|
.
.
.
.
.

kembali ke halaman muka
|
Saya mulai mengenal
nama Herry Dim menjelang tahun 80-an melalui tulisan-tulisannya di H.U.
Pikiran Rakyat (Bandung). Pikiran, gagasan, dan bahasanya cukup cerdas.
Saya sebagai calon penulis waktu itu, tentu saja terpikat untuk
mengenalnya lebih dekat. Akhirnya saya bertemu "sosok" Herry
Dim beberapa bulan sebelum ia berpameran tunggal dengan tajuk Senirupa
Ritus - Ritus Senirupa (1986).
Postur tubuhnya kecil, imut-imut, kepalanya berdahi lebar, rambut
gondrong, wajah yang selalu serius, dan jarang senyum. Sikapnya
terkadang inferior tetapi menyiratkan keberanian dan kekerasan. Sorot
matanya memendam kegetiran yang panjang, memancarkan kekuatan gairah
kerja keras dan luapan "dendam." Kesan pertamaku, Herry Dim
tergolong laki-laki yang kaku, selalu menyimak dan menyelidik lawan
bicara, tapi ia sendiri tidak banyak bicara. Sekali bicara, meluncur
ajakan untuk berdebat dengan wawasan yang cenderung filosofis. Segera
saya punya kesimpulan, Herry Dim cocok sebagai teman diskusi.
**
Rupanya bagi Herry Dim,
perkenalan kami diawali dengan sebuah kesan yang sangat tidak
menyenangkan. Ia sempat tersinggung ketika saya mempertanyakan ihwal
pertanggungjawaban karya-karyanya.*) Sesungguhnya kritik-kritik yang
saya Iontarkan tidak berlebihan, sebab pernyataan serupa pun diungkapkan
Popo Iskandar dalam komentarnya, "yang penting adalah sejauhmana
keuletannya, sejauhmana ia bertahan mempertanggungjawabkan pilihannya"
(Popo Iskandar, Pengantar Pameran Herry Dim, 1986). Rupanya pernyataan
ini bagi Herry Dim sempat menggugah kembali anggapannya, bahwa
kebanyakan orang-orang dari kalangan pendidikan tinggi seni rupa tahun
70-an selalu sibuk dengan soal pertanggungjawaban. Akan tetapi Herry Dim
pun menyadari sepenuhnya bahwa soal pertanggungjawaban memang bagian
penting dalam proses berkesenian, dengan tidak harus merujuk apakah si
seniman ini ada di lingkungan pendidikan tinggi atau bukan. Dengan
sangat bijak kritik saya ditanggapinya secara terbuka. "Ketika itu
pula saya genjot proses berkarya, olah rasa dan olah pikir...,"
tulisnya di album riwayatnya.
**
Antara kesadaran berfikir dan
olah rasa, ada dialog panjang dalam diri Herry Dim (Mamannoor, Pengantar
Pameran Herry Dim bertajuk "Menyongsong Millenium," 1993). Ini
tercermin dalam tuturannya yang lugas bahwa, perbuatan melukis pada
galibnya senantiasa didasari oleh sebuah "kesadaran" berbuat.
Rupanya pengalaman panjang Herry Dim disertai pula pikiran-pikirannya
yang muncul. Selain dari perjalanan empiris, terutama sekali sangat
diyakinkan oleh bimbingan psiko-analisis (Freud), psiko-analitis (Jung),
dan sedikit psiko individual (Alder). Yang saya tahu, memang Herry Dim
teramat suka membicarakan perihal persoalan psikologi dari ketiga jawara
ini. Bahkan saya pun tahu, ia banyak membaca persoalan-persoalan lain,
seperti filsafat, sejarah, kebudayaan, ilmu seni, dan kemasyarakatan.
Tidak hanya membaca, Herry Dim cukup fasih menulis dan membicarakannya.
Tak heran apabila saya pernah berharap banyak agar Herry Dim memilih
jalan menjadi seorang pemikir dan penulis kebudayaan dan kesenian.
Tapi rupanya, ia lebih memilih kariernya sebagai seorang seniman. Dulu,
ia "tamak." Kendati latar belakang studinya dari bidang teater
di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung, namun hampir seluruh
bidang kesenian ditekuninya; musik, tari, teater, sastra, dan seni rupa.
Saya sempat mempertanyakan, mau jadi seniman apa dia? Memang tiada yang
melarang andai pun dia mau merangkul semuanya. Metateater (1990,1991)
yang digarapnya (juga melibatkan saya) sebagai salah satu pikiran dan
karya kreatifnya yang memadukan keberbagaian unsur itu. Juga kami sering
tampil dalam pameran bersama dan berdua, antara lain saat itu Herry Dim
mengetengahkan karyanya yang berjudul "Instalasi 10 Biografi"
(Galeri Cemeti, 1993). Sejak itu saya lihat ia lebih berkosentrasi
sebagai perupa. Barangkali karena bidang ini telah memberikannya banyak
peluang untuk lebih ajeg sebagai seniman, bahkan memberi kesempatan
melanglang ke berbagai negara.
**
Belakangan saya makin mengenal
Herry Dim, pergaulannya luas, mudah memperoleh teman berbincang, karena
memang ia menjadi salah seorang nara-sumber wacana kesenian di kota
Kembang. Terbukti, ia bersama beberapa rekannnya mendirikan forum
Kelompok Sepuluh, sebuah lingkaran tukar-pikiran perkara kebudayaan dan
kesenian bagi para pemikir dan penulis muda di kota Bandung. Saya
menjadi salah seorang awak pendukungnya. Barulah muncul kesan berikutnya
kepada saya, Herry Dim mudah jadi seorang sahabat yang terbuka. Seiring
dengan perguliran waktu, Herry Dim tumbuh sebagai seorang seniman yang
mulai diperhitungkan dalam berbagai forum. Salah satu karya yang
dibangunnya bersama Hendrawan Riyanto, "Rakit" pada Festifal
Istiqlal II-1995, banyak mendapat sorotan dan kerumunan tokoh-tokoh
sastra, teater, dan seni rupa.
Sang Perupa
Jejak-jejak penekunan Herry Dim
sebagai pemikir, pengamat, dan penulis berbagai bidang seni masih dapat
ditelusuri dalam manifestasi ungkapannya. Pada setiap karya seni rupanya
terdapat kebernasan pikiran-pikiran, kepekaan pengamatan, dan kepedulian
penulisannya. Ia selalu sadar terhadap bahasa dan teks visual serta
narasi. Kecermatan rancangan setiap unsur bahasa pengutaraan selalu
dipertaruhkan pada setiap ungkapannya. Di balik bahasa pribadinya
terkandung fenomena yang hendak disodorkan sebagai suatu makna pemikiran.
Walaupun begitu, ada bagian-bagian dari unsur itu dibiarkannya menjadi
noumena. Hal-hal empirik yang pada mulanya dimiliki secara pribadi (dari
hasil pengalaman panjangnya, seperti penghayatan kegetiran, kepahitan,
kemiskinan, dan keterkungkungan), ia pikirkan menjadi bagian dari
realitas umum. Dengan kata lain, bentuk-bentuk pikiran yang
dikemukakannya merupakan kenyataan pada dirinya sendiri atau diri setiap
orang yang tersentuh. Ada bagian-bagian dari pernyataan pikiran Herry
Dim yang menerobos tanpa ia sadari sebagai suatu yang anomali. Hal itu
bisa dianggap sebagai wilayah di luar kesadarannya, akibat dari suatu
proses intensitas dan keberlangsungan proses.
Herry Dim selalu yakin bahwa apa yang terpikirkan semata-mata berada
dalam jangkauan wilayah pengamatannya. Kalaulah hasil pengamatan ini
keluar sebagai impuls dan ekspresinya, ia melahirkannya melalui suatu
kontrol pemaknaan yang selalu bisa dituliskan. Ikon-ikon yang tampak
sangat figuratif di setiap bagian kanvasnya selalu dibebani makna.
Kerja seperti ini bagi umumnya perupa niscaya perlu dilakukan dalam
kontrol yang sangat efektif. Bentuk, warna, dan garis dalam pikiran,
pengamatan, dan 'tulisan' Herry Dim seakan-akan harus bisa dipecahkan
dan ditalar dalam proses pemaknaan yang teramat disadarinya. Jika tak
cermat, seluruh penempatan pemaknaan ini akan menghasilkan komposisi
hasil akhir yang kering.
Untunglah Herry Dim tahu soal musik, gesture, dan nuansa. Semua itu bisa
melunakan kekakuan pikiran-pikirannya dalam bahasa visual. Hasil lainnya
adalah melahirkan kesadaran Herry Dim terhadap ruang, walaupun nyaris
seluruh karya-karyanya cenderung datar ('tipis'). Terkecuali saat Herry
Dim menggarap karya-karya me-ruang, seperti instalasi, atau saat ia
menghadirkan unsur barik (tekstur).
Di dalam persepsi Herry Dim sebagai perupa, semua kenyataan pikiran,
pengamatan, dan penulisannya yang sadar atau tak sadar menciptakan 'dunia'-nya
sendiri, dunia sebagai kumpulan fakta-fakta yang telah dimetaforkan
olehnya. Tapi, sekali lagi, Herry Dim kerap meminjam fakta-fakta umum
untuk merangkul makna dari bahasa-bahasa umum, sehingga bisa ditangkap
bahwa Herry Dim bermain dengan simbol-simbol. Bahasa visual yang
digunakan Herry Dim terkadang mendekati pemaknaan yang sederhana dan
mudah untuk dicerna, sehingga ia berhasil menularkan pikiran-pikiran dan
hasil pengamatan yang tidak berkesan imajinatif atau fantastik.
Di sini Herry Dim bisa dijadikan contoh sebagai perupa yang tetap ingin
menjaga seluruh pikiran dan bahasa visualnya melalui suatu upaya untuk
memberikan maknanya secara sederhana. Atau setidaknya, bentuk-bentuk
yang disodorkannya bisa menggugah orang untuk menerawang jauh terhadap
makna yang berkenaan dengan mitos (Pohaci : Daya Hidup), konteks tematik
(Lamento : duka cita), dan simbol (Pertumbuhan : proses perubahan). Di
balik ikon-ikon yang disodorkannya itu Herry Dim atau orang-orang yang
menerimanya dapat menulis panjang lebar dengan bahasa pertangjawabannya
(boleh sebagai credo atau apologi). Seluruh komposisi unsur-unsur
perupaan pikiran dan hasil pengamatan Herry Dim, dengan penekanan
musikal, gesture, dan nuansanya merupakan bagian-bagian ungkapan yang
cenderung sangat puitik. Oleh karena itu, tak mengherankan apabila WS.
Rendra sangat bisa mengangkap bahasa visual Herry Dim dengan penulisan
narasinya dalam bentuk puisi yang indah.
Herry Dim sebagai perupa mencoba merangkul berbagai wilayah fakta
melalui kejelian pengamatannya, wilayah makna dengan pikiran-pikirannya,
dan wilayah deskripsi dengan teks visual maupun narasinya. Di sini Herry
Dim bisa dibicarakan sebagai seorang perupa yang memang banyak melakukan
perjalanan, pengalaman empirik, dan penalaran makna-makna. Ia melintasi
batas-batas ke-ruang-an yang tidak lagi harus diperdebatkan : apakah di
dalamnya ada kehendak membentuk (will to form), kehendak memilah dan
memilih (will to abtracted), dan kehendak merenung (will to
contemplated). Sodoran-sodorkan pikiran, hasil pengamatan, dan
pengungkapannya sudah bisa lebur, kental, cair, dan sublim. Ia melewati
wilayah masa lalu (yang archaic, tradisional), masa kini (memodernitas
sikap), dan masa depan (yang apresiatif terhadap predik-predik). Ia bisa
telah leburkan semua itu dalam hubungan yang menurut Simel sebagai
segitiga 'penciptaan bentuk-objektivikasi bentuk-apresiasi bentuk. Herry
Dim sangat beruntung sebagai perupa yang memang kebetulan hidup dalam
perguliran waktu dan wilayah perbincangan tradisional, modernis,
kontemporer, dan post-modernis. Ia perupa yang tumbuh secara dekat
dengan perbincangan-perbincangan zaman itu. Oleh karenanya, menangkap
sosok pikiran dan karya-karya Herry Dim dapat ditembus dan didekati
melalui cara pandang yang lebih terbuka lebar dari sekian wacana yang
tengah berlangsung dewasa ini.
Sebagai perupa, Herry Dim tumbuh dari hasil perjalanan yang panjang.
Sebagian besar diantaranya melalui lorong-lorong kehidupan yang sempat
membuatnya getir, pahit, dan terpinggirkan. Kesenian baginya ibarat
katup pelepasan dari proses pengalaman psikologisnya yang pernah
menghimpit dan membelenggu. Kesenian dijadikannya sebagai pelepasan dan
pembebasan dari beban-beban masa lalunya, dapat berarti masa kapan pun
bagi yang masih mengalaminya, masa kapan pun bagi manusia yang berada
dalam himpitan. Dulu, ia hanya mampu menerima, tapi kini ia selalu
mencari ketegangan-ketegangan kemanusiaan tersebut untuk mempersubur
wilayah kreatifnya. Banyak ungkapan-ungkapannya yang menjurus nada
bertanya, berteriak, dan mewakili siapa pun yang tetap akan melakukannya.
Sampai batas ini, tulisnya, boleh jadi karya-karyaku menjadi semacam
media dialektika yang berada dalam konteks pengertian 'prinsip
keseimbangan'nya Freud.
Memang ia didorong untuk menampilkan borok-borok, kesakitan, pertanyaan,
protes, mimpi, dan desakan-desakan buruk sisi kemanusiaan. Hal-hal itu
yang menjadi ketegangan dan mengganggu pikiran, pengamatan, dan
pengungkapannya. Rupanya ia sangat menikmati ketegangan dan gangguan itu
sebagai lahan subur wilayah kreatifnya. Aktivitas di luar predikatnya
sebagai perupa, Herry Dim memasuki wilayah-wilayah yang kerap mengganggu
'ketenangan' kesehariannya, seperti kegiatannya di bidang sosial dan
kemanusiaan. Ia tampak lebur di dalamnya. Karenanya ia patut menyusun
ketegasan bahwa, "buat saya, tak ada kreativitas tanpa gangguan.
"
Manakala ia melukis, ia benar-benar jadi penikmat proses. Tetapi pada
saat ia membicarakan karya-karya seni rupa, ia benar-benar jadi pengamat
hasil akhir. Ia bisa membedakan antara saat intuisi bekerja dan saat
logika diperhadapkan dan diuraikan. Kendati demikian, ketika kami
pameran bersama tahun 1995, akhirnya ia seperti berikrar : "biarlah
saya jadi seniman saja, Mamannoor jadi penulis". Sejak itu Herry
Dim benar-benar menghabiskan waktunya untuk berkarya (seni rupa) dan
berpameran, sementara saya benar-benar jadi penulis. Saya kira ini
menjadi momentum penting bagi kami sebagai dua sahabat (yang menurut
Herry Dim ibarat bertukar tempat). Walaupun belakangan, Herry Dim masih
sesekali mempublikasikan tulisan-tulisannya, sedangkan saya tidak pernah
berpameran lagi.
Sang Prosesis
Setiap seniman adalah prosesis (selalu
berproses kreasi sampai kapan pun). Herry Dim terus berproses kreasi,
melahirkan nomor-nomor artefak karya seni rupa, dokumen karya seni
pertunjukan (yang me-ruang dan me-waktu, termasuk instalasi dan pentas),
teks-teks visual dan puisi, serta tema-tema gagasan dan pikirannya. Ia
sangat menikmati proses dengan ketelanjangan dan ketermenungan
pikirannya.
Sejak tahun 1995 itu saya benar-benar menjaga jarak terhadap
proses-prosesnya, namun tetap setia mengikuti pergelaran karya-karyanya.
Di sini saya ingin sekali menoreh dan menaruh catatan-catatan penting
berkenaan dengan beberapa proses yang sangat berarti dalam perjalanan
yang mengantarkan Herry Dim hingga ke akhir abad dan membuka abad baru
ini.
Dasar proses yang dimanfaatkan Herry Dim untuk berangkat ke dunia seni
rupa adalah keterampilan menggambarnya yang cukup baik. Keterampilan (skill)
yang dimiliki Herry Dim cukup komplit; conceptual-skill yang
dilandasi sikap analasisnya, practical-skill yang didasari
ketekunan mengutak-atik bahasa visual.
Herry Dim sering mengakui bahwa ia seorang otodidak (tapi selalu pula
saya sanggah: bukankah semua seniman juga otodidak?), namun apa yang
dilakukannya memang seperti kebiasaan para scholar di lembaga pendidikan
tinggi seni rupa. Bahkan beberapa premis-premis ilmiahnya bisa lebih
ilmiah ketimbang para scholar yang tidak memanfaatkan sikap dan tradisi
ilmiah.
Herry Dim mampu menggambar bentuk, baik mimetik maupun imajinatif,
dengan olah bahasa visual yang tepat. Karya-karya illustrasinya banyak
dimanfaatkan guna berbagai keperluan. Secara verbal Herry Dim sungguh
fasih mengurai berbagai sifat dan perlakuan teknis mengenai bahan, alat,
dan keandalan beberapa media. Ia bisa menggubah proses kerja dan karya
grafis, patung, gerabah, dan serat. Ia bisa njelimet membicarakan dan
mempraktekan olah teknik bahan-bahan dan alat. Untuk itu, sekali waktu
saya mendorongnya untuk bisa mengajarkan kemampuannya ini kepada
mahasiswa S-1. Tetapi ketentuan administrasi pendidikan S-1 yang
mengharuskan ia terlebih dahulu memiliki 'sertifikat' mengajar dengan
predikat lulus S-1, pastilah akan menghambat niatan saya. Ia pernah
tergerak untuk menyelesaikan pendidikan S-1 nya di Sekolah Tinggi Seni
Indonesia (STSI, dulu ASTI) Bandung. Baru setengah jalan ia mandek (dengan
alasan yang tak perlu dicatatkan di sini). Akhirnya, memang tidak
perlulah semua itu. "Lupakan Her. Yang penting kamu terus berproses
untuk tidak jadi apapun, terkecuali jadi dirimu sebagai seorang seniman."
Dengan berbagai kemampuannya Herry Dim menabrak, memasuki, dan
menjelajah wilayah-wilayah proses untuk menghasilkan karya-karya seperti
apa yang dihasilkan perupa-perupa lain. Keinginannya untuk membuktikan
bahwa ia mampu seperti orang lain ditempuhnya dengan deretan tema karya.
Menggambar alam bentuk dan pemandangan ia lakukan. Menggambar figur dan
abstrak ia jalani. Hasilnya selalu cukup bagus, juga bisa diterima,
termasuk oleh para kolektor. Dengan pengembaraan itu pula, masuklah ia
ke Mandala purbawi hingga kabel-kabel komputer dan rimba kemanusiaan
yang rimbun serta menyibak hiruk-pikuknya tingkah polah manusia.
Mitos-mitos menjadi hamparan pencucian konsep-konsepnya, religi menjadi
payung hajat spiritualitasnya, alam dan manusia menjadi lahan penggalian
terhadap pemetaan ketegangannya. Realitas itu tak bakal jadi karya
apabila Herry Dim tak larut di dalamnya. Kemampuan dan kesadaran
berfikirnya dijadikan perentang jarak untuk menarik pelatuk sikap kritis
terhadap karya-karyanya maupun dialektika terhadap pandangan-pandangan
orang lain tentang karya-karyanya.
Karya-karyanya
Tahun ini (2000) Herry Dim
berusia 45. Apabila ia mulai memasuki dunia seni sejak usia 20 tahun,
maka tanpa disadarinya telah 25 tahun ia menekuni dan menggeluti dunia
kreatif. Sepanjang waktu ini, kalaulah seorang seniman tidak banyak
melahirkan karya-karya kreatif yang berarti dan berharga, alangkah
konyolnya. Sebaliknya, jika telah mampu ia lahirkan berbagai fase-fase
kreatifnya, sungguh cukup luar biasa. Tapi memang Herry Dim banyak
maunya (baca : banyak will-nya, banyak kehendaknya), maka tak heranlah
apabila tentu ia sudah menghasilkan karya-karya yang dapat kita
bicarakan. Karya-karya Herry Dim dalam berbagai bentuk dan manifestasi
pikiran dan wujud kreatif tak bisa dipilah ke dalam pengelompokan antara
tata artistik pentas, teater, sastra, musik, tari dan seni rupa. Mengapa
demikian ?
Setiap karya pikiran dan visual Herry Dim merupakan akumulasi pengalaman,
pengetahuan, dan keterampilan dari sekian disiplin kreativitas seni.
Analogi yang agak berlebihan baginya ibarat seorang dalang. Dari
gagasan-gagasannya muncul pencarian bahan, pergulatan teknis, peracikan
media, penuturan narasi, dan pertanggungjawaban pikiran. Karya-karya
seni rupanya dapat dibedah melalui kepentingan berbagai penuturan bahasa,
teks, narasi estetik, kendati tidak bisa menjawab keajegan semua
komponen yang tergolong bagus dan 'sempurna'. Perlu ditegaskan demikian
karena Herry Dim bukan seniman yang berlebihan kemampuan, masih banyak
kekurangan yang dimilikinya. Sebab, disamping sebagai kreator, dari segi
proses perwujudan karya-karyanya Herry Dim melakukan pula praktek 'pengintipan',
'pengutipan', dan 'penerjemahan' terhadap hal-hal penting yang dilakukan
seniman lain. Saya kira ini pun masih bisa dianggap wajar, karena Herry
Dim selalu sadar bahwa dirinya senantiasa melakukan proses belajar,
proses menuju matang, proses menjadi dirinya. Di sini justru Herry Dim
adalah peracik dan peramu yang cukup handal.
Sebagai perupa yang bergaul dengan berbagai disiplin penekunan seni,
Herry Dim memiliki lingkaran peta kesenian yang luas. Ia selalu mencoba
menempatkan dirinya di dalam lingkaran itu pada posisi yang tepat dan
dengan modal kerendah-hatiannya. Terutama karena pengalaman di dunia
teater-nya yang kental, Herry Dim kerap memulai kepekaan artistiknya
dengan segala kesiapan tekstual dan komposisi bahasa pengungkapan. Ia
terkadang memulai suatu langkah kreatifnya dengan awalan yang terlampau
rasional. Akan tetapi Herry Dim pasti menyadari bahwa rasionalisasi
membuat dunia menjadi terlampau tertib kendati dapat diandalkan, namun
ia tak dapat membuat dunia menjadi bermakna (meminjam pikiran Bryan
Turner). Sementara itu Herry Dim cukup cermat memanfaatkan dunia teater
yang selalu percaya kepada kebebasan permainan sukma yang memberinya
sentuhan improvisasi terhadap bentuk, komposisi, gesture, watak, dan
nuansa. Permainan inilah yang menopang Herry Dim melakukan
langkah-langkah menuju keyakinan intuisi yang mengalir. Perpaduan antara
kemampuan rasional, taste artisitik, dan improvisasi intuitif pada diri
Herry Dim mampu menciptakan arena permainan yang rindu terhadap kehendak
untuk melahirkan 'sesuatu yang baru'.
Kekhasan untuk melahirkan 'sesuatu yang baru' (Herbert Read
mengistilahkan sebagai 'realitas baru') memang kekhasan para modernis.
Sesuatu yang baru ini berpihak kepada sesuatu yang tidak realistis,
tidak pula mencoba merasuki realitas (alam, manusia, dan kemanusiaan).
Andalan utama dalam praktik ini lebih berpihak kepada kemampuan rasional
yang diagung-agungkan (kemampuan yang cukup lama dipeluk oleh para
perupa modernis, termasuk pernah laten digenggam para perupa modernis di
Bandung). Herry Dim pernah ketularan beranggapan demikian sebagai upaya
untuk beradaptasi dengan lingkungan seni rupa abstrak di Bandung yang
pernah menghimpitnya. "Dan hampir setiap kesempatan, selalu saya
berpendapat, bahwa seni abstrak merupakan puncak dari rasionalisasi
kesenian," tulisnya. Pameran tunggalnya yang bertajuk Senirupa
Ritus - Ritus Senirupa serta-merta mengacu kepada anggapan demikian.
Akan tetapi kenyataannya Herry Dim tidak sepenuhnya berpihak kepada seni
rupa abstrak. Ia tetap pada kepedulian terhadap ikon-ikon yang lebih
jelas, lebih riil, dan lebih otonom figuratif.
Satu-satunya warisan fase pameran tunggal pertamanya adalah soal
penghadiran barik (tekstur). Di pelataran seni rupa di Bandung tahun
80-an kecenderungan menghadirkan unsur barik sempat sanggat menggejala.
Herry Dim sangat terpikat, pada setiap kesempatan ia seakan-akan selalu
ingin membicarakan perkara barik dengan fasih. Bahkan hingga kini pun
bahasa visual barik masih terus cenderung dihadirkan. Pada fase-fase
yang telah dilaluinya, unsur barik terus mengikuti, seperti pada fase
istirah (demikian saya pernah menyebutnya, 1984), yakni saat karya-karya
Herry Dim yang turut larut dalam Boom Seni Lukis Indonesia (meminjam
istilah yang dikemukakan Sanento Yuliman, 1984-1989). Begitu pula pada
fase pengangkatan pelataran terdekat (unsur-unsur visual seni
tradisional dan objek-objek pemandangan alam) dan objek-objek emphasis
dunia kanak serta beradaptasi dengan dunia puisi. Fase yang cukup
panjang dalam karya-karya Herry Dim adalah saat ia 'berhasil'
menggabungkan pelataran terdekat dengan membaca penerjemahan karya-karya
kaum maestro modernis (Marc Chagall, Pablo Picasso, Joan Miro, dan
Kandinsky).
Teks visual karya-karya Herry Dim dalam banyak hal merangkul dunia
mitologi, tribal, tradisional, dan fargmen-fragmen instrumentalistik.
Penelusuran panjang terhadap berbagai dunia ini menyebabkan Herry Dim
bisa sangat mahfum dengan narasi simbolik yang berbicara soal via
mimesis, wilful nostalgia, dan fragmen-fragmen konteks sosial (termasuk
politik). Kemahfuman terhadap narasi-narasi ini ditunjukannya saat ia
menyodorkan tema Sepuluh Orang Utusan (puisi-puisi Saini KM), Daya Hidup
(seri Pohaci), Lamento (duka cita) dan seri Pertumbuhan. Pengalaman dan
pergelutan empiriknya di dunia jurnalistik dengan perjalanan ke berbagai
lapisan rimba ritual, sosial, dan spiritual membangun citra gagasannya
kepada bahasa-bahasa simbolik yang karikatural. Karya seri perjalanannya
itu dituangkan ke dalam sembilan bingkai berukuran cukup besar,
perpaduan cermin dunia mitologi, kritik sosial-politik, dan duka panjang
sebuah negeri. WS. Rendra memperkuat ungkapan teks visual Herry Dim
dengan puisi yang menggetarkan:
Bulan berdarah dalam prasasti sejarah.
Ilalang bergoyang.
Nyanyian malam hutan Priangan.
Pisau kiriman angin.
Selendang sutra alam gaib.
Mama !
Bau lembut dan dalam dari Kudukmu.
Merah jambu puting susu
dalam nyanyian sepanjang masa.
Dalam karya ini Herry Dim telah mengerjakan bingkai teks visual dari
akumulasi dunia sastra, teater, musik, dan tari dalam repertoar
fragmen-fagmen yang sangat posterik dan ekspresi pikiran yang sangat
naratif. Herry Dim menaruh catatan kaki seorang pejalan dan penyaksi
sejarah, berisi tentang : sebuah realitas retorika yang rewel tanpa
makna, api perebutan kekuasaan yang seharusnya telah padam,
kepalan-kepalan kekerasan yang tak kunjung usai, kebebalan moral ibarat
batu berlumut di kubangan, pelecehan akibat kekuasaan senjata,
perdamaian yang hanya simbol dan moto-moto bisu, pertumbuhan sejarah
yang tanggal, hidup keseharian yang panas dan gerah, berita-berita yang
membingungkan. Semuanya ibarat sebuah prasasti bermandi ketegangan dan
kekerasan dari sebuah negeri drama yang selalu mengingatkan betapa
tangisan Ibu Pertiwi tak pernah menyadarkan nurani manusia-manusia yang
gemar menuliskan berita-berita kedukaannya.
Pohaci Sang Pertiwi,
menjaga pertumbuhan, kesuburan.
Di sini, sebutir padi sukar dicari,
diantara sepatu lars dan kekerasan.
Yang kujumpai duka panjang, dari tanah air kaya
yang tengah dipermiskin, entah oleh siapa.
***
Mamannoor, penulis seni rupa, menetap di Bandung.
____________________
*) sebuah lukisan cat minyaknya antara lain menerakan pula material
seperti kain, rambut manusia, dan kristal kaca. Pencampuran ragam
material itulah yang memicu perdebatan antara kami. |