|
Ekosistem
& Ekologi Manusia
lmu ekologi pada dasarnya menjelaskan hubungan
antara organisme -tumbuhan maupun hewan- dengan lingkungannya.
Sifat setiap benda hidup dimengerti dari segi hubungannya. Bukan
hanya dengan alam secara fisik -termasuk tanah, air dan iklim-
tetapi juga dengan benda hidup lain dalam suatu pola saling
ketergantungan yang dinamakan ekosistem. Contoh ekosistem dari
Sumatera adalah hutan tropis dataran rendah, hutan mangrov,
sungai, lahan basah gambut, dll.
Ekosistem-ekosistem digolongkan ke dalam kategori lebih besar
yaitu biom yang umumnya diidentifikasikan dari vegetasi yang
mencirikannya. Hutan tropis, gurun, padang rumput, merupakan
contoh biom. Biom merupakan unit ekologis terbesar di dalam
biosfer. Biosfer itu adalah seluruh lingkungan hidup di planet
bumi.
Setiap ekosistem berbeda dari segi luasan dan keruwetan, juga dari
segi daya dukung dan ketahanan terhadap gangguan. Dalam beberapa
dekade terakhir milenium, hampir semua ekosistem di Sumatera
mengalami gangguan berat, bahkan sangat berat. Ini terutama
berhubungan dengan eksploitasi yang jauh melebihi daya dukung.
Konversi hutan menjadi perkebunan pada areal yang sangat luas
merupakan contoh gangguan berat ekosistem hutan tropis Sumatera.
Akibatnya, ekosistem hutan di Sumatera terdegradasi dan akhirnya
terfragmentasi ke dalam blok-blok kecil yang saling terisolir.
Ekosistem yang pada awalnya luas dan stabil, menjadi
terkotak-kotak dan sangat rawan terhadap gangguan baru.
Sebenarnya hampir tidak ada lagi ekosistem yang tidak dipengaruhi
secara nyata oleh kegiatan manusia. Misalnya, jika dalam keadaan
normal hutan tropis basah tidak terbakar walaupun dalam kemarau
panjang, tetapi setelah terdegradasi oleh logging berlebihan
akhirnya terbakar juga, seperti yang dialami dua tahun lalu. Jadi
ekologi bumi sekarang boleh dikatakan sudah menjadi masalah
ekologi manusia. Tetapi secara konseptual, ekologi manusia itu
apa?
Manusia, menurut ilmu biologi, memang jenis mamalia yang pada
prinsipnya dapat dipandang sebagai unsur hewani dalam
ekosistemnya. Dan pandangan ini tentu berlaku untuk masa evolusi
spesies leluhur manusia, paling tidak sampai munculnya Homo
sapiens (subspesies kita sekarang), sekitar 150.000 tahun lalu.
Dengan munculnya subspesies ini, dengan kapasitas intelektual dan
budaya lebih besar, pengembangan teknologi dan organisasi semakin
menonjol. Namun, konsekuensinya pada lingkungan hidup masih
terbatas sebelum manusia mulai mentransformasikan alam lewat
pertanian sekitar 10.000 tahun yang lalu. Bahkan masih juga
terbatas di mana pertanian masih dilakukan secara sederhana,
seperti perladangan berpindah, pada kepadatan penduduk sangat
rendah sehingga proses-proses alami termasuk regenerasi masih
dominan dan berjalan baik.
Namun, pertanian memiliki potensi intensifikasi yang dapat
diwujudkan lewat seleksi benih dan pengolahan lahan serta berbagai
bentuk-bentuk organisasi. Perkembangan ini memungkinkan populasi
lebih besar dan padat serta pengembangan berbagai spesialisasi
jasa atau produk juga di luar pertanian. Pengembangan populasi dan
ekstensifikasi pertanian untuk mendukung populasi tersebut
memperluas dampak pada ekosistem. Ini terjadi di wilayah yang
kesuburan tanahnya tinggi secara alami seperti umumnya di Pulau
Jawa dan Pulau Sumatera terutama di beberapa tempat sepanjang
Bukit Barisan. Akhirnya, berkat revolusi industri dengan
pengembangan berbagai mesin dan kendaraan yang memanfaatkan energi
fosil terutama minyak sebagai sumber tenaga dan teknik lainnya
seperti pupuk buatan, kemampuan manusia untuk memanfaatkan bumi
bahkan mentransformasikannya dalam waktu singkat, sangatlah
meningkat. Dampak ekologis pun menjadi dahsyat seperti belakangan
ini di Sumatera dan juga di bagian lain dunia.
Ekologi manusia merupakan studi terhadap bagaimana manusia
berinteraksi dengan alam bukan hanya sebagai makhluk biologis,
tetapi lebih-lebih sebagai makluk berbudaya. Ekologi manusia juga
menyangkut bagaimana interaksi itu mempengaruhi kependudukan dan
pola organisasi dan juga konsekuensinya bagi alam, serta timbal
balik dari konsekuensi itu. Kalau dahulu manusia menjadi aktor
terbatas di dalam ekosistem tertentu, sekarang menjadi sumber
pengaruh di hampir semua ekosistem di bumi. Bahkan boleh
dikatakan, planet bumi dengan biosfernya lah yang merupakan
ekosistem bagi manusia sekarang. Daya dukung ekosistem inilah yang
akhirnya menentukan, penyesuaian apa yang harus dilakukan manusia
dalam perilaku dan pola organisasi untuk tetap survive. (O.S)
Di kutip: www.warsi.or.id
|