|
Rencana Depot Bojonegara
: Depot untuk Kontraktor Berduit
Depot Bojonegara rencananya akan
dibangun dengan menggunakan sistem Turn-key. Sistem kontrak yang selama ini
dianggap kurang bersahabat oleh beberapa kontraktor lokal, karena kontraktor
harus menyediakan uangnya sendiri untuk biaya proyek hingga proyek rampung. Depot dengan
kapasitas besar ini konon akan menyedot anggaran yang lumayan besar. Sebagai
perbandingan: untuk pembanguan proyek depot dengan kapasitas 9000 KL saja
dibutuhkan biaya US$ 6 juta (thn 2003), sedangkan depot Bojonegara berkapasitas
400.000 KL, dan jika dilinierkan secara kasar saja bernilai sekitar US$ 260
Juta (Rp 2,5 trilyun) dan itu harus diadakan kontraktor sendiri hingga akhir proyek. Menggunakan sistem turn-key untuk
proyek sebesar ini mungkin akan membuat para kontraktor lokal berfikir
seribu kali.
Hanya Kontraktor berduit besar, atau
kontraktor lokal yang menggandeng investor besar yang mungkin bisa
ambil bagian dalam pengerjaan depot Bojonegara. Para kontraktor dan investor
mungkin harus berhitung jika mengerjakan proyek-proyek turn-key seperti Depot
Bojonegara ini, antara lain :
- Mencari sumber pendanaan yang besar
- Harus diyakinkan kemampuan keuangan
calon klien dalam pembayaran yang tepat waktu (Pada beberapa proyek
Turn-key, selama pengerjaan proyek, banyak klien yang ternyata masih
mencari sumber keuangan untuk pembayaran diakhir proyek). Ada baiknya
klien juga harus menunjukkan kemampuan keuangan saat awal proyek kepada
calon kontraktor dan disepakati bersama.
- Akan munculnya instabilitas ekonomi
Indonesia yang bisa menimbulkan instabilitas harga selama pengerjaan
proyek (masa Pemilu mendatang).
- Masuknya kontraktor-kontraktor besar
asing . Karena dana yang dibutuhkan cukup besar, maka ada kemungkinan
beberapa kontraktor asinglah yang akan ambil bagian di proyek ini. Dari beberapa pengalaman dengan mengikutsertakan kontraktor asing,
jika basis design/perancangan yang dibuat oleh klien tidak baik, maka nilai proyek
bisa membengkak atau proyek gagal mencapai target. Kontraktor asing hanya
mengerjakan apa yang menjadi scope of worknya dalam basis design dan
kontrak, dan tidak perduli sistem dapat berjalan atau tidak. Jika ternyata
klien ingin membenahinya ketika proyek sudah berjalan maka kontraktor
asing akan meminta add cost untuk itu akibatnya nilai proyek membengkak.
Atau cabut dan tidak menyelesaikan proyek. COntohlah pembangunan proyek
Depot Mangis di Bali yang hampir menjumpai peristiwa seperti ini.
- Rawan bencana.Bencana alam dapat
dikategorikan sebagai Force majure yang umumnya tidak tergantikan
oleh asuransi. Dewasa ini, hampir disetiap bulan terjadi gempa dan bencana-bencana lain di
Indonesia. Pembanguan yang memakan waktu berbulan-bulan bisa saja habis
dalam waktu singkat, terlebih dengan sistem turn-key, kontraktor belum
mendapatkan uang masuk sama sekali, dan tidak akan dibayar jika proyek belum selesai. Perlu
adanya kejelasan kontrak dalam hal ini.
- ASumsi bahwa proyek belum dainggap
selesai bisa dilakukan oleh klien untuk mengulur-ulur pembayaran. Perlu
adanya kesepakatan tentang certificate of acceptance antara klien dan
kontraktor.
- Sistem birokrasi yang berbelit-belit
dari klien dalam surat-menyurat dokumen proyek. Sebagian klien melakukan
ini agar dicapai waktu pelaksanaan yang lama, sehingga ada peluang klien
untuk mencari jika ada kekurangan anggaran proyek. Akibat dari
perpanjangan waktu ini Biaya manpower kontraktor akan membengkak. Disini
perlu dibuat batasan waktu maksimal klien dalam memberikan approval
terhadap suatu dokumen.Lebih dari batasan tersebut, dianggap klien setuju
dan kontraktor dapat meneruskan pekerjaan.
- Perlu adanya persetujuan tentang
pembatalan atau pencabutan kontrak ke kontraktor karena beberapa sebab
yang dilakukan oleh kontraktor, pun demikian dengan hak kontraktor untuk
dapat melakukan penagihan dan penghentian pekerjaan jika klien terindikasi
melakukan hal-hal yang mempengaruhi kecukupan keuangan sendiri diakhir (Alasan
klien pailit dan proyek tidak terbayarkan).Jangan terulang lagi kasus TTU
Balongan atau bahkan gugatan balik dari kontraktor ke PERTAMINA di
pengadilan Arbitrase Internasional.
Intinya tiap kontraktor dan investor
perlu melihat lagi rencana kontrak proyek Bojonegara ini secara seksama.
Keuangan dari kedua belah pihak harus disepakati bersama termasuk
pengecualian-pengecualiannya. Jangan terburu mengerjakan proyek yang pada
akhirnya hanya akan menutup perusahaan karena pailit.
Wassalam |