| |
Selama hampir tiga puluh tahun dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, penulis menjumpai banyak orang yang ketika ditanya mengenai keselamatan selalu mengajukan argumentasi berdasarkan pikiran logis, ataupun berdasarkan kepercayaan yang telah dipegang mereka, yang pada umumnya bertentangan dengan Alitab yaitu Firman Allah.
Di samping sebagian orang yang tidak mau berbincang mengenai keselamatan, karena tidak mau atau tidak percaya, atau tidak mengacuhkan, beberapa di antara yang melayai pembicaraan memberikan jawaban atau pandangan yang dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu :
1) Orang selamat apabila hidupnya saleh, (2) Orang selamat apabila ia rajin berbuat baik, dan (3) Orang selamat apabila ia mengasingkan diri dari dunia.
Sumber pandangan-pandangan di atas tentu dapat ditelusuri baik dalam ajaran-ajaran agama, filsafat, atau pun sekedar pemikiran manusia yang bersikap praktis. Pembahasan berikut akan berusaha menghindari penyebutan sumber ajaran dari salah satu golongan agama, demikian sehingga setiap orang dapat membaca tulisan ini tanpa merasa bahwa kepercayaan agamanya sedang dipersoalkan. Dengan kata lain, akan diusahaan pembicaraan bersifat praktis, terbuka, jujur dengan tujuan supaya dapat dilihat apa dan bagaimana manusssia memikirkan jalan keselamatan dari sudut pandang manusianya.
Orang Selamat apabila Hidupnya Saleh
Orang yang saleh artinya orang yang taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah. Jadi, pandangan di atas menyatakan bahwa seseorang itu selamat apabila ia sungguh-sungguh menjalankan ibadahnya. Tentu saja orang mengerti bahwa yang dimaksud dengan sungguh-sungguh-sungguh adalah benar-benar berusaha dengan segenap hati. Dalam pandangan ini, keselamatan tergantung pada kesungguhan hidup beribadah, dan di dunia ini banyak orang yang berusaha sungguh-sungguh beribadah.
Entah berapa banyak di antara orang-orang yang bersungguh-sungguh beribadah itu sudah pasti bahwa mereka sudah memiliki keselamatan. Banyak orang berusaha bersungguh-sungguh beribadah, ketika ditanyakan kalau-kalau sudah memiliki kepastian keselamatan, pada umumnya menjawab “masih berusaha terus”, bahkan ada yang menambahkan, “mudah-mudahan selamat”. Ini sangat melemahkan argumentasi bahwa orang selamat apabila hidupnya saleh karena kalau masih berusaha terus atau mudah-mudahan, berarti tidak ada kepastian, dan pandangan yang mengarah pada ketidakpastian biasanya sangat lemah.
Ketidakpastian itu disebabkan oleh karena dasar pandangannya yang tentunya tidak pasti pula. Dasar pandangan itu dapat berbentuk ajaran orang atau penganjur, teori ilmu pengetahuan, atau dukungan fakta walaupun belum disusun dalam bentuk teori. Memang ada banyak hal atau hampir semua hal di dunia ini mengarah kepada ketidakpastian, demikian sehingga manusia hanya berusaha mendekati kepastian itu sampai tingkat yang paling sedikit kemungkinan kesalahannya. Apakah menyangkut keselamatan itu manusia pun berusaha dengan sungguh-sungguh hanya untuk mendekati sampai tingkat kesalahaan paling kecil probabilitasnya ?
Orang Selamat apabila Ia Rajin Berbuat Baik
Pandagan ini nampaknya sederhana saja, tidak perlu diperdebatkann karena kata-kata “rajin berbuat baik” itu sangat mudah dimengerti dan orang yang mengamalkannya sukar didapati lawannya kecuali orang yang berbuat jahat. Tetapi masih ada dua pertanyaan yang sulit dicarikan jawaban yaitu : (1) Apakah yang menjadi ukuran berbuat baik ? dan (2) Adakah orang yang mampu berbuat baik terus menerus ?
Ada banyak contoh di dalam sejarah kemanusiaan yang menujukkan bahwa suatu perbuatn baik pada keadaan tertentu, ternyata adalah perbuatan jahat ada keadaan lain. Keadaan ini dapat berupa waktu, tempat ataupun orang/masyarakat. Demikian juga tingkat kebaikan perbuatan itu pun sukar sekali diukur yang mana dianggap baik sekali, baik, cukup, kurang dan kurang sekali atau sangat jahat dan seterusnya. Ini baru berbicara soal ukuran. Sekarang bagaimana kalau berbicara mengenai pertanyaan kedua yaitu adakah orang yang mampu berbuat baik terus-menerus ? Kalau jawaban pertanyaan ini adalah “tidak ada” lalu dinamakan apakah perbuatan-perbuatan yang lain daripada perbuatan baik itu ? Jikalau dinamakan perbuatan jahat, kerena itu lawannya, maka argumentasi yang mengatakan orang selamat apabila ia rajin berbuat baik menjadi sangat lemah walaupun argumentasi ini ditambah kata-kata “dan malas berbuat jahat.”
Memang ada cara yag mudah untuk memperkuat argumentasi di atas yaitu dengan menawarkan kemungkinan bahwa nantinya perbuatan baik dan perbuatan jahat akan ditimbang dan kalau ternyata perbuatan baik lebih berat daripada perbuatan jahat maka orang yang bersangkutan selamat sedangkan bila sebaliknya yang terjadi maka orang tersebut tidak selamat. Ini dapat dinamakan “teori neraca”.
Dengan menggunakan teori neraca, maka seseorang itu harus dapat mencatat jumlah perbuatan baiknya supaya dapat diketahui dan dibandingkan dengan jumlah perbuatan jahatnya, barulah orang itu pasti kalau-kalau ia selamat atau tidak. Tetapi pada kenyataannya orang itu tidak akan mampu mencatat dan menghitung perbuatan-perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar.
Pada akhirnya terpaksa penilaian itu diserahkan kepada Tuhan saja, biarlah nanti Tuhan yang menimbangnya siapa tahu perbuatan baik nantinya akan muncul sebagai pemenang dan perbuatan jahat ternyata kalah berat. Dalam hal ini argumentasi berubah menjadi judi-judian, siapa tahu berhassil. Dengan kata lain kembali seperti argumentasi pertama tadi yakni “tidak ada kepastian”. Keselamatan tergantung pada prestasi seseorang apakah ia mampu berbuat baik lebih banyak dari berbuat jahat. Hal ini tidak dapat diketahui secara pasti.
Orang Selamat apabila Ia Mengasingkan Diri dari Dunia
Alasan yang dipakai dalam argumentasi ini ialah karena sebenarnya manusia pada waktu dilahirkan suci (tanpa salah), tetapi dunia inilah yang penuh cemar dan noda. Sebenarnya kalau tidak dapat mengasingkan manusia dari dunia maka pilihannya adalah membersihkan dunia dari pencemaran dosa. Tetapi pilihan ini dianggap lebih sulit daripada mengasingkan manusia dari dunia, karena itu banyak orang memilih atau menganut pandangan yang mengatakan bahwa orang selamat apabila mengasingkan diri dari dunia.
Jikalau dilihat dari kenyataan, nampaknya cara ini pun tidak mungkin dilaksanakan kecuali membunuh diri, artinya dengan sengaja meninggalkan dunia yang fana ini. Selama orang itu masih hidup di dalam dunia, usaha apapun yang dibuat untuk mengisolasikan diri pasti gagal.
Memang ada orang-orang tertentu yang dapat mengisolasikan diri dari makanan-makanan tertentu bahkan sampai berpuasa dari semua jenis makanan dan minuman sampai berhari-hari. Tetapi hanya sampai berhari-hari tidak seterusnya. Juga ada yang dapat mengisolasi diri dari semarak dunia dengan segala jenis kemajuan dan kemundurannya, apakah dengan memilih suatu cara berpakaian yang tidak mengikuti mode yang sedang berkembang, cara hidup yang berbeda dari yang ada di masyarakat luar, ataupun bertapa di atas gunung atau pulau terpencil. Tetapi apakah dengan cara hidup itu orang bersangkutan sudah lepas dari dunia ? Mungkin dunia dalam arti sempit, ya, maksudnya ia berhasil melepaskan diri dari hidup berpesta pora, melepaskan diri dari keinginan mengejar kekayaan dan lain-lain, tetapi ia tetap berada di dalam dunia dengan segala macam corak kebendaan, keinginan, dan cobaan-cobaannya.
Walaupun pandangan ini nampak sederhana namun tidak mudah dilakukan. Orang-orang yang berusaha melakukan pun tidak dapat melepaskan diri dari dunia, dan seandainya ada yang menganggap telah berhasil melalui cara bertapa, bersamadi, atau berpuasa dari perkembangan serta tuntutan-tuntuan kemajuan, tetap saja orang itu tidak terlepas dari dunia.
Pendapat manusia tentang keselamatan selalu mengarah pada kepercayaan bahwa manusia mampu untuk menyelamatkan diri sendiri. Hal ini bertentangan dengan Firman Tuhan dalam Alkitab. Manusia tidak akan mampu menyelamatkan diri melalui usahanya sendiri. Keselamatan memang adalah hasil dari perbuatan tetapi bukan perbuatan manusia melainkan perbuatan Allah. Perbuatan itu telah selesai dilakukan Allah melalui penebusan Yesus Kristus, Putra-Nya, sang Juruselamat dunia. Manusia dapat menerima keselamatan secara cuma-cuma dengan cara memberikan hati untuk percaya kepada Yesus Kristus.
Kata Yesus : “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16)
Tulisan ini disadur dari buku : "Keselamatan oleh Iman atau Perbuatan" karya Dr. Frans P. Tamarol
|
|