Tahap Baru Dalam "Tragedi 400 Tahun" Dengan demikian maka “Tragedi Maluku 400 Tahun” yang disebabkan oleh “pala dan cengkeh” telah memasuki tahap yang baru. Sementara ini di Indonesia sendiri, suku Maluku di dalam proses “nation-building”, juga harus disembunyikan dari trauma ulah Belanda yang sama itu.
Harapan serdadu-serdadu eks-KNIL tersebut di atas untuk dapat berdinas semantara di KL, sebelum dikembalikan ke Indonesia / Maluku akhirnya menjadi mubazir, karena tiba-tiba semua rencana kolektif diberhentikan dari dinas militer. Hanya + 1.000 orang di antara mereka berhak menerima pensiun, sedangkan selebihnya tidak!
Dalam rangka “kesementaraan” itu mereka ditampung dalam kamp-kamp terpencil masyarakat Belanda, dengan diberi pendidikan sekedarnya untuk masa depan di Indonesia. Terpupuklah di satu pihak solidaritas primordial yang kuat dan ketegangan antar generasi di lain pihak.
Sifat “sementara” memang tidak menimbulkan kebutuhan untuk berintegrasi dengan masyarakat Belanda.
Dalam periode 1951-1960 sifat “sementara” yang berangsur-angsur berubah menjadi “permanen”, melahirkan perasaan dikhianati oleh Belanda untuk sekian kalinya. Penderitaan batin generasi I ini disaksikan dari dekat dan ikut dirasakan sendiri oleh generasi II dan III.
Catatan : Mengenai klarifikasi generasi, maka yang disebut generasi I adalah mereka yang lahir di tahun 1930 atau sebelumnya. Generasi II adalah mereka yang lahir antara tahun 1931 sampai dengan tahun 1970 (terdiri atas 2 sub golongan, yaitu yang lahir di Indonesia dan yang lahir di Nederland). Generasi III adalah mereka yang lahir sesudah tahun 1970.bersambung ke hal 4-03