Esei Blues Sang Dirty Herry  Oleh: Agus R. Sarjono
 

 

.

.

.


kembali ke halaman muka

 

Semasa Herry Dim sedang muda-mudanya, ada sebuah film laga yang populer berjudul Dirty Harry, dibintangi oleh yang juga sedang gagah-gagahnya. Tapi hampir bisa dipastikan, Herry Dim tidak bakal suka film ini, apalagi menikmatinya. Dia terlalu serius untuk menikmati film laga murah-meriah semacam itu. Tentulah film-film model Blue Velvet, Paris Texas, atau film-film gelap pemenang Palm d'Or Cannes Film Festival.

**

Membicarakan Herry Dim tidak akan lengkap tanpa menelusuri dari perguruan apa dia berasal, dan siapa gurunya. Otot-otot senirupanya dilatihnya di Sanggar Garajas, Jakarta. Namun, otot-otot intelektualnya dilatih di ASTI (kini STSI) di bawah bimbingan maha gurunya saat itu, Saini KM. Di balik busananya yang serba tertib dan budi bahasanya yang halus, Saini KM adalah orang yang keras hati dan "liar" dalam menjalani petualangan ide-ide. Dalam perguruan Saini KM lah Herry Dim digugah untuk menjelajah ide-ide besar dan serba serius dari modernisme Barat. Saini sendiri adalah tipikal sosok intelektual yang sejalan dengan cita intelektual S.T. Alisyahbana yang serba girang dan optimis mengolah pemikiran sebagai bagian dari kepedulian etiknya.
Herry Dim bertualang di wilayah ide-ide lewat provokasi gurunya itu. Ia menyelam ke dunia filsafat dan arus-arus gerakan seni Barat masa antara 1978-1986an itu. Namun, meski terprovokasi Saini KM untuk banyak bergulat dengan ide-ide rasional, sebagaimana Herry Dim tidak kunjung dapat berbusana rapi seperti gurunya, ia juga rupanya gagal mewarisi kegirangan optimis dari gurunya. Meski kegairahannya pada bacaan dan ide-ide sangatlah besar, Herry Dim pada dasarnya seorang yang pemurung. Saini KM akan dengan mudah bisa menikmati Dirty Harry. Dan meski dia tahu Herry Dim tidak suka Dirty Harry, dengan mudah pula dia bisa menjuluki murid yang cara busananya bertolak belakang ini dengan julukan Si Dirty Herry.

Memang antara guru dan murid tersebut ada kesamaan, sekurang-kurangnya dalam satu hal: Keduanya penggemar The Beatles. Tapi, pada masa itu siapa sih yang tidak gemar The Beatles. Lagi pula The Beatles sendiri memiliki spektrum penjelajahan yang luas. Saini KM sangat mungkin akan tergila-gila oleh spontanitas dan keliaran John Lennon dalam nomor-nomor semacam Eight Days a Week dan Sexie Sadie; namun hampir bisa dipastikan Herry Dim akan lebih terpikat pada nomor-nomor yang lebih murung atau merenung, seperti Misery serta Strawberry Field. Keduanya tentu tak bakal menggemari kesukaan saya, seperti She's Leaving Home, Because, atau Long and Winding Road.

Tapi hanya soal The Beatles Herry Dim, Saini KM, dan saya, satu selera. Jenis musik yang digila-gilai habis-habisan oleh Herry Dim adalah Blues. Saya menyukai blues tapi tak pernah bisa tergila-gila. Jika saya bertandang ke rumahnya dan Herry Dim memutar lagu blues berhari-hari dengan nyaman dan sentosa, maka bisa dipastikan saya segera harus dilarikan ke rumah sakit. Sementara jika Herry Dim ada di rumah saya dan berhari-hari saya putar musik Jazz, maka hanya saya yang sentosa sementara Herry Dim harus segera masuk ruang ICU. Padahal Herry Dim penggemar jazz juga, dan kerap juga menulis ulasan musik jazz. Tapi saya yakin, musik itu tidak tinggal di hatinya, sebagaimana yang terjadi dengan musik blues.

Persoalan selera itu adalah urusan masing-masing dan tidak kelewat jadi pikiran saya. Namun, belakangan ini setelah terus-menerus menghikmati garapan-garapan seni rupanya, diam-diam saya bisa memahami sebabnya. Jazz (bahkan juga musik klasik) punya cukup ruang bagi gelak tawa dan kesenduan, tapi tidak ratapan. Jazz punya ruang yang lebar bagi improvisasi dan spontanitas, penjelajahan dan meditasi. Tidak demikian dengan blues. Blues sepenuhnya adalah lamento. Madah-madah blues hampir sepenuhnya berisi duka lara dan kemurungan. Bahkan dalam tema-tema dan tempo yang seronokpun selalu saja yang bergema adalah kepedihan. Dan kemanapun blues pergi, selalu ada yang tetap dan ajeg pada struktur musikalnya. Blues adalah sebuah penstrukturan dunia dan semesta sejarah sebagai gugus-gugus dukalara. Dengan segala daya blues menjadikan dukalara sebagai perkara serius sampai ditel-ditelnya. Nietszhe boleh saja berfilsafat dengan palu di tangan, namun pemusik blues akan tetap bersikeras menyanyikan dunia dengan petikan-petikan airmata. Ketika Herry Dim berkarya, blues lah yang mengisi seluruh ruang hatinya. Maka, nyaris pada semua lukisannya tercium jejak-jejak dukalara. Contoh paling sempurna untuk dominasi jiwa bluesnya adalah lukisan-lukisannya dalam periode biru. Semua lukisan yang ada di sana adalah gumam-guman blues dalam bingkai kanvas. Orang terkapar, mata kosong menerawang dengan duri ikan yang menganga, anak lelap dengan sisa susu dalam sunyi, dan lain-lain.

Dididiknya Herry Dim oleh sang guru hingga keranjingannya pada pemikiran dan berbagai gerakan seni Barat tidak membuat sang Dirty Herry terpaku pada Barat. Apalagi senirupa Barat termanifestasi kongkret di depan hidungnya sebagai sebuah lembaga pendidikan seni rupa yang meraksasa dan dia rasakan selalu saja siap menelan dia dan orang-orang yang seperti dia. Maka, dia meluputkan diri dari gempita barat dan mencari-cari jejak pada tradisionalitas leluhur. Pada khasanah leluhur itu ia dapati kebijaksanaan dan kekayaan yang berlimpah. Namun, untuk urusan musik, tetap saja ia hanya tergoda pada tembang-tembang Cianjuran yang tidak lain tidak bukan adalah blues juga, asli buatan Pasundan.

Belakangan bisa dimengerti mengapa Dirty Herry tidak bakal terkesan pada Dirty Harry, lelaki jagoan yang melahap masalah seperti melahap hidangan restoran padang: pedas dan sederhana. Hidup tak pernah mudah bagi Dirty Herry. Dan menyederhanakan hidup yang tidak mudah, tentulah semacam makar atas realitas.

Otodidak

Herry Dim selalu beranggapan dan menempatkan dirinya sebagai seorang otodidak. Anggapan ini benar dan tidak benar. Tidak benar, karena pada dasarnya Herry Dim secara resmi menjalani pendidikan di Jurusan Teater. Namun, menjadi benar karena lelaki bertubuh kecil ini tak pernah bisa diam hingga selalu saja langkah-langkahnya yang lebar merambah ke mana-mana. Ia menulis ulasan musik dan film, tergila-gila pada sastra sambil diam-diam menulis satu-dua sajak dan cerita. Mengurus tata rupa koran, tapi juga kian-kemari mencari dan menulis berita. Menggarap penataan panggung teater sambil sesekali menggagas dan "menyutradarai" pementasan pertunjukkan teater. Menenggelamkan diri pada bacaan-bacaan filsafat dan ilmu-ilmu sosial, tapi juga bergelut dengan dunia komunikasi komputer dan internet. Menjadi pembicara dalam seminar dan diskusi, tapi juga ke luar-masuk kampung mengelola pembagian beras bagi kaum miskin dan teraniaya. Belakangan ia menetapkan diri sebagai seorang pelukis, tapi ini tidak menolong menghindarkan dirinya dari posisi otodidak itu, sebab ia juga handal dan peka menggarap ruang-ruang dalam instalasi. Dan ketika orang merumuskan dirinya sebagai pelukis dan instalator, ia menggelar pameran grafis. Dengan langkah yang lebar merambah kian-kemari tidak bisa lain ia akan berhadapan dengan situasi dan posisi sebagai otodidak abadi. Menjadi otodidak adalah sesuatu yang dikeluhkannya tapi saya yakin sebenarnya dengan bangga dia nikmati dan jalani habis-habisan.

Seorang otodidak memiliki kelebihan dan kekurangan. Seorang otodidak senantiasa berada pada posisi gelisah, terancam, dan tidak percaya diri. Itu sebabnya seorang otodidak akan belajar dan bekerja berkali-kali lebih banyak dan habis-habisan dibanding yang bukan otodidak. Kelemahannya, seorang otodidak tidak pernah diuji dalam setiap tahapan pencarian dan pelajarannya. Seorang yang sekolahan setiap tahapan pelajarannya akan senantiasa diuji, dinilai, dan ditimbang. Betapa brilianpun seorang siswa, ia tetap harus menjalani tahapan-tahapan yang dibangun gurunya dan sistem sekolahnya. Ia harus belajar sabar, menahan diri ketika kebrilianannya dihinakan oleh tetek bengek aturan. Tapi, manakala ia selesai menjalani tahapan formal pelajarannya, ia berada pada posisi yang aman dan mapan. Inilah lubang mengerikan yang menganga dan menanti orang sekolahan. Tidak peduli brilian atau dungu, orang sekolahan akan merasa percaya diri dan aman setelah menyelesaikan sekolahnya. Ia bisa tergoda untuk istirahat mencari dan mengkaji seumur hidupnya, seolah ilmu pengetahuan adalah istri/suami yang sekali disunting akan menjadi kawan hidup selamanya tanpa perlu menoleh kanan kiri lagi.

Seorang otodidak tidak memiliki rasa aman, nyaman, dan mapan itu. Ia selalu diganggu oleh pertanyaan: Benar sudah tamatkan (sebuah tahapan) pelajaran yang ia jalani? Itu sebabnya setiap otodidak akan tergoda untuk menantang sebanyak mungkin lawan diskusi, semacam cara pribadi untuk menguji apa yang telah ia pelajari. Ini juga yang terjadi pada Herry Dim muda. Sebagai seorang yang mengaku dan memposisikan diri sebagai otodidak, Herry Dim memiliki kecenderungan demikian. Ia haus untuk berdebat dan berdiskusi dengan orang-orang sekolahan dari perguruan-perguruan tinggi. Dan sebagaimana lazimnya kaum otodidak, ia akan sinis dan jumawa jika didapatinya orang-orang sekolahan itu ternyata dungu-dungu belaka. Sebaliknya ia akan hormat dan makin merasa otodidak jika sosok orang sekolahan itu memang terbukti bukan jenis kaum dungu.

Dalam jalan dan semangat otodidak itulah Herry Dim kerap mendatangi para jawara-jawara dalam dunia seni lukis kita. Ia mendatangi Popo Iskandar dan dengan seksama memperhatikan cara jawara ini menjalani proses berkarya. Ia menyambangi Ahmad Sadali di ruang kerjanya di FSRD ITB, meneliti ditel-ditel persiapan sang maestro senirupa Bandung ini mengelola rupa dan kesenimanannya. Ia juga menongkrongi Sunaryo dan mewaspadai setiap segi yang menjadikan perupa ini diam-diam menjadi raksasa. Tentu juga ia ke luar masuk studio-studio para mahasiswa dan dosen seni rupa ITB untuk belajar metoda yang mereka jalani sambil diam-diam menakar pencapaian ilmu mereka.

Saya tidak akan heran jika Herry Dim --meski mungkin hormat pada Sasaki Kojiro-- tidak akan tergila-gila pada samurai akademik ini, dan lebih mengidolakan sosok Musashi, samurai yang menjalani setiap segi jalan pedang secara otodidak dan mandiri. Maka, sebagaimana juga Musashi dalam jalan pedangnya menjalani proses sebagai petani, Herry Dim pun hampir tiga puluh tahun lalu, diam-diam menghilang. Ternyata ia masuk ke tengah masyarakat Bajo. Hampir dua tahun ia menjadi nelayan bersama mereka, berlayar dari pulau ke pulau dengan biduk kecil, dipanggang matahari dan angin laut. Dia bisa bercerita panjang lebar dan detail mengenai berbagai jenis angin dan cuaca, riak dan ombak, cara membuat garam dan memasak sayuran di tempat terpencil dari peradaban, sebagaimana Musashi bisa bercerita secara ditel mengenai pergerakan air dan tetumbuhan di tanah pertaniannya. Sepulang dari sana, ia muncul begitu saja dengan pameran tunggal "Seni Rupa Ritus, Ritus Seni Rupa". Pameran itu meraih sukses dan menempatkannya sebagai pelukis bermasa depan gemilang.

Tak lama selepas pameran, diam-diam ia memusnahkan justru semua lukisan-lukisan yang mengangkatnya ke ketinggian. Ia tidak memujanya. Ia justru memusnahkannya. Sebagian dihujanpanaskan sampai hancur dan sebagian ia bakar. Semua ia kembalikan ke alam. Semua ia kembalikan ke kosong, sebagaimana Musashi meninggalkan begitu saja tanah tandus yang berhasil dengan sukses ia ubah menjadi tanah pertanian yang subur.

Beberapa tahun yang lalu, saya merasa bahwa Herry Dim diam-diam merasa telah menamatkan "sekolah" otodidaknya. Ia tidak lagi haus berdebat, dan gemar menantang latih tanding orang-orang sekolahan yang ditemuinya. Itu tidak berarti ia berhenti belajar. Ia tidak berhenti belajar, namun berhenti dari sikap jumawa, tegang dan minder khas seorang otodidak, dan bisa menangkap kebijaksanaan hidup berotodidak.

Langkah-langkahnya yang lebar kian-kemari sudah berangsur-angsur ia kurangi. Tepat pada umur 40 tahun, ia memutuskan diri sebagai pelukis. Namun, dengan begitu ia menjadi lebih rileks menjalani kehidupan lain, aktif mengelola lembaga swadaya masyarakat untuk menyantuni orang miskin, tekun dan bahagia mengelola tata rupa majalah sastra Horison, tempat ia diminta memberikan sentuhan kesenimanannya. Dan lebih dari itu, menjadi terkenal atau tidak terkenal, diliput media atau dipinggirkan, mendapat pujian atau kritikan, tidak lagi merusuhkan hatinya. Menjalani proses berkesenianlah yang menjadi kebahagiaannya. Sebagaimana Musashi di masa-masa akhir pengembaraannya, menjadi jago pedang atau bukan sama sekali tidak lagi menjadi kegundahannya. Pedang sudah menjadi bagian dari jiwanya, tempat ia hidup dan memaknai dunia.

Namun, sebagaimana Mushasi, Herry Dim adalah orang yang serius. Ia bisa menghargai humor, tapi agak enggan berkelakar. Ia tidak ragu-ragu tersenyum, tapi menghindar dari gelak tawa. Dengan serius ia memperlakukan kesenimanannya. Dengan serius pula ia mengembara dalam banyak bacaannya. Ada satu masa ia tenggelam dalam berbagai wacana postmodernisme dengan keseriusan sebagaimana lazimnya terjadi pada intelektual salon kita yang elitis dan menjadikan pikiran serupa mode pakaian, sehingga luput menikmati kegiarangan permainan metaforis yang lazim menjadi ciri kaum postmodernis sejati. Begitu ia menyadari khasanah gelak tawa yang kaya pada wacana-wacana postmodernis, saya rasa ia kembali jatuh cinta pada khasanah permikiran kritis Jerman sambil diam-diam menyusuri kembali jejak-jejak budaya tribal, mandala-mandala, dan jejak ketaksadaran kolektif pada mitos-mitos leluhur. Jejak-jejak ini pernah muncul dengan mengesankan pada karya-karyanya dalam Senirupa Ritus, Ritus Senirupa, dan hampir senantiasa muncul dan muncul lagi dalam berbagai karyanya.

Leluhur Kanak-kanak

Ada satu masa Herry Dim tenggelam dalam dunia kanak-kanak. Hal ini menandai salah satu fase dalam perjalanannya sebagai pelukis. Banyak yang heran mengapa Herry Dim yang seorang dewasa --dan serius pula-- tiba-tiba masuk dan tenggelam dalam dunia kanak-kanak. Tak sulit, sebenarnya, untuk memahami hal ini. Perjalanan ke dunia kanak bagi Herry Dim bukan merupakan upaya untuk menyelami dunia kanak dengan segala keriangbebasannya. Ia lebih merupakan sebuah perjalanan menelusuri jejak-jejak masa silam. Sesuatu yang sebenarnya sejalan dengan penelusurannya yang obsesif pada dunia leluhur dan jejak silam kebudayaan tribal. Dunia kanak-kanak di sini sebenarnya hampir identik dengan dunia leluhur.

Dalam pada itu, banyak dari kita beranggapan bahwa dunia kanak adalah dunia yang merupakan antitese dari, setidaknya bersebrangan dengan, dunia leluhur yang purbawi. Dunia anak adalah dunia masa depan. Namun tidak bagi Herry Dim. Kesuntukannya menenggelamkan diri ke dunia kanak-kanak dijalani sebagai seorang yang menziarahi dunia azali. Dunia kehidupan manusia pada saat-saatnya yang mula. Itulah sebabnya hampir pada semua karya lukisnya yang termasuk periode kanak-kanak lebih ber-aroma purbawi dibandingkan aroma kanak-kanak. Nyaris tidak kita temukan dunia riang, derai tawa, tindakan-tindakan konyol namun heroik dalam semangat bermain yang lazim hadir pada dunia kanak.

Dalam banyak hal lukisan-lukisan Herry Dim dalam periode dunia kanak tampil mengesankan secara tematik dan estetik justru ketika dunia kanak dan dunia tribal leluhur purbawi itu tampil dalam satu gelombang yang saling tindih-menindih, sebagaimana ditunjukkan dalam lukisan-lukisan kuda berkaki tiga, citra-citra wayang yang gagal menjadi wayang sungguhan, bapak (dewa?) marah, dan sejenisnya. Lukisan-lukisan yang bersungguh-sungguh menjadi dunia kanak-kanak meskipun enak dilihat, tidaklah kelewat mengesankan, karena Herry Dim terlalu rasional dan serius untuk menjadi anak-anak. Anak-anak yang programatis dan kelewat rasional adalah anak-anak yang tidak menarik dan membuat dunia terlalu berat untuk ditanggungkan.

Sembari menikmati panorama dunia anak-anak yang bercampur-baur berebut warna dengan dunia tribal, saya merasa bahwa periode ini tidak akan berjalan panjang dalam perjalanan seni rupa Herry Dim. Dan tak butuh waktu lama, Herry Dim memang segera meninggalkannya. Kepedulian etis dan kegelisahan filosofisnya tidak akan menahannya terlalu lama di dunia kanak. Persoalan-persoalan orang dewasa telah berjejal-jejal menantinya di depan mata. Herry Dim memang kemudian segera harus pergi untuk menerima dan menanggungkan nasib dan peruntungannya sebagai orang dewasa. Di sana ada sejumlah besar ketidakadilan, penjarahan, kekerasan, ketoprak dan mafia politik, peradilan yang tunggang-langang, militerisme yang gagah perkasa di hadapan rakyat kecil, perempuan, dan kanak-kanak, namun kecut hati berhadapan dengan penjahat dan gangster, dan lain-lain. Pendeknya, ia harus menanggungkan dan bermuka-muka dengan keketidakmasukakalan manusia Indonesia. Ketidakmasukakalan adalah sesuatu yang khianat bagi orang dewasa, dan harus diperangi jika dilakukan oleh orang dewasa. Padahal, ketidakmasukakalan merupakan hak dan anugerah bagi kanak-kanak. Herry Dim terlalu dewasa untuk menjadi anak-anak.

Karya besarnya gonjangganjingnegeriku jelas karya orang dewasa. Ia berada pada ketegangan keras antara mitos dan ritus dengan fenomena sosial-politik mutakhir. Dan menjalani ruwat, membuat doa tolak bala, dan upacara-upacara sepenuhnya adalah urusan orang dewasa. Maka, ketika kehidupan politik makin tak tertanggungkan, Herry Dim mengajak kawan-kawannya menampilkan sebuah "ritus seni rupa" juga. Kecenderungan itulah yang terjadi pada instalasi dan seni rupa pertunjukkan Herry Dim dan kawan-kawan yang dipentaskan belakangan ini. Lingkaran tanah, dan air Herry Dim. Tarian purba Ine Arini dan kawan-kawan. Larik-larik renungan K.H. Hassan Mustappa yang dilantunkan oleh Arliani, dan perahu mayang serta belahan kelapa Hendrawan Riyanto. Semuanya dihadirkan dab dikelola Herry Dim dalam ketegangan dengan realitas kegawatan sosial yang dihadirkan Weye Heryanto, rekan kolaborasinya. Namun, masih dengan cukup banyak ratapan dan nyanyi dukalara blues dan cianjuran, Herry Dim menggarap sebuah labirint dengan sebuah akhir yang terbuka. Semacam optimisme dia gelar juga akhirnya. Orang yang sedih, adalah orang yag lebih dulu bisa merasakan dan melahirkan cahaya di tengah situasi pedih yang nyaris absolut.

Maka pergelaran itu sebenarnya lebih merupakan upacara bagi peristiwa dan perhitungan kultural yang sebenarnya. Yang sebenarnya itu adalah segala yang telah ia lahirkan dalam serial kanvas-kanvas besar. Sebuah novel tentang tanah airnya. Sebuah peristiwa kenduri, dengan sepenuh-penuh hidangan airmata.

Sapuan-sapuan besar pada kanvas-kanvas besar merepresentasikan carut-marut kondisi faktual negerinya belakangan ini. Namun, kekerasan dan penderitaan, darah dan airmata, duka lara dan ketiadapengharapan itu, semuanya dihadirkan dalam semacam tertib melodius seorang pemusik blues. Dukalara menyejarah yang digaruk dengan sehabis-habis ratapan. Pada setiap kanvas besar yang memuat tragedi besar paling tak masuk akal di awal ini, selalu dihadirkan jejak-jejak ritus. Penggalian sehabis-habis diri atas jejak leluhur silan untuk melawan keputusasaan dan limbungnya jaman untuk bisa bertahan. Maka pada setiap kanvas senantiasa hadir sosok perempuan, semacam ibu bumi yang purba dan tak putus-putus dirundung duka.

Di kotak atas setiap kanvas gonjangganjingnegeriku itu terdapat image-image tunggal, semacam rajah, dalam warna hitam putih yang purba. Rajah-rajah yang dengan putus asa dan keras kepala diterakan sebagai gantungan nasib, semacma doa tolak bala dan sekaligus isyarat, masih akan terus kita perhina jugakah garba sang ibu bumi murni yang ngungun berurai airmata itu? Drawing-drawing halus hitam putih dalam kotak kecil mempresentkan semua gebalau warna dan peristiwa; sementara segala gebalau warna dan peristiwa di kanvas itu menggarisbawahi drawing-drawing hitam putih sederhana dan asali dalam tindak seni rupa. Selebihnya adalah tantangan (atau ajakan) apakah kita akan terserap sepenuhnya pada kedasyatan takmanusiawi yang membius dalam tindak kekerasan dan arogansi kekuasaan, atau akankah kita mulai menjadikannya latar belakang bagi tindakan sederhana untuk mulai membentuk gambar masa depan negeri ini dengan apa yang ada, dengan tindakan-tindakan konkret dan sederhana namun terpelihara. Dengan pamerannya Herry Dim bertanya dan menantang. Adalah sebuah kedzaliman jika kita memaksa dia juga yang harus menjawab(kan)nya (bagi kita).

Karya-karyanya yang lalu adalah karya-karya yang asyik mengajak kita berdebat mengenai sejumlah jawaban-jawabannya. Dan karyanya yang kini, dengan keras hati tak putus-putus melontarkan pertanyaan-pertanyaan bagi kita. Di tengah hidup yang nyaris sepenuhnya menjadi kelakar ini, orang dan karya-karya serius seperti Herry Dim jadi simpatik dan sangatlah mengasyikkan.***

 

Gambar-gambar Credo


kembali ke halaman muka

Mengisi Buku Tamu | Melihat Buku Tamu

Hosted by www.Geocities.ws

1