"Kembalilah kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN semesta alam, maka Akupun akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta alam." (Zak1:3)

 
 
Contents :
 
 

TRITUNGGAL YANG KUDUS

 
 

Ya Allah nenek moyang kami, yang bertakhta di dalam terang, betapa kaya, betapa merdunya bahasa kami ! Namun apabila kami mencoba menceritakan keajaiban-Mu, bahasa kami terasa miskin dan sumbang. Apabila kami merenungkan misteri Allah Tritunggal ,kami hanya terpesona. Di hadapan takhta-Mu kami tidak minta supaya kami dapat mengerti, kami hanya ingin supaya kami dapat dengan selayaknya mengasihi dan menyembah Engkau, Allah yang Tunggal, yang mempunyai Tiga Pribadi. Amin

Untuk merenungkan ketiga Pribadi Allah itu berarti di dalam pikiran, kita melangkah ke arah timur melalui Taman Eden dan menjejakkan kaki kita di tempat yang suci. Usaha kita yang paling tulus untuk mencoba memahami rahasia Tritunggal yang tak dapat dimengerti itu akan tetap tinggal sia-sia, dan hanya rasa takut dan hormat saja yang dapat mencegah kita membuat sesuatu yang semata-mata merupakan sangkaan saja. Beberapa orang yang tidak mau menerima segala sesuatu yang tidak dapat diterangkan juga tidak mau menerima bahwa Allah itu Tritunggal.
Mereka memandang Yang Mahakuasa dengan pandangan yang dingin dan menyelidik, dan mereka menarik kesimpulan bahwa tidak mungkinlah Allah itu Satu tetapi pada saat yang bersamaaan juga Tiga. Mereka lupa bahwa penjelasan yang terbaik mengenai sesuatu gejala alam yang paling sederhana pun sebenarnya masih tersembunyi di balik kabut kekaburan dan tidak dapat diterangkan dengan baik sama seperti halnya mengenai Allah itu.

Setiap orang hidup dengan iman, baik yang bukan-Kristen maupun yang Kristen ; yang bukan Kristen hidup dengan iman kepada hukum-hukum alam dan yang Kristen hidup dengan iman kepada Allah. Setiap orang di sepanjang hidupnya senantiasa menerima sesuatu tanpa mengerti. Seorang guru yang paling pintar dan bijaksana sekalipun dapat dibungkamkan dengan satu pertanyaan sederhana, “Apa ?” Jawab untuk pertanyaan itu selamanya berada di luar jangkauan kesanggupan manusia untuk menemukannya. “Allah mengetahui jalan ke sana, Ia juga mengenal tempat kediamannya” (Ayb 28:23), tetapi tidak demikian halnya dengan manusia.

Thomas Carlyle, pengikut Plato, menggambarkan seorang laki-laki, seorang ahli pikir kafir, yang tumbuh menjadi dewasa di dalam sebuah gua yang tersembunyi dan yang secara tiba-tiba dikeluarkan dari gua itu supaya dapat melihat matahari terbit. Carlyle berkata, “Betapa ia terpesona melihat matahari terbit yang setiap hari kita saksikan dengan tidak acuh ! Dengan perasaan bebas dan terbuka seperti seorang anak, tetapi dengan kecakapan yang matang daripada seorang yang sudah dewasa, segenap hatinya seolah-olah berkobar-kobar oleh karena apa yang dilihatnya………… Bumi yang hijau berbunga, pohon, gunung, sungai, laut yang bergelombang, cakrawala yang menaungi bumi ; angin yang bertiup ; awan hitam yang berkelompok lalu mengeluarkan api, lalu hujan dan hujan es ; apakah itu ? Ya, apa ? Pada dasarnya kita belum tahu semua itu apa ; bahkan kita tak akan pernah mengetahuinya” (Thomas Carlyle, Heroes and Hero Worship, Henry Altemus Co., Philadelphia, hal. 14, 15).

Betapa berbedanya dengan kita yang sudah terbiasa dengan hal itu, kita yang sudah kenyang dengan dilimpahi oleh keajaiban. Carlyle berkata, “Kita terlepas dari kesukaran itu bukan karena kita lebih mengerti, tetapi karena kita ini semberono dan lebih tidak memperhatikan dan karena kita ini kurang mengerti. Karena kita tidak memikirkan hal itu, maka kita tidak lagi heran dan takjub terhadap hal itu…. Kita menamakan api yang keluar dari awan tebal yang membawa guntur itu “listrik”, lalu sebagai orang terpelajar kita memberi kuliah tentang hal itu serta bekerja keras untuk dapat menghasilkan listrik dari gelas dan sutra, tetapi apakah listrik itu ? Dari mana datangnya ? Ke mana perginya ? Ilmu pengetahuan sudah berbuat banyak bagi kita ; tetapi ilmu pengetahuan itu tidak banyak gunanya jika menyembunyikan daripada kita kebodohan yang maha dalam dan luas, kebodohan yang tak terbatas. Kita tidak mungkin dapat menembusi kebodohan itu dan di permukaan kebodohan itulah terapung ilmu pengetahuan yang menyerupai suatu lapisan tipis yang dangkal. Walaupun kita sudah memiliki segala macam ilmu pengetahuan, dunia ini masih merupakan suatu keajaiban ; masih menakjubkan, tak terselidiki, ajaib dan bahkan lebih dari semua itu bagi mereka yang mau memikirkannya.”

Kata-kata yang tajam dan hampir merupakan nubuat ini ditulis kira-kira seabad yang lalu, tetapi segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menakjubkan yang terjadi sejak saat itu tidak dapat membatalkan salah satu kata atau bahkan satu titik atau koma pun daripada apa yang ditulisnya itu. Namun kita tetap tidak tahu. Kita mencoba menghilangkan rasa malu kita dengan secara dangkal mengulangi bahasa ilmu pengetahuan yang populer. Kita mencoba membatasi energi yang maha dahsyat yang menerobos melalui bumi kita ini ; kita mencoba mengendalikannya dengan ujung jari kita di dalam mobil dan dapur kita ; kita membuatnya bekerja bagi kita seperti jin dalam lampu Aladin, tetapi tetap kita tidak mengetahui apakah itu sebenarnya. Keduniawian, materialisme, dan adanya benda-benda yang sangat menggangu itu sudah mematikan terang yang ada di dalam jiwa kita dan membuat kita menjadi mayat-mayat yang gentayangan. Kita menutupi kebodohan kita yang hebat itu dengan kata-kata, tetapi kita malu untuk memikirkan dan takut untuk membisikkan kata “rahasia”.

Gereja tidak ragu-ragu untuk mengajarkan doktrin Tritunggal. Tanpa berpura-pura mengerti, Gereja memberi kesaksiannya, Gereja mengulangi apa yang diajarkan oleh Kitab Suci. Ada orang yang tidak mengakui bahwa Kitab Suci mengajarkan Allah Tritunggal, karena mereka berpendapat bahwa tiga di dalam satu merupakan kontradiksi, tetapi karena kita tidak dapat mengerti soal jatuhnya daun di tepi jalan atau soal menetasnya telur burung yang terletak di sana di dalam sarangnya, mengapa harus kita persoalkan soal Tritunggal ?
Michael de Molinos berkata, “Kita akan dapat menjunjung Allah lebih tinggi, jika kita mengetahui bahwa Allah itu tidak dapat dimengerti dan berada di luar jangkauan pengertian kita. Hal itu lebih baik daripada kita menggambarkan Allah dengan salah satu gambaran makluk yang indah-indah menurut pengertian kita yang dangkal” (Michael de Molinos, The Spiritual Guide, hal. 58).

Selama berabad-abad ini tidak semua orang yang menamakan dirinya Kristen percaya akan Tritunggal, tetapi karena kehadiran Allah di dalam tiang api yang menyala di atas perkemahan Israel dalam sepanjang perjalanan di padang gurun, mengatakan kepada semua orang di dunia, “Inilah umat-Ku,” maka kepercayaan akan Tritunggal sudah sejak zaman para rasul bersinar di atas Gereja yang mula-mula dan terus sepanjang perjalanan hidup Gereja. Kuasa dan kesucian menyertai kepercayaan akan Tritunggal ini. Para rasul, bapa-bapa gereja, para sahid, orang-orang yang mengalami banyak hal-hal ajaib, penggubah lagu-lagu rohani, pembaharu-pembaharu gereja, tokoh-tokoh kebangunan rohani – semua berada di bawah panji Tritunggal dan kehidupan serta jerih payah mereka dimeteraikan dengan perkenan Allah sendiri. Di dalam perkara-perkara yang kurang penting mungkin mereka mempunyai pendapat yang berbeda, tetapi mereka semua dipersatukan dalam doktrin Tritunggal.
Apa yang dinyatakan Allah diterima oleh hati yang percaya dengan tidak memerlukan bukti lanjut. Sesungguhnyalah, meminta bukti berarti menujukkan kebimbangan dan memperoleh bukti berarti menyatakan bahwa iman itu sia-sia. Setiap orang yang memiliki karunia iman akan mengakui betapa bijaksananya kata-kata yang sangat berani yang diucapkan oleh bapa-bapa gereja yang mula-mula :
“Aku percaya bahwa Kristus mati bagiku, sebab hal itu tidak masuk akal ; aku percaya bahwa Ia bangkit dari antara orang mati, sebab hal itu mustahil.”

Demikianlah sikap Abraham, yang sekalipun bertentangan dengan segala bukti, tetap berpegang teguh pada iman serta memuliakan Allah. Demikian itu jugalah sikap Anselm, yaitu “Agustinus yang kedua,” salah seorang ahli pikir Kristen yang terbesar, berpendapat bahwa iman itu harus mendahuli segala usaha kita untuk mendapat pengertian. Dengan merenungkan kebenaran-kebenaran yang sudah dinyatakan biasanya timbul iman, tetapi iman mula-mula datang kepada telinga yang mendengarkan dan bukan kepada akal yang terus sibuk berpikir. Orang yang percaya tidak merenungkan Firman Allah, lalu memperoleh iman melalui proses pemikiran ; orang percaya juga tidak berusaha untuk meneguhkan imannya melalui filsafat atau ilmu pengetahuan. Seruannya ialah, “Hai negeri, negeri, negeri ! Dengarlah firman TUHAN !” (Yer 22:29). “Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong” (Rom 3:4).

Apakah ini berarti mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak ada artinya dalam bidang agama ? Sama sekali tidak. Orang-orang terpelajar mempunyai tugas yang maha penting yang harus dilaksanakan di dalam batas-batas tertentu. Tugasnya ialah untuk menjamin kemurnian Alkitab yang tertulis, untuk memperoleh salinan yang setepat mungkin dengan Firman yang asli. Ia boleh membadingkan Firman dengan Firman sampai ia memperoleh arti yang sebenarnya daripada tulisan itu. Tetapi wewenangnya hanyalah sampai di situ. Ia tidak boleh menghakimi apa yang sudah tertulis itu. Jangan sekali-kali berani menghakimi arti Firman itu dengan akalnya. Janganlah berani menghargai atau menyalahkan Firman itu sebagai masuk akal atau tidak masuk akal, ilmiah atau tidak ilmiah. Setelah arti Firman itu diperoleh, maka arti itu menghakimi dia ; bukan dia yang menghakimi Firman Allah.

Doktrin Tritunggal itu adalah kebenaran bagi hati manusia. Hanya roh manusia saja yang dapat melalui tirai itu dan masuk ke dalam tempat yang Mahakudus. Anselm memohon, “Biarkanlah aku mencari Engkau di dalam kerinduan, dan merindukan Engkau di dalam mencari Engkau ; biarkanlah aku menemukan Engkau di dalam kasih dan mengasihi Engkau di dalam menemukan Engkau” (St. Anselm, Proslogium, Open Court Publishing Co., La Salle, III., 1903, hal. 6). Kasih dan iman mendapat tempat di dalam misteri Allah Tritunggal. Dan biarkanlah akal bertelut dengan takzim di luar.

Kristus tidak ragu-ragu untuk menggunakan bentuk jamak apabila Ia sedang membicarakan soal diri-Nya beserta Bapa dan Roh. “Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23). Namun kembali Ia mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). Sangatlah penting bagi kita untuk berpikir tentang Allah sebagai Tiga di dalam Satu, dengan tidak mengacaukan Pribadi-Pribadi-Nya atau membagi-bagi Zat-Nya. Hanya dengan demikianlah kita dapat berpikir dengan benar tentang Allah dan dengan cara yang layak bagi Allah dan bagi jiwa kita sendiri.

Tuntutan Tuhan Yesus bahwa Ia itu sama dengan Allah menyebabkan tokoh-tokoh agama pada zaman-Nya menjadi marah dan akhirnya membuat Dia disalibkan. Serangan terhadap doktrin Tritunggal yang dilakukan Arius dan lain-lain dua abad kemudian juga ditujukan kepada tuntutan Kristus sebagai Allah. Pada waktu persengketaan dengan Arius, 318 bapa Gereja (kebanyakan memiliki bekas-bekas luka oleh karena siksaan tubuh yang mereka derita pada waktu penganiayaan yang terjadi sebelumnya) bersidang di Nicaea dan mereka menyetujui suatu peryataan iman, salah satu daripada perkataan itu berbunyi :

Aku percaya kepada satu Tuhan Yesus Kristus,
Anak Allah yang tunggal,
Yang dilahirkan daripada Allah sebelum ada segala zaman,
Allah dari Allah, Terang dari Terang,
Allah yang sesungguhnya dari Allah yang sesungguhnya,
Dilahirkan, tidak dijadikan,
Terdiri atas satu Zat dengan Bapa
Oleh Dia segala sesuatu dijadikan

Selama seribu enam ratus tahun pengakuan iman ini sudah berdiri teguh sebagai pengakuan iman yang menguji apakah sesuatu itu ortodoks atau tidak, dan memang seharusnya demikian karena pengakuan iman itu merupakan rangkuman teologis daripada ajaran Perjanjian Baru mengenai kedudukan Anak sehubungan dengan Allah Bapa.
Pengakuan iman Nicaea juga menghormati Roh Kudus sebagai Allah yang sama dengan Bapa dan Anak :

Aku percaya akan Roh Kudus
Tuhan dan pemberi kehidupan,
Yang berasal dari Bapa dan dari Anak,
Yang bersama dengan Bapa dan Anak
Disembah dan dimuliakan.

Terlepas daripada persoaalan apakah Roh itu berasal dari Bapa sendiri atau dari Bapa dan Anak, ajaran dalam pengakuan iman yang kuno ini dipegang oleh Gereja cabang Barat dan cabang Timur dan oleh semua orang Kristen. Hanya sebagian kecil saja yang tidak berpegang pada pengakuan itu.
Para penyusun Pengakuan Iman Athanasius dengan teliti dan terperinci mengungkapkan hubungan ketiga Pribadi itu serta mencoba menerangkan hal-hal yang masih belum jelas, seberapa yang dapat mereka lakukan dalam batas-batas Firman Allah yang diilhamkan itu. Pengakuan Iman itu mengatakan, “Di dalam Tritunggal ini, tidak ada yang lebih dahulu atau yang lebih kemudian, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil : tetapi ketiga Pribadi itu sama-sama kekal, bersama-sama dan setara.”

Bagaimana dapat kata-kata ini sesuai dengan apa yang dikatakan Tuhan Yesus, “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh 14:28) ? Ahli-ahli theologi kuno itu mengetahui hal itu dan di dalam Pernyataan Iman itu mereka menulis, “Setara dengan Bapa dalam hak “kealahan”-Nya ; lebih rendah dari Bapa dalam hal kemanusiaa-Nya”, dan tafsiran ini dapat diterima dengan baik oleh semua orang yang secara serius mencari kebenaran, tetapi yang pada saat yang bersamaan juga menyadari bahwa mereka tidak mungkin dapat dengan sepenuhnya memahami hal itu.

Untuk dapat menebus manusia, Anak yang Kekal itu tidak meninggalkan pangkuan sang Bapa ; ketika berada di antara manusia Yesus mengatakan diri-Nya sebagai “Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa” (Yoh 1:18). “Di sini kita melihat suatu misteri, tetapi bukan kekacauan. Di dalam penjelmaan-Nya sang Anak menyelubungi keilahian-Nya, tetapi Ia tidak menghilangkan keilhaian-Nya itu. Kesatuan Allah Tritunggal tidak memungkinkan Dia untuk meninggalkan sesuatu daripada keilahian-nya itu. Ketika Ia menjadi manusia, Ia tidak merendahkan diri-Nya atau untuk sesaat menjadi lebih rendah daripada diri-Nya sendiri. Tidaklah terbayangkan jika Allah menjadi sesuatu yang bukan diri-Nya.

Kerena ketiga Pribadi Allah itu adalah satu, maka mereka mempunyai satu kehendak. Mereka selalu bekerja bersama-sama dan tidak ada satupun perbuatan yang terkecil sekalipun yang dilakukan oleh salah satu yang tidak disetujui oleh dua yang lainnya. Setiap perbuatan Allah itu dilakukan oleh ketiga Pribadi Tritunggal dalam kesatuan. Di dalam hal ini tentu saja kita terpaksa melukiskan Allah dengan istilah-istilah manusia. Kita memikirkan Allah dengan perbandingan manusia, dan akibatnya kita tidak sampai pada kebenaran yang sesungguhnya ; tetapi apabila kita mau memikirkan Allah, memang kita harus menggunakan pikiran manusia dan kata-kata manusia untuk melukiskan sang Pencipta.
Kita membayangkan Pribadi-Pribadi Allah Tritunggal itu sedang berunding bertiga dan setelah bertukar pikiran seperti yang dilakukan manusia, mereka dapat mencapai suatu persetujuan. Ini merupakan suatu kesalahan besar, tetapi kesalahan yang dapat kita maklumi. Menurut pendapat saya, Milton memasukkan unsur kelemahan ke dalam bukunya yang terkenal, Paradise Lost, ketika ia mengemukakan Pribadi-Pribadi Allah Tritunggal yang membicarakan soal penebusan manusia.

Ketika Anak Allah berada di bumi sebagai Anak Manusia, Ia seringkali berbicara kepada Bapa dan Bapa menjawabnya ; sebagai Anak Manusia, Ia memohonkan syafaat kepada Allah untuk umat-Nya. Pembicaraan yang diadakan antara Bapa dengan Anak yang dicantumkan di dalam Alkitab selalu harus dipandang sebagai pembicaraan antara Bapa yang kekal dengan Manusia Yesus Kristus. Persekutuan atau pembicaraan di antara ketiga Pribadi Tritunggal yang sudah ada sejak kekal, tidak memerlukan bunyi, usaha atau gerak.

Di tengah kesunyian yang kekal
Firman Allah yang kekal diucapkan;
Tidak ada yang mendengar kecuali Dia yang berbicara,
Dan kesunyian itu tidak terputuskan.
Oh, hebat sekali ! Memang patut disembah !
Tiada nyanyian atau bunyi terdengar,
Tetapi di mana-mana dan pada setiap saat
Dengan kasih, kebijaksanaan dan kuasa,
Bapa menyampaikan Firman-Nya yang kekal itu.

Frederick W. Faber (terjemahan bebas)

Di antara orang Kristen, banyak yang percaya bahwa pekerjaan Allah itu dibagi-bagi di antara ketiga Pribadi Allah ; dan setiap Pribadi itu diberi bagian tertentu, misalnya Allah Bapa yang menciptakan, Sang Anak yang mengerjakan Penebusan dan Roh Kudus yang mengerjakan kelahiran kembali. Hal ini memang ada benarnya, tetapi tidak sepenuhnya benar, karena Allah tidak dapat membagi-bagi diri-Nya sehingga Pribadi yang satu bekerja, sedangkan yang lain tinggal diam. Di dalam Alkitab diperlihatkan bahwa ketiga Pribadi itu bertindak bersama-sama, seia-sekata dalam segala pekerjaan hebat yang terdapat dalam alam semesta ini.
Di dalam Alkitab diterangkan bahwa yang mengerjakan penciptaan itu ialah Bapa (Kej 1:1), Anak (Kol 1:16) dan Roh Kudus (Ayb 26:13 dan Mzm 104:30). Di dalam Alkitab juga diperlihatkan bahwa penjelmaan itu dilaksanakan oleh ketiga Pribadi Allah itu secara seia-sekata (Luk 1:35), walaupun hanya Anak yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Pada saat pembaptisan Kristus, Anak keluar dari air, Roh turun ke atas Dia dan Bapa berbicara dari sorga (Mat 3:16, 17). Mungkin lukisan terindah tentang penebusan terdapat dalam Ibrani 9:14. di dalam ayat ini dinyatakan bahwa oleh Roh yang kekal Kristus mempersembahkan diri-Nya yang tidak bercacat kepada Allah ; di sini kita melihat ketiga Pribadi Allah itu bekerja bersama-sama.
Kebangkitan Kristus juga dilakukan oleh Bapa (Kis 2:32), oleh Anak (Yoh 10:17, 18), dan oleh Roh Kudus (Rm 1:4). Rasul Petrus menunjukkan keselamatan daripada setiap manusia itu juga dikerjakan oleh ketiga Pribadi Allah Tritunggal (1 Ptr 1:2), dan dikatakan bahwa jiwa setiap orang Kristen didiami oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus (Yoh 14:15 – 23).

Seperti sudah saya katakan sebelumnya, doktrin Tritunggal adalah kebenaran bagi hati. Fakta bahwa soal Tritunggal itu tidak dapat diterangkan secara memuaskan bukannya merugikan, tetapi malah menguntungkan. Kebenaran yang sedemikian itu perlu dinyatakan oleh Allah ; tidak ada seorang pun yang dapat membayangkan hal itu.

Oh Tritunggal !
Oh Yang agung ! Oh Tiga di dalam Satu !
Engkau senantiasaaa adalah Allah sendiri
Tritunggal yang suci !
Ketiga Pribadi-Mu setara
Satu Allah, kami memuji Engkau

Frederick W. Faber (terjemahan bebas)
----------------------

Dari Buku : Mengenal Yang Maha Kudus karya A. W. Tozer. Penerbit : Kalam Hidup, hal : 29 - 38
Ditulis kembali oleh : Reza H
---------------------------------------

 

 


Home For Moslem For Catholic Our Faith Articles Testimony Free eBooks Guest Book Links
Website ini adalah pengembangan dari website : http://www.geocities.com/pencarian5
By : Reza H
Without Copyright (2003-2005)
Dukungan tulisan dari Anda sangat diharapkan.., dengan satu maksud untuk memperluas kerajaan Sorga, Haleluya
Contact me : [email protected]...God Bless Us..
Hosted by www.Geocities.ws

1