Analisa Semberono,
Kontroversial, Kesan Provokasi
Catatan Kritis Untuk Buku Brigjen TNI (Pur) Rustam Kastor(3 Habis)
DALAM membedah, mencermati dalam pikiran dan daya analisa, Rustam Kastor tidak bisa mengungkap daya analitiknya tajam, tentu sebagai mantan perwira tinggi di TNI Ia lebih banyak bermain dan mengulas asumsi dan ana-lisa umum, yang di dalam kondisi konflik tahun lalu, berte-baran bagikan jamur di musim hujan dengan berbagai ragam versi masing-masing kelompok. Sehingga dalam Kondisi cooling down saat ini, buku Kastor ini menimbulkan contro-versial dan merupakan bentuk provokasi baru untuk mema-naskan situasi lagi.
Ulasan bukunya tidak mengungkap fakta, data dan analisa, secara komprenshif, menyeluruh. Tapi, terpenggal-penggal bahkan sembrono. Menelusuri bukunya, terjadi pengulangan terus-menerus pada pembahasan (Analisa) dengan lampiran-lampiran yang uraianya lebih panjang. Kami terusik, untuk menanyakan apa sebenarnya yang kau cari Brigjen (Pur) Rustam Kastor?
Inti sarinya, Rentetan penjelasan, buku Kastor sama sebanding dengan skenario dan taktik dalam kerusuhan sepanjang tahun lalu. Dengan “gagahnya” ia menjelaskan pertikaian adalah skenario menghancurkan ummat Islam. Bukankah, Kastor tidak buta untuk melihat apa yang terjadi. Di mana pada suatu lokasi, sekelompok mayoritas menye-rang dan membantai sesuai karakteristik pulau-pulau di Maluku. Ataukah itu yang Anda hindari, dengan hanya menulis tentang pertikaian di Ambon-Maluku secara kese-luruhan.
Ada satu pertanyaan, untuk menggelitik nurani Kastor, sebagai mantan perwira tinggi TNI. Mengapa tidak menga-nalisa sesuai naluri dan pengalaman militer yang dimiliki. Misalnya, tentang konspirasi besar pada elit militer maupun politik nasioanal yang bermain? Mengapa pula Maluku diobok-obok? Bukankah faktanya, masyarakat Maluku baik Islam maupun Kristen yang menjadi korban. Seperti secara tersembunyi, agak malu-malu, Anda sudah menyatakan korban jiwa dan harta benda pada kedua golongan bertikai sangat besar.
Yang sangat picik, Kastor sempat menggugat mantan institusinya, tidak mampu menangani pertikaian hanya lantaran ada figur Karel Ralahalu (mantan Danrem 174/Pattimura) dan Brigjen TNI Max Tamaela (PangdamXVI/Pattimura), yang notabene adalah penganut Kristen (lihat halaman 121). Padahal, faktanya, Kastor lupa bahkan tidak menyinggung sedikitpun dalam bukunya bahwa di awal-awal kerusuhan Komando Pengendalian (Kodal) dipegang Kapolda Maluku yakni Kolonel (Pol) Drs Karyono dan dilan-jutkan seorang putra daerah, Kolonel (Pol) Drs Muhammad Bugis Samam. Nanti setelah Bantuan Militer (Banmil), Kodal dialihkan ke Danrem Kolonel Inf. Karel Ralahalu. Hasilnya eskalasi pertikaian menurun dan masyarakat saling “masuk-keluar”, sehingga proses kampanye dan Pemilihan Umum 1999 berlangsung lancar. Berikutnya ketika Kodal dialihkan dari Kapolda Brigjen (Pol) Drs I Dewa Astika ke Pangdam Brigjen Max Tamaela, sejak tanggal 28 Desember 1999 bersa-maan dengan Banmil ke dua, kondisi pertikaian berangsur-angsur menurun, Ambon terkendali dan menuju upaya rekonsiliasi dan rehabilitasi.
Sungguh. Membaca bukunya Kastor, yang menonjol adalah aspek subjektifitas. Ia menganalisa, sebagai seorang pribadi golongannya. Padahal seharusnya itu tidak dilaku-kan, sebagai seorang mantan Perwira tinggi. Misalnya, di halaman 132, Kastor mengulas posisi RMS (Republik Maluku Selatan), PDI-P (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), dan Gereja Protestan Maluku (GPM) tidak ada bedanya. Dijelaskan, bahwa posisi GPM sangat kuat bagi penganut Kristen (Protestan). “Mustahil pimpinan Sinode GPM dan para Tokoh lainnya tidak tahu-menahu tentang perencanaan dan pelaksanaan kerusuhan ini. Siapapun dia sebagai aktor dibalik peristiwa ini adalah anggota GPM, jadi secara langsung GPM terlibat,” kata Kastor. Dia pun menunjuk PDI-P, walaupun tidak proaktif tetapi keterlibatan anggota-anggota mengatas namakan GPM/AMGPM dan RMS, telah mengusir suara partai Islam dan Golkar di Kodya Ambon dan Maluku Tengah. Ini lagi-lagi kebohongan atau kasarnya “ngawur”. Tahukah Kastor bahwa yang meraih suara terbanyak di Maluku Tengah, adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sehingga meloloskan Tahir Saimima SH kegelangan kursi DPR. Lagi-lagi, apa yang kau cari Kastor?
Aneh memang analisa Kastor ini. Dia mempergunakan naluri sebagai andalannya, tanpa mempergunakan kaidah-kaidah dan kebenaran ilmiah, yang tidak terkorelasi kuat. Di mana, dia hanya memakai lokasi Ambon sebagai analisanya, dalam hubungan perolehan suara  Parpol Islam dikaitkan dengan kerusuhan. Coba Kastor buka mata dan buka pikiran, lalu jelaskan, mengapa Sulawesi Utara dan Irian Jaya yang mayoritas Kristen tetapi Golkar yang menang, bukan PDI-P. Jelaskan pula, mengapa di Sumatera, Jawa dan berbagai propinsi lain, yang berpenduduk mayoritas Islam tapi PDI-P meraih suara terbanyak. Secara nasional kenapa tidak analisa  mengapa sampai PDI-P pun menang, disusul Golkar dan PKB. Dalam skala lokal, mengapa tidak analisa bagaimana sampai Maluku Utara dan Halmahera Tengah, yang mayoritas Muslim bukan parpol Islam menang tapi Golkar. Selain itu pada halaman 247, Kastor katakan: bahwa atas saling bantu antara TNI dan Ummat Islam RMS berhasil ditumpas habis secara fisik, setelah tertangkapnya Dr.Chr Soumokil sebagai presiden RMS oleh kesatuan Yon 328 Siliwangi. Di situ ia langsung menyatakan, RMS adalah Kristen (GPM). Padahal, sebagai mantan seorang tentara harusnya dia tahu fakta sejarah di mana pasukan TNI yang membasmi RMS adalah mayoritas perwira-perwira beragama Kristen. Seperti Kolonel Alex Kawilarang, Letkol Ignatius, Slamet Riyadi, termasuk perwira operasi putra daerah yakni Kapten J. Muskita (terakhir pensiun Mayjen dan mantan Dubes di Jerman) serta Letnan Mailoa (terakhir pensiun Brigjen, aktivis PDI-P).
Mengapa perwira Kristen turut membasmi RMS? Karena TNI adalah institusi yang berdiri di atas semua Golongan. Serta mayoritas ummat Kristen juga menolak eksistensi RMS (tanyakan kepada Stev Latuihamallo dan pendeta Louhena-pessy yang masih hidup). Kok seorang Brigjen TNI Purnawi-rawan, tidak tahu sejarah institusinya? Ia pun mengung-kapkan kontradiksi, bahwa RMS adalah Kristen sebagai uraian tulisan awal, tapi Kastor pun katakan  orang Islam ada di struktur RMS sebanyak tiga orang, namun bukan mewakili ummat Islam. Tapi mengapa dia tak jelaskan siapa ketiga orang itu, apa jabatannya, dan pengaruhnya sampai di mana? Kami tahu Kastor mengenal baik salah satu dianta-ranya yang sangat berpengaruh. Kebohongan besar yang dibuat buku itu, dapat dilihat pada halaman 223. diuraikan pada saat Simposium dan Loka Karya (Simpoloka) tentang Pela Gandong, 26-28 Juli 1999 di Hotel Amans, pada hari kedua, terjadilah peristiwa penyerangan sejumlah pemuda Kristen memasuki ruang acara, bersenjata parang dan tombak mengejar para peserta beragama Islam. Akhirnya, sebagai seorang pembaca buku yang ingin mengkritisi buku Kastor  secara obyektif kami hanya bisa berkata itu bohong!. Pasalnya, tahukah Kastor siapa yang membakar hotel Mar-dika dan Laundry (Binatu) Amboina saat itu, yang hampir saja merambat ke hotel Amans. Sungguh, bila seorang pengu-saha keturunan Tionghoa yang anaknya mati terbakar di lantai atas Laundy Binatu, karena terjebak kobaran api dan hanya bisa ditonton masa Kristen, maka menangislah dia. Tanyalah pada prajurit Yonif 413 Kostrad Solo dan prajurit Yonif Linud 733 Masariku, siapa yang melakukan penyera-ngan mendadak waktu itu! Bahkan istri Mayjen (Pur) J. Muskita, yakni Ny Mans Muskita sebagai salah seorang pem-bicara pun terjebak, termasuk (kalau tidak keliru) Pangdam XVI/Pattimura Brigjen TNI Max Tamaela juga terjebak.
Sementara pada halaman terakhir sebagai lampiran foto peristiwa, Kastor memperlihatkan mesjid-mesjid/musholah yang hancur, terbakar, dan rusak. Disertai pula dengan tulisan-tulisan menghujat golongan agama saat ketika pertikaian masih tegang pada bulan Januari hingga Maret 1999  itu memang di antara fakta yang terjadi. Penonjolan gambar-gambar tersebut, di saat masyarakat daerah ini sudah menderita, mengungsi, dan kehilangan segala-galanya, bisa membangkitkan emosional kembali di tengah situasi cooling down. Yang pasti lapiran foto-foto dan tulisan jorok meng-hujat agama dan penganutnya bukan dialami saja oleh golongan Islam, tetapi golongan Kristen pun diperlakukan sama. Itu De fakto-nya.
Akhirnya, dalam catatan kritik penutup, buku ini kami prediksikan tidak membawa seluruh aspirasi orang Muslim, tetapi pribadi atau kelompok kecil saja. Tidak ada salahnya memang. Hanya sayangnya, objektifitas Kastor sebagai mantan Perwira tinggi TNI, diragukan dan kerdil. Ia larut dalam analisa pribadinya. Tidak komprehenship. Terkesan menyudutkan golongan lain, termasuk figur pimpinan TNI di Pusat maupun daerah. Dan yang utama, tidak transparan, banyak berdalih serta pandangannya lebih bersifat tuduhan, bukan bukti atau fakta. Sebagai seorang beriman, bukan kafir, sepertinya Kastor tidak takut dosa menuduh seseorang, kelompok, atau golongan lain, yang cenderung bersifat fitnah membangkitkan provokasi, dan kurang mendukung upaya rekonsiliasi. Atau memang ada maksud lebih besar dibalik penerbitan buku ini, Wallahualam! Lantaran itu, masyarakat jangan terhasut membaca buku ini dan aparat keamanan diminta mencermati isi bukunya. (NOVI)

bersambung ke hal 105

back top

Hosted by www.Geocities.ws

1