|
Sambungan dari
Cerita Hot : 08
Ketika sedang belajar bersama, aku coba
pancing nafsu Sari dengan cara kududuk di sebelah Rina. Aku rangkul
Rina, kucium pipinya, bibirnya dan kuraba dadanya. Rina saat itu
memakai kaos tanpa BH. Rina membalasnya. Lalu kudorong dia agar
tiduran di karpet. Kami saling bergumul. Melihat hal itu, Sari kaget
juga. Dia menutupi wajahnya. Karena selama ini kami berhubungan
diam-diam. Tidak pernah secara terang-terangan. Kali itu kami
berbuat seolah-olah tidak ada orang lain selain kami berdua, untuk
memancing nafsu Sari.
Perbuatan kami semakin memanas. Karena
Rina sudah telanjang dada. Lalu Rina menurunkan celana pendeknya.
Dia langsung bugil karena tidak memakai celana dalam. Aku pun tidak
tinggal diam, kulepas semua pakaianku. Kugeluti dia. Lalu kami
mengambil posisi 69. Rina di atas. Kami saling
menghisap. "Aaahhh.., Mmasss.., sshshshs... Masss.. enaaakkk
Mass.., ooohh..!" desah Rina dibesar-besarkan. "Ohhh.. Riiinnn...
hisap yang kuaattt Riinnnn..!" desahku juga. Kulihat Sari sudah
tidak menutupi wajahnya lagi.
Kira-kira lima menit saling
menghisap, Rina berdiri memegang batang kemaluanku dan mengarahkan
ke liang senggamanya yang sudah tidak perawan lagi. Menurunkan
pantatnya dengan perlahan. "Bless..!" langsung masuk
seluruhnya. "Aaahhhh... Maasss.., aaahhh.., ssshhh.., aaahhh..!"
desahnya. Lalu dengan perlahan dinaik-turunkan pantatnya.
Pertama-tama perlahan. Makin lama semakin cepat. "Aahh..
ooohhh.., sh.. sh.. ooohhh... Iiihhh..!" erangnya.
Kulirik
Sari, dia memandangi ekspresi Rina. Sepertinya dia sudah terangsang
berat. Karena wajahnya merah padam, nafasnya memburu. Tangannya
memegang dadanya. Gerakan Rina semakin tidak terkendali. Pantatnya
berputar-putar sambil naik turun. Kira-kira 10 menit, aku rasakan
liang kewanitaan Rina sudah berkedut-kedut. Dia mau sampai
klimakasnya. Dan akhirnya pantatnya menghujam batang keperkasaanku
dalam sekali. "Aaahhh.. Masss... Akuuu... sammmpppeee..
Maasss..!" "Syuuurr... syurrr.." kehangatan menyelimuti kepala
senjataku.
Dia langsung terguling ke sebelahku. Senjataku
tercabut dari liang kenikmatannya dan berhamburanlah cairan dari
liang senggamanya ke karpet. Aku memang tidak begitu menghayati
permainan ini, karena pikiranku selalu ke Sari. Jadi pertahananku
masih kuat. Aku bangkit dengan telanjang bulat. Kuhampiri Sari. Sari
kaget karena aku menghampirinya masih dengan bertelanjang bulat.
Langsung kupeluk dia. Kuciumi seluruh wajahnya. Tidak ada penolakan
darinya, tetapi juga tidak ada reaksi apa-apa. Benar-benar masih
polos.
Lama-lama tangannya mulai memelukku. Dia mulai
menikmatinya. Membalas ciumanku, walau lidahnya belum bereaksi.
Kuusahan semesra mungkin aku mencumbunya. Dan akhirnya mulutnya
membuka sedikit berbarengan dengan desahannya. "Aaahhh..
Maasss..!" nafasnya mulai memburu. Kumasukkan lidahku ke
mulutnya. Kubelit lidahnya perlahan-lahan. Dia pun membalasnya.
Tanganku mulai meraba dadanya. Terasa putingnya sudah mengeras di
bukit kembarnya yang kecil. Kuremas-remas keduanya
bergantian. "Maaasss.. oooohhhh.. Mmmasss.. shshhshshs..."
desahnya.
Kulepas ciumanku. Kupandangi wajahnya sambil
tanganku mengangkat kaosnya. Dia diam saja. Lepas sudah kaosnya,
sekarang tinggal BH mininya. Kulepaskan juga pengaitnya. Dia masih
diam saja. Akhirnya terpampanglah bukit kembarnya yang kecil lucu.
Seperti biasa, untuk menaklukan seorang perawan, tidak bisa
terburu-buru. Harus sabar dan dengan kata-kata yang tepat. "Bukan
maaiinnn. Susumu bagus sekali Sar..!" kataku sambil memandangi bukit
kembarnya. Warnanya tidak seputih Rina, agak coklat seperti warna
kulitnya. Aku elus perlahan-lahan sekali. Kusentuh-sentuh putingnya
yang sudah menonjol. Setiap kusentuh putingnya, dia
menggelinjang.
Kutidurkan dia ke karpet. Lalu kuciumi dada
kanannya, yang kiri kuremas-remas. "Aaahhh.., ssshhh..,
Maaasss.., aaaddduuuhhh... aaa..!" Bergantian kiri kanan. Kadang
ciumanku turun ke arah perutnya, lalu naik lagi. Tangan kananku
sudah mengelus-ngelus pahanya. Dia masih memakai celana panjang
katun. Kadang-kadang kuelus-elus selangkangannya. Dia mulai membuka
pahanya. Sementara itu Rina sudah pergi ke kamar mandi. Karena
kudengar suara guyuran air.
Setelah aku yakin dia sudah di
puncak nafsunya, kupandangi wajahnya lagi. Wajahnya sudah
memerahkarena nafsunya. Ini saatnya. Lalu tanganku mulai membuka
pengait celananya, retsletingnya, dan menurunkan celana panjangnya
sekalian dengan celana dalamnya. Tidak ada penolakan. Bahkan dia
membantunya dengan mengangkat pantatnya. Dia memandangiku
sayu.
Bukit kemaluannya kecil tidak berbulu. Hampir sama
dengan kepunyaan Titin dulu. Mungkin karena sama-sama orang Sunda.
Kupandangi bibir kemaluannya. Dia menutupinya dengan kedua
tangannya. Kutarik tangannya perlahan sambil kudekatkan wajahku.
Mulanya tangannya menutup agak keras, tetapi lama-lama mulai
melemah. Kucium bibir kewanitaannya. Aaahhh.., segar sekali
harumnya. Kuulangi beberapa kali. Setiap kucium, pantatnya dinaikkan
ke atas sambil mendesah. "Aaahhh... Masss.., mmm..
sshshshs..." Batang kejantananku yang tadi sudah agak lemas,
mulai mengeras lagi.
Lalu kubuka bibir kewanitaannya dengan
jariku. Sudah basah. Kutelusuri seluruh liangnya dengan jariku, lalu
lidahku. Dia semakin menggelinjang. Lidahku menari-nari mencari
kedele-nya. Setelah dapat, kujilat-jilat dengan cepat sambil
agak kutekan-tekan. Reaksinya, gelinjangnya makin hebat, pantatnya
bergoyang ke kiri dan ke kanan. "Adduuuhhh... Maasss... aaahhh..
ssshhh.. aaahhh..!" Kuangkat kedua kakinya, kutumpangkan ke
pundakku, sehingga liang kewanitaannya semakin membuka. Kupandangi
belahan kewanitaannya. Betapa indah liangnya. Hangat dan
berkedut-kedut. "Saarr.., memekmu bagus betul.. Wangi
lagi..." Kembali kuhisap-hisap. Dia semakin keras
mendesah.
Kira-kira 5 menit kemudian, pahanya menjepit
leherku keras sekali. Lubang keperawanannya berdenyut-denyut cepat
sekali. Dan, "Syurrr... syurrr..." menyemburlah cairan
kenikmatannya. Kuhirup semuanya. Manis, asin, gurih menjadi satu.
Aaasshhh... segarnya. Kakinya sudah melemas.Kuturunkan kakinya,
kukangkangkan pahanya. Kuarahkan batang keperkasaanku ke liangnya
sambil kupandangi wajahnya. "Boleh Sarr..?" tanyaku memohon
persetujuannya. Matanya memandangku sayu, tidak bertenaga. Dia
hanya mengangguk. "Pelan-pelan yaa Mass..!" Kuoles-oleskan
kepala kemaluanku dengan cairan pelumas yang keluar dari liang
senggamanya. Lalu kugesek-gesekkan kepala kejantananku ke bibir
kenikmatannya. Kuputar-putar sambil menekan
perlahan.
"Aaahhh.. Maasss... Ooohhh..!" dia
mendesah. Lalu kutekan dengan amat perlahan. Kepalanya mulai
masuk. Kuperhatikan kemaluannya menggembung karena menelan kepala
keperkasaanku. Ketekan sedikit lagi. Kulihat dia menggigit bibir
bawahnya. Kuangkat pantatku sedikit dengan amat perlahan. Lalu
kudorong lagi. Begitu berulang-ulang sampai dia tidak
meringis. "Ayooo... Masss.. aaahhh.. ooohhh..,
ssshhhshshhh..!" Lalu kudorong lagi. Masuk sepertiganya. Dia
meringis lagi. Kutahan sebentar, kutarik perlahan, lalu kudorong
lagi. Terasa kepala batang kejantananku mengenai selaput tipis. Nah
ini dia selaputnya. "Kok enggak dalam..? Belum masuk setengahnya
udah kena..!" batinku dalam hati. "Sar.., tahan sedikit
yaa..!" Lalu kucium bibirnya. Kami berciuman, saling mengulum.
Dan dengan tiba-tiba kutekan batang keperkasaanku dengan
keras. "Pret..!" kemaluanku menabrak sesuatu yang langsung
sobek. Dia mau menjerit, tetapi karena mulutnya kusumpal, maka
tidak ada suara yang keluar. Kudiamkan sebentar kejantananku agar
liang keperawanannya mau menerima benda tumpul asing. Lalu kutarik
ulur perlahan-lahan. Setelah terlihat dia tidak merasa kesakitan,
kutekan lebih dalam lagi. Kutahan lagi. Kuangkat perlahan, kutekan
sedikit lagi. Begitu berulang-ulang sampai senjataku masuk semuanya.
Dia tetap tidak bisa bicara karena mulutnya kulumat. Kutahan
kemaluanku di dalam, kulepaskan ciumanku. Liang senggamanya menjepit
seluruh batangku di semua sisi. Rasanya bukan main
nikmatnya.
"Gimana Sar..?" "Sakiittt Masss... Periiihhh...
Mmmm..!" "Tahan aja dulu, sebentar lagi ilang kok..." sambil
kucabut sangat perlahan. Kutekan lagi sampai menyentuk ujung
rahimnya. Begitu berulang-ulang. Ketika kutarik, kulihat kemaluan
Sari agak tertarik sampai kelihatan agak menggembung, dan kalau
kutekan, agak mblesek menggelembung. Setelah 5 atau 6 kali aku turun
naik, terasa agak mulai licin. Dan Sari pun tidak terlihat kesakitan
lagi. "Sar.., memekmu sempit banget. Ooohhh enak sekali Sar..!"
bisikku sambil mempercepat gerakanku.
Dia sepertinya sudah
merasa nikmat. "Aaahhh... eennnaaakkk... Masss... aaahhh..
shshshshsh..." desahnya. Kupercepat terus. "Ah.. ah.. ahh.. ooo..
shshsh.. aaaddduuuhhh... ooohhh..!" pantatnya mulai bergerak
mengimbangi gerakanku. Kira-kira 5 menit, dia mulai tidak
terkendali. Pantatnya bergerak liar. Tiba-tiba dia menekuk, kedua
kakinya menjepit pantatku sambil mengangkat pantatnya. Bibir
kemaluannya berkedut-kedut. Dan, "Sysurrr.. syuurrr.." dua kali
kepala kejantananku disembur oleh cairan hangatnya. Karena aku
dari tadi sudah mau keluar dan kutahan-tahan, maka kupercepat
gerakanku. "Masss... Uuudddaaahhh.. Mmasss.. Aaaddduuhhh..
Gellii.. Maass..!" teriaknya. Aku tidak peduli. Keringatnya sudah
seperti orang mandi. Kupercepat terus gerakanku, akhirnya,
"Crooot... cruuuttt.." tiga kali aku menembakan cairanku di liang
kenikmatannya. Lalu aku ambruk di sebelahnya.
Tiba-tiba,
"Plok.. plok.. plok.." terdengar suara tepukan. Rupanya Rina
sudah dari tadi memperhatikan kami berdua. "Mas hebat... Sari..
selamat yaa..!" katanya sambil mencium pipi Sari. Sari hanya bisa
tersenyum di sela-sela nafasnya yang masih ngos-ngosan. "Enak
Sar..?" tanyanya lagi. Sari hanya bisa mengangguk lemah. Lalu aku
memeluk Sari. "Sari. Terima kasih yaa..!" kataku sambil mengecup
pipinya. "Sari juga terima kasih Mas.. Enaakkk banget ya
Mass..!"
Aku bangun mengambil baju-bajuku yang berserakan.
Kulihat di selangkangan Sari ada bercak-bercak lendir
kemerahan. "Aaaahhh... Aku dapet perawan lagi..!"
batinku. Lalu aku ke kamar mandi. Selesai kumandi, gantian Sari
yang mandi. Setelah semua selesai, kami hanya mengobrol saja sambil
minum teh hangat yang dibuatkan Rina. Menceritakan pengalaman yang
dirasakan oleh masing. Aku lemas karena dalam 2 jam sampai 3 kali
main.
Sejak saat itu, Sari selalu datang jam 3 sore. Dan
sebelum belajar, kami selalu mengawalinya dengan pelajaran biologis.
Dan Rina sepertinya mengetahui dan menyadari kalau punyanya Sari
lebih oke, jadi dia mengalah selalu dapat giliran kedua. Dan mereka
pun saling berbagi. Saling mencoba dan mengajari. Aku yang dijadikan
alat eksperimen mereka menurut saja. Abis enak sih.
Setelah
pembagian raport, ternyata yang nilainya naik banyak hanya Sari.
Tetapi keduanya naik kelas dengan nilai di atas rata-rata. Begitulah
pengalamanku dengan gadis-gadis SMP.
TAMAT
|