PENGANTAR PENERBIT Ketika edisi pertama buku:“Konspirasi Politik RMS dan Kristen Menghancurkan Ummat Islam di Ambon- Maluku” tulisan Rustam Kastor, yang diterbitkan oleh penerbit Wihdah Press Yogyakarta, dan kemudian disusul edisi berikutnya, masyarakat pembaca langsung heboh. Respons pembaca terhadap isi buku ini, memang amat beragam. Banyak di antaranya yang menyampaikan pujian dan merasa berterima kasih telah memperoleh informasi aktual, tapi juga memilukan. Akan tetapi tidak sedikit di antara pembaca yang menyampaikan protes melalui surat, media massa dan juga media internet. Sebagian dari mereka menyerang isi buku tersebut dengan nada yang amat keras dan melecehkan, bahkan menuding penulisnya sebagai provokator, tulisannya tidak ilmiah dan bersifat subyektif.
Pada umumnya, pembaca dapat dikelasifikasikan ke dalam tiga kategori. Pertama, mereka yang merasa terwakili aspirasinya melalui buku tersebut. Apa yang selama ini terpendam, menjerit pilu di dalam hati, akibat sikap pemerintah dan juga media massa yang mereka rasakan diskriminatif dan memihak, dengan terbitnya buku ini, suara hati mereka dapat diungkapkan. Dan tentu saja, golongan ini datang dari pembaca beragama Islam dan orang- orang yang bersikap jujur, demokratis dan menjunjung tinggi hak asasi manusia, baik yang berada di Maluku maupun di luar daerah yang bergolak itu. Mereka tidak dapat memahami, bagaimana pemerintah bisa bersikap santai, seperti yang dikatakan Gus Dur, bahwa pertikaian di Maluku ibarat pertengkaran keluarga di dalam satu rumah tangga. Jika sudah capek nanti berhenti dengan sendirinya. Begitu pula mereka tidak dapat mengerti, di depan korban yang ribuan jumlahnya dan telah berlangsung hampir dua tahun, Komnas HAM serta LSM-LSM yang biasanya bersuara lantang menyerukan demokrasi dan penegakan HAM, bisa bersikap pura-pura tidak tahu dan membiarkan pembantaian itu berlangsung, bahkan mungkin dengan sengaja membiarkan nya guna mendapatkan dana dari negara- negara donor mereka.Kedua, mereka yang terbuka mata hati dan pikirannya, dan sadar bahwa dirinya diperalat oleh RMS, setelah membaca buku itu. Mereka, pada akhirnya, menyadari kekeliruannya, sesungguhnya peperangan yang mereka kobarkan adalah sia-sia belaka, hasilnya adalah kehancuran. Mereka ini terdiri dari orang-orang Kristen pada umumnya, yang ingin hidup damai seperti yang selama ini mereka jalani di bawah semboyan Pela Gandong. Sebagai bukti, adalah orang-orang Kristen yang dengan suka rela masuk Islam setelah mengalami perlakuan yang sangat manusiawi dari ke;lompok mujahidin yang menangkap mereka setelah para pendeta lari meninggalkan mereka. “Kami ikut berperang karena kami menerima doktrin dari para pendeta, bahwa ummat Islam itu jahat, mereka akan membantai semua orang Kristen. Maka sebelum mereka memulai, kita harus mendahului mereka”, demikian rasa hati yang mereka ungkapkan dengan penuh haru saat mereka yang ribuan jumlahnya itu minta supaya diterima masuk Islam kepada Panglima Mujahidin.
Adapaun kategori ketiga, adalah mereka yang marah persis layaknya kera kebakaran jenggot, karena merasa topeng yang selama ini menutupi wajahnya telah dibongkar, sehingga ruang gerak mereka dalam memprovokasi masyarakat menjadi sempit dan rahasia hatinya telah dibuka. Mereka ini berasal dari kelompok Kristen militan, aparat negara yang berhasil diprovokasi dan tentu saja kelompok RMS dan para simpatisan mereka yang menaruh dendam kepada ummat Islam dan ingin membangun negara sendiri yang terpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Buku yang sekarang berada di hadapan pembaca ini, bukan apologi atau upaya pembelaan diri dari penulis maupun penerbit. Melainkan upaya untuk meluruskan kecurigaan ataupun sikap apriori dari sebagian pembaca, dengan mengemukakan fakta kongkrit yang lebih baru. Dan lebih penting lagi, buku ini niscaya dapat memperkaya isi buku pertama yang telah diterbitkan lebih dahulu.
Buku ini sebenarnya, merupakan kumpulan protes terhadap isi buku yang menjadi sumber polemik, yang dilakukan para pembaca beragama Kristen, yang dimuat secara bersambung selama hampir dua minggu berturut-turut di Harian Umum Suara Maluku. Sekalipun protes mereka berisi kecaman, bahkan caci maki, namun protes tersebut perlu didengarkan, dengan harapan bermanfaat bagi upaya rekonsiliasi.
Untuk itu, demi keadilan, semua protes tersebut mesti ditanggapi secara jujur, obyektif dan, di alam demokrasi seperti sekarang, kita tidak perlu marah. Oleh karena tidak mungkin semua tanggapan tersebut dikirimkan untuk dimuat dalam Harian Suara Maluku secara utuh, maka demi keseimbangan informasi dan memenuhi hak jawab sesuai kode etik jurnalistik, jawaban tersebut sengaja dikemas menjadi sebuah buku dengan judul: SUARA MALUKU MEMBANTAH, RUSTAM KASTOR MENJAWAB.
Buku ini dibagi ke dalam empat bagian.
Bagian pertama, khusus berbicara tentang protes serta bantahan pembaca yang di muat Suara Maluku secara berturut-turut selama hampir setengah bulan.
Kedua, adalah penjelasan Rustam Kastor yang diletakkan di bawan judul, “Rustam Kastor Men jawab”. Agar penjelasan yang diberikan penulis lebih terinci lagi, maka setiap artikel diberikan jawaban satu persatu, sebagai Tanggapan Atas Tanggapan, yang diletakkan pada bagian ketiga buku ini.
Adapun bagian keempat, khusus memuat kegiatan RMS di luar negeri, berupa artikel berjudul Forum Indonesia Netherland.Sebaik apapun penjelasan yang diberikan, tentu saja, tidak akan mungkin dapat memuaskan semua orang. Oleh karena itu, cukup fair tantangan dialog dari seorang tokoh Kristen, Jhon Ruhulessin, STH, MS, agar Rustam Kastor, sebagai penulis buku, dapat membuktikan kebenaran analisis nya, berkenaan dengan konspirasi RMS dan Kristen membantai ummat Islam di Maluku. Jika tantangan ini serius, kita mendukung sepenuhnya, demi terungkapnya kebenaran, sehingga dapat dikenali siapa pembawa berita yang jujur dan siapa pengarang dusta.
Sekalipun bersikap jujur itu gratis, tanpa biaya, tapi tidak semua orang bisa melakukannya, tentu dengan beragam kepentingan dan motivasi. Terhadap musibah yang menimpa masyarakat Maluku, siapapun yang memiliki hati nurani, dan bukan barbarisme, pastilah akan menitikkan air mata menyaksikan duka nestapa mereka. Oleh karena itu, setiap upaya untuk menemukan kebenaran yang dilakukan secara jujur, dan steril dari rekayasa dusta dan culas guna memba-ngun rekonsiliasi, sudah seharusnya kita dukung.
Pada akhirnya, betapapun pahitnya kata-kata yang mungkin terungkap dalam buku ini, atau menyinggung perasaan sebagian pembaca, adalah bijaksana jika kita memberikan penghargaan terhadap mereka yang ikut menyumbangkan buah pikirannya, apapun motivasi dan kepentingannya. Mudah-mudahan semua itu, membawa manfaat positif bagi masyarakat Maluku, dan sedikit demi sedikit menghilangkan trauma serta dendam yang mungkin masih bersarang di hati masing-masing.
Yogyakarta, 25 April 2000
Penerbit
bersambung ke hal 00-02
![]()