|
DEMIKIAN MUNGKIN �PANCASILAIS�
Dalam
Melihat Korupsi - (1)
|
EDITORIAL MEDIA INDONESIA ONLINE (Senin, 08 November 2004)
KOMITMEN
HIDUP BERSIH
SALAH
satu cara memberi dukungan terhadap upaya pemberantasan korupsi
adalah kita juga jangan bosan bicara korupsi. Sebab, korupsi
seperti telah menjadi laku keseharian bangsa ini. Sekali kita
bosan mengingatkan, para pelakunya akan semakin merasa aman dan
nyaman.
Pidato Kebudayaan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid bertajuk 'Negara
versus Korupsi: Mencari Agama dan Kebudayaan' di Taman Ismail
Marzuki, Jumat (5/11), adalah bagian dari upaya terus
mengingatkan itu. Meskipun sudah tidak terbilang kali orang
bicara korupsi.
Menurut Hidayat, korupsi memang telah menjadi virus bangsa yang
sulit diobati. Sementara agama dan kebudayaan yang mestinya
menjadi penangkal antivirus, ternyata menjadi majal. Bahkan,
katanya, negara yang meletakkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai
sila pertama dalam Pancasila, tetapi telah memunculkan
masyarakat yang koruptif.
Semua ajaran agama, terlebih lagi Islam sebagai agama mayoritas
bangsa ini, melarang tegas korupsi. Tetapi, kenapa korupsinya
justru paling tinggi di negeri?
"Salah satu jawaban yang masuk akal adalah karena tercerabutnya
penghayatan dan pengamalan visi agama yang luhur dalam praksis
sosial sehari-hari. Sebagian di antara kita masih mementingkan
kesalehan (profetik) individual, dan kehilangan elan kesalehan
sosial. Dakwah dan pengajaran agama lebih mementingkan menghafal
dan verbalisme, ketimbang upaya perwujudan perilaku yang sesuai
dengan agama," tegas Hidayat.
Kita sependapat dengan Hidayat. Sebab, kritik ini muncul dari
kalangan dalam. Hidayat tokoh yang pendidikannya sepenuhnya
berlatar belakang agama (Islam), yang kini menjadi tokoh
nasional. Jadi, kita anggap ia lebih daripada tahu bagaimana
pengajaran agama selama ini berlangsung di Republik ini.
Karena itu, apa yang disampaikan Hidayat mestinya menjadi PR
besar khususnya bagi para ahli agama. Yakni bagaimana
merelevansikan ajaran agama agar mempunyai 'kesalehan sosial'.
Inilah yang terabaikan dalam pengajaran dan pengamalan agama
kita. Agama seolah hanya ranah ritual yang tercerabut dari
kehidupan nyata yang kompleks dan berdimensi luas.
Karena pemahaman seperti itu, kita seperti tidak memberi
pemaknaan bahwa seorang pemimpin dari lapisan manapun harus
menjadi teladan masyarakat. Karena itu, selama ini pemberantasan
korupsi hanya sebatas wacana. Seolah tidak ada keharusan bagi
para pemimpin lembaga yang seharusnya menjadi contoh kebajikan
berada di garda depan para umatnya. Maka, tidak heran jika
Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional, ternyata
menjadi sarang korupsi.
Hidayat Nur Wahid, sejauh kita tahu, telah memberikan harapan
keteladanan hidup bersih. Kita berharap di lembaga eksekutif dan
masyarakat luas, komitmen seperti ini menjadi 'virus' yang cepat
menular.
|
�Mungkin isi Pancasila terlalu Perfect... makanya jadi sulit diamalkan oleh
manusia biasa�.
Para tokoh agama dan penguasa dunia pendidikan sendiri sepertinya telah
menjadikan agama dan pendidikan sebagai lahan pokok untuk mengais DUIT... apa masih ada nilai sosialnya?
Indonesia bukan negara kapitalis, tapi ekstrim kapitalisme telah merasuki
isi kepala para dedengkotnya, para ahli agama, para KYAI-nya

�Pancasila�, bukan instrumen alat....
�Pancasila�, adalah �konsensus� atau �komitmen� awal para pendiri negeri
ini.
Pancasila merupakan nilai.... dibutuhkan pemahaman, implementasi bukan
hapalan, seperti juga ayat-ayat dalam kitab suci.... dan untuk lebih mudah
dipahami dibutuhkan contoh dari yang mengajarkannya, yang meng-imami, yang
memimpin.
Masa para Nabi �sudah lampau�.... tapi mereka telah memberi contoh.
Para pendiri negeri ini �sudah lewat�.... tapi setidaknya mereka menyadari
bahwa akan ada generasi berikutnya... yang tetap harus melanjutkan
�konsensus� atau �komitmen� awal para pendiri negeri ini, ada nilai yang
harus tetap diteruskan... sampai anak, cucu, buyut dst nya.... dan generasi
saat ini entah paham atau kagak.... inget atau lupa.... kayak gue
..... begitu punya kesempatan tampil di depan terus sok jadi kepinteran....
ngacak sana, ngacak sini... ehhh ujung-ujungnya DUIT....
So that... jangan pernah berhenti meneriakan �konsensus� atau �komitmen�
itu..... So that.... Pancasila emang perlu di-Re-interpretation, bangkitkan
dan angkat kembali nilai yang sebenarnya untuk membangun Character and
Nation of Indons dalam membentuk Identitas..... B�cause korupsi bukanlah
identitas NSI (Nation State of Indons)... iya kan...???!!!
Amat sangat menyedihkan sebuah Bangsa yang tidak memiliki identitas dan pada
akhirnya hanya menjadi "obyek" dalam dunia global, tanpa pernah menjadi "subyek"
sebagai lakon pemeran utama
...........
Thx......
Komentar/Tanggapan
|