harus berupa materi. Dalam bisnis
misalnya networking atau relationship adalah dukungan. Bahkan
dalam dunis bisnis relasi dapat dikatakan sebagai suatu produk
(Relationship in business is product). Ketika pebisnis menghadapi
ancaman keterbatasan modal material, maka keterbatasan tersebut
masih belum menakutkan apabila ia punya cadangan yang saat ini
berada di tangan orang lain atau mengenal orang yang bisa diminta
bantuan untuk menyelesaikan keterbatasannya atas dasar
relationship trust. Maxwell mengatakan: " Tidak ada problem
yang tidak selesai dengan dukungan orang banyak tetapi hanya
sedikit yang selesai tanpa dukungan". Menemukan dukungan
eksternal bisa dilakukan dengan mengasah keahlian membuat
sinergisasi keunggulan dalam bentuk apapun.
|
Walhasil,
takut sukses adalah fenomena manusiawi dan alamiah atau normal dalam
pengertian mayoritas. Kepada kitalah ditawarkan pilihan apakah kita
memilih menjadi bagian dari kelompok mayoritas yang berarti gagal atau
memilih menjadi bagian kelompok minoritas: orang-orang sukses dengan
gagasannya. Selamat memilih. q
e-psikologi.com