|
Menanam Watak
Sumber:
[email protected]
Penulis : Yustinus Sumantri Hp.,SJ
Seorang
Raja yang sudah tua memakai cara unik untuk mencari
calon penggantinya. Suatu hari pemuda dari seluruh
pelosok negeri dikumpulkan di balai pertemuan istana,
masing-masing diberi sebutir benih tanaman.
"Anak-anakku
sekalian, aku akan memilh penggantiku dari antara
kalian. Benih yang sudah kalian terima akan menentukan
masa depan kalian. Sekarang pulanglah, semaikan-lah
benih tersebut. Tahun depan, kembalilah kesini dan
tunjukkan hasilnya".
Joni
bergegas pulang. Benih tersebut disemaikan dalam sebuah
pot. Setiap hari ia rajin menyiram dan memberi pupuk.
Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan lewat sudah.
Namun, benih tersebut tak kunjung bersemi. Keadaan
ini membuat Joni frustrasi. Sementara tenggang waktu
setahun sudah habis. Kalau tidak dibujuk oleh Ibunya,
ia nyaris tak mau kembali ke istana, "Nak, kau
tidak perlu malu. Kamu sudah melakukan apa yang diperintahkan
kepadamu. Laporkan kepada raja dan bilang secara jujur
hasilnya".
Kekhawatiran
Joni benar terjadi. Ketika sampai istana, ia kaget
melihat begitu banyak tumbuhan hasil persemaian teman-temannya.
Joni minder dan sedih. Raja berkeliling me-meriksa
satu demi satu tanaman yang dibawa para pemuda. "Hei,
kamu yang bersembunyi dibelakang, kemarilah".
Sambil menenteng pot kosong, Joni maju ke depan diiringi
cemooh pemuda pemuda lain.
Tak
dinyana Sang Raja membungkuk memberi hormat kepada
Joni seraya berkata, "Setahun yang lalu saya
memberi kalian masing-masing sebutir benih kering
yang sama sekali takkan bisa tumbuh. Kini berbagai
jenis tanaman berkumpul disini. Diantara kalian hanya
Joni satu-satunya yang dengan jujur berani membawa
potnya yang kosong dan siap menerima cemooh dan celaan.
Integritas semacam inilah yang menunjukkan kemuliaan
hati seseorang. Dialah yang terpilih jadi Raja Baru!".
Sumber:
Menanam Watak oleh Yustinus Sumantri Hp.,SJ
<<<---
kembali ke arsip artikel
|