| Biografi | Herry Dim | |
. . . . . |
Herry Dim, disebut oleh teman-teman dekatnya sebagai
laboratorium hidup, manusia eksperimental, dan tukang menabrak
ketidakjelasan. Harry Roesli dalam candanya bahkan kerap mengatakan, “maneh
mah jelema sial, sialna teu weleh miheulaan bae zaman (kamu ini
manusia sial, sialnya hampir selalu mendahului zaman)," itu untuk
mengatakan bahwa karya-karya temuan Herry Dim sebagai seniman senantiasa
“lambat” diterima publik meski belakangan menjadi umum dan banyak
dikerjakan oleh seniman-seniman lain. Sebagai pelukis, misalnya, ia
mendahului menerakan ragam benda atau material apapun ke dalam kanvasnya.
Pada saat muncul ditanggapi dengan sepi, tapi belasan tahun kemudian
menjadi kecenderungan umum di kalangan senirupa. Tahun 1990-91 menggagas
“metateater” kemudian mengerjakannya bersama Harry Roesli dan Teater
Payung Hitam. Ide untuk membobol batas kaku antara senirupa, teater,
musik, tari, dan seni peran, ini pun diterima dengan dingin dan bahkan
hanya menerima hujatan. Belakangan setelah sekitar 15 tahun kemudian,
semodel "metateater" malah beranak pinak; ada yang di dalam
istilah performance art, multi-media, dan sebagian
mengembangkan seni aksi visual ini dengan nama-nama lain. Herry Dim pula
yang “menabrak” masa kesulitan biaya untuk artistik pementasan
teater di awal tahun 1980-an dengan mengatakan “tak usah beli dan bawa
apa-apa ke tempat pertunjukkan, cukup membawa tubuh kita saja, nanti
yang ada di sana kita manfaatkan,” maka muncullah konsepnya yang
disebut “badingkut,” konsep ini pula yang pada dasarnya melandasi
kesenirupaannya. Bahkan, lagi-lagi untuk senirupa dan seni pertunjukan,
ia mengawali konsep “hadir di manapun,” antara lain muncullah
karyanya di sungai, kuburan, perkebunan teh, dan jarian (bahasa
Sunda = lahan tak jelas yang penuh dengan belukar), dan tempat-tempat
tak lumrah lainnya. |
1990-an saja, antara lain ia mengikuti pameran-pameran:
International Exhibition of Asian Artists (Bandung), Biennale Yogyakarta,
Festival Istiqlal, Biennale Jakarta, Non-Aligned Countries Contemporary
Art Exhibition, 3 Indonesian Contemporary Artists (Jakarta),
Rites to the Earth yang bersambung dengan peristiwa "Ruwatan
Bumi,"
International Exhibition of Asian Artists (Kualalumpur), International
Exhibition of Asian Artists (Fukuoka). Pada bulan Mei hingga Agustus
1996, ia diundang oleh Kulturby Art Foundation untuk mengikuti pameran
besar senirupa kontemporer dengan tajuk Container 96: Art Accross the
Oceans di Copenhagen, Denmark. Platform 1 yang dikelola oleh
Canvas Foundation di Amsterdam. Serta mengikuti pameran 6 Indonesian
Painters di Darga & Lansberg Gallery, Paris, 1998. Pameran tunggalnya yang pernah diselenggarakan adalah "Senirupa Ritus - Ritus Senirupa" (1986), "Senirupa dan Sastra" (1991), "Menyongsong Millenium ke-3" (1993), "Instalasi 10 Biografi" (1993-94), Lukisan dan Instalasi "Sebuah Ruang Tamu Tak Berpenghuni" sebagai ungkapan keprihatinan atas peristiwa bredel tiga media cetak (1994), "Instalasi Bebegig" (1994), "gonjangganjingnegeriku" (1998 di Bandung dan 2000 di TIM Jakarta). Di tahun 1994 ia berkesempatan pergi ke kota Berlin selama 6 bulan, antara lain sempat melakukan kegiatan seni di Mime Centrum dengan seniman setempat dan seniman Ethiopia. Banyak pula karya-karyanya yang merupakan karya kolaborasi antara lain seperti "Overdose" bersama Harry Roesli; "24 Jam" bersama Dieter Mack; "Rakit" bersama Endo Suanda, Hendrawan Riyanto, Harry Roesli, Rendra, Putu Wijaya, dll.; "Metateater" bersama Harry Roesli & Teater Payung Hitam; "Pohaci & Bebegig" bersama istrinya, Ine Arini, yang seorang penari, "Guguran Daun" bersama sejumlah penyair, "Instalasi Onggokan Nasi" bersama Rendra, "Instalasi Negeri Angin" untuk pembacaan sajaknya Agus R. Sarjono, dll. Akan panjang catatan ini jika ditambah dengan karya-karya artistiknya untuk berbagai pertunjukan teater hingga karya-karya disain grafisnya untuk berbagai penerbitan, terutama buku-buku sastrawan nasional atau pun internasional. Sepanjang kariernya, ia pernah melewati 4 periode penting. Pertama, periode etnik, yaitu saat ia melakukan studi terhadap esensi dan simbol-simbol seni etnik, khususnya yang bersumber pada dasar kebudayaan masyarakat Kanekes, serta dari pergaulannya selama lebih dari satu tahun dengan suku Bajo di perairan Sulawesi. Senirupa Ritus - Ritus Senirupa lahir pada periode ini. Kedua, periode biru dan boom lukisan, ia kembali ke masa lalunya dalam artian mengolah kembali keterampilannya dalam menggambar (drawing) dan melukis model dengan pilihan warna monokrom biru. Selewat masa itu, warna-warna dalam karya lukisnya kembali muncul malah sepertinya menjadi koloris (colorist), kecenderungannya ini tumbuh bersamaan dengan situasi boom lukisan yang pernah terjadi di tanah air. Ketiga, periode anak-anak, satu periode pendek ketika ia begitu asyik melakukan kegiatan melukis bersama anaknya yang ketika itu masih berusia 4 tahun. Bisa disebut sebagai periode yang penuh gairah dan keliaran, dimana ia berkesempatan menengok kembali wilayah-wilayah yang paling archais dalam hidupnya. Keempat, periode Pohaci, yaitu saat ia sepertinya tengah menjumput kembali sejumlah pengalaman seninya, mencoba menggabungkannya dan membangun sesuatu yang sama sekali baru. Saat inilah ia tengah pulang-pergi antara masa lalu, saat ini, dan pandangannya ke masa depan. Dilatari oleh serangkaian perjalanan kreatif seperti disebut di atas, maka di antara seluruh perjalanan dan di masa "Pohaci" inilah konsep "badingkut"nya lahir. "Bunyi" kredo "badingkut" maka tak hanya dalam konteks kesadaran sosial, tapi sesungguhnya didasari pula oleh kesadaran estetik serta filsafat seni yang selama ini ia hayati sekaligus ia praktekan. Berbagai hal yang bagi orang lain mungkin dianggap muskil, ia susun kembali dan ia bentuk menjadi pernyataan baru dengan sebuah pengharapan yang selalu digumamkannya: "meski harus dimulai dengan mengais-kais reruntuk, akan kuantarkan bangsa ini memasuki masa pencerahan!" *** |