|
w w
w.kidungpenyair.cjb.n e t
Kereta
Terakhir
w w
w.kidungpenyair.cjb.n e t
Dalam
perjalanan tanpa akhir, Ketika segala resah merasuki dan
menyelimuti diriku,
Aku
hanya bisa menahan nafas , jiwaku merintih dan terkapar,
menggigil dalam kebisuan malam
Aku
hanya terdiam, aku mengharap kehadirannya merupakan suatu
perjalanan �terakhir� yang singgah distasiun hatiku.
Aku
melihat �kereta tua� itu telah letih, seolah semua rel ia
telah dilintasi, seolah segala rute perjalanannya berlalu tanpa
irama,
Melintas
dan hanya melintas, tanpa ada tiupan masinis, ataupun derai
tawa bocah yang mengiringi perjalanannya.
Entah
kenapa �kereta� itu kini hanya ingin dilihat,
ia
mengharap suatu saat kelak- masuk museum,
Walaupun
sekiranya terkurung dalam ruang yang terbatas namun ia memiliki
teman, bersama kereta lainnya yang lebih dulu ada- mereka
saling berbagi tempat dan cerita.
Ketika
aku sedang berada distasiun, aku bercerita dengan kereta
lainnya,
�Aku
lelah mengangkut segala tentang �ada� ataupun �tak ada�
dari seorang manusia�.
�Aku
mengharap didepanku merupakan sebuah stasiun terakhir tempat
dimana ku dapat beristirahat dan singgah dalam waktu lama�.
Kemudian
kereta lain berujar; �kenapa engkau berpikir begitu ?!,
tidakkah perjalananmu telah menghidupi banyak orang, engkau
memberi tempat dan nafkah bagi segala jenis manusia�
�mulai
dari golongan pekerja, copet, pengemis dan
pedagang��.
�Mau
engkau kemanakan mereka bila kau tak ada?���apakah ada
kuburan yang siap menampung mereka lebih dini- lalu menafikan
dari takdir yang telah digariskan ?!��� dan ketahuilah
kehidupan adalah berjalan diatas rel yang bernama takdir�,��
tekadlah yang bisa melawan kuatnya derasnya hujan dan hembusan
angin ketika engkau melintas, atau mungkin kau tak dapat
menghitung berapa kali engkau kelilipan debu, demi mencapai asa
dan cita�.
Tubuh
serta jiwamu terbuat dari baja!�tabraklah angin sebanyak yang
kau mau�
Salamilah
kesetiaan matahari yang telah menyinari perjalananmu�
Tersenyumlah
laksana pelangi sekalipun harus merangkak dalam selubung kabut
Jadikan
akal dan nurani penuntun perjalananmu, Bersuaralah dengan
lantang, sekalipun jeritan halilintar membahana membelah
kesunyian langit�
sambutlah
pluit masinis dan lambaian tangan calon penumpang ; mereka ada
untuk kita, dan kita ada untuk mereka�begitu juga
kehidupan
bebannya adalah ujian , rutenya adalah cita, relnya adalah
takdir.
Dan
janganlah lupa dengan 0,1% yang bernama :
�
Keajaiban kereta !� ��
�Yaitu
rangkaian Batu ataupun bunga yang dilempar kekita ketika kita
sedang melintas !�
Wahai
temanku sesama kereta, seantiasa tertawakanlah kepedihan itu-
jadikanlah dia �saudara kembar�
kebahagiaan .
Sambutlah kedatangannya karena ia telah lama pergi merantau dan
kini telah kembali membawa karung-karung rindu.
Dia
menunggu kita diujung stasiun, ayo kita jalan lagi mengarungi
penziarahan hidup !�.
Aku
jadi teringat kata-katanya , kereta bijak itu...
Salamilah
kesetiaan matahari yang telah menyinari perjalananmu�
Tersenyumlah
laksana pelangi sekalipun harus merangkak dalam
selubung
kabut
Jadikan
akal dan nurani penuntun perjalananmu
Bersuaralah
dengan lantang, sekalipun jeritan halilintar membahana membelah
kesunyian langit�
�Zes-zes
�zes-zes�tutttttttttttt
!..�
Lalu
aku menengadahkan wajahku kematahari dan aku berteriak :
�inilah diriku !�
Hartono Beny Hidayat
2000
Home
|