Kristen Belum tentu RMS,
Tetapi RMS Pasti Kristen
KALIMAT di atas seringkali kita dengar di kalangan masya-rakat  Islam. Kita perlu klarifikasi pendapat tersebut agar jelas duduk persoalannya.
1. Kristen belum tentu RMS
Pada tahun 1945 sampai tahun 1955 ada sebuah Batal-yon yang anggota-anggotanya menggunakan kain berang di leher. Inilah Batalyon 714/PTM yang dipimpin oleh Mayor Pelupessy seorang Kristen pejuang ’45. Anak buahnya lebih 50% pemuda-pemuda Kristen Maluku bahkan kelahiran Maluku. Selebihnya pemuda Islam asal Maluku, Jawa, Sunda dan suku lainnya.
Batalyon yang amat disegani Belanda pada Zaman perang kemerdekaan (gerilya) ini lebih dikenal dengan Batalyon Pelupessy. Mereka yang ex KNIL tentu pernah berhadapan di lapangan dengan prajurit-prajurit Oom Pelupessy ini. Orang bilang kain berang baku dapa berang, sama–sama merah, sama–sama batu hitam.
Batalyon ini ikut mendarat di Maluku khususnya di       Seram yang pendaratan pertamanya merebut kota Amahai. Sekali lagi berang baku dapa berang, kerasnya sagu Soumokil baku dapa dengan kerasnya sagu Oom Pessy.
Sejarah juga tidak dapat melupakan peran Bung Rea-waru dan sejumlah tokoh Kristen seperti Meneer Pupella yang melakukan perlawanan di bawah tanah.
Bung Reawaru yang Kristen itu punya sejumlah pemuda baik Islam maupun Kristen yang membentuk suatu kekuatan melawan kehadiran RMS, karena itu dikenal perlawanan oleh para pemuda Reawaru. Para pejuang muda yang melawan RMS itu menamakan diri mereka Pemuda Reawaru, begitu bangga mereka menyandang nama itu. Ketika terjadi pendaratan di Seram mereka segera bergabung dengan sejumlah Batalyon TNI yang mendarat di desa-desa di pulau Seram. Sayangnya tidak ada sejarah yang menulis tentang kepahlawanan satuan ini.
Walaupun begitu ada sepotong jalan yang panjangnya kira-kira 100 meter di belakang kantor gubernur memakai nama pejuang ini. Bila RMS sudah dihancurkan termasuk para tokohnya di kalangan  Kristen, sebaiknya Ummat Islam mengusulkan nama pejuang Reawaru menggantikan nama jalan A.J.Patti. Di Waehaong sampai hari ini masih hidup seorang putra Buton yang pernah menjadi satuan Pemuda Reawaru, namanya biasa dipanggil Attarlagi, mendengar pahit getir perjuangannya, silahkan menemuainya.
Mereka jelas-jelas para pejuang bangsa baik anak-anak Oom Pessy maupun satuan Pemuda Reawaru, mereka adalah pemuda-pemuda Maluku beragama Kristen. Karena itu di Ambon dan Maluku pada umumnya terdapat bagian besar Ummat Kristen yang menolak RMS walau sikap itu tidak dapat ditunjukkan terang-terangan. Hal tersebut dibuktikan betapa sulitnya RMS merekrut serdadu suka rela yang keseluruhannya pemuda Kristen pada tahun 1950.
Dalam kerusuhan yang terjadi pada 19 Januari 1999 yang diotaki RMS pasti sebagian besar dari mereka yang terlibat bukan anggota RMS, mereka yang tertipu isu yang dimain-kan oleh RMS dengan mengkonsentrasikan pada konflik agama sehingga hampir keseluruhannya mendukung aksi penghancuran Ummat Islam pada tanggal 19 Januari 1999 yang berkepanjangan sampai hari ini.
Tipu muslihat RMS seperti itu pernah kita rasakan pada tahun 1950 di mana pelibatan Ummat Kristen mendukung RMS diprovokasi dengan thema peng-Islam-an Ummat Kristen oleh TNI. Hal ini diangkat dalam penulisan Mayjen (Purn) Muskitta dalam kedudukan beliau sebagai salah satu anggota komisi politik Indonesia-Nederland dengan judul “Masalah Orang-Orang Maluku di Netherland yang ditulis pada 16-6-1995 sebagai saran kepada pemerintah Republik Indonesia. Pada bagian awal tentang latar belakang sejarah beliau katakan sebagai berikut :
Dalam hubungan ini ada baiknya kalau ada kesempatan Hut RI ke 50 dibuka tabir rahasia mengenai latar bekang terjadinya proklamasi RMS dan repatriasi saudara-saudara suku Maluku eks KNIL ke Nederland (sebagai awal penyebab dari seluruh permasalahannya).
Pada bagian lain dijelaskan betapa DR. Soumokil dengan RMS – nya telah menipu Ummat Kristen di Ambon dengan isu peng- Islam-an oleh  TNI.
Kesadaran Ummat Kristen akan muncul kembali untuk melihat lebih jernih konflik ini sebagai rekayasa RMS. Jadi kita yakin akan terus bertambah banyak saudara-saudara kita yang menolak RMS dengan semangat nasionalismenya yang kuat akan menjadi kekuatan penentu dalam proses rekonsiliasi menuju perdamaian. Karena itu bila menunjuk para tokoh yang akan dilibatkan dalam proses rekonsiliasi harus melibatkan mereka saja bukan dari kelompok pro RMS. Para tokoh yang terlibat oleh kerusuhan tidak akan mendukung upaya rekonsiliasi yang dilanjutkan dengan proses hukum.

2. RMS pasti Kristen
Saya menyebutkan ada 3 orang tokoh Islam yang terlibat RMS, berita itu saya dengar dari beberapa sumber secara terpisah. Mereka adalah Bapak Duba Latuconsina, Ibrahim Ohorella dan Abdullah Soulisa. Saya memang sudah mendengar dari pihak yang dapat dipercaya seperti apa yang ditulis Dulah Soulisa menanggapi tulisan Stev Latuihamallo pada harian Suara Maluku tanggal 21 Februari 2000. Bagian dari penjelasan Pak Dullah seperti dikutip harian Suara Maluku.
Apa yang saya sebut 3 orang termasuk Pak Dullah dan Pak Duba sebenarnya tidak benar tetapi tuduhan berbagai pihak itu tidak dapat dan tidak berhak bagi saya untuk mengklarifikasinya sebab tak ada manfaat karena tidak akan dipercaya. Kini Pak Dullah Soulisa yang diisukan menjawab melalui harian Suara Maluku menolak tuduhan terhadap diri beliau, yang oleh redaktur diberitakan sebagai berikut :
Dalam hubungan ini ia mengungkapkan bahwa memang benar nama Ibarahim Ohorella di waktu itu menjabat sebagai menteri ekonomi / kemakmuran RMS. Ibrahim mengganti-kan Duba Latuconsina yang mengelak dari pencalonannya. Saudara Ibrahim Ohorella orangnya impulsif dan ambisius, ungkap Om Dullah. Ditambahkannya sebelum Ibrahim menerima pencalonan ia berkata kepada saya (iparnya) “Dul, saya ganti kakak Duba supaya orang Islam tidak terlalu diteror dan dibunuh”
Soal yang diangkat Pak Ibrahim ini diperkuat pada penjelasan di atas tentang tulisan Mayjen (Purn) J.Muskitta. Dari apa yang dijelaskan Pak Dullah ternyata hanya Ibrahim Ohorella saja yang terlibat RMS dengan alasan yang jelas memihak Ummat Islam yang dizhalimi, jadi motifnya bukan karena semangat RMS-nya yang justru kehadirannya untuk menentang cara-cara RMS dengan penggunaan kekerasan menimbulkan korban Ummat Islam.
Kalau begitu yang mana tokoh Islam terlibat RMS, karena itu dalam buku saya tidak pernah menyebut nama sebab saya tahu tidak ada seorangpun tokoh Islam terlibat RMS secara moral dan mental / semangat kecuali sebagai taktik penyelamatan ummatnya.
Penjelasan panjang di atas adalah gambaran tujuan penulisan sekaligus sebagai jawab menyeluruh yang bersifat umum. Dengan jawaban tersebut diharapkan perbedaan persepsi tentang kerusuhan Ambon dapat diselesaikan minimalnya telah berkesempatan berdialog two way traffic melalui tulisan.

bersambung ke hal 205

back top

Hosted by www.Geocities.ws

1