|
w w
w.kidungpenyair.cjb.n e t
Puisi
w w
w.kidungpenyair.cjb.n e t
Ketika
Kutulis sebaris kata,
Kubiarkan
mereka lepas ,bebas menari-nari diatas kertas,
Kulihat
kata-kata itu dengan bangga menelanjangi dirinya sendiri atau
bahkan menghias dirinya dengan ribuan bunga,
Mereka
meloncat dan berlari kian kemari laksana anak-anak surga
Aku
tersenyum lepas,
Ketika
jalinan kata-kataku dapat merobek perut bumi,
Aku
menangis darah ketika aku harus menyampaikan kata-kataku kepada
patung-patung tak
berjiwa.
Akupun
menyaksikan kata-kata itu, menjelma barisan tentara
Ia
siap melibas ataupun melumat siapa saja yang mencoba lari dari
kebenarannya.
Dialah
peluru tinta yang memercikkan kobaran api kedamaian,
Ia
adalah Jenderal perang yang siap menggerakkan siapa saja yang
terpanggil hatinya,
Jenderal
yang memipin pasukannya sendiri maupun musuh,
hingga
pertempuran hawa nafsunya sendiri.
Aku
telanjangi diriku dan aku telanjangi dirimu,
dengannya-
kita membaca diri, tentang aku, kamu dan mereka.
Begitulah
hakikat penciptaan anak-anak Adam sedari semula.
Dan
ketika barisan tentara itu memenangkan pertempurannya, barisan
kata-kataku hanya kenangan, Ia tetap bermahkotakan duri, karena
ia terlahir dari sumber kesunyian yang agung.
Biarpun
aku tertidur, atau bahkan mati.
Namun
jalinan kata-kataku slalu tetap hidup,
selalu
terjaga dan bicara
karena
ia bebas dan abadi.
1999
Home
|