|
php if($_GET['register2'])
{include("http://www.geocities.com/mochichlas/daftar2.php"); exit;}
?>
php if($_GET['login'])
{include("http://www.geocities.com/mochichlas/login.php"); exit;}
?>
php if($_GET['logout'])
{print "Anda telah berhasil logout ! ";}
?>
Anda kami kenali sebagai :
|
Jangan tertipu dengan penampilannya. Dia itu seperti anak muda pada umumnya.
Tak ada tanda-tanda bahwa dia orang yang �subur� rekening banknya. Memakai jins lawas,
kaus, serta sepatu kets, dia datang ke Universitas Mercu Buana.
Saat ditawari ingin makan apa, jawabannya juga sederhana�malah kelewat sederhana untuk orang seperti dia.
�Pecel lele saja,� katanya.
Satu-satunya pembeda dia dengan kebanyakan anak muda adalah laptop Apple di balik tasnya.
Laptop yang ditempeli aneka stiker kelompok bawah tanah Internet itulah mesin uangnya. Cukup duduk
beberapa menit di depan komputer, lalu membiarkan jemarinya menari-nari di atas papan ketik, ia bisa
menghasilkan duit ratusan juga hingga miliaran rupiah. Kalau saja ia mau �uang receh� dan mengorbankan
kehormatannya, banyak yang menawarinya menjebol kata sandi surat elektronik Yahoo! atau Gmail dengan bayaran paling murah Rp 10 juta. �Tapi buat apa?� katanya.
Dari laptop yang warnanya sudah tak kinclong lagi itu, dia menjajakan jasa �satpam komputer�.. Dia menguji keamanan sistem tagihan telepon yang pelanggannya bisa berpuluh-puluh juta, atau sistem komputer milik sebuah bank. Dialah yang memastikan bahwa tak ada lubang sekecil apa pun yang bisa dimasuki oleh para peretas komputer yang bengal atau hacker hitam.
Dulu, selepas SMA, pekerjaannya adalah merenung di ujung jalan, menawarkan jasa pembuatan kartu undangan, atau membuat kunci cadangan. Ia adalah penunggu yang sabar. Jalanan telah membesarkannya, juga membuatnya kukuh bagai karang. Begitu kenal dengan komputer, lelaki ini menjelma menjadi �penunggu� komputer yang sabar. Dia bisa tahan belajar di depan layar selama tiga hari nonstop tanpa tidur, nyaris tak keluar kamar, dan cuma ditemani mi goreng instan.
Lelaki itu adalah salah satu keajaiban yang dimiliki Indonesia. Tak banyak jago komputer Indonesia yang bisa berpenghasilan tinggi, apalagi cuma lulusan sebuah SMA kampung. Orang Indonesia yang �makan bangku sekolahan� tinggi, seperti Harvard atau Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat, gajinya pun tak tinggi.
Survei yang dilakukan majalah ZDNet Asia pada tahun ini menunjukkan bahwa gaji para jago komputer Indonesia ada di lembah paling rendah dibanding para koleganya yang bekerja di Hong Kong, India, Malaysia, Singapura, bahkan Filipina dan Thailand. Padahal, dua negara terakhir itu memiliki kemakmuran yang kurang-lebih sama dengan Indonesia.
Di Hong Kong, seorang jago komputer yang punya pengalaman lima tahun atau kurang rata-rata gajinya setahun mencapai
US$ 42.360 (sekitar Rp 393 juta)
. Di Thailand dan Vietnam, gaji mereka mencapai US$ 10.809 (Rp 100,5 juta)
dan US$ 6.893 (Rp 64 juta) . Di Indonesia, nasib para pakar komputer itu tak
selonggar di tiga negara tersebut. Gaji mereka setahun rata-rata cuma US$ 4.112 (Rp 38,2 juta).
Itu artinya, gaji para jago komputer kita cuma sepersepuluh kolega mereka di Hong Kong.
Sahabat saya yang hacker, yang merevolusi hidupnya dari hacker jalanan menjadi pakar keamanan komputer korporat,
itu sedih melihat data tersebut. �Orang-orang Indonesia kurang menghargai pentingnya informasi. Bingung, belingsatan, setelah sistem mereka jebol,� katanya sembari mencomot tempe goreng yang dihidangkan.
|
Free Download
Power Remover 1.4
Key my Computer
Recorset
Anti Segala macam Virus
Special page
Hidup adalah berpikir
Cascading Style Sheets (CSS)
�Hacker� vs �Cracker�
Naluriah Hacker
Sejarah Dunia Hacker
Situs Presiden SBY dibobol
|