Bagian KEDUA Bab 2-01
KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA
DI AMBON & MALUKU
LATAR BELAKANG KONFLIKPASCA RMS
Merupakan lanjutan dari konflik Islam-Kristen era Penjajahan Belanda, berkelanjutan pada era Paska RMS.
RMS merupakan penghujung era Penjajahan Belanda yang kita kenal sebagai negara boneka bentukan Belanda untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada era RMS ini Ummat Islam mendapat perlakuan tidak jauh berbeda dengan perla-kuan mereka pada Kerusuhan Ambon Tahap I. Pembunuhan terhadap Tokoh Islam dan sejumlah pemuda pada desa-desa yang melakukan perlawanan atas berdirinya RMS, rumah dan harta miliknya dibakar persis seperti yang kita saksikan pada kerusuhan Ambon yang dimulai pembakaran desa Wailete yang berkelanjutan pada tanggal 19 Januari 1999 di Batu-merah. Setelah RMS berhasil ditumpas barulah Ummat Islam merasa terbebas dari tekanan fisik walau secara moril dan mental masih terus tertekan.KONFLIK ERA BARU DAN SEBAB-SEBABNYA
Ada sejumlah perkembangan kemajuan di kalangan Ummat Islam di Ambon dan sekitarnya yang bersifat prinsip dan akhirnya berkembang sebagai latar belakang konflik yang setelah berakumulasi dengan kepentingan Politik Kristen di Indonesia meletus dalam bentuk kerusuhan 19 Januari 1999.A. Mutu SDM
SDM Islam sejak Penjajahan Belanda tidak sempat berkembang, barulah setelah RMS dihancurkan, dan Maluku menjadi bagian dari NKRI yang merdeka SDM Islam terus berkembang dari generasi ke generasi, walau dalam jumlah yang jauh lebih kecil dari perkembangan Pihak Kristen. Dari segi jumlah kelompok Islam kalah namun dari segi kualitas dapat mengimbangi Pihak Kristen yang berakibat terjadi-nya persaingan terutama dalam jabatan di pemerintahan. Persaingan ini pada umumnya berjalan tidak jujur dan tidak adil. Perekembangan berikut semakin tajam dimana Pihak Islam harus lebih bisa menerima kepahitan.B. Aspek Sosial Politik
Persaingan mutu SDM tidak lain bermuara pada persaingan kepentingan politik tempat para elit Politik Islam berhasil menguasai beberapa posisi penting di Golkar yang berdampak pada meningkat-nya perjuangan kepentingan Islam terutama selama periode 10 tahun terakhir masa Orde Baru. Pihak Kristen merasa posisi-posisi kunci yang selama ini mereka kuasai ternyata telah mulai didominasi oleh pihak Islam. Suatu penilaian yang tidak tepat, hanya karena secara tradisional mereka menguasai posisi leading kini tergeser sedikit saja, menjadi goyah dan melakukan aksi dan merencanakan pengambil alihan posisi itu. Kondisi konflik ini justru lebih dipertajam dengan Sikap Kristen di tingkat nasional yang merasa tidak puas atas perkembangan Islam pada satu dasawarsa terakhir.C. Aspek Sosial Ekonomi.
Penduduk asli kota Ambon tidak mencapai kemajuan yang berarti dalam kehidupan sosial ekonomi, tetapi para pendatang yang terdiri dari suku Buton, Bugis, Makasar, Jawa dan Sumatra Barat karena kegigihannya mendapatkan kemajuan yang pesat. Karena itu mereka berkembang sebagai pemilik uang yang dapat membeli tanah untuk perumahan dan sebagainya yang sebagian besar di daerah yang bertetangga dengan pemukiman Kristen bahkan di tengah-tengah pemukiman Kristen. Ini merupakan kesalahan besar karena kurang memahami konflik yang terselubung antara Islam dan Kristen.
Pertumbuhan ini menimbulkan kebencian pihak Kristen yang merasa tanah peninggalan nenek moyang mereka telah diperkosa oleh pendatang, mereka merasa kehilangan warisan, diperparah lagi dengan berdirinya Masjid dipemukiman baru yang berdekatan dengan Gereja. Seperti kata Dr.Litaay “Awasi suku BBM, 4 orang saja sudah mendirikan Masjid”.D. Aspek Sosial Budaya
Ummat Islam asli Ambon/ Maluku sejak penjajahan Belanda telah memilih lapangan pekerjaan non Formal karena menolak kooperatif dengan Belanda. Mereka memilih pekerjaan sebagai pedagang, nelayan, pertukangan, petani bahkan kuli kasar. Masyarakat Suku Buton, Bugis Makasar dan Jawa sejak lebih seratus tahun yang lalu telah berdatangan ke Maluku khususnya pulau Ambon, Seram, Buru, PP.Lease dan Maluku Utara. Selain karena kesamaan agama dengan Ummat Islam di daerah ini mereka juga punya kesamaan lapangan pekerjaan, karena itu suku-suku pendatang ini segera menyatu bah- kan terjadi perkawinan antara para pedagang dan penduduk asli yang beragama Islam.
Sesudah RMS, terutama di atas 1960-an kedatangan pekerja-peker ja yang gigih ini terus bertambah sehingga dari segi jumlah telah terjadi lah pergeseran perimbangan yang berarti sehingga hampir sama dengan penduduk aslinya.
Program transmigrasi telah membuat prosentasi jumlah yang beragama Islam terus bertambah, sedangkan mereka yang kurang berhasil di transmigrasi beralih ke kota Ambon dengan pekerjaan yang lebih sesuai karena itu para pendatang baru di Ambon termasuk mere ka yang eks transmigrasi (Jawa dan Sunda) semakin banyak.
Penolakan terhadap pendatang yang merupakan pesaing pihak Kristen ini telah tampak sejak Dicky Wattimena menjadi Walikota Madya Ambon (1986-1991) saat barang dagangan para pedagang milik pendatang ini ditendang, ditumpahkan dagangannya dan dihardik agar keluar dari kota Ambon kembali dan ke daerah asalnya.
Dalam kerusuhan ini para pendatang dianggap sebagai penyebab rusaknya semangat Pela-Gandong karena mereka tidak mengamalkan tata krama Pela-Gandong. Penilaian ini terasa sangat dibuat-buat kare na ummat Islam penduduk asli Maluku sejak lama sadar bahwa Pela-Gandong tidak punya nilai apa-apa, apa lagi bagi kaum pendatang. Pela-Gandong sesungguhnya hanya ikatan kekerabatan antara 2 desa, jadi tidak mengikat seluruh masyarakat asli apa lagi hanya berlaku di Maluku bagian tengah saja, jadi dari segi kualitas ikatannya terlalu semu, prosentasenya berkisar 5%saja sebagai jaring pengaman. Di kota madya Ambon yang jumlah pendatang cukup banyak maka prosentasi itu semakin kecil.
Demikian juga terdapat perbedaan yang tajam antara perilaku budaya ummat Islam asli pulau Ambon yang dipengaruhi secara kuat oleh budaya Islam yang religius sementara pihak Kristen oleh budaya barat yang arogan dan ambtenar. (periksa lampiran…)E. Aspek Keamanan / Kerukunan
Kelihatannya Masyarakat Islam dan Kristen rukun, tetapi sung-guhnya kerukunan itu semu dan di tutup-tutupi. Secara perorangan para pribadi yang berbeda agama ini tampak akrab ibarat orang yang bersaudara, tetapi dalam hubungan kelompok mereka berbeda kepentingan, yang dikomandoi oleh GPM. Pemukiman yang homogen memberikan gambaran nyata bahwa sering terjadi bentrokan fisik antara kedua kelompok agama ini sejak nenek moyangnya, sekaligus yang rukun itu hanya dalam hubungan peroranganBersambung Ke Bab 2-02