Higher Order Thinking Skills

Asal Mula Soal HOTS


Posted by: Mutadi Widyaiswara BDK Semarang 082137312000

HOTS merupakan singkatan dari Higher Order Thinking Skills yang artinya kemampuan berpikir tingkat tinggi. Istilah ini pertama kali muncul sebagai salah satu buah pikir seorang psikolog pendidikan Amerika, Benjamin Samuel Bloom. Salah satu kontribusi beliau untuk pendidikan terbit pada tahun 1956 melalui buku Taxonomy of Educational Objectives (Taksonomi Tujuan Pendidikan) yang intinya menjelaskan bahwa tujuan pendidikan memiliki tiga aspek utama, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (emosi dan sikap), serta psikomotorik (aktivitas fisik).

Setiap aspek kemudian memiliki taksonomi atau klasifikasi untuk mencapai tujuan akhir pendidikan, seperti meningkatnya kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotorik peserta didik yang kelak berguna untuk menghadapi persaingan di masa depan. Taksonomi yang dibuat oleh Bloom dari tingkat terendah hingga tertinggi adalah knowledge (pengetahuan), comprehension (pemahaman), application (penerapan), analysis (analisis), synthesis (perpaduan), dan evaluation (penilaian). Klasifikasi tersebut, kemudian direvisi oleh David Reading Krathwohl, seorang psikolog pendidikan dari Amerika, bersama dengan Lorin W. Anderson pada tahun 2000. Urutan taksonomi yang dibuat oleh mereka sebagai bentuk penyempurnaan Taksonomi Bloom adalah sebagai berikut:

sejalan dengan implementasi kurikulum 2013, salah satu harapan yang dibebankan kepada guru adalah guru mampu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar peserta didik secara Higher Order Thinking Skills (HOTS) agar kualitas lulusan dapat meningkat dan kompetitif karena berdasarkan kompetisi di ajang internasional seperti PISA dan TIMMS, siswa-siswa Indonesia kesulitan dalam menjawab soal-soal HOTS.

Miskonsepsi Penyusunan Soal HOTS


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengakui masih banyak guru yang salah persepsi terkait konsep ajar bernalar tinggi atau High Order Thinking School (HOTS). Selain itu, masih banyak juga guru yang berasumsi soal-soal HOTS adalah soal yang rumit dan sulit."Masalah dibanyak tempat, guru masih mispersepsi terhadap HOTS. Kadang-kadang dipersepsikan HOTS itu identik dengan sulit, tetapi sesungguhnya HOTS itu hanya memerlukan kreatifiktas guru untuk membuat anak-anak itu bernalar dalam memecahkan soal," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Totok Suprayitno usai Taklimat media kilasan kinerja 2018 Kemendikbud di Jakarta, Kamis (27/12).

Totok menerangkan, soal-soal HOTS bukan berarti soal yang sulit. Karena pada dasarnya HOTS adalah bagaimana cara para guru membuat kebaruan-kebaruan dalam proses belajar serta bagaimana guru melatih daya nalar serta kritis siswa.

Untuk itu, menurut Totok, selama ini pun Kemendikbud telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan pemahaman para guru terkait HOTS. Salah satunya dengan melakukan Aksi for School yang juga menyelenggarakan pelatihan dan pengenalan terhadap soal-soal HOTS.

"Pada aksi itu banyak contoh soal HOTS buatan guru yang sudah dilatih yang jadi insipirasi bagi guru-guru lain (yang mispersepsi). Dari soal yang dilatihkan tadi para guru juga bisa melatih kan soal lagi itu ke murid di kelas," ungkap Totok.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah melakukan beberapa upaya, yaitu disamping menyusun buku pedoman HOTS juga menyelenggarakan pelatihan HOTS bagi guru-guru. Salah satu hal yang penting yang perlu dikuasai oleh guru adalah penilaian yang berorientasi HOTS, karena penilaian HOTS merupakan muara dari perencanaan dan pembelajaran HOTS.

Walau pun penilaian dilakukan pada aspek kognitif, sikap, dan psikomotor, tetapi yang paling banyak difokuskan adalah pada aspek kognitif, khususnya pada penulisan soal Pilihan Ganda (PG) dan uraian, karena dua model tes tulis ini menjadi instrumen yang relevan dan tepat untuk mengukur hasil belajar peserta didik pada aspek kognitif yang menekankan keterampilan berpikir kritis, yaitu menganalisis (C-4), mengevaluasi (C-5), dan mencipta (C-6).

Menyusun soal HOTS bukan hal yang mudah, karena soal yang dibuat harus diawali dengan stimulus yang menjadi pengantar soal HOTS tersebut. Stimulus tersebut harus berfungsi dengan baik sebagai bahan untuk dianalisis, dihubungkan, dikaitkan oleh peserta didik untuk menyusun (mengonstruksi) jawaban, bernilai kebaruan, tidak mengarahkan peserta untuk memilih pilihan jawaban tertentu karena kalau pernah diberikan sebelumnya kepada peserta didik yang sama, soal tersebut tidak lagi termasuk ke dalam kategori HOTS, tetapi LOTS (Lower Order Thinking Skills).

Secara prosedural, penulisan soal HOTS diawali dengan analisis Kompetensi Dasar (KD), lalu dijabarkan menjadi kisi-kisi soal, kemudian diuraikan menjadi kartu soal, dan berikutnya dibuat menjadi soal yang utuh. Hal paling mendasar yang perlu diperhatikan adalah guru perlu cermat memilih stimulus yang cocok, menarik, dan menantang siswa untuk menyelesaikannya.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menulis stimulus soal HOTS adalah melalui penguatan literasi. Maksud literasi disini adalah bukan hanya dalam konteks membaca dan menulis, tetapi juga jenis literasi yang lainnya, seperti literasi informasi, literasi lingkungan, literasi seni dan budaya, literasi sains, literasi IPTEK, dan sebagainya.

Saat guru banyak membaca, berdiskusi dengan rekan sejawat, dan mengobservasi, maka wawasannya dan pengalamannya pun akan bertambah, dan bisa mendukung dalam membuat stimulus soal HOTS.

Literasi informasi akan menunjang guru dalam membuat soal yang aktual dan kontekstual, kecuali yang berkaitan dengan sejarah. Berita, gambar, foto, masih relevan menggunakan sumber atau koleksi yang lama.

Misalnya saat guru akan membuat soal yang berkaitan dengan analisis terkait dengan penegakkan dan perlindungan HAM di Indonesia, maka stimulus yang digunakan akan lebih relevan dan kontekstual jika berita, gambar, foto yang dimunculkan terkait dengan kerusuhan tanggal 21 dan 22 Mei 2019 dibandingkan berita, gambar, foto kerusuhan Mei 1998.

Dalam konteks demokrasi atau pemilu, misalnya disajikan berita atau kasus tentang dinamika pada pemilu 2019 dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya, kecuali kalau peserta didik diminta untuk membandingkan atau menganalisis pelaksanaan pemilu di Indonesia dari waktu ke waktu, baru guru menampilkan stimulus berupa berita, foto, atau gambar pemilu-pemilu yang diselenggarakan di Indonesia mulai dari masa orde lama, orde baru, hingga orde reformasi.

Sebuah stimulus yang panjang belum akan menjadikan soal tersebut HOTS kalau stimulus itu tidak berfungsi, tidak relevan, atau pertanyaannya hanya seputar menanyakan fakta, konsep, atau prosedur (C-1/mengetahui, C-2/memahami, C-3/mengaplikasikan). Oleh karena itu, stimulus yang diberikan harus relevan dengan pertanyaan yang mendorong kemampuan berpikir kritis (C-4/ menganalisis, C-5/ mengevaluasi, dan C-6/mencipta).

Berikut adalah contoh stimulus yang sama tetapi bisa menjadi sebuah soal LOTS dan HOTS.

Contoh soal LOTS:


Indonesia adalah negara yang majemuk, terdiri dari beragam suku bangsa dan agama. Berdasarkan kepada hal tersebut, maka bangsa Indonesia harus hidup saling menghargai dan menghormati dalam bingkai NKRI berdasarkan Pancasila.

Sebagai negara yang majemuk, berbagai tantangan disintegrasi bangsa seperti kerusuhan berbau SARA perlu diselesaikan dengan mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Adapun jumlah provinsi di Indonesia pada tahun 2019 adalah sebanyak....

  • a. 31
  • b. 32
  • c. 33
  • d. 34

Kunci jawaban: d

Alasan soal ini termasuk soal LOTS:

Soal ini karena walau menggunakan stimulus, tetapi tidak berfungsi, karena soal hanya menanyakan fakta dan masuk ke dalam level kognitif C-1 (menyebutkan).

Contoh soal HOTS:


Indonesia adalah negara yang majemuk, terdiri dari beragam suku bangsa dan agama. Berdasarkan kepada hal tersebut, maka bangsa Indonesia harus hidup saling menghargai dan menghormati dalam bingkai NKRI berdasarkan Pancasila.

Sebagai negara yang majemuk, berbagai tantangan disintegrasi bangsa seperti kerusuhan berbau SARA perlu diselesaikan dengan mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan bangsa. HOAKS yang cepat beredar melalui media sosial menjadi salah satu penyebab terjadinya konflik atau kerusuhan berbau SARA.

Di bawah ini adalah beberapa penyebab mudahnya masyarakat terpengaruh oleh HOAKS, kecuali....

  • a. Kualitas literasi informasi masyarakat yang masih rendah;
  • b. Semakin lunturnya sikap saling menghormati dan saling menghargai antarmasyarakat;
  • c. Kondisi ekonomi yang sulit menyebabkan masyarakat mudah terprovokasi;
  • d. Fanatisme kelompok yang berlebihan sehingga yang terjadi adalah solidaritas sempit

Kunci jawaban: c

Alasan soal ini termasuk soal HOTS:

Stimulus pada soal ini berfungsi, siswa diminta untuk menelaah data, informasi, dan fenomena. Pertanyaannya pun mengarahkan siswa untuk menganalisis hingga menyelesaikan sebuah permasalahan. (C-4/ menganalisis).

Setiap mata pelajaran memiliki karakternya masing-masing, dan dalam konteks soal HOTS, stimulus yang digunakan oleh guru pun beragam. Disini kuncinya adalah kecermatan dan ketepatan guru dalam menulis stimulus. Diakui atau tidak, kemampuan guru dalam menulis stimulus, bahkan menulis redaksi soal pun beragam.

Untuk satu soal pun, bisa menghabiskan waktu belasan bahkan puluhan menit. Biasanya yang menyulitkan guru adalah menulis stimulus dan mengaitkan pertanyaan dengan stimulus yang telah dibuat, dan pada soal PG, guru kesulitan membuat pilihan jawaban yang setara, memiliki daya sukar yang sama, homogen, dan berfungsi sebagai pengecoh.

Kemampuan guru dalam menulis soal HOTS perlu terus diasah melalui latihan dan diskusi dengan rekan sejawat di Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Guru pun perlu membuat bank soal sebagai stok jika suatu saat diperlukan karena soal HOTS memang perlu variatif dan bernilai kebaruan. Jika soal-soal itu sudah sering diberikan untuk tes, maka soal itu tidak termasuk ke dalam soal HOTS.

Penilaian HOTS disamping merupakan tindak lanjut dari perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang HOTS, juga merupakan konsekuensi dari guru yang profesional, karena seorang guru tugasnya adalah merencanakan pembelajaran secara matang, melaksanakan pembelajaran secara berkualitas, dan menilai hasil belajar siswa secara otentik.

Dan sekali lagi, saya menegaskan bahwa penguatan kemampuan literasi guru dalam berbagai hal yang relevan dengan mata pelajaran yang diampunya mutlak harus dilakukan agar guru dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, juga agar dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman