Keberhasilan dan Pengaruh Buku KEBERHASILAN luar biasa buku yang saya tulis serba cepat itu ( Oktober 1999 sampai dengan Desember 1999, kecuali buku I ) dibuktikan dari banyaknya peminat. Sekarang sedang disiapkan cetakan ketiga yang apabila dilanjutkan sudah akan mencapai 20.000 buah buku. Kalau laris di toko buku tertentu karena disenangi, pembaca merasa menemu-kan sesuatu yang baru dan dinilai masuk akal. Banyak pujian didapat dari berbagai lapisan pembaca di tanah air yang pada umumnya merasa tertipu atau terlalu ditutup-tutupi oleh pemerintah dan aparat keamanan. Bila akan kita rinci seberapa jauh keberhasilannya maka catatan di bawah ini perlu disimak:
a. Walaupun Ummat Islam banyak yang telah mengetahui duduk permasalahan sebenarnya sebagai suatu perang agama tetapi tidak ada gejolak apapun di luar Maluku sebagai akibat pengaruh buku ini. Mengapa demikian, karena mereka membaca buku ini secara utuh di mana arah mencari penyelesaian didukung yaitu proses hukum dan politis, bukan melakukan aksi balas dendam ke Ambon atau terhadap sasaran-sasaran di luar Ambon. Mereka mengerti betul bahwa perang agama hanya sebagai akibat saja dari suatu hasil rekayasa politik RMS yang dengan mengedepankan berbagai perbedaaan dan konflik antara Islam-Kristen di Maluku berhasil menggunakan massa Kristen untuk menghancurkan Ummat Islam. Judul buku begitu terbuka untuk mengajak pembaca menemukan penyebab bukan akibat. Saya bersyukur bahwa para pemuka Islam cukup memahami duduk permasalahan sehingga mereka bereaksi tepat apalagi telah tampak proses cooling down, ternyata didukung oleh segenap Ummat Islam yang sesungguhnya cinta damai.
Pada dasarnya Ummat Islam di Maluku maupun di luar Maluku setelah mengetahui keterlibatan RMS, mereka lebih mengedepankan penyelesaiannya kepada peme-rintah dan aparat keamanan (oleh TNI dan POLRI) sedangkan Ummat Islam akan bersiaga pada barisan kedua, dan tentu siapa saja yang tidak menghendaki disintegrasi bangsa. Bentuk penyelesaian melalui proses hukum dan politik didukung, mungkin sekali sejumlah tokoh nasional akan membantu percepatannya di mana seperti sudah kita mulai di mana para ulama yang terlibat dalam penyiapan buku ini telah mensponsori upaya itu dengan secara khusus ke Jakarta untuk menyampaikan tuntutan dan saran kepada pejabat negara. Langkah ini akan ditindak lanjuti.
b. Masyarakat pembaca di Ambon dan sekitarnya memberi-kan support luar biasa atas diterbitkannya buku ini. Buku sebanyak 150 exemplar cetakan I habis dalam waktu 2 hari sedangkan cetakan II 600 exemplar habis dalam 3 hari diambil pengecer dan mereka meminta lagi. Tam-paknya mereka menemukan sesuatu yang cocok dengan apa yang disaksikan di lapangan, berbagai analisis mem-buat mereka terbelalak dan memahami duduk permasa-lahannya.
Yang lebih penting dari itu semua, mereka mendukung sepenuhnya langkah penyelesaian lewat proses hukum dan politik yang diprakarsai oleh para ulama yang terdiri K.H. Ali Fauzy, K.H. Wahab Polpoke dan K.H. Akhmad Bantam sedangkan saya hanya mendukung dengan memberikan jalan untuk ke Jakarta menghadap sejumlah pejabat, adanya sikap Presiden yang melakukan inter-vensi terhadap TNI dalam pergeseran pejabat dan akan memasuki Idul Adha 1420 H.
Tugas ini akan dilanjutkan oleh para Kyai dari Ambon ini termasuk para politisi Islam di Ambon, sedangkan janji para tokoh Islam ditingkat Nasional untuk terlibat sangat membesarkan hati. Kepada mereka disediakan 4 jilid buku, seperti yang dijelaskan di depan. Bahkan ada yang akan menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Arab untuk kebutuhan pembaca di manca negara.
Dengan buku ini Insya Allah proses hukum dan politis akan segera menghentikan konflik fisik bersenjata dan beralih pada penyelesaian hukum dan politik. Karena itu proses rekonsiliasi akan berjalan menuju perdamaian yang sesungguhnya.
Walaupun demikian berbagai pihak terutama para tokoh di tingkat nasional dan yang ada di Maluku mengingat-kan agar proses rekonsiliasi bukan hanya bersifat maaf-maafan tetapi harus ditindak lanjuti dengan penyelesaian hukum dan politis karena pihak Kristen yang telah berkonsilasi akan ikut membantu menunjuk hidung mereka yang menjadi biang keladi. Bila saja RMS sebagai bagian dari akar permasalahan berhasil dibekuk maka konspirasi politik yang besar itu akan dapat dipatahkan. Ummat Islam pun merasa lega karena ancaman ketiga kali minimal telah dikurangi, karena itu harus tuntas penyelesaian RMS ini, tidak ada lagi yang tertinggal di negeri Belanda apalagi di Ambon/Maluku.
c. Buku ini ternyata ikut berperan serta memojokkan RMS, tinggal pada waktunya menuding batang hidung masing-masing. Tunggu setelah berjalan proses hukum , sebagian akan menjadi tersangka, sebagian lagi menjadi saksi. Pasti akan ditemukan para tokoh perencana dan penggerak itu dan akan kita buktikan betul atau tidak ada RMS dibalik kerusuhan ini atau organisasi lain. Bila itu organisasi baru bukan RMS dengan baju Republik Indonesia berarti Ummat Kristen telah membentuk organisasi pelaku kerusuhan itu. Kalau sudah begitu apakah tidak lebih parah kondisi kita di Maluku? Banyak sekali musuh Negara Kesatuan Republik Indonesia di Maluku perlu kita kembangkan tanggung jawab bela negara sebagai seorang WNI. Aparat keamanan sangat lalai atau sengaja berkolaborasi dengan musuh negara sehingga setahun lebih tidak berhasil membongkar RMS bahkan meminta bukti keterlibatan RMS dari seorang K.H. Wahab Polpoke yang tidak punya asisten intelijen. Detasemen Intelijen Kodim sampai dengan Koramil dan Babinsa serta sejumlah orang Intel Melayu. Kalau bukan RMS, organisasi apa yang telah berhasil diditek selama setahun lebih ini.
Buku ini telah menunjuk RMS dengan sejumlah petunjuk awal untuk dimanfaatkan oleh Pangdam XVI/PTM melengkapi data dan fakta yang telah dipeti eskan, pada Ummat Islam banyak bukti keterlibatan RMS, tetapi bukan kepada Max Tamaela bukti-bukti itu, khawatir akan penuh di peti esnya.
Karena itu betapa kecewanya kita semua karena Pang-dam yang diharapkan untuk menerima data dan fakta keterlibatan RMS tidak kunjung datang. Apakah karena proses eksodus tokoh-tokoh RMS belum selesai dari Maluku? Kalau ksatria jangan lari, harus berani memper-tanggungjawabkan perbuatan di Mahkamah Pengadi-lan, bela habis-habisan yang diperjuangkan, kecuali eksodus untuk melanjutkan perjuangan dari luar negeri.
d. Berhasil pula mengkristalisasi mereka yang terlibat RMS dengan mereka yang tertipu mendukung rencana RMS. Hasil dari kristalisasi yang baru pada tahap awal ini adalah tidak ada lagi serangan dari pihak Kristen, prestasi RMS 0% sedangkan yang menolak perintah RMS dengan nilai 100.
Silahkan bandingkan dengan periode sebelum Januari 2000, setiap kerusuhan relatif dimulai oleh pihak Kristen atas instruksi Head Quarternya RMS, kini perintah seperti itu tidak akan digubris.
e. Tokoh RMS meninggalkan Ambon. TNI memang telah melihat keterlibatan RMS seperti dijelaskan pada bagian depan tentang kehadiran sejumlah alat utama TNI-AL. Buku ini memberikan kejelasan tentang antisipasi TNI itu, hasilnya sejumlah tokoh sebagai otak perencana keru-suhan tidak mungkin terus bertahan di Ambon. Anggota intel yang khusus diturunkan dari Mabes TNI dalam jumlah besar itu tentu memanfaatkan buku ini sebagai salah satu sumber informasi dari sekian banyak sumber. Mudah-mudahan partisipasi sang buku akan mempermudah tugas mereka membuat para tokoh RMS tidak leluasa bergerak.
f. Sebagai faktor penangkal di waktu yang akan datang. Salah satu tujuan penulisan ini adalah sebagai bahan penulisan sejarah oleh para ahli baik yang Islam maupun Kristen. Seorang sejarawan akan mengedepankan obyek-tifitas daripada kepentingan politik. Jangan seperti peristiwa pemberontakan RMS yang begitu hebat ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak ada tulisan yang jelas, apakah tidak ada kepedulian dari kita orang Maluku atau apapun alasan-nya, tetapi yang jelas kelalaian itu telah menimbulkan korban berikut di antara rakyat kedua belah pihak. Korban jiwa dan harta benda yang tak ternilai besarnya tetapi korban persatuan dan kesatuan, persaudaraan dan keakraban di antara kita serta dendam yang entah kapan punah dari dada kita semua adalah yang amat memasgulkan. Semangat sagu salempeng dipatah dua tinggal kenangan atau hanya Obet kepada Obet dan Acang kepada Acang saja. Budaya yang dibina dan diturunkan kepada anak cucu ternyata tidak berlanjut, kita hancurkan budaya kebanggan kita orang Maluku. Pada generasi kita inilah terjadi pengkhianatan terhadap kebesaran budaya orang Maluku.
Sadar atau tidak, pertemuan dua orang Ambon (Malu-ku) di rantau orang seperti di atas kereta api yang tidak saling kenal, hanya wajah dan dialek menunjukkan mereka dari tanah tercinta. Ini pengalaman satu gerbong kereta dari Jakarta ke Bandung sungguh menjadi kena-ngan, ia ibarat saudara dekat, ia menawarkan rumahnya bila saya harus ke penginapan. Banyak sekali pengala-man ibarat adekaka kandung bila dirantau orang, setiap orang punya pengalaman yang bisa bercerita banyak. Cerita seperti itu sekarang terganjal oleh kasus kerusuhan ini. Kondisi ini harus dibangun kembali perlahan-lahan semoga sagu salempeng berpatah dua kembali menjadi semangat tolong menolong yang barangkali sulit dicari tandingannya di dunia ini.
Mari kita introspeksi diri, siapa sesungguhnya yang begitu kejam menghancurkan ikatan persaudaraan yang spesifik di dunia ini.
Buku ini semoga menjadi momen yang amat berharga bagi kita orang Maluku yang Islam maupun Kristen, agar kita sadar sampai kepada keturunan terakhir di akhir dunia. Bila saja kita objektif tanpa prasangka dan dendam mau melihat peran buku ini dari sisi yang positif, maka posisinya sebagai penangkal terjadinya kasus serupa di waktu yang akan datang jelas sekali.
Siapa salah dan siapa yang benar akan dibuktikan di pengadilan nanti apalagi sebagai ummat beragama kita yakin Tuhan Maha Mengetahui, Maha Adil dan Maha Kasih Sayang. Generasi yang akan datang tidak boleh mengulang kekejian seperti ini lagi, tragedi kemanusiaan terbesar di akhir abad ke 20.
Biarlah anak cucu kita membacanya biarlah mereka menangisi korban dan kerugian sesama kita, apalagi mereka akan melihat ke dalam dirinya yang tertinggal jauh dengan saudara-saudaranya sebangsa dan setanah air sebagai akibat perbuatan sekelompok orang yang memaksakan kehendaknya dengan menggunakan rakyat kecil yang tak berdosa. Akhirnya kita sadar bahwa “there are something wrong” dalam pembentukan para tokoh dan pemimpin kita.
Pahit amat pahit antawali masih dapat kita telan, tetapi pahitnya kerusuhan ini tidak akan dapat diterima oleh kita anak Maluku. Mudah-mudahan buku ini dibaca juga oleh anak cucu kita yang lebih bijak, lebih sadar akan arti manusia dan kemanusiaan sehingga buku ini agar menjadi penangkal di waktu yang akan datang dalam membina semangat “sagu salempeng berpatah dua”.bersambung ke hal 203