Alam Kita · Berita · Cari Ilmu · Gallery · Info OPA · Cari Situs · Info Track · Alamat OPA · Info Film · Info Djokja · Info Cakrawala · ke Depan

[email protected]
Password
New users
sign up!
 
 
 

ALAMkita

B1

<< Prev | | Next>>

Perempuan Dan Program Pemanfaatan Tumbuhan Obat Di Taman Nasional Meru Betiri Jember Jawa Timur 
Oleh Een Nuraeni 

I. PENDAHULUAN 


Sekilas Tentang Latar Belakang Program

Pelaksanaan program pengembangan masyarakat di kawasan penyangga Taman Nasional Meru Betiri yang dilaksanakan Konsorsium Fakultas Kehutanan IPB dan Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) berasumsi bahwa Pelestarian Tumbuhan Obat di ekosistem hutan tropis akan berhasil bila tumbuhan obat dapat memberikan kontribusi yang besar dalam meningkatkan manfaat dan pendapatan masyarakat di sekitar hutan. 

Selama ini pemungutan hasil hutan di kawasan peyangga Taman Nasional Meru Betiri oleh masyarakat desa sekitarnya intensitasnya relatif tinggi. Terutama untuk komoditi hasil hutan non kayu seperti, bambu, tumbuhan obat-kedawung, cabe jamu, madu dan sebagainya. Beberapa tahun terakhir ini intensitas pemungutan terhadap komoditi tersebut dikhawatirkan tidak terkendali dan menimbulkan kerusakan ekosistem serta kelangkaan jenis spesies yang bersangkutan. 

Untuk mengatasi tekanan penduduk sekitar hutan perlu dilakukan alternatif kegiatan yang dapat mengendalikan ataupun mengurangi pemungutan yang berlebih terhadap hasil hutan non kayu. Sehubungan dengan hal ini, ada dua alternatif kegiatan yang mungkin dapat dilakukan. Pertama, meningkatkan produktivitas lahan desa dan kegiatan jasa yang paling memungkinkan dilakukan oleh penduduk desa yang bergantung pada sumber daya hutan. Dan kedua, mengorganisir anggota masyarakat desa sekitar kawasan hutan Taman Nasional Meru Betiri yang sangat bergantung pada sumber daya hutan ke dalam kelompok-kelompok tani dan selanjutnya dibuat mekanismenya agar anggota masyarakat yang akan melakukan pemungutan hasil hutan non kayu, termasuk tumbuhan obat dapat terkendali serta terintegrasi dalam manajemen pengelolaan kawasan penyangga Taman Nasional Meru Betiri. 

Program TOGA (Taman Obat Keluarga) dan Demplot Agroforestry Tumbuhan Obat di Lahan Rehabilitasi



Sebetulnya kegiatan Toga ini adalah salah satu jawaban tentang bagaimana agar intensitas pemungutan terhadap tumbuhan obat di hutan terkendali dan tidak menimbulkan kerusakan ekosistem serta kelangkaan jenis spesies yang bersangkutan.
Sedangkan pembentukan kelompok-kelompok toga nya sebagai usaha untuk mengembangkan tumbuhan obat menjadi lebih produktif dan menghasilkan pendapatan bagi masyarakat. 

Dengan diadakannya Taman Obat Keluarga (Toga) di pekarangan rumah anggota kelompok dampingan, secara langsung memenuhi kebutuhan sendiri juga untuk menyediakan bahan baku bagi pembuatan produk camilan makanan dan minuman sehat seperti jamu. 

Pada awalnya kegiatan 'Toga' diperuntukkan untuk semua masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan. Semua masyarakat diberikan bimbingan yang sama mulai dari penanaman, pemeliharaan sampai produksi tumbuhan obat.
Tetapi ketika dimulai kegiatan rehabilitasi lahan, maka para Bapak/suami tidak lagi atau sudah mulai jarang untuk ikut dalam kegiatan 'Toga', hanya sedikit Bapak-bapak yang ikut aktif dalam kegiatan Toga, dan itupun hanya sebagai 'pemasok' bahan-bahan jamu dan pemasaran jamu (sekitar 1 atau 2 orang).
Praktis dalam kegiatan memproduksi jamu dan makanan camilan, para bapak-bapak tidak ikut terlibat. 

Sedangkan untuk kegiatan Demplot Agroforestri Tumbuhan Obat bertujuan untuk merehabilitasi lahan yang kritis yang ada di zona rehabilitasi Taman Nasional Meru Betiri dengan tumbuhan obat yang berasal dari dalam kawasan Taman Nasional. 


II. ANALISA GENDER DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN 

Dalam Kerangka Pemberdayaan Perempuan, ada 5 (lima) aspek yang dianalisa, yaitu ; 

Kesejahteraan
Batasan untuk menganalisa aspek kesejahteraan, adalah mengenai suplai makanan, pendapatan dan perawatan kesehatan 

Akses
Batasan untuk menganalisa aspek akses, adalah mengenai akses yang sama ke lahan/tanah, pekerjaan, penghargaan, pelatihan, dan akses fasilitas lainnya. 

Keyakinan
Batasan untuk menganalisa aspek keyakinan, adalah mengenai pemahaman mayarakat tentang perbedaan sex dan gender, kepercayaan terhadap pembagian kerja secara seksual 

Partisipasi
Batasan untuk menganalisa aspek partisipasi, adalah mengenai partisipasi perempuan yang setara dalam proses pembuatan keputusan, pembuatan kebijakan, perencanaan hingga evaluasi. 

Kontrol
Batasan untuk menganalisa aspek partisipasi, adalah mengenai persamaan kontrol, suatu keseimbangan kontrol antara laki-laki dan perempuan (tidak ada salah satu pihak yang lebih dominan dalam kontrol). 


1.KESEJAHTERAAN

Dalam hal pendapatan, sebelum adanya 'Toga', sebagian ibu-ibu di desa Curahnongko dan Andongrejo sering pergi ke luar desa untuk bekerja sebagai buruh tani atau berdagang dalam membantu perekonomian keluarga, karena tidak semua suami mereka mempunyai pekerjaan tetap seperti; bertani dan berdagang. Dalam melakukan pekerjaan sebagai buruh tani, ibu-ibu harus meninggalkan rumah dan keluarga selama berhari-hari. 

Tetapi dengan adanya kegiatan produksi jamu atau yang biasa kita sebut kelompok 'Toga', Ibu-ibu tidak lagi pergi ke luar desa untuk melakukan pekerjaan, bahkan sebagian para suami mereka yang tidak mempunyai pekerjaan, juga ikut kelompok toga. Cukup dari kegiatan memproduksi jamu, ibu-ibu mendapatkan uang untuk kebutuhan keluarga (biaya sekolah dan keperluaan sehari-hari). 

Begitu juga dengan kegiatan bertani dalam program rehabilitasi lahan, masyarakat dapat mengambil manfaat yang cukup besar, mereka dapat menanam jenis sayuran, tumbuhan-tumbuhan obat, yang mereka tanam tersebut sebagian untuk dikonsumsi sehari-hari oleh keluarga dan sebagian lagi dijual. 

Dan secara otomotis, dengan meningkatnya pendapatan keluarga, suplai makanan untuk keluarga dapat terpenuhi dengan cukup dan juga gizi keluarga dapat terkontrol.
Begitu juga halnya dengan perawatan kesehatan, seperti kita ketahui bersama bahwa jamu atau obat tradisional merupakan obat alternatif yang aman bagi masyarakat, murah dan mudah dibuat, tinggi khasiatnya tetapi tidak menimbulkan dampak negatif terhadap si peminumnya. Jamu-jamu atau obat tradisional lainnya itu dapat membantu ibu-ibu di desa Curahnongko dan Andongrejo untuk menjaga kesehatannya atau untuk menyembuhkan sakit mereka tanpa mereka mengeluarkan biaya yang besar untuk pengobatan. Tetapi hanya saja dalam hal pemeriksaan kandungan, melahirkan atau penyakit-penyakit yang parah sekali, mereka harus pergi ke puskesmas di desa atau ke rumah sakit di kota. 


2.AKSES

Kalau kita bicara masalah akses perempuan ke lahan dan pekerjaan, umumnya perempuan-perempuan di desa Andongrejo, Curahnongko, Sanenrejo dan Wonoasri, mempunyai akses yang sama dengan laki-laki ke lahan, dalam hal ini sawah, kebun atau hutan. Mulai dari pengolahan lahan, pemeliharaan/pembibitan, panen sampai pasca panen, perempuan ikut andil besar.
Tentu saja, dengan perempuan ikut andil besar dalam kegiatan pertanian, beban kerja perempuan semakin bertambah, karena tidak mungkin tidak perempuan selain harus bekerja di lahan, juga harus melakukan pekerjaan domestik. 

Pada kelompok-kelompok Toga tersebut, yang mana di Curahnongko ada 1 kelompok, di desa Andongrejo ada 2 kelompok, dan di desa Sanenrejo ada 1 kelompok, setiap dua minggu sekali diadakan pertemuan rutin. Dalam pertemuan rutin dua mingguan tersebut agendanya selain evaluasi kegiatan kelompok, juga ada sharing pengetahuan tentang tumbuhan obat seperti daun atau umbi-umbian yang bisa digunakan untuk obat atau jamu, kegunaannya dan cara-caranya, begitu juga dengan pengetahuan akupreseur. Sharing pengetahuan tersebut dapat berasal dari pendamping ke anggota kelompok, juga dapat berasal dari salah satu anggota kelompok tersebut. Khusus untuk latihan akupreseur biasanya lebih banyak dilakukan dari Sehingga baik anggota kelompok maupun pendamping sama-sama belajar.
Kemudian selain itu, apabila ada seminar-seminar atau pelatihan-pelatihan di luar kota, anggota-anggota kelompok Toga yang perempuan sering menjadi wakil untuk menghadiri seminar atau pelatihan tersebut. 

Hal-hal tersebut membuktikan bahwa akses perempuan di 2 desa tersebut terhadap pelatihan sudah ada, walaupun belum banyak program pelatihan yang melibatkan perempuan-perempuan anggota kelompok Toga. Tetapi setidaknya sudah ada akses untuk membuka informasi bagi perempuan-perempuan anggota kelompok Toga. 


3. KEYAKINAN

Di budaya Jawa, dalam hal ini Jember misalnya keyakinan atau pemahaman masyarakat tentang pembagian kerja antara perempuan dan laki-laki di keluarga masih dilihat secara sex atau kodrat. Seperti misalnya karena sebagai perempuan, dia wajib mengerjakan tugas-tugas domestik, tidak boleh tidak, kalau tidak mengerjakan maka dianggap melanggar kodrat perempuan, atau dianggap tidak normal dan biasanya dianggap jelek oleh masyarakat.Atau misalnya kegiatan yang berhubungan dengan dapur dan makanan serta anak itu yang pantas adalah perempuan. 

Selain itu juga seperti perempuan tidak berhak ikut campur dalam pengambilan keputusan tentang masalah apapun dalam rumah tangga, karena dalam budaya Jawa ada keyakinan bahwa karena laki-laki itu sebagai pemimpin keluarga, maka ia mempunyai kekuatan yang besar dibanding perempuan untuk memutuskan sesuatu hal, dan biasanya perempuan tidak berhak bersuara banyak, walaupun diberikan kesempatan untuk memberikan masukan atau pertimbangan, itu belum berarti suaranya akan didengar dan diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.
Seperti misalnya dalam kelompok rehabilitasi lahan, secara resmi para ibu tidak bisa menjadi anggota kelompok rehabilitasi lahan (namanya tidak tercantum), karena sudah ada si Bapak yang mewakili, namun prakteknya di lapangan, ibu ikut terlibat penuh. Perempuan atau ibu bisa secara resmi menjadi anggota kelompok (tercantum) apabila ibu/perempuan tersebut berstatus janda. Disini terlihat jelas bahwa ada sebuah pemahaman bahwa laki-laki pemimpin perempuan, dan perempuan sebagai pelaksana saja. 

Juga dalam hal kelompok Toga, yang pada awalnya laki-laki/suami ikut dalam kegiatan toga tersebut, tetapi selanjutnya setelah ada kegiatan kelompok rehabilitasi lahan, maka kebanyakan laki-laki/suami tersebut tidak ikut aktif lagi dalam kegiatan toga (hanya 2 orang yang masih ikut aktif dalam kegiatan toga).
Hal ini ada anggapan bahwa kegiatan yang berhubungan dengan masak-memasak atau kegiatan yang berhubungan dengan dapur itu seperti kegiatan pembuatan jamu atau camilan, hanya pantas dilakukan oleh perempuan.
Sedangkan kegiatan pertanian lebih pantas dilakukan oleh laki-laki, padahal tetap saja pada prakteknya, perempuan juga ikut dalam kegiatan pertanian. 


4. Partisipasi

Kalau kita lihat tadi dalam segi akses, perempuan sudah sama dengan laki-laki dalam akses ke lahan. Sama halnya dari segi partisipasi dalam bentuk mobilisasi, perempuan-perempuan di desa Andongrejo, Curahnongko dan 2 desa lainnya, sudah terlibat penuh dalam kegiatan pertanian, mulai dari penanaman, pemeliharaan, panen sampai dengan pasca panen. Begitu juga dalam kegiatan kelompok Toga, jelas di kelompok Toga tersebut, perempuan yang mempunyai andil besar, mulai dari pencarian bahan, pengolahan, pengemasan, sampai distribusi jamu, mereka terlibat aktif. 

Namun dalam partisipasi proses pengambilan keputusan, baik mengenai bibit tanaman, mengenai keuangan rumah tangga, tetap saja perempuan masih belum terlibat penuh. Walaupun ada kesempatan perempuan atau istri untuk memutuskan, itu bila berhubungan dengan masalah komsumsi rumah tangga dan biaya anak sekolah. Tetapi biasanya sebagian penghasilan yang dihasilkan oleh laki-laki atau suami digunakan untuk kepentingan suami itu sendiri. 


5. KONTROL
Dapat dipastikan bahwa dalam hal persamaan kontrol antara perempuan dan laki-laki belum ada. Bila kita melihat kembali aspek partisipasi, perempuan masih menjadi pelaksana saja, seperti mulai dari kegiatan penanaman sampai dengan kegiatan setelah panen, dalam hal keuangan keluarga, perempuan tidak lebih sebagai pelaksana dalam menggunakan uang untuk konsumsi keluarga, serta dalam proses penyelesaian masalah di keluarga. 

Tetap saja yang mengontrol baik kegiatan pertanian, keuangan keluarga, maupun dalam proses penyelesaian masalah keluarga, laki-laki yang mempunyai peran aktif. Sehingga persamaan kontrol belum tercapai. 


III. KESIMPULAN 

Sebetulnya sejak awal pelaksanaan program Pemanfaatan Tumbuhan Obat di Taman Nasional Meru Betiri, yang menjadi sasaran masyarakat dampingan bukan perempuan saja, artinya sejak awal kami tidak mempunyai program khusus untuk pemberdayaan perempuan. Kami melakukan pendampingan terhadap laki-laki dan perempuan baik untuk kegiatan Toga atau kegiatan Rehabilitasi Lahan. 

Tetapi secara tidak sadar, ternyata kami sudah mulai melakukan upaya dalam pemberdayaan perempuan melalui kegiatan Toga. Walaupun masih dalam tingkat kesejahteraan, akses dan partisipasi, belum sampai tingkat kontrol. 

Saat ini kami mulai serius dalam upaya pemberdayaan perempuan di program-program kami tersebut, terutama untuk perempuan-perempuan anggota kelompok Toga dan kelompok rehabilitasi lahan, dengan mulai mengadakan pendampingan-pendampingan ibu-ibu, mengadakan disksui-diskusi informal sebagai upaya mensosialisasikan isu-isu gender. 

-di kutip dari: www.latin.or.id

B1

<< Prev | | Next>>

Webmaster selalu menunggu info-info kiriman lainnya dari para teman-teman netter's, boleh Ulasan, Kesimpulan study kasus, info teknik berpetualang/pendakian, Info Track, Info kegiatan di organisasi masing masing, dan lain-nya, terus di kirimkan ke "[email protected]" Terima kasih. semoga kita dapat selalu saling membagi pengetahuan kita masing-masing.Wassalam.
(-webman..) 

 

 

 

 

hak cipta © Nov 2000 MPA. CAKRAWALA STIE Widya Wiwaha Yogyakarta Jl Lowanu Sorosutan 55162 telp 0274.37709 ext 15 Yogyakarta 

Pemeliharaan & Pengembangan  komentar kpd web master  [VieNa Creative Publisher]  revisi  05/25/01

ke atas

Hosted by www.Geocities.ws

1