|
Sambungan dari
Cerita Hot : 06
Lalu aku berdiri, kupandangi matanya
sambil tanganku mulai menurunkan celana dalamnya. Tidak ada tanda
penolakan dimatanya. Dia malah mengangkat pantatnya mempermudahku
melepaskannya.Sekarang di hadapanku ada seorang bidadari kecil,
putih, telanjang bulat menanti sentuhan selanjutnya. Sekitar bibir
kemaluannya masih belum ditumbuhi bulu. Masih polos. Karena pahanya
membuka, tampaklah isinya yang merah muda, basah dan
berkilat.
Karena batang kejantananku yang tegang sejak tadi
sakit terjepit, maka kubuka juga seluruh pakaianku. Dia hanya
memandangiku sayu tanpa ekspresi. Kucium lembah payudaranya, turun
sedikit demi sedikit. Terus sampai ke perutnya. Tanganku terus
mengelus paha belakangnya sampai pantatnya. Kugelitik pusarnya
dengan lidahku. "Maaasss.., shshh.. ennaaakk.., geellliii
Maaasss..!" Tanganku berpindah ke liang keperawanannya sambil
terus kuciumi perut dan dadanya bergantian.Kucari, dan setelah
ketemu, gosok-gosok perlahan kedele-nya. Kucubit-cubit,
kupelintir sampai pantatnya bergoyang tidak karuan. "Mas..,
Mass.., diapain memekku Masss..? Aaadduuuhhh..!"
Karena
sepertinya dia sudah tidak tahan, kuhadapkan wajahku ke liang
senggamanya. Kucium bibir kemaluannya. Aaahhh.., segaarr. Kuciumi
berulang. Lalu dengan kedua tanganku, kubuka vaginanya, basah, licin
berkilat-kilat. Kujilat kedele-nya perlahan. Makin lama makin
cepat dan makin kutekan. Pantatnya naik turun dengan cepat.
Tangannya menjambak-jambak rambutku. Kupegangi pantatnya dengan
kedua tanganku, agar tidak menabrak-nabrak hidung dan mulutku.
Gerakannya semakin liar. Makin liar terus. "Aaahhh.., aaahhh..,
ssshhh.., shhh..!" hanya itu saja kata-katanya dari
tadi.
Tiba-tiba kepalaku ditekan keras-keras, pahanya
menjepit kepalaku, pantatnya diangkat setinggi-tingginya. Dan,
"Maasss.., Maaasss.., uuuddaaahhh.., Maaasss..!" "Syuurrr..,
ssyuuurrr.., syuurrr...," cairan hangat membanjiri
mulutku. Kujilat sambil kuhisap cairan itu. Rasanya lebih manis
dari punya kakaknya. Walaupun lebih encer. Kujilati sampai
bersih.
Aku pun tiduran di sebelahnya. Kurangkul dia. Kudekap
kepalanya di dadaku, sambil kuelus-elus dan kucium rambutnya. batang
kejantananku yang masih keras menyentuh pahanya. "Gimana Ket..,
puass..?" tanyaku. "Enak sekali Mas. Ketty puasss Maasss..!"
jawabnya. Nafasnya masih sedikit memburu. "Mas.., kalau sama
Kakak kok kontol Mas dimasukin ke memeknya siihhh..?" tanyanya
setelah sensasinya mereda. "Ini anak kalo ngomong kok engak pake
tedeng aling-aling lagi." pikirku, "To the point." "Ketty mau..?"
pancingku. "Eengg.., sakit nggak Mas..? Kontol Mas khan gede..,"
katanya sambil tangannya memegang batang kemaluanku. "Yaa..,
pelan-pelan dong..!" kataku. "Untuk pertama kali emang sakit dan
perih, tapi itu sebentar. Seterusnya udah enggak sakit. Kakakmu aja
sampai ketagihan." sambungku.
Dia diam saja, tetapi tangannya
terus saja memegang batang kemaluanku. Kadang diusap, kadang
diremas, kadang diurut. Senjataku semakin keras. Kepalanya
senut-senut. "Aaahhh.., sshhh..!" desahku. "Kenapa Mas..?
Sakiitt..?" tangannya tetap mengurut-urut. Aku tidak menyahut,
tetap mendesah. Lalu dia bangun, aku ditelentangkan, dipandanginya
senjata kemaluanku yang tegang. Wajahnya dekat sekali dengan batang
kejantananku. Sampai desah nafasnya terasa di alat
vitalku. "Bentuknya lucu Mass..!" katanya sambil terus
memandangi. "Ketty pernah lihat Kakak mengedot punya Mas. Rasanya
gimana Mass..? Apa enggak jijik ya..?" "Yaa.., enggak jijik dong.
Khan bersih. Rasanya enak sekali..!" "Ketty boleh coba enggak
Mas..?" "Coba aja. Nanti juga Ketty ketagihan." "Kalau yang
coklat-coklat ini juga enak..?" tanyanya sambil mengelus-elus kedua
kantung kemaluanku. "Pokoknya yang ada disitu semuanya enak.
Mangkanya, dicoba dulu..!" pancingku.
Lalu dengan ragu-ragu,
dia menjilat kepala kemaluanku. Diam sebentar. Lalu dijilat lagi.
Diam lagi. Lalu batangnya dia jilat. Diam lagi. Lalu kedua kantung
kemaluanku. Diam lagi. Tidak lama kurasakan lidahnya sudah
menelusuri kepala penisku sampai batangnya. Tidak begitu enak.
Mungkin masih adaptasi dulu pikirku. "Kett.., seperti makan es
krim. Bibirnya juga ditempelin, sambil ditekan sedikit..!"
kataku. Ketty mengerti dan melanjutkan perbuatannya.
Dia
bukannya menempelkan bibirnya, tetapi malah memasukkan kepala
kemaluanku ke mulutnya. Kena giginya. "Aduuuhh.., sakiiittt..!
Jangan kena gigi doong..!" "Naaahhh.., gituu.., agak dihisap. Ya,
yaa.., gituu..!" kataku mengajarkannya. "Aaahhh.., sshhshhh..,"
ketika dia mulai menghisap. "Enaakk Kett..?" kubertanya. "Enak
seperti lolipop, tapi yang ini gede, sama anget." sahutnya sambil
memandangi senjataku. "Ayoo.. lagi doonggg..!"
pintaku. "Masss, dimasukin yuuukk..! Ketty mau ngerasain seperti
apa rasanya, tapi pelan-pelan ya Mass..!" katanya sambil dia tiduran
telentang.
Tanpa pikir dua kali, aku bangkit. Kukangkangkan
pahanya. Tetapi karena liang keperawanannya sudah agak kering, maka
kujilat-jilat lagi supaya basah dan memancing gairah nafsunya supaya
bangkit kembali. Langsung kujilat kedele-nya. "Aaahhh..,
Maaasss.., ennaaakkk Maasss..!" desahnya. Terus kujilati sampai
vaginanya benar-benar basah dan nafsunya memuncak kembali. Supaya
cepat, kupelintir-pelintir klit-nya dengan lidahku. Dia semakin
menggelinjang. "Ahh.., aah... ahh.., sshshhs... Ayoo Mass..!
Ayooo..!"
Setelah aku yakin dia sudah sangat terangsang dan
kemaluannya sudah basah, aku hentikan jilatanku. Kubuka lebar-lebar
pahanya, kuarahkan batang keperkasaanku kesana. "Rileks aja
Ket.., jangan tegang. Kalau tegang, nanti sakit. Yaa.., yaa, santai
gitu. Naahhh, begitu..!" saat kurasakan ada sedikit rasa takut pada
dirinya. Kutekan perlahan sekali agar dia tidak kesakitan.
Terlihat kepala kejantananku berkilat karena ludahnya. Kutekan
perlahan, tetapi dengan tenaga mantap. Kepalanya sudah masuk, dia
meringis, menggigit bibir bawahnya. Aku tahan sebentar. Kudiamkan.
Setelah agak tenang, kutarik sedikit, lalu kutekan lagi dengan
perlahan. Masuk lebih dalam. Sepertiganya mungkin. Wahhh.., sempit
sekali. Penisku seperti dijepit tang. "Santai aja Ket.., jangan
tegang, nanti malah sakitnya nambah.." kataku saat kurasakan bibir
liang senggamanya dengan keras menggigit.
Setelah kurasakan
agak mengendur, kutarik sedikit, lalu kudorong perlahan sekali.
Nahh.., sudah setengahnya. Supaya agak lancar, kuturun-naikkan
secara perlahan. Kupandangi wajahnya, kutatap matanya. Dia
menikmati. Aku yakin ini belum menembus selaput daranya. "Sakit
Kett..?" "Sedikit." Kugoyang terus sambil kutekan
perlahan-lahan. Sudah setengahnya lebih. Nah.., kepala batang
keperkasaanku sudah menyentuh selaput tipis. "Kett.., tahan
sedikit ya..? Ini agak sakit sedikit. Tapi jangan tegang. Nanti
sakitnya nambah..!" Dia hanya menganggukkan
kepalanya.
Kusiapkan tenaga, lalu kutekan dengan keras,
"Blesss.., preettt..!" "Aaahhh Masss.., sakkiiittt.. Maasss.
Perriihhh..!" katanya sambil berusaha mendorong tubuhku. Langsung
kupeluk dia. Kuciumi wajahnya, dan kucium bibirnya. Dia membalasnya.
Aku lepaskan ciumanku dan kubisikkan kata. "Sakitnya sebentar
khaann.., coba rileks, santai..! Supaya sakitnya cepet
ilang..!" Seluruh batang kemaluanku serasa ditekan dari semua
arah. Sempit sekali. Kukedutkan penisku. "Aaahhh Masss..!
Jangannn.., masih sakit Mass..!" Kudiamkan lagi beberapa
saat.
Setelah aku yakin sakitnya sudah mereda, kutarik
perlahan sekali. Sampai tinggal kepala batang kejantananku saja yang
tertinggal. Lalu kutekan lagi dengan sangat kuat dan dengan mantap.
Aku pun meringis karena lubangnya sangat sempit. Lebih sempit dari
punya Titin dulu. Apa punyaku yang makin besar. Kulihat dia pun
masih meringis-ringis sambil memejamkan matanya. Kulihat air matanya
meleleh di pipinya. Kuulangi beberapa kali. Setelah dia tidak
meringis lagi, kupercepat gerakanku. Kupertahankan iramanya sampai
terasa licin. Licin tetapi menjepit.
Setelah licin,
kupercepat gerakanku. Dia sudah bisa menikmatinya. Berarti rasa
sakitnya telah hilang. Kupercepat terus iramaku. Dia mendesah-desah
tidak karuan karena sensasi nikmat yang baru pertama kali
dirasakannya. Kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tangannya
meremas sprei tempat tidur. "Mass.., ooohhh Masss, ennnaaakkk
Maasss..! Ooohhh..!" Kakinya kuangkat, lalu kuletakkan di
pundakku. Nah, dengan posisi ini batang keperkasaanku bisa menyentuh
ke rahimnya.
Lima menit kemudian, aku hampir tidak
tahan. "Mass.., aaaddduuuhhh Maaasss.., aaahhh.., aaahhh..,"
desahannya saat kurasakan kedutan-kedutan dari liang
senggamanya. "Udah mau nyampe nih Dia.." pikirku. Lalu dia
menjepit leherku dengan kedua kakinya. Pantatnya dinaikkan, sehingga
batang kejantananku amblas masuk semua, pantatnya
digoyang-goyangkan. Lalu, "Syuurr.., syuuurrr..," cairan hangat
mengguyur kepala kemaluanku. Aku yang sudah di ujung jalan,
mempercepat sodokkanku, karena jalannya jadi becek. "Mass..,
udahhh Masss. Aaaddduuuhhh.., toolllooonnngg..,
Maasss..!" Akhirnya sampai juga aku. Kutekan keras-keras batang
kejantananku ke liang kenikmatannya, kutarik pantatnya dan,
"Croot.., croot.., croot..!" Tiga atau empat kali batang
kejantananku memuntahkan cairannya di liang
keperawanannya.
Aku langsung lemas. Dan kucabut senjatanku
dari luabang surgawinya. Terlihat lendir putih bercampur darah segar
mengalir melalui liang kemaluannya. Kupeluk dia, kucium
pipinya. "Kett.., Kamu hebat sekali Kett..! Punyamu lebih enak
dari punya Kakakmu." "Aaahh.., Masss..!" sahutnya. Dia lalu
tertidur lemas. Kulirik jam dinding. Jam 6 lewat 5 sore. Berarti
kira-kira satu setengah jam aku memerawanin dia. Pantas saja aku
juga lemas. Kupeluk dia, lalu aku pun tertidur.
Jam 7 kurang
10 aku terbangun. Aku berpakaian, lalu kubangunkan dia. Aku pamit.
Dia pun bangun lalu ke kamar mandi. Itulah kisah pertamaku dengan
Ketty. Sejak saat itu kami sering berhubungan. Biasanya dia suka
mengintip permainanku dan Sara. Lalu dengan alasan aku ke kamar
mandi, aku ke kamarnya. Disana dia sudah siap. Berbugil ria di bawah
selimut. Dia minta jatah. Nafsunya sama besar dengan kakaknya. Dan
daya tahannya luar biasa. Kalau aku tidak meladeni, dia mengancam
akan memberitahukan skandal ini ke ayahnya. Mau tidak mau aku
menurutinya. Tetapi siapa yang bisa menolak..? Ini terjadi
berulangkali dan ini tetap menjadi rahasia kami
berdua.
Tetapi pada suatu waktu, saat aku sedang menggumuli
Ketty, kakaknya masuk ke kamar mandi. Dia tidak menjumpaiku disana.
Dan mendengar suara mendesah dari kamar adiknya. Dia marah besar
kepadaku dan adiknya. Aku diusirnya. Dia tidak rela membagi
senjataku dengan adiknya. Dan diaakhirnya memilih bimbingan belajar
resmi, yang menyelenggarakan les privat.
Kabar terakhir yang
kudapat dari adiknya, dia sering main dengan guru bimbingan
belajarnya. Selain itu dia juga sering main dengan kawan sekolahnya.
Sedang adiknya Ketty, sekarang jadi lebih sering main denganku.
Tetapi selama kakaknya tidak di rumah. Karena kakaknya sama sekali
tidak mengizinkan dia melampiaskan nafsunya.
Demikian kisahku
dengan kakak beradik Siti Maesaroh dan Siti
Khodijah.
Bersambung ke Cerita Hot : 08
|