![]() |
||
|
Hidayatullah Edisi Maret 2000
700 Jam Bersama Pengungsi
Catatan Harian Dokter dari Galela
Kamis, 6 Januari 2000, kami lima dokter: Joserizal Jurnalis, Wahyu Widodo, Yogi Prabowo, Herman Darmawan, dan Indragiri, dari bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta menumpang pesawat hercules ke Ternate. Bersama kami tiga anggota tim kemanusiaan dari Togamo (Tobelo, Galela, Morotai) yang diutus Yayasan Nurani Dunia (YND).
Esoknya kami sudah di Ternate. Suasana takbiran sangat memilukan bagi pengungsi. Jangankan baju dan kue Lebaran, untuk tinggal saja amat kesulitan. Semua serba terbatas.
Ba'da shalat Ied, kami menangani puluhan ribu pengungsi di Ternate. Tapi kami harus segera berkemas ke Galela dengan KRI Ajak. Selepas gelap kapal lepas jangkar. Sembilan jam perjalanan kami lalui dengan doa dan diskusi-diskusi kecil.
Pagi, 9 Januari, kami di Galela langsung menghadapi pengungsi. Wajah mereka tampak takut dan bingung. Ratusan pengungsi sakit. Tangis anak-anak kelaparan dan kekurangan gizi begitu menyayat. Ada yang dehidrasi, diare, dan gangguan pernafasan setelah lari ketakutan puluhan kilometer di hutan. Pengungsi lain meringis menahan luka-luka yang membusuk akibat bacokan, tembakan, dan pecahan bom. Tanpa menunggu istirahat, kami harus melakukan pengobatan. Rumah sakit darurat kami dirikan.
Sungguh kami tak menduga kondisinya segawat itu. Tanpa perbekalan memadai, kami harus melakukan bermacam operasi, dua orang tiap hari. Ada yang tangannya busuk, punggung tertembak, kaki hancur, dsb. Sering operasi dilakukan di ruang terbuka. Kami berlomba dengan waku dan lalat demi menyelamatkan nyawa. Alhamdulillah, bisa sembuh walau banyak yang cacat karena terpaksa diamputasi.
Hari ketiga dan keempat, pasien menurun, sekitar 60-70 pasien per hari. Sayang persedian obat menipis. Akhirnya kami gunakan obat-obat darurat. Untuk mengganti antibiotik misalnya, kami minta masyarakat mengumpulkan madu.
Karena masih banyak mayat berserakan, kami juga harus melakukan penguburan. Bila dibiarkan bisa menimbulkan wabah kolera atau lainnya. Pada pekan pertama, bersama aparat kami melakukan penyisiran sekaligus penguburan di desa Popilo. Tiga dokter ikut, saya Joserizal, Idragiri, dan Yogi.
Di jalan, truk militer yang membawa kami dicegat ratusan pasukan merah (Kristen). Padahal kami sudah disamarkan dengan pakaian PHH dan didudukkan pada posisi yang tak kelihatan. Aparat dipaksa menyerahkan kami, tentu untuk dipenggal. Kami merasa bakal menemui ajal karena mobil telah dikerubungi massa merah dengan senjata terhunus. Kami berdoa terus. Saya kemudian berteriak, Kami dokter, dokter! Saya lihat tentara mengarahkan senjata ke massa sembari mengokang. Syukur kami selamat. Pasukan merah memang kerapkali melakukan sweeping. Jangankan kami, tentara saja diminta untuk menunjukkan KTP-nya.
Di Popilo kami juga menemukan puluhan mayat dan potongan tubuh membusuk yang sudah dimakan jutaan larva (belatung). Jumlahnya ratusan. Mereka tergeletak di jalan, rumah, dan di semak-semak. Kami menduga mereka tewas saat melarikan diri dari kejaran pasukan merah.
Kami mendatangi masjid-masjid, di sana mayat bertumpuk-tumpuk. Di masjid Al-Muhajirin Popilo misalnya, selain membusuk mayat-mayat itu juga hangus dibakar. Beberapa di antaranya tinggal tengkorak. Melihat kebiadaban itu kami sama sekali tidak bisa bicara apa-apa. Ti Timor Timur saja tidak sebiadab seperti ini, kata seorang tentara.
27 Januari. Bersamaan dengan HUT PDI-P, massa merah melakukan serangan besar-besaran ke Galela dari lima arah. Syukur bisa ditangkis dengan bantuan tentara. Kalau barikade tentara jebol, kami dan para pengungsi pasti terbantai.
Hari berikutnya tetap terjadi serangan sporadis yang kerap dilakukan pagi hari. Menurut tentara yang berjaga di perbatasan, kami menjadi incaran pasukan merah karena dianggap berpihak pada pengungsi Muslim.
Mental pengungsi juga makin lemah. Ketika kami datang, banyak yang shock hingga mentalnya jatuh. Tidak ada lagi semangat untuk berjuang membela diri. Hanya rasa takut yang terlihat. Ketika kami teriakkan takbir misalnya, tidak ada respon. Begitupun salam, tidak ada jawaban. Belakangan kami ketahui selama ini mereka memang jauh dari Islam. Mabuk di bulan puasa, itu hal yang biasa. Apalagi di luar puasa. Padahal mereka mengaku Islam.
Keadaan itu membuat kami harus menjalankan fungsi ganda. Selain melakukan tindakan medis kami juga harus merehabilitasi mental mereka. Sebab kondisi mental yang jatuh sangat berpengaruh terhadap pemulihan fisik. Pekerjaan yang satu ini luar biasa beratnya.
Rupanya upaya ini menampakkan hasil. Mereka mulai bisa diajak bercanda, berpikir. Bahkan kemudian muncul kesadaran membela diri. Sesuatu yang samasekali tak terlihat sebelumnya. Mereka lalu melakukan latihan perang, bermain pedang, memanah, dan menyusun strategi pertahanan.
Selain menolong pihak putih alias Muslim, kami juga menolong anggota pasukan merah yang luka-luka akibat perang. Ini wajib dilakukan sebab petugas medis harus netral. Karena masalah keamanan, kami minta jaminan keselamatan dari pihak gereja. Sayang gereja menolak, sehingga kami batal berangkat ke wilayah merah. Akhirnya kami hanya bisa menyarankan agar yang sakit atau luka-luka dibawa ke tempat kami atas jaminan keselamatan dari aparat.
Beberapa dari mereka datang juga. Salah satunya adalah pasien yang kami operasi karena tertembak aparat. Meskipun orang-orang putih bersikap baik dan bersahabat, kami tetap meminta operasi dikawal aparat keamanan. Itu merupakan komitmen kami menjaga keselamatan setiap orang.
Tanggal 4 Februari 2000, dengan berat hati kami harus meninggalkan Galela, ladang jihad bagi kaum Muslimin, karena akan dilakukan pergantian tim. Perpisahan dengan pengungsi sangat mengharukan. Karenanya, kami bertekad akan kembali lagi ke sana dengan tim berikutnya.