Surat
Cinta terakhir untuk Kartini !
www.kidungpenyair.cjb.net
Kuawali syair
ini dengan menyebut nama Allah swt, Yang Maha Pengasih lagi
Penyayang. Kasihnya menerangi dan mencukupi segala sesuatu bagi
makhluk-makhluknya, mulai dari yang melata hingga berdiri tegap,
yang hidup dalam lubang pekat hingga naungan benderang cahaya…
Duhai cinta !,
masihkah kau ingat syair kasih dariku yang berbunyi:
“Dalam
penziarahan cinta, ombak lautan yang membawanya pergi pada sang
kekasih adalah deburan sejati yang mengalir dari samudera
ketulusan hati.
Langkah
kaki yang diayunkannya, bagai degup jantung yang menghidupi dan
memelihara kekasihnya dari nestapa dunia.
Sedang
semerbak untaian kata yang ditebarkan keudara bagai senandung
abadi, yang
dinyanyikan bidadari surga.
Dapatkah
kemurnian cinta menahan hasrat untuk membahagiakan kekasihnya?,
mungkinkah bulan akan membiarkan matahari untuk bersinar
selamanya tanpa saling melengkapi dan mengisi kekosongan hari?!
“.
Tahukah
kau wahai belahan jiwa?…. Tanpamu disisi- membuat jiwaku
laksana sebuah kapas yang diterbangkan keudara, terhempas dalam
kehampaan…..dan terjatuh ketanah saat airmata kepedihan
membasahinya”.
Tahukah
kau kekasih, dari kebun bunga-bunga jiwamu aku mengenal kasih,
darinya aku mengenal ketulusan; dan juga cinta. Maka injaklah
tanah jiwaku dengan tapak kakimu, maka kelak darinya kan tumbuh
bunga-bunga kehidupan.
Bakar
dan cabutlah bunga kehidupanku dari akar jiwamu, maka sebagian
jiwamupun akan ikut mati bersamanya. Marahlah padaku jika kau
mau, lalu padamkanlah dengan percikan airmataku, bila
kegilaanku ini kau anggap sebagai aib atau kesalahan; karena
aku tak sanggup menanggung kemarahan darimu, sebab kau begitu
indah.
Dalam
ketersendirianku ini kemana lagi aku akan mengeluh dan mengaduh?….sedang
engkau yang menjadi nafas penopang hidup dan matahariku, kini
kepada siapakah kau arahkan cahyamu?!.
Engkau
bagaikan matahari yang berkuasa menyinari hatiku dan membawa
obor kedamaian dalam hangatnya api cintaku, namun mengapa kau
menahannya dariku?. Pernahkan kau menyadari bahwasanya satu
hari berpisah dalam Cinta sama dengan seribu tahun lamanya, dan
seribu tahun bersama Kekasih terasa hanya dalam sehari.
Takkala
jiwaku haus akan kelembutan sentuh kasihmu, kemanakah genggaman
jarimu kini kau eratkan?!. Engkau bagaikan mahkota raja-raja
yang tercipta untukku. Namun kepada siapakah kini ia menghias?!.
Mungkin
saat ini engkau sedang tertawan dalam kasih sayang keluargamu,
tapi mengapa bukan kegilaanku saja yang dibelenggu?!. Sebab aku
kini telah sebatang kara, tak lagi memiliki keluarga serta
sahabat yang dapat kucintai selain dirimu.
Kini
aku telah tenggelam dalam samudera ketersendirianku, mungkinkah
kau datang mengangkat dan
meraih tanganku dalam badai keterpurukanku ini?!.
Berilah
aku setetes embun harapan dan secercah isyarat kasihmu agar
pohon jiwaku kembali hidup !.
Dalam
kehampaanku ini, ketahuilah bahwasanya tak ada yang dapat
menghapuskan rasa cintaku darimu, sebab nyala api cintamu akan
selamanya berpijar dalam hatiku !.
Hartono Beny
Hidayat
2005
Home
|