Dari Ambon Untuk Indonesia Baru Bocoran Dialog Laksma TNI Young Mardinal Di Kebun Cengkeh Orang Merah Hit And Run, Politik Belanda, Kristenisasi AmbonSELAMA ini aparat menuntut aparat keamanan di lapangan harus bersikap netral. Tapi bagaimana mungkin seorang prajurit bertindak sementara atasannya memihak. Seperti halnya yang dilakukan komandan gugus keamanan laut armada timur (dan guskamla armatim). Laksamana pertama (laksma) TNI young mardinal.
Keberpihakan dan guskamla armatim itu terbukti saat silaturahmi antara komandan yonif marinir Letkol (mar) Lukman Sofyan dan kadispen korps marinir Letkol (mar) Ibrahim. Dengan para tokoh ummat Muslim di salah satu rumah tokoh muslim di kawasan kebun cengkeh. Minggu 19 september 1999.
Mereka yang hadir diantaranya RR Hasanusi, Ustad Dipenegoro. Wahab Polpoke, Latty Sanaky Sh, Abdullah Tuasikal SH, Drs Suyatno Kusuma dan beberapa lainnya.
Pertemuan itu juga di hadiri gubernur Maluku DR Saleh Latuconsina. Namun ketika dikonfirmasi tidak berkomentar banyak perihal sikap laksma TNI young mardinal, “anda bisa menilai sendiri. Itu urusan atasan beliau.” ujar gubernur di hadapan pers.
“kehadiran saya hanya sebagai mediator untuk mempertemukan marinir dengan tokoh-tokoh muslim atas permintaan Dan Yon marinir dan kadispen terkait dengan citra marinir yang terpuruk akibat peristiwa 10 september.” Tandas gubernur lagi.
Lantas apa bukti keberpihakan Laksma TNI Young Mardinal dalam kerusuhan Ambon? Kepada pembaca kami turunkan rekaman pembicaraan perwira asal Aceh ini tanpa diutak-utik.
Laksma Mardinal membeberkan taktik-taktik perang Warga Kristen yang identik dengan politik Belanda melawan Aceh dan mengajarkan strategi perang kepada ummat Islam. Ia juga mengungkap sikap TNI Angkatan Darat terhadap ummat Islam, strategi Guskamla Armatim menggagalkan ummat Kristen bahkan menyatakan bahwa ummat Kristen saat ini berusaha meng-Kristenkan Ambon. Selengkapnya ikuti secara tuntas pembicaraannya yang berhasil diabadikan dengan kaset rekaman tape recorder.Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Setelah kejadian tanggal 10 itu, dua hari kemudian saya mendapat telepon dari KASAL. Dalam telepon itu saya mendapat tugas. Tapi pertama kali, Bapak KASAL mengata-kan, kamu sampaikan kepada pemuka-pemuka dari muslim bahwa beliau sangat menyesalkan kejadian itu dan diharap-kan kejadian ini tidak akan terulangi kembali. Itu harapan beliau dan saya diberi tugas untuk meneruskan perintah beliau ini.
Perintah itu akan saya laksanakan, tapi sayang sekali saat datang ke Al-Fatah waktu itu saya cari Pak Sanusi tapi tidak ada. Yang ada,hanya Pak Abdullah Soulissa, bapak Farid, Dr. Paing dan Dr. Umarella dari Ujung Pandang. Di situ saya dalam rangka mencari tim pencari fakta. Di sana beliau-beliau ini ngomong terutama Pak Farid emosional sekali.
Saya untungnya datang setelah hari Selasa. Memang saya sudah berkeinginan untuk datang tapi saya tunggu. Hari sabtu ini kadarnya masih 90 % saya hitung lagi Minggu. Mudah-mudahan sudah turun 80 %. Nah, saat saya ber-hadapan dengan Pak Farid. Saya melihat tinggal 50% emosi-onalnya. Dengan orang-orang emosional begini kurang enak ngomongnya. Dengan dokter sudah enak. Dengan Pak Dullah juga sudah enak. Cuma dengan Pak Farid ini agak ……… tapi akhirnya beliau melemah.
Jadi waktu saya dengar semua hasil-hasilnya, kemudian saya ke marinir. Pada waktu saya dipertintahkan KASAL cek magazen. Mungkin Pak Ivan tahu. Kebetulan di sana ada danton-danton komandan. Komandan peleton juga hadir. Saya cek 50 peluru pertama adalah peluru ini variabel. Ada yang peluru karet ada yang peluru hampa. Hasil-hasil penemuan selongsong saya lihat mungkin ini tidak betul ya, karena di lapangan dari hasil selongsongan yang tertembak itu semuanya peluru karet dan peluru hampa, jadi saya tidak melihat peluru tajam.
Kemudian saya memberi pengarahan sedikit kepada komando bawah danton-danton supaya sesuaikan prosedur pendekatan persuasif. Saya rasa ini juga sudah berulang-ulang selalu disampaikan kepada prajurit dan kita tidak bosan-bosannya untuk memberitahukan hal ini kepada mereka.
Dari hasil sweeping yang dilakukan satuan kita dari Marinir, itu terlihat banyak pistol rakitan ada senapan rakitan ada bom rakitan ada basoka. Kemudian saya pelajari dari hasil kejadian-kejadian lapangan, itu kejadian di Talake sehingga ada Letnan yang kena dan di evakuasi ke…eh di Air Salobar dan dievakuasi ke Surabaya, secara psikologis pasukan ini sudah kena.
Maksudnya dia (anggota) tidak mau mati konyol. Atau tidak pengen seperti teman itu. Dengan demikian dia sudah siap-siap untuk menghadapi kemungkinan yang paling jelek. Oleh karena itu, psikologis pasukan ini sudah tidak sehat. Jadi saya minta sama Pak Ivan waktu itu, supaya pasukan yang ada di Air Salobar nyucing dengan pasukan yang lain. Itu harapan saya. Tapi Pak Ivan mengatakan, akan kami laksanakan dan beliau sudah meyakinkan ke saya bahwa pasukan marinir tidak akan kena psikologis seperti itu. Saya percaya pada beliau dan okelah kalau begitu.
Kemudian dari hasil kejadian tanggal 10 itu saya punya kesimpulan bahwa anggota ini — ya seperti harapan saya situasi yang terjadi dan ketakutan, psikologis terkena tembakan. Dari hasil sekian orang meninggal, sekian orang ……… saya pikir mereka dari pada jadi sasaran tembak. Jadi kita menembak dalam rangka membela diri. Kita tidak pengen mati konyol.
Kita lanjut, saya waktu itu di Al-Fatah setelah bicara-bicara soal ini nanti kami akan periksa. Kami akan mencari data-data. Saya sudah dapat sebagian data-data dari bapak-bapak sekarang ini kebetulan bapak-bapak lagi kumpul, nah ini tugas saya untuk menyampaikan perintah bapak KASAL itu. Saya beritahu kondisi saat ini kepada bapak Abdullah yang sebenarnya kejadian sebelum di Talake, saya sudah meminta kepada bapak Abdullah yang di TIARA START kita sudah beritakan untuk bapak-bapak ketahui bahwa taktik merah sekarang ini adalah Hit and run. Kita di pancing 5 orang atau 10 orang masuk melempar-lempar, begitu dikejar dan tiba-tiba petugas lain datang tum. Jadi bapak-bapak harus baca situasi seperti ini. Upaya ini adalah upaya untuk kaum Muslim dianggap penyerang. Ini taktik pak. Dan kita memang lihat di mana-mana Muslim sekarang ini.
Situasi waktu Januari sampai perdamaian, situasinya tidak sama. Kebetulan dihadapi pak Panjaitan. Oleh karena itu bapak Panjaitan namanya bagus. Kenapa ? pada waktu merah menyerang. Sekarang, putih yang menyerang. Kita lihat dari cara ini ya, situasi medan sekarang ini, putih seolah-olah menyerang walaupun saya yakin itu terpancing. Waktu itu saya minta sam beliau-beliau sabarkan anak-anak dan jangan terpancing. Kalau dia sudah lari ya sudah. Tidak usah di kejar. Waktu itu saya ngomong sama pak Abdullah Tuasikal. Saya ngomong pagi jam 11.00 Wit dan jam 24.00 malamnya terjadi. Saya bilang jangan menyerang.
Kesimpulan dari bapak Abdullah waktu itu, perlu bapak ketahui ada tiga golongan. Satu golongan yang memang di Ambon yang disebut mereka golongan mujahidin yang satunya golongan penggembira dan satunya lagi golongan pendatang. Semua golongan tidak ada yang mengkodali (komando pengendali). Jadi di sini kelemahan pihak Muslim. Karena tidak punya kodal, sehingga akhirnya berbuat sendiri-sendiri.
Padahal dalam strategi peperengan kalau tidak ada kodal, hancur pasukan itu. Harus ada satu kodal. Oleh karena itu saya minta pak Dullah, pak Farid, tolong you punya anggota you kasih tanda karena kodal juga bisa secara tanda. Saya tanya siapa yang melempar bom waktu itu, mereka bilang siapa ya siapa, tidak tahu. Saya bilang apakah kamu yakin yang melempar bom itu anak buah kita. Kalau begitu ada kekuatan lain yang masuk ke kita. Bagaimana bisa mengenal tiga, dua, satu ini. Saya ingatkan, bapak ingat politik Belanda melawan Aceh? Dia (Belanda) merasa tidak puas untuk itu dia masukkan orang-orangnya ke orang Aceh. Jadi sekarang ini proses merah sedang menghancurkan kita dari dalam. Jadi bapak-bapak tolong hati-hati dalam konsolidasi lagi. Cek lagi bapak-bapak punya orang, benar nggak?
Kemuidian di pihak keamanan sendiri, sekarang sudah terbentuk gara-gara kaum Muslim menyerang, suatu opini bahwa kaum putih ini menyerang dan brutal. Nah untuk itu, supaya mendapatkan temuan aparat ini berpandangan yang sama setiap masalah yang terjadi di mana-mana. Karena marinir masih tetap bertahan konsepnya, ya hancurkan marinir. Caranya bagaimana? Begitu bapak-bapak menyerang, dihadapkan kepada Marinir, ini kodal dari atas. Mohon maaf, bapak-bapak tahu sendiri siapa. Jadi tolong hati-hati. Ini adalah usaha dari pihak merah untuk menghadapkan bapak-bapak dengan kita (aparat). Sehingga nanti timbul opini dari pihak kita bahwa bapak-bapak memang tidak bias diatur, perusuh.
Sehingga kodal keamanan tinggal menghadapi satu sasaran yaitu orang Muslim. Ini berbahaya sekali. Jadi tolong bapak-bapak jangan sampai terpancing. Saya melihat strateginya seperti ini. Jadi yang kedua ini, saya melihat-lihat kelompok merah menggunakan taktik ini. Mereka berusaha aparat itu diambil hatinya. Contohnya, kalau mereka disuruh pergi mereka pergi baik-baik. Tapi kalau putih. Wah berat menghadapinya. Brutal. Ini memang taktik merah. Sekarang beredar di luar mereka mencintai Marinir. Itu sudah jelas, saya melihat bahwa kaum muslim dipojokkan.
Oleh karena itu, terus terang saja dari Januari sampai saat ini, terus terang tentara dalam hati saya, saya tidak terima kejadian itu sebagai seorang Muslim. Oleh karena itu, saya dituduh orang putih. Silahkan. Sampai Pangdam sendiri mengatakan saya orang putih karena kejadian di OSM pantai. Waktu itu saya ditelepon oleh Hendra di Al-Fatah katanya “bapak tolong keluarga saya di OSM pantai. Minta tolong pak supaya diamankan.” Saya berangkat dan jemput dia di sana. Begitu sampai di OSM dia melihat bahwa masjid tidak apa-apa dia sudah tenang. Dia bilang, orang tuanya sudah aman. Tapi begitu kami mau pergi, di pantai itu di bawah jembatan rumah-rumah itu terbakar dan anak-anak kita orang putih ada yang luka empat orang. saya mendekat untuk menolong dan saat mereka sedang berenang ditembak juga. Anak buah saya berteriak, saya ditembaki komandan. Angkatan darat yang menembak. Saya suruh tembak membalas ke arah penembak-penembak gelap. Setelah itu saya melapor kepada pangdam, ini bagaimana kamu. Anak buahmu menembaki aku.
Saya ditanya, bagaimana pendapat kamu tentang situasi sekarang. Saya katakan yang putih mempertahankan diri. Sedangkan merah dari dulu berusaha mengkristenisasi Ambon. Karena tahap-tahap yang saya lihat sekarang ini, saya melihat semua kampung Muslim tinggal Batumerah, Waihaong, Air Salobar, Kramat Jaya, sedikit Ponorogo ?bersambung ke hal 206