b_atas.jpg (47700 bytes)
Islam is rahmatan lil aalamiin

Jihad sabiluna wa al mautu fii sabiilillaah asma' amanina

Hidayatullah Edisi Maret 2000

“Di Atas Saya Ada Enam Lapis Mayat”

“Hanya dari keajaiban Allah saya masih hidup,” kata Munir (22) korban pembantaian di Masjid Al-Muhajirin, Popilo, Tobelo (Maluku Utara), yang selamat. “Saya lihat orang-orang dibantai di masjid,” ujarnya lagi, disertai butiran air mata yang jatuh.

Ketika desanya diserang, Munir lari ke masjid Al-Muhajirin Popilo. Seorang pasukan merah (Kristen) lalu menombak dadanya dari sebelah kiri atas menyilang ke kanan. Darah muncrat, Munirpun menggelepar. Tidak cukup menombak, mereka lalu memutar-mutar tombak sehingga makin menghunjam. Jasad Munir pun tak bergerak.

Tubuh Munir sempat digoyang-goyang untuk memastikan kematiannya. Dianggap sudah meninggal, Munir dilemparkan ke tumpukan mayat di Masjid Al-Muhajirin yang baru dibantai. “Sebagian besar mayat-mayat itu tidak utuh, rusak. Saya ditumpuki enam lapis mayat. Beberapa orang lainnya giliran menunggu ajal.”

Di luar dugaan, ternyata Munir masih hidup. Namun ia bertahan meskipun ditumpuki beberapa mayat. “Ketika mereka putar-putar tombak, saya tahan napas, dikira mati,” katanya. “Kalau malam tiba, saya akan lari,” pikir waktu itu. Kebetulan belakang masjid adalah hutan. Jadi kalau Munir lari bisa langsung masuk hutan.

Namun pasukan merah ternyata punya rencana lain. Mayat-mayat yang sudah dibantai itu hendak dibakar. Sebuah teriakan memberi komando, “Bakar.. bakar!” Lantas terdengar bahan bakar ditumpahkan ke dinding masjid, juga ke tumpukan mayat-mayat itu. Merasa tidak mungkin bisa selamat, Munir berusaha melepaskan diri. Dia singkirkan mayat-mayat di atasnya. “Saya tidak tahu dapat energi dari mana.” Munirpun lolos dan langsung masuk hutan.

Nahas bagi Munir. Dua orang anggota pasukan merah mengetahui. Munir yang lari menahan luka akhirnya dikejar. Tertangkap. Keduanya langsung mengayunkan pedang hendak memenggal. Ketika pedang diangkat, Munir berteriak “Allahu Akbar” sekeras-kerasnya. Tanpa diduga pedang keduanya jatuh. Bahkan kedua orang itu terlihat gemetaran.

Melihat keduanya gemetar, Munir lari lagi. Baginya yang penting lari dan lari sejauh mungkin. Perasaan takut terhadap pasukan merah mengubur rasa sakit akibat tombak yang menghunjam ke dadanya.

Berhari-hari Munir menyusuri hutan. Pria ini mengaku hanya makan dedaunan dan minum air seadanya. Ia sembunyi di balik batu yang dirimbuni dedaunan, hingga keadaannya kuat. Ketika pasukan TNI ke hutan mencari pelarian untuk diberi perlindungan, Munir ditemukan. Setelah ditanya asal usul dan agamanya, Munir dibawa ke Galela.

Ketika dokter Mer-C datang, Munir dibawa ke dokter, sebab sering mengeluh napasnya sesak. Begitu diperiksa, ada timbunan darah di rongga dada sebelah kanan. Ketika dilakukan tusukan ke rongga dada mengalir satu setengah liter darah. Sesak napasnya hilang. Sembuh? Ternyata ganti penyakit baru. Ketika tidur, Munir selalu mengigau. Badannya basah kuyup lantaran keringat tapi menggigil sambil teriak-teriak. Pagi harinya segar kembali. Keadaan ini berlangsung setiap hari. Para dokter penasaran. Ketika ditanya, Munir tidak mampu banyak cerita.

Karena setiap hari begitu, akhirnya dokter mendesak. Meluncurlah cerita kesadisan yang dialami. Istrinya yang bunuh, orang-orang yang bantai, bayi yang dipotong dengan bengis, serta anak-anak yang dipanah. Sejak itu Munir bisa tidur tenang.

Sebelum tertimpa musibah itu, Munir menyaksikan orang-orang di masjid dibantai satu persatu. Bayi- bayi direnggut dari orang tuanya untuk dijadikan ketangkasan berpedang. Keadaan ini dibenarkan oleh tim dokter dari Mer-C yang menemukan potongan tubuh berukuran kecil berserakan di dalam masjid. “Dilihat dari ukurannya, mereka adalah balita,” kata dokter Joserizal Jurnalis, Ketua Mer-C yang melakukan penguburan ratusan mayat di Popilo.

Perlakuan terhadap anak-anak beda lagi. Anak-anak digantung di atas, kemudian dijadikan latihan ketangkasan memanah. Puluhan anak panah menancap pada sasaran hingga anak-anak itu meninggal. Mati satu, pindah ke anak berikutnya. Lagi-lagi hal ini dibenarkan oleh dokter yang menguburkannya.

Terhadap orang-orang dewasa, lain lagi perlakuannya. Sebelum dibantai anggota badan mereka dipotong sedikit demi sedikit. Dalam keadaan masih hidup! Seperti penjual daging sapi yang melayani pembelinya. “Permisi Pak, saya ambil telinganya.” Dipotonglah telinga, hidung, atau anggota badan lainnya.

Ketika para dokter dari Mer-C meninggalkan Galela, sebenarnya Munir hendak dibawa ke Jakarta. Tapi kapal perang yang menjemput para dokter itu melarang ada pengungsi naik. Karena tidak ada angkutan lain, Munir terpaksa ditinggal di Galela. Munir adalah salah satu saksi pembantaian yang selamat. Akibat goncangan psikis yang dialaminya menyebabkan pria ini berjanji akan menyumpal mulut orang yang memutarbalikkan fakta dengan keadaan yang dialaminya. Termasuk orang-orang yang mengatakan korban di Halmahera Utara hanya lima orang.

prev page | next page

Hosted by www.Geocities.ws

1