LSPL - IEMS

      

 Lembaga Studi Pemantauan Lingkungan

 Institute for Environment Monitoring Studies


Lembaga Studi Pemantauan Lingkungan                                                                     Institute for Environment Monitoring Studies

 | Awal | English

      

 



Sejarah


Visi dan Misi


Struktur Organisasi


Artikel


Kegiatan


Program Kerja


Isu Strategis

Publikasi

Buku Tamu


 


 

Created by  nano with 

a big help from CEO

Nilai Situs Kami
@ SearchIndonesia

 


 

 

Buruh Perempuan Perkebunan (Sebuah potret pemiskinan yang tertata)

 

Profil Desa Enklave Kebun

BHL perempuanKabupaten Labuhan Batu terdiri dari 22 Kecamatan, 215 Desa dan 27 Kelurahan dengan luas area 9.233 KM2, ber penduduk 815.900 Jiwa.

 

Kabupaten ini merupakan kawasan yang didominasi oleh perkebunan baik yang dimiliki negara (PTPN III dan IV), Perusahaan Perkebunan Swasta Nasional (37 perusahaan dan Perusahaan Perkebunan Swasta Asing (7 perusahaan), dengan komoditas utama Sawit, Karet dan Kakao, dengan luas keseluruhan areal perkebunan 2.742 KM2 (30 % dari seluruh luas kawasan).

 

Jalan berlumpur kala hujan, berabu kala terikSalah satu kecamatan diantaranya adalah Kecamatan Bilah Hilir dengan ibukota kecamatan Negeri Lama. Kecamatan ini terdiri dari  2 Kelurahan dan 11 Desa. Tiga desa diantaranya, Desa Sidomulyo, Negeri Lama Seberang dan Sei Tarolat, merupakan desa berdekatan yang merupakan kawasan (enclave) perkebunan.  

 

Ketiga desa ini terletak 60 kilometer dari Ibukota Kabupaten Labuhan Batu – Rantau Parapat, 20 kilometer dari Ibukota Kecamatan Bilah Hilir – Negeri Lama. Wilayah ini dialiri sebuah sungai besar bernama Sungai Bilah,  bermuara ke Selat Malaka di Labuhan Bilik yang memiliki pelabuhan kecil.  

 

Untuk mencapai desa ini, dibutuhkan waktu 3 jam dari Rantau Prapat akibat kondisi jalan yang sangat buruk antara Aek Nabara sampai Simpang HSJ, jalan lintas kenderaan umum. Sedangkan untuk memasuki wilayah desa, harus menggunakan sarana transport Ojek dengan jarak tempuh 5 kilometer.

 

Buruknya jalan dan terbatasnya jenis alat transportasi ke desa ini berakibat pada tingginya ongkos transport dari dan ke desa ini. Untuk menempuh jarak 5 kilometer dari simpang jalan lintas ke desa harus mengeluarkan biaya Rp. 5.000,- per orang.

 

Wilayah desa ini merupakan perkampungan di tengah dua perkebunan besar, yaitu PT. Hari Sawit Jaya (HSJ) dan PT. SOCFINDO dengan jenis komoditi tanaman Sawit.  

Ketiga desa ini memiliki pola yang hampir sama, sebagaimana desa enclave perkebunan lainnya. Desa Sidomulyo, dengan luas wilayah desa keseluruhan 3.743 hektar yang terdiri dari 2.650 hektar perkebunan swasta, 119 hektar persawahan penduduk, 37 hektar perkampungan dan 937 hektar tanah lainya.

 

Penduduk

Jumlah penduduk desa seluruhnya 4.399 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga 762 dengan kepadatan penduduk 119 jiwa per kilometer persegi. Dari jumlah tersebut, balita (0-4 tahun) 12 %, anak-anak (5-9 Tahun) 6,5%, remaja (10-19 Tahun) 26%, Dewasa (20-54 Tahun) 55%, lanjut usia (>55 Tahun) 0,6%.

 

 

Tabel 1. P E N D I D I K A N

No.	Keterangan	Jlh   	Jiwa (%)
1.	Belum Sekolah	1927	43,80
2.	Tidak Tamat SD	341	07.75
3.	Tamat SD	835	18,98
4.	Tamat SLTP	733	16,66
5.	Tamat SMU	530	12,05
6.	Tamat P.T.	16	0,36
7.	Buta Aksara	17	0,39
Sumber : Monografi Desa Sidomulyo, Tahun 2000

 

Dari table di atas diketahui bahwa rata-rata tingkat pendidikan Sangat Rendah yang ditunjukkan tinginya persentase tidak sekolah 43,80% dikurangi jumlah anak-anak balita 12%, berarti 31,80%. Dan, tingkat pendidikan SD s/d SLTP mencapai 43.39%, sedangkan tingkat pendidikan atas dan perguruan tinggi hanya 12,41%. Bahkan diperburuk lagi masih ditemuinya buta aksara 17 orang (0,39%).  

 

Rendahnya tingkat pendidikan penduduk desa ini berkaitanAir keruh untuk diminum erat dengan minimnya sarana pendidikan yang tersedia, hanya terdapat 1 (satu) unit SD yang dibangun secara swadaya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.  

Jumlah guru yang tidak memadai hanya 1 (satu) orang untuk 6 kelas, dan sarana pendukung yang sangat minim. Jika hujan, maka proses belajar tidak dapat dilanjutkan karena atap bocor, dan genangan air.  

Jika, ada keinginan untuk melanjutkan ke tingkat SLTP, harus menempuh jarak yang mustahil untuk ditempuh dengan berjalan kaki (± 15 kilometer), disamping, ketidakmampuan secara ekonomi.

 

Tabel. 2. MATA PENCAHARIAN

No. JENIS          JLH (Jiwa)  Persentase (%)
1. BHL                     2479                55,44
2. Petani Pemilik        753                17,17
3. Petani Penggarap   562                12,78
4. Kerajinan               24                 0,55
5. Pedagang               23                 0,52
6. Pegawai                 38                 0,86
7. Jasa                       16                 0,36
Sumber : Monografi Desa Sidomulyo, Tahun 2000

Selanjutnya >>

Dukungan finansial dikirimkan melalui :

  No. Rekening : 106-0000082829

Bank Mandiri Cab. Medan  Balai kota

Jl. Balai Kota No. 8-10 AB Medan

English

 

Kontak E-mail

 

Lembaga Studi Pemantauan Lingkungan

Institute for Environment Monitoring Studies
Jl. Setia Budi Perumahan Griya Kenanga Asri Blok L/5 Medan 

Sumatera Utara-Indonesia
Telp : +62 61 8217392
E - mail :
[email protected]


Index - Sejarah - Visi dan Misi - Struktur Organisasi - Isu Strategis - Program Kerja - Artikel - Publikasi

 

Hosted by www.Geocities.ws

1