|
Sambungan dari
Cerita Hot : 07
Part 4.SARI DAN
RINA
Seperti telah kuceritakan di bagian sebelumnya,
Senin, Rabu dan Jumat adalah jadwalku mengajar Sari dan Rina. Karena
rumah Rina lebih dekat, maka Sari yang datang ke rumah Rina. Ibu
Rina adalah orang Menado. Bapaknya orang Batak. Kedua orang tuanya
berada di Surabaya. Dia disini tinggal berdua saja dengan kakak
perempuan tertuanya yang kerja di Bank. Mengontrak rumah mungil di
daerah Cipete. Sedang kedua orang tua Sari adalah asli orang Tasik.
Keduanya cantik. Tinggi tubuhnya hampir sama. Rina orangnya putih,
agak gemuk dan sedikit banyak omong. Sedang Sari hitam manis,
cenderung pendiam dan agak kurus.
Singkat cerita, setelah
beberapa kali mengajar, aku tahu bahwa memang si Rina kurang bisa
konsentrasi. Konsentrasinya selalu pecah. Ada saja alasannya.
Berbeda dengan Sari. Bahkan kadang-kadang matanya menggoda nakal
memandangku. Mungkin kalau tidak ada Sari, sudah kuterkam dia.
Pakaiannya pun kadang-kadang mengundang nafsuku. Celananya pendek
sekali dengan kaos oblong tanpa BH. Berbeda sekali dengan Sari. Sari
memang pendiam. Kalau tidak ditanya, dia diam saja. Jadi kalau tidak
tahu, dia malu bertanya. Tetapi dari pengalamanku, aku tahu kalau
Sari ini mempunyai nafsu yang besar yang terpendam.
Suatu
saat aku datang mengajar ke rumah Rina. Seperti biasa kalau jam
belajar, pintu depannya tidak dikunci, jadi aku bisa langsung masuk.
Kok sepi..? Pada kemana..? Aku kebingungan, lihat sana dan sini
mencari orang di rumah itu. Aku langsung ke dapur, tidak ada
siapa-siapa. Aku memang biasa dan sudah diizinkan berkeliling
rumahnya. Mau masuk kamarnya, aku takut karena belum pernah. Lalu
aku duduk di ruang tamu, sambil buka-buka buku mempersiapkan
pelajaran.
Samar-samar aku mendengar suara mendesah-desah.
Aku jadi tidak konsentrasi. Kucari arah suara itu. Ternyata dari
kamarnya Rina. Kutempelkan telingaku ke pintu. Setelah yakin itu
suara Rina, kucoba memutar pegangan pintunya, ternyata tidak
dikunci. Kubuka sedikit dan kuintip. Ternyata dia sedang masturbasi
di tempat tidurnya. Tangan kirinya meremas-remas susunya, tangan
kanannya masuk ke dalam roknya. Wajah dan suara desahannya membuatku
terangsang. Aku masuk pelan-pelan, dia kaget sekali melihatku.
Tangannya langsung menarik kaosnya menutupi susunya. Wajahnya merah
padam karena malu.
"Ehh.. ee.. Masss.. suss.., ssuuddaaahh
laammaaa..?" tanyanya terbata-bata. Karena aku sudah terangsang
dan sudah yakin sekali kalau dia pun mau, langsung kulumat bibirnya.
Mulanya dia kaget, tetapi tidak lama dia pun balik membalas ciumanku
dengan ganasnya. Tanganku pun langsung masuk ke dalam kaosnya,
mencari bukit kembarnya. Kuraba-raba, kuremas-remas kedua bukitnya
bergantian. Tidak sekenyal dan sekeras punyanya Sara atau
Ketty. "Aaahhh.., Masss.., mmm.., aaahhh..!"
desahnya.
Karena cukup mengganggu, kuangkat lepas kaosnya.
Terpampanglah kedua bukit kembarnya. Putih bersih dengan puttingnya
merah muda yang menonjol indah. Kurebahkan dia, kuciumi kedua bukit
kembarnya bergantian. "Ahhh.., Mass..! Teruuuss Masss..! Aahhh..,
ooohhh... Hissaaappp.., Masss..!" Langsung kukulum-kulum dan
kuhisap-hisap puting susu kanannya, sedang yang kiri
kuremas-remas. "Aaahhh.., ooohhh.., Mass eenaaakkkk.., Mass yang
keeraasss..!"
Tangannya sekarang tidak mau diam, mulai
memegang batang kejantananku yang sudah tegang dari luar celanaku.
Tanganku pun mulai masuk ke dalam roknya. Astaga. Dia tidak memakai
celana dalam. Kucari-cari kaitan roknya, resletingnya, lalu
kuplorotkan roknya. Terpampanglah tubuh indah putih di hadapanku.
Kucium perutnya, naik lagi ke susunya begitu berulang-ulang.
Kepalanya bergolek ke kiri dan ke kanan. "Auwww.., Maasss..!
Aaaddduuuhhh.., ooohhh..!" dia menikmati sensasi yang
kuberikan.
Kira-kira tiga menit, tiba-tiba dia bangkit.
Melepas kaosku, menurunkan celana serta celana dalamku sekalian. Aku
didorongnya. Batang kejantananku yang sudah menegang langsung
berdiri di hadapannya. "Kamu nakal yaa.., berdiri tanpa izin..!"
katanya kepada kemaluanku. Langsung dikocok-kocok, diurut,
dipijat oleh tangannya. "Aaahhh... Riiinnn.. Dari tadi keekk..!"
kataku protes. Lalu dia mulai mengulum senjataku. Lalu kakinya
memutar mengangkangi wajahku. Aku tahu maksudnya. Sekarang, ada
bibir kemaluan indah di hadapanku. Langsung kulahap. Kujilati
seluruh permukaan liang keperawanannya. "Sudah basah sekali ini
orang..!" pikirku. Setiap aku menyentuh kelentitnya, dia berhenti
menyedot batang keperkasaanku.
Lalu dia melepaskan penisku,
berdiri, lalu jongkok tepat di atas alat vitalku. "Bukan main..!
Masih kelas 2 SMP kok sudah begini hebat permainannya..!" batinku,
"Umurnya paling-paling sebaya Sara, 13 tahunan." Dia pegang
senjataku, dipaskan ke lubangnya, lalu dengan sangat perlahan dia
berjongkok. "Aaahhh..!" desisku saat kepala kemaluanku ditelan
liang kenikmatannya. Masih sempit. Sangat perlahan dia menurunkan
pantatnya. Penetrasi ini sungguh indah. Matanya terpejam, tangannya
menekan dadaku. Dia menikmati sekali setiap gesekan demi
gesekan. "Aaahhh.., ssshhhssshhh..!" desahnya.
Setelah
seluruh batang kemaluanku masuk, terasa olehku kepala kejantananku
menyentuh rahimnya. Didiamkan sebentar sambil dikedut-kedutkan urat
kemaluannya. "Aaahhh.., Riiinnn... eeennnaaakkk
sseeekkkaallliii..!" Lalu perlahan-lahan dia mulai
menaik-turunkan pantatnya. Susunya bergoyang-goyang indah.
Kuremas-remas keduanya. "Aa.., ah.., ahh.., ooohhh..,
sshshshsh.., shhh..!" Lama-lama semakin cepat. Tidak lama
kemudian dia menjepitkan kakinya ke pantatku sambil tangannya
meremas dadaku dan menekan pantatnya agar masuk lebih
dalam.
"Massss.., aakkkuuu.. uuuddddaaahhh... aaahhh..!"
desahnya tidak menentu. "Syurrrr... ssyyuurrr..." cairan hangat
menyelimuti kepala batang kejantananku. Dia rebah ke atas
tubuhku. Aku yang belum sampai, langsung membalikkan badannya.
Langsung kegenjot dia secepat mungkin. Karena liang senggamanya
sudah basah, maka daya cengkramnya menurun. Sehingga aku harus lama
memompanya. "Maasss.., uuuddaaahhh..! Aaakkkuuu eenggaaakkk
taahhhaannn..!Adduuuhhh.. Mmass..! Geeellii..!" teriaknya. Dia
berkelojotan, susunya bergoyang-goyang. Kuremas-remas keduanya
dengan kedua tanganku. Aku tidak peduli, terus saja
kugenjot.
Sampai akhirnya, "Aaahhh.., Rriiinnn.. Maasss...
ssaammmpeee... aaahhh..!" desahku yang diikuti dengan, "Croottt..,
croottt.., croottt..," empat kelompok cairan spermaku memuncrat di
liang senggamanya. Aku langsung ambruk ke dadanya. Setelah reda
nafasku, kupeluk dia sambil berguling ke sebelahnya. Kucium
keningnya. Kudekap dia lebih rapat. Batang keperkasaanku masih
tertancap di liang kenikmatannya. "Terima kasih ya
Riinnn..!" "Sama-sama Maasss..!" "Riinnn.., maaf ya..? Mas mau
tanya.., Tapi Rina jangan marah yaaa..?" "Rina tau apa yang Mas
mau tanya. Memang Rina udah sering beginian sama pacar Rina. Tapi
sudah 2 bulan ini putus, jadi Rina sering masturbasi seperti yang
Mas liat tadi." jawabnya enteng sekali. "Oooo.." "Mas adalah
orang kedua yang meniduri Rina setelah pacar Rina."
"Mass..,
Rina khan belajarnya sama Sara. Sara banyak cerita ke Rina tentang
hubungan Sara sama Mas... Kata Sara, Mas hebat.., Rina jadi
kepengiiiinn banget hubungan sama Mas..!" "Kapan Rina pertama
kali hubungan dengan pacar Rina..?" "Udah lama Mas.., kira-kira
waktu Rina kelas satu dulu. Rina kecolongan Mass.., tapi setelah tau
enaknya, Rina jadi ketagihan." "Ooo." "Si Sari kok enggak
dateng..?" "Tadi siang Aku bilang ke Dia, hari ini enggak
belajar, karena Aku pengiinn banget ngentot sama Maass.. Habis..
gatel sssiiiihh..!" katanya sambil mengedut-ngedutkan liang
kewanitaannya.
Penisku serasa dipijat-pijat. Kucabut, lalu
keluarlah cairan kental putih dari liang senggamanya. Lubang
kenikmatannya kubersihkan dengan kaosnya, lalu batang kejantananku
pun kulap. "Sekarang mau belajar..?" tanyaku. "Kayaknya enggak
deh Mas. Kasian khan Sari ketinggalan." "Ok deh. Mas sebetulnya
juga ada perlu di rumah. Mau bantuin bapak betulin mobil orang.
Besok mau diambil." "Iya deh Mass.. Terima kasih
ya..!"
Lalu kucium pipinya. Aku bangkit ke kamar mandi dengan
telanjang bulat sambil menenteng pakaianku. Kamar mandinya ada di
ruang tengah."Massss..." panggilnya saat aku akan keluar
kamarnya."Apa..?""Besok lagi. Datangnya jam tigaan aja Mass. Si Sari
datangnya paling jam 4 kurang, jadi kita bisa puas-puasin
dulu..!" "Iyaaa deeehhh.., tenang aja." kataku sambil keluar
kamar.
Begitulah setiap sebelum mengajar, aku menggarap Rina
sepuasku. Begitu pula dengan Rina. Dia nafsunya sangat besar. Tetapi
kemaluannya tidak begitu menjepit. Sebenarnya itu bukanlah masalah
buatku. Sejak aku tidak bisa berhubungan dengan Sara lagi, aku cukup
puas berhubungan dengan Ketty dan Rina.
Suatu saat, ketika
melihat perubahan atas sikap Sari kepadaku. Dia sering mencuri
pandang ke arahku. Aku tidak tahu sebabnya, tetapi setelah selesai
belajar, saat kujalan bersama dengan Sari, Sari bercerita
kepadaku. "Mas.. Sari tahu lhooo.. Hubungan Rina sama
Mas..." "Lho.., Sari tahu dari mana..? Apa Rina cerita..?"
tanyaku kaget. "Enggak. Waktu Sari datang lebih awal, kira-kira
jam tiga seperempat, Sari masuk rumah Rina, Sari denger Rina
teriak-teriak di kamar, kupikir Rina khan udah putus sama
pacarnya..? Lalu Rina sama siapa..? Terus Sari intip. Eeehhh enggak
taunya sama Mas Pri..!" "Terus..?" "Terus.., ya Sari keluar
aja, takut ketahuan. Terus Sari nongkrong di tukang bakso depan.
Kira-kira jam empat kurang, Sari masuk
lagi." "Terus..?" "Yaa.., udah gitu aja..!"
Hening
sesaat waktu itu, kami sibuk dengan pikiran kami
masing-masing. "Sari pernah enggak yaa..?" batinku. "Tanya,
enggak, tanya, enggak. Kalo kutanya, Dia marah enggak ya.. Ah bodo,
yang penting tanya dulu aja..." "Eng.., Sari pernah
enggak..?" "Pernah apa Mas..?" "Ya.., seperti Sara atau
Rina..?" "Belummm Mmassss..!" jawabnya malu-malu dan wajahnya
merah padam. Ternyata dia tidkak marah. Benar dugaanku, nafsunya
besar juga. "Sari mau..?" Dia diam saja sambil menunduk. Pasti
mau lah. "Sari udah punya pacar..?" "Beluumm Mass.., abis
dilarang sama Bapak Ibu." "Yaa.., jangan sampe ketahuan
doonng..!"
Lalu kami berpisah. Karena Sari harus naik bis ke
Blok A. Sedangkan aku naik bis arah Pondok Labu. Di bis aku
berpikir, gimana caranya mendapatkan Sari. "Aku harus
memanfaatkan Rina..!" pikirku.
Besoknya sebelum belajar
bersama, saat aku bercumbu dengan Rina, kubilang ke Rina kalau Sari
sudah tahu hubungan kita. Aku minta bantuannya untuk memancing nafsu
si Sari. Tadinya aku pikir Rina akan menolak, ternyata jalan pikiran
Rina sudah sangat moderat. Dia menyanggupinya. Karena Sari sudah
tahu, untuk apa ditutup-tutupi katanya.
Bersambung
ke Cerita Hot : 09
|