![]()
![]()
PendahuluanKONFLIK antar ummat beragama, Islam dengan Kristen di Maluku telah berlangsung ratusan tahun lalu, sejak para pedagang dari Eropa Barat memulai mencari rempah-rempah di Maluku. Perdagangan yang disertai penyebaran Agama Kristen baik Katolik maupun Protestan dilakukan dengan kekerasan terutama setelah VOC berubah menjadi kompeni yang melakukan penjajahan. Kampung-kampung (negeri) yang tadinya beragama Islam setelah ditaklukkan dipaksa untuk memeluk Agama Kristen, sebagian tetap mempertahankan akidah Islamnya dan terus melawan penjajah.
Ummat Islam Maluku berperang melawan Penjajah Belanda dengan segala kemampuannya untuk mempertahankan kedaulatan Kerajaan-kerajaan Islam sekaligus mempertahankan akidahnya dari pemaksaan Belanda. Masyarakat Maluku yang pindah Agama berse- dia bekerja sama dengan Penjajah Belanda untuk terus memerangi saudaranya yang tetap Beragama Islam. Setelah perang fisik bersenjata berhasil dikalahkan oleh penjajah, maka Ummat Islam melanjutkan perlawanan tanpa senjata dalam bentuk non kooperatif dan bersikap membangkang lebih dari satu setengah abad. Salah satu bukti nyata ialah relatif tidak terdapatnya Serdadu Belanda KNIL yang beragama Islam. Ummat Islam lebih suka memilih pekerjaan lepas dari penjajah (non formal) dan hal tersebut tampak sebagai suatu kenyataan di lapangan.
Karena sikap tidak bersedia kerja sama itulah maka Ummat Islam diperlakukan tidak adil dan diskriminatif yang dilanjutkan oleh Golo-ngan Kristen yang memang menguasai posisi-posisi kunci di pemerin-tahan setelah Maluku terbebas dari cengkeraman RMS.
Sementara itu Golongan Kristen, karena kepatuhannya kepada penjajah mendapat perlakuan istimewa. Dengan demikian SDM Kristen Maluku lebih maju dan menguasai posisi penting dalam pemerintahan. Ketika Ummat Islam secara perlahan-lahan bangkit dan mampu menduduki berbagai posisi penting dalam pemerintahan maupun menguasai sektor ekonomi secara proporsional, timbullah kecemburuan di Kalangan Kristen.
Inilah latar belakang Konflik Islam-Kristen di Maluku yang terus berlangsung ibarat api dalam sekam, sewaktu-waktu muncul ke permukaan.
Periode setelah RMS merupakan era baru dengan peluang yang lebih terbuka bagi ummat Islam untuk mengembangkan sumber dayanya cukup berhasil walaupun dalam jumlah yang jauh lebih kecil dari pihak Kristen yang mendapat peluang jauh lebih baik. Perlakuan yang pernah diberikan oleh penjajah dalam kadar yang lebih rendah tetap dirasakan oleh ummat Islam walau Republik ini telah merdeka termasuk Maluku.Ummat Islam merasa tidak puas karena perjuangan nenek moyangnya melawan Belanda justru pihak Kristen yang berkhianat menikmati lebih besar. (periksa lampiran data komposisi Islam dan Kristen Universitas Pattimura/Unpatti).MAKSUD DAN TUJUAN
Tulisan ini dimaksudkan untuk mengangkat fakta dan data kasus tragedi “Idul Fitri Berdarah” 1 Syawal 1419 H untuk mengimbangi upaya pemutar balikan fakta oleh pihak Kristen serta dapat dimanfaat-kan untuk penulisan sejarah Maluku terutama sekali sebagai bahan dalam penyelesaian hukum dan politik.PENDEKATAN DAN SISTEMATIKA
Naskah ini di susun dengan pendekatan fakta dan data yang terjadi sebelum, selama dan kelanjutan kerusuhan/ permusuhan antara kekuatan Kristen melawan kekuatan IslamBersambung Ke Bab 2-01
![]()