|
elegi angin
tidakkah kau dengar
�angin yang menggelayut
pada dinding �menyanyikan
koor muram
dentuman guntur
�yang menjadi metronom
tetes hujan �berebut
menulis aksara
pada kaca jendela
seperti senja tadi
�betapa
pudar jingga
dari lekukan bibir
perawan
bunyi denting �entah
dari mana
mengagetkan lamunan
�kembali melambai
mengguratkan kelabu
pada langit
tahukah kau �di
sana dingin
memandang danau
yang memancarkan
birunya �di rindang
cemara
sepi kian merapat �dan
bayang pun
tengah beristirahat
tak ada kata yang
siap
dijadikan pelana
tinggal bulan muram
sendiri �di pucuknya
yang beku �embun-embunnya lirih
bersuara
desah geram �mencengkeram
keram
bagi takdir yang
mengelak
menjadi jinak
ingatan yang muram
�begitukah cinta?
seringaimu adalah
monumen
menguning dan
terlipat
ataukah renta �terdesak
di jelaga
menunggu kafan
putih �dibalut cincin
di jarimu yang
telah tiada
2006
lagu dari
alexandria
namamu berbisik di
telingaku �pelan
dan menggigil �dari
alexandria
lenguhanmu terbang
�dengan sayap biru
lautan aegea �membawa
kalor
negeri korintia
didengung-dengungkan
paduan suara
para penari di
mantua �antigone
ataukah oresteia
engkaulah helen-ku
�yang menitipkan cinta
pada dido untuk
eneas �di mantua
2006
|
memoir
adakah jejak yang bercerita tentang keabadian
adakah dunia yang lengang �dipenuhi kekosongan
adakah mereka tahu kegundahan sesama
adakah mereka tidak saling mendustai sesamanya
dan diri mereka sendiri
-2006-
sajak
milyaran manusia �di atas bumi
setiap orang adalah semua orang
semua orang adalah setiap orang
siapa yang akan mati lebih dulu
-2006-
nyanyian untuk diriku
aku nyanyikan lagu ini �untuk diriku
dalam ruang tanpa dunia �orang lain
menyanyikannya juga dengan acuh �di jalan-jalan
di kereta �di angkutan umum �di lalulalang
aku nyanyikan lagu untuk mereka �dengan tangisku
mereka menangis untuk dirinya �dengan laguku
-2006-
kunjungan pertama
ah
�gadis tak bernama �aku datang menyapa
sebagai utusan resmi negeri angan �kemarin
undanganmu baru saja tiba �melewati
gurun-gurun kerinduan
tidak aku temukan surat yang pertama
di ribuan langkah �yang saat ini berjumlah
juta
tenggelam dan menghilang �di kekaisaran
alpa
ah �gadis tak bernama
prosa lembaranmu seumpama hurup paku �bangsa
mesopotamia
sebisu kelabu dinding ruang kerjaku
bagi kejatuhan usia yang lain
menyisiri tepian sungai tigris
di kisah zal yang hendak menjumpa ishtar �lalu
tak menemukan delta
dan berlayar di sungai nil
pada kisah cleopatra menyambut marc anthony
sekarang ia terjebak di kota-kota elegi
ah �gadis tak bernama �memang
tentang usia
gandrung menyambut kunjungan tak terduga
-2006-
|
simfoni
senyap �lirih
nada-nada �tangismu seperti cekikian angsa
pilu �dengkuran kambing �mengembik
tersedu-sedan �bagai dentingan
piano-piano-nya erik satie
-2006-
lagu cinta gadis desa
orang tua kita telah sepakat �cinta kita
setabah pematang diinjak-injak
lumpur ini menjadi adonan �ibu kita
berpesan �lahir dari rahimnya
biji-biji emas �sekuning langsatmu
-2006-
fabel
bolehkan aku melukaimu �ujar bulbul
dan menghisap darahmu �sebab engkau
adalah luka yang menyamarkan dirinya
dalam warna
jangan salahkan aku �ujar mawar
tentang para pencinta yang menjadi pemurung
atau mereka yang terdampar
di batang tepian
dan terpaku di pojok meja
-2006-
firman ketujuh
lihatlah �aku ceritakan sebuah misteri
yang akan singgah �kita semua
tak akan tertidur �tetapi
kita semua akan berubah �di tanah-tanah
lapang akan dibangun rumah-rumah �politik
dan pertikaian
adalah ladang �ketika hasrat untuk menulis
melemah �digantikan waktu-waktu
penyanderaan
janji penyelamatan �telah dinisankan
di jutaan traktat perjanjian �menjadi hantu
yang takut berjumpa siang �begitulah
perserikatan
tanpa persekutuan
-2006-
Sulaiman Djaya
lahir di Serang, Banten 1 Januari 1978. Penggiat komunitas
�Simposium� Universitas Paramadina Jakarta.
|
Sayap patah
Kemuning tergeletak sia
betapa luluh rasa
detik berlalu tanpa asa
Kemuning memudar baunya
dan angin pun menebarkan
pesan
tak perlu ragu akan
keputusan
untuk tidak mengemis
sebuah cinta
Kemuning melayu perlahan
putiknya terlepas dari
kelopak
hari berkelebat begitu
rapat
dan derai airmata
menghunjam bumi
Jakarta, Agustus 2005
"nia dad"
[email protected]
|
=
rasaku =
kelabu
gayuti awan, o langit, biarkan titiktitik air usapku,
kumerindu pelangi di seberang sana
"b e e" <[email protected]>
Puisi
untuk Cinta,
Kamulah kata pertama yang membawaku pada gerbang keemasaan
Ajarkan aku mencinta
Tanpa harus bicara
Ajarkan aku harus melebur dalam hangatnya cinta
Tanpa perlu terbakar
Tunggu aku...
Sedikit lagi aku tiba di pangkuanmu
Gina T
|
Spears
Family
Look how bad you see
Yourself in pregnancy Thus, for them who may called
"Kevin Spears is their Child!" Yes, it is
Whether He or She would be How could be Even, you never
sees Just call me Then you will see How worse life could
be Come what may, let it be
Keluarga
Spears
Lihat betapa bodoh
dirimu Berbadan dua dan layu Sampai yang disebut tiba
"Kevin Spears Anaknya!"
Begitulah
adanya Entah apa jadinya Bagaimana bisa Bahkan belum
terlihat mata
Panggil aku
Maka mata membisu Seburuk apa hidup jadinya Yang terjadi,
terjadilah
"Muhamad Taufan"
[email protected]
|
CINTA SEBENING TELAGA
BY:KIKU
Sepasang Angsa putih
sedang berenang bermain-main,menyelusuri Telaga.Dan di
pinggir Telaga itu juga, ada sepasang muda-mudi sedang
duduk bersandar di bawah pohon Mangga,menghadap ke
arah Telaga yang bening.Pantulan cahaya Matahari
menembus masuk ke dasar air,sehingga mampak
terlihat jelas keindahan bawah air di Telaga
itu.Ikan-ikan berenang bebas woro-wiri kesan
kemari,lalu bersembunyi,menyusup masuk ke balik
Ganggang dan Tumbuhan air yang hidup di Telaga
itu.Bunga-bunga Teratai yang sedang mekar,memberikan
ornament keindahan di Telaga.Ada sebuah kedamaian dan
ketenangan jiwa di kala memandangnya dan berada di
dekat Telaga itu.Daun-daun yang melambai tertiup angin
yang berhembus sepoi perlahan,dan kicau burung
Kutilang memecah keheningan Telaga. next
Tati Nurhayati binti
surpan
Alamat:Flat 9D/F HELENA
GDN, 263 PRINCE EDWARD RD WEST-KOWLOON HK
HP:65750379
ID;W566876(2)
|
PARODI
KEMERDEKAAN //
Jum�at,17
Agustus 1945 pukul 10.00
Sejarah
terhebat baru saja berlangsung
Seluruh
rakyat berbondong-bondong menuju Lapangan Ikada
Gegap
gempita segera merasuki darah Soekarno
Membakar
denyut nadinya
�merdeka�merdekaaa�..�
Riuh
vocal nyanyian �Indonesia Raya� rakyat memekakkan
telinga,
Mengiringi
desir suka cita mereka
Seperti
baru saja mereka bebas dari belenggu jeruji besi
Setelah
sekian lamanya bergerilya
Hanya
untuk sebuah kata �merdeka�
17
Agustus 1998
Di
saat deru haru masih melekat di jiwa
Mengenang
putra-putra bangsa yang berkorban mati
Hanya
untuk menegakkan keadilan hukum
Setelah
selama 32 tahun memenjarakan
Indonesia
ke
dalam lubang hitam
Para
istri pejabat teras bersorak-sorai gembira di
halaman istana
Ritual
tujuh belasan �pesta kebun�sedang berlanjut
|
17
Agustus 2003
Seperti
biasanya, para pensiunan veteran menggenjot sepeda unta
Meniti
jalanan
kota
menuju lapangan upacara
Peci
kuningnya sudah usang beserta setelan kemeja coklatnya
Titian
langkah kaki rentanya menyematkan sebuah kisah lalu
Masih
diingatnya,
Ketika
seorang wanita yang merawat lukanya menjadi tambatan
hatinya
Mengiringi
gejolak gerilya bersama kawan seangkatannya
Bersama
senjata �senjata ala kadarnya
Merasakan
manis pahit getirnya perjuangan untuk bangsa tercintanya
Airmatanya
tiba-tiba luluh,
melewati
garis-garis di wajahnya
17
Agustus 2004
Seperti
tahun-tahun sebelumnya
Esok
pagi, seluruh pelajar, pejabat, karyawan berkumpul
Mengadakan
apel tujuhbelasan
�khidmat�
kata mereka
Tawa-teriakan
menjadi satu,
Disaat
satu demi satu lomba tujuhbelasan berlangsung ramai
�Mak�Encip
menang tarik tambang��
�Nyak�Babe
menang panjat pinang��
17
Agustus 2005
�siapa
yang tahu��
13
Agustus 2005
Persembahanku
untuk Bangsa
Indonesia
tercintaku.
Embun
di bawah naungan cakrawala
embun
rahma"
<[email protected]>
|
Hai penyair...
Jangan hukum mati hak menjadi kaya
Sebagian dari sikaya tak sadar jika ia akan kaya
Tapi sebagian lagi telah merencanakannya
Dan itupun tak salah
Kesenjangan tak selamanya nista
Coba selidiki....
Kesenjangan ukuran senar pertama dan ke-enam gitar
Mereka memiliki kesenjangan itu dan begitu senjangnya
Tapi mengapa mereka tetap harmoni.......?
Yang kita inginkan bukan kesetaraan
Bukan keseragaman dan gukan seluruhnya harus berwarna
putih
Tetapi HARMONI.....tetap lebih baik daripadanya
Yuswan Nugroho [email protected] |