Nyanyian
Jiwa
www.kidungpenyair.cjb.net
Kubawa
serta gitar ini , lalu kunyanyikan lagu untuk telaga sunyiku,
kumelangkah menjemput pelangi dibalik kabut hitam, yang
kugenggam erat adalah segumpal daging yang bernama
harapan…
Nafasku
berhembus laksana kuda perang. Telah menetes air kehidupan
ditubuh, dengan berbedak asap dan debu jalanan-kuterus berlari
dan berlari, aku terbang bersama angin namun bukan berarti
arahku tanpa tujuan .
Apa
yang sedang kucari akupun tak tahu sepenuhnya ! Namun aku
sedang mencoba mengisi ruang kosong dari jiwaku….
Aku
menunggu penuhnya mangkuk ini, yang kelak akan terisi penuh
olek kerak nasi serta sup yang
berkuahkan airmata….
Namun
ku tidak sendiri…disana kulihat “Peri kecil” yang lusuh
dan berkoreng sedang mengais-ais sampah untuk sekedar makan
!...yang menurutku lebih buruk nasibnya dari anjing piaraannya
orang-orang kaya !
Hati
ini bergetar Tuhanku, menggigil tulang sendiku menyaksikan itu
semua…..dirahim kesedihan mana kau titipkan bocah-bocah ini…sehingga
mereka harus menjalani hidup seperti itu….Tapi ku tersadar,
Engkau tak pernah salah Tuhanku, itu karena keserakahan
kami, kami memang “buta
dan tuli” yang membiarkan
semua itu bisa terjadi..dan kusadari bahwa Kehidupan yang
dijalani orang kaya untuk menumpuk emas sesungguhnya adalah
seperti kehidupan ulat didalam makam. Itulah tanda-tanda
ketakutan.
Akupun
terjaga dari rasa
tertegunku , lalu
kusadari bahwa Lewat “mereka” inilah Tuhan berbicara , dan
dari sinar lembut mata mereka , Dia tersenyum kepada dunia.
Betapa
ingin hatiku agar kalian dapat hidup dari sari wangi bumi ,
seperti bunga yang cukup hidup dari terang cahaya dan air.
Wahai
“peri kecilku “ disaat kalian mengunyah buah dengan gigi
kalian , Ucapkanlah dalam hati : “Benihmu akan hidup terus
dalam tubuhku dan kuncup hari esokmu tetap mekar dihatiku.
Keharumanmu selalu terhembus dalam nafasku , dan bersama kita
akan menari bersuka ria menyambut setiap musim yang akan tiba
.”
Malampun
berlalu, keremangan menyelimuti
kotaku yang tak pernah mati….
Aku
menyusuri lorong gelap
kota yang penuh sesak oleh “sampah
cantik” laksana jasad busuk yang belum terkubur…
Malam
telah temaram “Peri keciku” telah tertidur pulas beralaskan
tanah , beratap langit dan berselimutkan debu jalanan. Jiwaku
tercabik-cabik mengerang kesakitan !.......Merintih dan
tersayat….aku berteriak kepada setiap jiwa
yang melintas…..tetapi kuda-kuda besi mereka terlalu
cepat berlalu….aku menitikkan airmata darah dan dari balik
airmataku aku melihatmu dirangkul Keadilan, tersenyum dan
mengampuni para penganiayamu.Engkaulah saudaraku dan aku
mengasihimu....
Takkala
jiwaku hendak berontak melawan ketidakadilan manusia terhadap
sesamanya , dan aku melihat wajahnya berada diantara
wajah-wajah yang ingin kuhindari !
Takkala
kulihat wajahnya yang jujur dan polos- badai yang berkecamuk
dalam jiwaku seketika tergantikan oleh alunan lagu-lagu merdu
dan cahaya bintang…
Peri
kecilku kelak engkau akan tahu bahwa bahwa kemalangan yang
menimpamu dalam kehidupan adalah kekuatan yang menerangi hati
dan mengangkat jiwa dari lubang kehinaan menuju singgasana
kehormatan , dan aku yakin engkau takkan pernah kecewa dengan
sepetak bumi yang telah kau miliki, ketahuilah bahwa kesedihan
adalah sebuah rantai emas diantara kepasrahan masa kini dan
harapan masa depan dan yakinlah masih ada hari esok yang penuh
dengan harapan dan cita!.
font-size: 10.0pt">
Hartono Beny Hidayat
2001
Home
|