Kematian
seorang penyair adalah awal keabadiannya
www.kidungpenyair.cjb.net
Disebuah gubuk reyot , dan
nyaris roboh diterpa angin- terbaring seorang lelaki sekarat,
menatap cahaya suram dari
sebuah lampu yang bertempur melawan kegelapan....
Ia adalah seorang penyair yang
terbaring sekarat ; kelaparan ; dikota yang hidup dan
kaya.
Dia menghela nafas-nafas
penghabisannya, sementara tiada seorangpun yang menemaninya
kecuali lampu minyak , satu-satunya pendamping yang ia miliki
dan lembar-lembar kertas yang diatasnya terdapat lukisan hati
yang ramah.
Dengan sisa-sisa tenaga yang
kian menyusut, dia mengangkat tangan kearah langit dan
menggerakkan pelupuk matanya yang lemah seolah penglihatannya
yang kabur akan menembus atap gubuk kumuh itu. Seakan ia mampu
melihat bintang dibalik awan....
Dia berkata : "Datanglah
kini wahai maut yang cantik, karena ruhku rindu padamu, karena
aku begitu lelah ...bebaskanlah diriku dari masyarakatku yang
terasing ....
"Cepatlah menyabut ruhku
wahai kesunyian yang agung.... karena mereka menolak aku, dan
membuang diriku karena aku tak mau menindas yang lemah
sebagaimana yang mereka lakukan, karena aku berbicara dengan
lidah malaikat dalam bahasa manusia."
"Datanglah dengan jemari
kelembutanmu, dari bibir yang tak pernah merasakan ciuman
seorang ibu, pun tidak pernah menyentuh pipi perempuan, pun
tidak pernah merasakan bibir kekasih tersayang. Cepatlah dan
peluklah daku, wahai maut kekasihku."
Kemudian disamping ranjang
pemuda sekarat itu berdiri bayangan seorang bidadari dengan
kecantikan surgawi. Dia memeluk pemuda itu dan memejamkan
matanya sehingga pemuda itu tak bisa melihat apapun selain
dengan mata hatinya.
Bidadari itu mencium bibirnya
dengan ciuman cinta kasih, sebuah kecupan kebahagiaan surgawi
yang takkan terlupakan bagi pemuda sekarat itu.
Dan pada saat itu gubuk
menjadi kosong kecuali lantai tanah , dan sobekan kertas yang
berisi ratapan derita sang penyair.
Beratus-ratus tahun kemudian ,
ketika penduduk kota itu tersadar akan kebodohannya , kala
mereka terjaga dan matanya menyaksikan fajar pengetahuan ,
mereka mendirikan sebuah monumen sebagai tanda bagi sang
penyair , ditaman paling indah yang ada dipusat kota . Setiap
tahun mereka menyelenggarakan pesta rakyat untuk mengenang sang
penyair, yang tulisan-tulisannya telah membebaskan mereka.
Oh, betapa
mengerikannya kebodohan!.
Hartono Beny Hidayat, In Colaboration with KG
2002
Home
|