PRAKATA
Berbahagia sekali mendapat informasi dari beberapa pihak di  Ambon bahwa buku yang saya tulis dengan judul “Konspirasi Politik RMS dan Kristen menghancurkan Ummat Islam di Ambon- Maluku” mendapat tanggapan luas dari berbagai tokoh Kristen yang pada umumnya bernada negatif dan sangat emosional.
Sebagai pejuang prajurit, saya adalah pejuang yang semangat kejuangannya disalurkan lewat profesi keprajuri-tan. Karena itu saya dan rekan-rekan yang bersemangat sama, tidak pernah luntur dalam membela bangsa dan negara termasuk Maluku sebagai bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semangat itulah yang segera berkobar ketika menyaksi-kan proses reformasi telah digunakan secara salah oleh ber- bagai pihak, termasuk penggunaan RMS  untuk membuat kekacauan dalam rangka melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Buku ini akan terus diperkaya dengan berbagai tanggap- an yang sesungguhnya telah menempatkan diri mereka masing-masing dalam membela RMS. Saya katakan bahwa tidak semua kaum Nasrani itu RMS, banyak yang nasional- ismenya tinggi, mereka bekas pejuang seperti prajurit Batalyon 714/Pattimura di bawah pimpinan Mayor Pelupessy yang mendarat di Amahai menumpas RMS. Karena itu permintaan untuk melakukan Refrendum di Maluku adalah emosi yang tidak diperhitungkan baik-baik tentang kondisi lapangan. Banyak pejuang orang Maluku yang beragama Kristen ikut menegakkan Republik Indonesia dengan bergerilya di Yon 714/PTM Pelupessy yang sema-ngatnya mengisi dada putra Maluku menentang kehadiran RMS pada waktu lalu, sekarang dan di waktu yang akan datang sampai kapanpun.
Buku saya berhasil melakukan kristalisasi di kalangan umat Kristen, terbukti dengan timbulnya kesadaran bahwa selama ini mereka telah ditipu oleh RMS yang dengan menggunakan isu agama, rame-rame terlibat dalam meng-hancurkan Ummat Islam. Bukti nyata keberhasilan buku ini adalah, proses cooling down yang akan berhasil. Selama ini proses cooling down dihancurkan terus oleh kelompok Kristen (RMS) yang atas komando/perintah Head Quarter-nya selalu meruntuhkan setiap upaya perjanjian damai. Hal ini telah saya sinyalir dalam buku yang sekarang jadi polemik itu. Sekarang tak semua umat Kristen bersedia dikomando oleh RMS karena sadar akan kekeliruan waktu lalu, mereka kini melihat dirinya sebagai putra bangsa yang harus membela Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan terjebak ke dalam mimpi-mimpi RMS.
Para tokoh yang menolak disebut RMS seperti dapat kita buktikan dalam tanggapan mereka di Suara Maluku, perlu klarifikasi diri, apakah mereka bukan bagian dari kekuatan RMS yang akan berdisintegrasi, ingin merdeka sendiri? Mudah-mudahan tidak demikian, sebab nada tulisan mereka seperti dibuat saat emosi meluap-luap karena niat untuk merdeka ternyata dibongkar dengan terbitnya buku yang tidak berarti tersebut. Walaupun demikian, kita harapkan mereka menyadari kekeliruannya, dan mau bersama-sama kita selamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan bersedia merubah niat dan cita-cita, kemudian ikut menunjuk hidung siapa saja yang terlibat. Bukan berdiam diri sambil melindungi RMS dengan  berbagai dalih.
Insya Allah rekonsiliasi akan berjalan dengan baik, asalkan kita tolak ajakan RMS untuk mengacau lagi. Sebalik-nya, mari kita amankan Maluku tercinta hari ini dan terus kedepan dengan memproses secara hukum otak dan peng-gerak kerusuhan ini.
Saya yakin sekali, lebih banyak umat Kristen di Ambon yang tidak mendukung RMS, mereka kira-kira terdiri dari orang-orang yang tetap kukuh menolak RMS. Ada lagi mereka yang tertipu sehingga tampak sebagai pendukung RMS. Kelompok ini yang terbesar, mereka ikut turun ke lapangan untuk membakar dan membunuh. Bila mereka sadar akan kekeliruannya dan selanjutnya menolak dengan keras ajakan RMS, maka kerusuhan yang terjadi ini akan segera selesai.
Untuk membedakan kaum Kristen yang mendukung RMS dengan mereka yang menolak RMS, maka di dalam buku ini saya akan menggunakan istilah  Kristen yang RMS dan  Kristen non RMS.
Salam hormat untuk saudara-saudaraku umat Kristen yang tetap mencintai Republik, yang telah didirikan dengan jiwa dan air mata kita semua.

Jakarta, 25 April  2000
Penulis,

Rustam Kastor
bersambung ke hal 00-03

back top


Hosted by www.Geocities.ws

1