Mengapa Hanya Kota Ambon,
Bukan Maluku Umumnya ?
Catatan Kritis Untuk Buku Brigjen TNI (Pur) Rustam Kastor(2)
KRITIK kedua kami pada catatan ini, dimulai pada halaman 29 bukunya itu, Rustam Kastor menguraikan sepertinya dia bukan orang Ambon dan menutupi kerugian yang dialami golongan lain. Bagaimana tidak, dikatakan bahwa sasaran penghancuran adalah fasilitas dan milik orang Islam. Ia lantas menunjuk, pasar Mardika, Batumerah, pertokoan Pelita dan rumah. Faktanya, di ketiga pasar dan pertokoan itu, secara kuantitas memang orang Islam yang banyak di lingkungan itu, tetapi jumlah dana, material dan kualitas gedung/toko di ketiga lokasi tersebut, yang mengalami keru-gian besar adalah pemilik keturunan Tionghoa yang bera-gama Kriten/Katholik, serta mereka yang golongkan lain-nya. Begitupun di mana dan kerugian tante-tante papalele di emper-emper toko atau terminal, yang notabenenya berda-tangan dari desa-desa di jasirah Leitimur.
Membolak-balik buku setebal 312 halaman itu,  kami tidak menemukan adanya penjelasan penyerangan pemba-karan dan penjarahan terhadap pusat perdagangan teramai di Maluku, yakni kawasan A.Y. Patty, Sam Ratulangi dan A.M Sangadji yang mayoritas dihuni warga Ambon keturu-nan Tionghoa. Menyesal sekali kami dengar figur Tokoh satu ini, yang seharusnya memiliki bobot objektifitas, intelektual dan peranan aktifnya guna menunjang rekonsiliasi.
Pada halaman 33, Kastor mengakui, awalnya pada tanggal 19 Januari 1999 terjadi pembakaran dua rumah (milik warga Kristen yang tidak disebutkannya), yang tam-paknya sebagai “titik bakar saja” dari suatu perencanaan besar, sebagai tanda dimulainya penghancuran terhadap ummat Islam. Disinilah terlihat analisa mengambang. Sebab, tidak dijelaskan siapa yang membakar, Apakah warga Kristen, warga Islam ataukah provokator? Mengapa dirinya tidak menemui saksi-saksi mata kejadian awal itu. Yang pasti, warga di sekitar lokasi kejadian awal itu, baik Islam maupun Kristen saling mengenal, serta satu dari dua rumah tersebut adalah ketua RT setempat, tentu ia akan kenal warganya namun kenyataannya perusuh dari arah Batumerah tidak dikenal olehnya, termasuk tidak dikenal satu mantan wartawan Suara Maluku yang bertempat tinggal di kawasan tersebut. Orang mana mereka? Itu yang harus diungkap untuk membuka tabir, siapa provokator dan jaringan dalam kekacauan besar dalam sejarah bangsa ini.
Alur objektifitas Kastor, juga dibelokkan pada uraian di halaman 37. Dikatakan, serangan sesungguhnya dalam kekuatan besar terhadap Masjid Raya Al - Fatah tanggal 20 Januarai 1999, sekitar jam 22.00 Wit berhasil digagalkan massa Islam. Di sinilah, terlihat sekali Kastor sebagai seorang Tokoh sengaja melewati konologi sebenarnya. Di mana, sebelumnya sejak pagi hingga sore, 20 Januari 1999, ribuan massa Islam dari beberapa desa Leihitu telah melakukan penyerangan, pembantaian (termasuk kepada orang hamil), pembakaran, pemboman, dan perusakan terhadap kam-pung Benteng Karang, Hunuh/Durian Patah, Nania dan Negeri Lama (Kontradiksi dengan uraian Kastor soal Gerakan Massa Islam di halaman 40 dan baru disinggung pada halaman 179, tetapi tidak utuh). Hanya lataran mereka diprovokasi/ dihasut provokator bahwa Mesjid Al - Fatah telah dibakar massa Kristen. Buktinya, hingga kini Al - Fatah masih berdiri utuh. Pak Kastor, kenapa tidak jelaskan dari-mana sekenario itu? Dari mana ratusan bom rakitan disiap-kan padahal baru hari kedua, buktinya mayoritas rumah Benteng Karang dibom.
Di sisi lain, Kastor hanya memfokuskan kerugian yang dialami umatnya di sekitar kota Ambon atau paling banter Pulau Ambon. Sedangkan, kerusuhan telah melebar ke seluruh kawasan di Kepulauan Maluku, dari tenggara hing-ga utara. Akibatnya golongan Kristen dikejar, dibantai, diinti-midasi dan diusir dari tanah mereka sendiri. Hanya saja dalam bukunya, Kastor tidak memaparkan kerugian kedua golongan yang bertikai, bila itu dilakukan maka layak dibaca dan dimiliki. Sayang tidak dilakukan. Dari pemapa-rannya pun, Kastor terlalu mengambang dalam analisanya. Di mana dia tidak tahu apa yang seharusnya menjadi fokus-nya saja, malah membias. Tidak sistematik dan banyak pengulangan. Kita akhirnya harus jeli meneliti, mana data dan fakta, mana yang analisa. Karena dicampuradukan yang berkesan diskri-minatif golongan lain.
Pasalnya, bila berbicara data, fakta dan kronologis. Ha-rusnya Kastor tahu dan ungkapan juga pembakaran pemu-kiman Kristen dan Gereja dikawasan Silale, dekat kompleks Al-Fatah di hari pertama kerusuhan. Kemudian, pemban-taian dan pembakaran di kawasan galunggung, pembantai-an dan pemusnahan pemukiman Hila Kristen dan gereja tertua di Indonesia, pemusnahan desa Kariu di Pulau Haru-ku, pengusiran orang Kristen dari Pulau Sanana, Manipa, pembantaia di pelabuhan Tual, pembantaian dan pengusiran di kota ternate, Soa Sio, dan Bacan (Maluku Utara), penyera-ngan dan pembantaian orang Kristen di Buru Utara Timur dan Barat, penyerangan dan pembantaian di kawasan Tehoru dan Werinama, Seram Selatan, serta penyerangan dan pembakaran desa Haruku dan Sameth, Pulau Haruku. Serta sebagai putra kepulauan Banda, bisakah Kastor menga-nalisa soal sterilisasi atau pembersihan dan pembantaian orang Kristen di Pulau Banda? Sayang memang, buku ini melenceng dari upaya perdamaian. (Novi/bersambung)

bersambung ke hal 104

back top

Hosted by www.Geocities.ws

1