|
Sambungan dari
Cerita Hot : 05
Part
3.KETTY
Kira-kira tiga bulan kemudian, Pak
Candra kembali mengunjungiku dan memintaku agar mengajar Sara
kembali. Tentu saja aku menerimanya dengan antusias sekali. Sudah
terbayang rutinitas dengan Sara akan terulang
kembali.
Ternyata Sara bilang sama teman-temannya kalau dia
bisa begitu karena belajar denganku. Akhirnya Sari dan Rina
memintaku mengajarinya. Karena jadwalnya ketat, akhirnya kuputuskan
Senin, Rabu, Jum'at aku mengajari Sari dan Rina. Karena rumah Rina
lebih dekat dengan rumahku, maka aku minta Sari yang datang ke rumah
Rina. Selasa, Kamis, Sabtu aku mengajar Sara. Sedangkan jamnya
adalah sama, dari jam 4 sampai jam 6 sore. Permainanku dengan Sara
tidak perlu kuceritakan disini. Karena ini jatahnya Ketty, Sari dan
Rina.
Pertama, aku akan ceritakan tentang Ketty dulu. Ketty
itu orangnya agak bongsor. Kalau dia sedang berpakaian biasa, bukan
pakaian sekolah, orang pasti mengira dia sudah SMP atau SMA. Hanya
sifatnya masih kekanak-kanakan. Maklum masih kelas 6 SD. Tingginya
hampir sama dengan kakaknya. Begitu juga dengan body-nya. Bukit
kembarnya kira-kira sudah sebesar kakaknya. Sebesar bola tennis.
Hanya wajahnya agak bulat bila dibandingkan dengan kakaknya. Itu
saja. Yang lain hampir mirip dengan kakaknya. Jadi bisa dibilang
bidadari kecil.
Masih ingat ketika Ketty memergoki aku dan
kakaknya sedang bertempur..? Rupanya dia tidak bisa melupakan hal
tersebut. Dia sering bertanya ke kakaknya, apa yang dilakukan. Tentu
saja kakaknya bingung menjawabnya. Akhirnya Sara menyerahkan
kepadaku untuk menjawabnya. Dan Ketty memendam pertanyaan itu sampai
dia punya waktu berdua denganku.
Setiap aku mengajar Sara dan
bertemu Ketty, dia sering mencuri pandang ke arahku. Dan setiap aku
memandangnya, dia membuang muka. Malu. Sampai di suatu waktu, saat
aku akan mengajar Sara,ternyata Sara tidak ada di rumah. Yang ada
hanya Ketty dan pembantu-pembantunya. Ibunya seperti biasa sedang ke
Pakistan. Sedang ayahnya, tadi telepon dan bilang pulangnya malam,
karena ada pertemuan dengan orang Belanda.
"Sara kemana
Ket..?" "Tadi pagi Ketty liat dia bawa ransel besar. Katanya dia
mau Persami di Cibubur. Pulangnya Minggu sore." "Lho dia kok
enggak bilang sama Mas yaa..?" "Yaa.., mana Ketty tahu
Mas..!" "Ya udah.., Mas pulang dulu yaaa..?" "Eehhh, tunggu
dulu Mas.., Ketty mau minta tolong nicchhh..?" "Tolong apa..?"
tanyaku. "Ketty mau nonton, tapi kok gambarnya jelek
banget." "Ok deh.., mana videonya..?" "Ada di kamar Ketty. Yuk
ke kamar Ketty..!" katanya sambil menggandeng tanganku.
Ketty
saat itu memakai daster rumah. Cukup tipis. Aku bisa lihat bayangan
celana dalamnya. Saat dia menarik tanganku, aku sempat melirik ke
dadanya. Dia tidak memakai kaos dalam atau BH. Karena aku bisa
melihat segumpal daging putih dari lubang lengannya yang agak lebar.
Walaupun dia masih anak-anak, tapi melihat itu aku merasa batang
kemaluanku mengeras.
Sesampainya di kamar, aku kembali
terkagum-kagum. Kamarnya sama persis sekali dengan kamar kakaknya.
Ini baru kamar anak-anaknya, bagaimana dengan kamar orang tuanya..?
Aku berkeliling melihat-lihat, masuk ke kamar mandinya. Lho..,
sepertinya aku pernah lihat. Ternyata kamar mandinya bisa tembus ke
kamar kakaknya. Jadi satu kamar mandi dipakai berdua. Pintunya
terhalang sekat, jadi aku tidak tahu kalau ada pintu satu
lagi. "Mas kok muter-muter sih..? Khan kamar Ketty sama seperti
kamarnya Kakak." katanya agak kesal. "Ini lho videonya yang
rusak..!" sambungnya. Aku lalu jongkok di depan videonya. Dia
ikut-ikutan jongkok di sampingku. Aku hidupkan, masukkan video,
ternyata mau jalan. Tapi gambarnya jelek sekali, begitu juga
suaranya. Aku lihat kabel gambarnya. Ooo.., kabelnya hampir putus
dimakan tikus. "Kett, ini lhoo kabelnya hampir putus dimakan
tikus." kataku. Mendengar kata tikus, ternyata dia kaget dan
langsung memelukku. Aku yang tidak menyangka akan dipeluk begitu,
jadi jatuh terguling. Secara refleks aku menangkap tubuhnya,
sehingga dia jatuh di atasku. Terasa daging kenyal itu menyentuh
dadaku. Dia bangkit dengan wajah merah padam. "Maaf Mas.., enggak
sengaja. Jadi di kamar Ketty ada tikusnya..?" dia
bertanya. "Ya.., mungkin aja. Ini buktinya, kabelnya dimakan
tikus. Kamu beli aja racun tikus. Kamu ada kabel lain..?"
tanyaku. "Coba aku cari di gudang." katanya sambil berlalu keluar
kamar.
Sementara aku menunggu dia mencari kabel, aku
berpikir, "Mungkin enggak ya.. Ketty mengintip perbuatanku dengan
kakaknya dari kamar mandi..?" "Kalau iya terus kenapa..? Ah..,
sebodo amat ah.. kok jadi aku yang pusing." Lalu pandanganku
melihat ke bawah rak TV, ada buku kecil. Aku ambil. Aku kaget lagi.
ANY ARROW..! (bacaan stensilan tentang hubungan
sex). "Punya siapa ya..? Apa mungkin punya dia..? Dia kan masih
kecil..?" batinku.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki.
Cepat-cepat kusembunyikan lagi buku itu. "Ini ada Mas, tapi lebih
panjang." katanya. "Enggak apa-apa. Sini Mas coba..!"
kataku. "Kamu mau nonton film apa siihh..?" tanyaku sambil
memasang kabel. "Mickey mouse Mas. Kata temenku bagus." katanya
sambil memperhatikanku memasangkan kabel.
Setelah itu aku
coba. Nah.. gambar dan suaranya jadi bagus. "Mas.., temenin
nonton yaahhh..! Ketty enggak ada temen niihhh." "Lho.., biasanya
Kamu juga sendirian." balasku. "Mas khan jadwalnya disini sampai
jam 6 sore, kadang-kadang lebih. Sekarang masih jam 4 lewat 10 Mas."
rajuknya. "Iyaa deehhh..," aku mengalah.
Aku duduk di
karpet bersandar ke tempat tidur. Ketty duduk di sebelahku. 10 menit
berlalu. Tiba-tiba gambarnya berubah menjadi adegan sepasang manusia
sedang berciuman. "Kok gambarnya jadi begini..?"
tanyaku. "Enggak tau Mass..!" sahutnya sambil matanya terus
melihat ke TV. Adegan di TV semakin panas, kulirik dia. Wajahnya
merah padam, nafasnya sudah semakin cepat, tetapi matanya tetap ke
TV. Wajahnya jadi semakin cantik. Aku tidak tahan, maka kurangkul
dia. Aku cium rambutnya, pipinya, lalu keningnya, hidungnya,
matanya. Dia pasrah kucium begitu. Tanganku pun langsung meremas
susunya. Sudah agak keras dan putingnya sudah
terasa.
"Aaahhh.., Mass.., Ketty mauu Masss..!"
rintihnya. Aku sedikit kaget, "Ketty mau apa..?" tanyaku. "Mau
seperti Kakak Sara. Aaahhh, Maass.., sshshhs..!" "Ketty sering
mengintip Mas sama Kakak sedang maiiin..." sambungnya. Deg..!
Jantungku seperti berhenti. Gawat niihhh..!
Kulepaskan ciuman
dan pelukkanku. Aku pandangi dia. "Beneerr Ketty sering
ngintip..?" tanyaku. "Iyaa.., pertama waktu Ketty di kamar, Ketty
dengar suara Kakak agak aneh, takut Kakak sakit, lalu Ketty masuk.
Ternyata Mas sedang berantem sama Kakak telanjang bulat. Ketty
lari." katanya terbata-bata. "Ketty tanya sama Kakak, tapi Kakak
enggak mau ngomong. Terus Ketty tanya sama temen. Kata temen,
Kakakmu itu sedang ngentot." sambungnya. "Terus setiap
Kakak bersuara aneh begitu, Ketty ngintip dari kamar mandi. Ketty
perhatiin kayaknya Kakak keenakan, bukannya kesakitan." sambungnya
lagi.
Aku diam saja. Tiba-tiba, "Maaas.., Mas mau khan
ngentot sama Ketty..?" tanyanya polos. Terus terang saat itu aku
bingung, akhirnya, "Ket, bukannya Mas enggak mau. Tapi Ketty khan
masih kecil." "Kakak juga..! Kakak baru 13 tahun jalan 14, aku
kan 2 bulan lagi 12 tahun." balasnya sengit. "Kalau Mas enggak
percaya, lihat nich..!" sambungnya sambil membuka dasternya. Maka
terpampanglah dua bukit kembarnya yang baru tumbuh. Bentuknya bulat.
Sangat indah dengan puting kecil berwarna coklat muda kemerahan.
Pinggulnya sudah sama seperti kakaknya. "Oke.. Oke.., Mas mau. Tapi
Ketty harus janji ya, jangan bilang sama Kakak..!" sahutku. Siapa
yang tidak mau ditawari perawan bidadari kecil yang lagi
nafsu. "Iyaa Mass.., Ketty janji..!" "Eh.. pintunya dikunci
dulu doonggg.., nanti kalau ada yang masuk gimana..?" kataku. Dia
pergi mengunci pintu.
Aku jadi teringat Titin. Dia juga dulu
baru 12 tahun saat pertama kusetubuhi. Tetapi bentuk badannya jauh
lebih bagus badannya Titin. Lebih putih dan lebih terawat. "Aku
harus super hati-hati memperlakukan Dia..!" pikirku. Harus tahap
demi tahap.
Dia datang mendekatiku. Langsung kupeluk dia, aku
pandangi mukanya, aku tatap matanya. Ada kesan pasrah dimatanya. Aku
cium matanya, dia terpejam. Aku cium pipinya, keningnya, kukecup
hidung, lalu makin mendekati mulutnya. Bibirnya pasrah menerima
bibirku tanpa perlawanan. Aku selusupkan lidahku disela-sela
giginya. Mulutnya sedikit membuka. Lidahku mulai menari-nari di
lidahnya. Mulut dan ludahnya manis. Dia mulai menghisap lidahku.
Lalu lidahnyapun mulai bergerak-gerak. Mulai melawan lidahku. Tangan
kiriku masih mengelus2 punggungnya, tangan kananku dilehernya.
Suasana hening, hanya desah napas kami yang terdengar. Kulepas
ciumanku, kutatap matanya. Matanya sayu, nafasnya naik sudah agak
memburu. Lalu tiba-tiba dia mencium bibirku dengan ganas. Pindah
kemataku, lalu pipiku. Wajahku basah oleh ludahnya. Ciumanku
kuturunkan ke lehernya. Dia menengadahkan kepalanya. Tangan kananku
pun mulai meraba susunya. Kuusap-usap perlahan sampai puting
kecilnya menonjol keras. Bergantian kiri dan kanan. "Aaahhh..,
Maasss.., eennnaaakkk.. Maasss..! Aaahhh..!" dia mulai mengeluarkan
suara desahan.
Lalu kugendong dia, kurebahkan ke tempat
tidur. Kupandangi lagi tubuhnya. Seakan tidak percaya kalau bidadari
kecil ini rela menyerahkan tubuhnya. Kupandangi susunya, betul-betul
sempurna bentuknya, dengan putting kecil kemerahan yang menonjol di
bukit putih mulus dengan guratan tipis urat-urat susunya. Payudara
gadis mungil kecil yang belum tersentuh oleh jamahan lelaki manapun.
Kucium bukitnya, dari lembah sampai mendekati puncaknya. Tanganku
meremas yang satunya. Begitu berulang-ulang. Aaahh wanginya. Wangi
khas perawan muda. "Aahhh.., Masss..! Aaddduuuhhh..! Shshshsh..!"
tubuhnya menggeliat sambil dadanya disorongkan ke atas, kedua
tangannya menekan kepalaku ke dadanya.
Tanganku yang satu
mulai menelusuri betisnya, naik secara perlahan-lahan ke arah
pangkal pahanya. Bergantian kiri dan kanan. Terkadang kuremas
perlahan pantatnya. Setiap kuremas, pantatnya terangkat ke atas.
Lalu tanganku mulai mengelus-ngelus bibir kemaluannya dari luar CD
cream-nya. Terasa lembab sekali. Pahanya mulai membuka lebar, seakan
meminta tanganku untuk berbuat lebih jauh. Kuselusupkan tanganku ke
dalam CD-nya. Kuselusuri garis lubang kewanitaannya dengan jari
tengahku. Naik-turun, naik-turun. Lalu jariku kuselipkan ke celah
hangatnya. Basah. Kuputar perlahan-lahan, sambil kucari-cari
kedele-nya. Pantatnya bergerak seirama tanganku. Naik turun,
ke kiri ke kanan. "Adduuuhhh.. Massss..! Eenaakkk Maasss..!
Aaahhh..!" desahnya terus-menerus.
Bersambung ke
Cerita Hot : 07 |