HOME  ABOUT    ARTICLES     CONTACT

 

 

                                    
 

 

Powered by Calendar Labs

                                                                                                   

Articles

1.Camp

2. PTL

  3.Sejarah 

     4. Bedegung

    5. Dongeng

 

 

 

 

 

DONGENG

Ketika kecil dulu pasti orang tua kita sering meceritakan sebuah dongeng sebagai pengantar tidur. Ada banyak dongeng yang mereka ceritakan, mulai dari dongeng putrid dan pangeran (seperti Cinderella, Rapunzel, Snow white), Fabel, sampai dongeng legenda seperti Sangkuriang dan Danau Toba. Sebenarnya dongeng sangat bagus untuk anak-anak kerena dapat mengembangkan imajinasi mereka dan juga untuk mempererat hubungan kasih sayang antara orang tua dan anaknya.

Seperti yang lainnya saat saya kecil dulu saya juga sering dibacakan dongeng oleh ayah saya. Saya lebih dekat dengan ayah saya ketimbang ibu saya karena beliau sibuk mengurusi adik saya yang masih kecil. Dongeng yang diceritakan ayah saya berasal dari imajinasinya sendiri karena dia beranggapan bahwa jika dia membuatnya sendiri maka anaknya akan selalu mengingatnya. Dan hal itu memang benar karena sampai sekarang saya masih ingat semua dongengnya. Salah satunya adalah yang di bawah ini :

 

Kenapa Rusa Memiliki tanduk ?

 

Dahulu kala disebuah hutan belukar hiduplah seekor Kuda yang sangat sombong dan angkuh. Hal itu karena dia memiliki sepasang tanduk yang tertancap dengan kokoh dikepalanya. Dia mengnggap bahwa dialah penguasa hutan dan semua penghuni hutan harus tunduk kepadanya. Hewan yang lainnya hanya bisa pasrah akan hal itu kerena mereka takut jika si Kuda menggunakan tanduknya untuk melukai hewan lain karena tidak tunduk padanya. Hewan yang lain menjadi enggan untuk berdekatan dengannya karena sikapnya itu.

Dengan sombongnya dia berkata, “Aku tidak membutuhkan teman-teman yang lemah saperti kalian semua, aku bisa hidup sendiri dengan tanduk gagahku ini.”

Mendengar hal itu para penghuni hutan yang lain hanya bisa menghela nafas mereka karena mereka tau bahwa mereka memang tidak bisa berinteraksi secara baik dengan si Kuda. Tetapi si kera tidak setuju bahwa si Kuda adalah penguasa di hutan itu. Dia memikirkan cara agar si Kuda sadar bahwa apa yang telah dilakukannya adalah salah. Kera memang sangat membenci si Kuda.

Suatu hari, saat si Kuda sedang bersantai dibawah pohon, dia melihat seekor anak Rusa yang sedang makan rumput didekat tempatnya bersantai. Si Kuda merasa terganggu hingga dia menghampiri si anak Rusa dan menyeruduknya dengan tanduknya.

“Kau telah mengganggu acara bersantaiku, dasar Rusa kecil tidak tahu diri!” hardik si Kuda pada si anak Rusa dan menyeruduknya hingga dia tersungkur ke tanah.

“Ampuni aku tuan Kuda, aku tidak mengetahui jika ini tempatmu bersantai.” Kata si anak Rusa dengan ketakutan sementara si Kuda hanya menatapnya sinis.

“Tolong lepaskan anakku wahai tuan Kuda yang baik, aku berjanji dia tidak akan mengulanginya lagi.” Kata si induk Rusa sambil menangis memohon ampunan si Kuda.

“Dasar makhluk lemah, ambilah anakmu dan bergilah jauh-jauh dari sini. Kau beruntung karena aku sedang baik hari ini.” Kata si Kuda.

Mendengar hal itu induk Rusa dan anaknya pergi menjauh dari hadapan si Kuda, karena mereka tidak ingin jika si Kuda marah kembali. Induk Rusa pun dengan pelan-pelan menenangkan anaknya yang masih menangis ketakutan dan kesakitan.  Dan tanpa mereka sadari, si Kera yang berada diatas sebuah pohon melihat kejadian tersebut. Dia menjadi sangat marah dan rasa bencinya kepada si Kuda semakin bertambah. Dia sangat ingin membalaskan dendam si induk Rusa. Kemudian dia menghampiri si Rusa yang sedang beristirahat di dekat sebuah sungai.

“Apakah kau tidak apa-apa wahai Rusa?” Tanya si Kera dengan lambat-lambat.

“Aku baik-baik saja tetapi anakku masih sakit akibat serudukan si Kuda.” Jawab si induk Rusa. Dia tampak sedih dan murung melihat keadaan anaknya.

“Si Kuda itu memang kurang ajar! Berani-beraninya dia menyakiti orang yang tidak bersalah. Mentang-mentang dia memiliki tanduk yang kokoh itu. Kita harus membalaskan dendammu padanya. Kita melakukan ini bukan untuk mencelakainya melainkan untuk menyadarkannya.” Ujar si Kera dengan lantang.

“Bagaimana caranya wahai Kera? Aku bahkan tidak berani untuk berdekatan dengannya.” Kata si induk Rusa dengan tampang putus asa.

“Kau jangan khawatir, aku sudah menyusun sebuah rencana yang gemilang.” Ujar Kera dengan bangga.

Hari berikutnya mereka mulai menjalankan aksi balas dendam mereka pada si Kuda yang sombong. Terlihat si Kera sedang menjelaskan sebuah strategi di bawah pohon beringin yang rindang untuk melancarkan aksi mereka. Rusa mendengarkan dengan saksama dan penuh antusias. Dia merasa sakit hati karena sudah ditindas oleh si Kuda. Setelah Kera menjelaskan, mereka pun pergi ke pinggiran hutan, tempat biasanya si Kuda berada. Saat sibuk mencari, mereka pun melihat Kuda yang sedang tidur terlelap di bawah pohon.si Kera hanya tersenyum oenuh arti melihat hal itu.

“Ini merupakan situasi yang sangat menguntungkan untuk menjalankan aksi kami.” Gumam si Kera.

“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Tanya si Rusa penasaran.

“Tolong carikan aku tali dari akar pohon sebelah sana, sedangkan aku akan mengawasi si Kuda.” Kata Kera sambil menunjuk sebuah akar pohon.

“Baiklah,” kata si Rusa menurut.

Setelah si Rusa mengambil akar pohon, Kera mulai menjalankan aksinya. Dengan hati-hati dia mengikat tanduk Kuda di pohon tempatnya beristirahat. Setelah itu, mereka menjauh menuju semak-semak. Setelah dirasa cukup aman, si Kera mulai meneriakkan sesuatu.

“WOOY!!!! KEBAKARAN!!!! AYO MENJAUH DARI SINI!” teriak si kera lantang hingga membangunkan si Kuda.

“Apa? Kebakaran?” karena terkejut Kuda pun lari dengan sekuat tenaga hingga tanduknya yang terikat kepohon terlepas dari kepalanya.

“Aaaaa… siapa yang berani menipuku seperti ini!” teriak si Kuda dengan murka.

“Aku lah pelakunya wahai Kuda yang angkuh! Sekarang kau rasakan rasanya jika kau kehilangan tanduk gagahmu itu.” Kata Kera dengan lantang. Kemudian dia mengambil tanduk si Kuda.

“Sekarang aku akan memberikan tandukmu ini kepada Rusa untuk membayar apa yang telah lakukan kepadanya waktu itu. Kau jangan lah sombong hanya karena tandukmu ini. Sekarang kau rasakan apa jadinya hidupmu tanpa tandukmu ini.” Ujar si Kera

“Aku mohon kembalikan tandukku… aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Mohon si Kuda dengan memelas.

Tetapi Kera hanya mengacuhkannya saja. Kemudian Kuda lari masuk ke dalam hutan rimba agar di tidak dipermalukan lagi. Kera dengan bangga memasangkan tanduk itu ke kepala Rusa. Rusa pu sangat bahagia karena itu. Oleh karena itu hingga sekarang Rusa memiliki tanduk sedangkan Kuda tidak.

 

TAMAT

 

Yah, begitulak kira-kira dongeng yang saya ingat dari ayahku. Meski sekarang tidak bisa mendengarkan dongeng lagi darinya, setidaknya saya memiliki memori yang ada di otak saya  

 

                                              

                                              

                                             

                                             

                                     

 Flag Counter