|
Sambungan dari
Cerita Hot : 02
Hening sejenak. "Mas, kalau Mas
maunya diapainn," katanya sambil memegang penisku. "Terserah
Titin aja," kataku. "Titin kocokin seperti semalem
yaach." Lalu dia jongkok, mengocok-ngocok penisku yang tegang.
Aku mendesah keenakan. "Aaahh.. Ooohh... sshhh.." Penisku makin
tegang saja rasanya.
Tiba-tiba penisku terasa geli, basah dan
hangat? kutengok ke bawah. Ternyata Titin sedang menjilat-jilat
kepala penisku. Aku tidak tahu belajar darimana dia, yang penting
yang kurasakan saat itu nikmat sekali. Mimpi dipegang tititku oleh
perempuan saja aku tak pernah. Apalagi sekarang dijilat. "Aduuuhh
Tiinnn.. aku kamu apaiiinn.. aaahh.."
Saat sedang
enak-enaknya mengerang, tiba-tiba kok hangatnya tidak di kepalanya
saja. Kulihat ke bawah, "Astaga..!" Penisku diemut. Belum berfikir
yang lain, tiba-tiba ada rasa aneh di penisku, ternyata selain
diemut, Titin pun menghisapnya. Tak tahan akan gelinya, aku semakin
mengerang. "Tiinnn.. aku kamu apaiiinn.. Tiinnn.. kamu kok tegaaa.."
Tak berapa lama aku kepengin pipis. "Tiinnn.. udaaahh.. Mass mau
pipisss.." Karena tidak tahan dan Titin tidak melepaskannya,
akhirnya, "Croottt.. croottt.. croottt.." Empat atau lima kali
penisku menembakkan cairannya di mulut Titin. Titin kaget sekali.
Sebagian ada yang tertelan dan sebagian lagi meleleh keluar dari
bibirnya. "Mas Pri jahat.. pipis kok di mulut Titin.." katanya
sambil berdiri dan mengelap mulutnya dengan kain jarik. Lalu dia
minum air putih. "Titin juga siihhh.. Mas bilang udah.. udah,
tapi Titin nggak mau lepasin," balasku. "Udah sini tiduran. Mas
kelonin," sambungku.
Sambil kukelonin, kucium
pipinya. "Titin kok mau ngisep singkongnya Mas? Apa nggak jijik.
Khan jorok," pancingku. "Lho, kata Mas kalau sayang kan nggak
jijik." "Tadi pipis Mas gimana rasanya? Enaakk?" "Enak Mas.
Kayak santen tapi agak asin." "Titin belajar dari
mana?" "Waktu Titin ngintip, Titin liat Mbak Nunung ngisep
tititnya Oom. Kayaknya Oom itu keenakan. Terus Titin mau Mas juga
keenakan. Ya Titin ikut-ikutan Mbak Nunung." "Mas, Titin malu mau
ngomong sama Mas." "Ngomong aja. Sama Mas kok malu." "Titin
juga punya bacaan. Titin dapet sewaktu beli koran bekas untuk
bungkus. Ada dua Mas. Yang satu Eni Arrow, yang satu Nick
Carter." "Sewaktu Titin baca, badan Titin merinding semua. Terus
susu sama tempek Titin jadi gatel." Ooohh pantes dia cepet
belajar. Dari situ toh sumbernya. Ditambah live show.
Selama
kelonan, dadanya menghimpit dadaku. Terasa hangat dan kenyal.
Lama-lama penisku keras lagi. Kucium pipi dan bibirnya lagi. Dia pun
menyambutnya dengan mesra. Kami berciuman, bergulingan. Tanganku pun
mulai bergerilya lagi. Ke susunya, punggungnya, lehernya,
selangkangannya. Akhirnya tangan kananku berhenti di daging lunak di
selangkangannya. Aku mulai mengusap-usap klitorisnya. Dia makin
mendesah-desah nggak karuan. "Aaahh.. Maaass.. Titin sayang sama Mas
Pri.. shhh.. aaahh.. enak Masss.. teruuuss Masss.." Sementara
tangannya mulai meremas-remas punyaku. Penisku sudah pada puncaknya
sekarang.
Tiba-tiba Titin melepaskan pelukannya. "Masss..
Titin mau seperti Mbak Nunung.. Mas mau khaaann.." katanya sambil
menatap mataku. Ada permintaan tulus di sana, ada gelora di sana,
ada sesuatu yang aneh di sana. "Tapi Mas takuutt.. Nanti gimana?
Kita khan belum pernah.." "Tapi Titin mau Masss.." katanya
lagi. Lalu penisku diusap-usapkan ke mulut vaginanya yang sudah
basah. "Aaahh.. sshhh.." dia mendesah.
Mendengar
desahannya, aku mulai bertindak. Kukangkangkan pahanya, terlihatlah
vaginanya yang tembem dengan rambut halus dan jarang, bagian
dalamnya yang merah muda dan ada tonjolan daging sebesar kacang
kedele. Vaginanya ternyata sudah basah sekali. Merah berkilat-kilat.
Kusentuh kacang kedele itu. "Aaccchh.. Masss.. ssshh.." Oh,
jadi ini toh yang bikin dia menggelinjang itu. Kusentuh
lagi. "Aaccchh.. Masss.. ssshh.. diapain siiicchh Mas.. nakal
amat siihh.." desahnya. Kudekatkan wajahku supaya bisa melihat
lebih jelas. Bentuknya lucu sekali. Aku coba
menjilatnya. "Aaacchh.. Masss.." "Ayooo.. doonnngg.. Mass..
cepetannn.." katanya tak sabar.
Kuarahkan kepala penisku ke
mulut vaginanya, kutekan sedikit. "Aaahh.." ada rasa hangat di
kepala penisku. Kutekan sedikit. Kok mentok? Kutekan lagi. Mentok
lagi. "Tin, lubangnya yang mana?" tanyaku. "Agak ke bawah
sedikit Mass, di bawah yang Mas pegang tadi." Kuperhatikan dengan
seksama. Oh, itu toh lubangnya. Kok kecil sekali? Apa punyaku bisa
masuk?Kuarahkan penisku ke sana, kutekan. Kok melesat. Coba lagi.
Meleset lagi. "Tiinn.. bantuin doonngg.." Titin memegang
penisku lalu mengarahkannya. "Teken Mas.. ya.. ya.. di situ teken
Mas." Kutekan pelan-pelan. Kok meleset? Tekan lagi meleset lagi.
Gimana sich caranya? Kupegang erat-erat penisku lalu tekan agak
keras. Dan..
"Aaa.. Maasss sakiiitt. Pelan-pelan dooong
Maaass.." Terasa kepala penisku terjepit sesuatu yang
hangat. "Tahan Mas.. tahan.." Dia meringis sepertinya menahan
sesuatu. "Ayo teken lagi Mass.. pelan-pelan Masss..
aaahh.." Kutekan perlahan-lahan dengan kekuatan penuh. "Aaahh.."
Kepala penisku terasa ngilu. Hangat. Kulihat sudah separuhnya
tertancap, Titin meringis, kutahan sebentar.
Setelah Titin
terlihat tenang, dengan tiba-tiba kutekan penisku sekuat tenaga,
"Blesss.. bret.." "Aaawww.. sakiittt Masss.. tahan Mass.. diem
dulu Masss.." Titin berteriak. Lalu kutahan. Ujung penisku
seperti menyentuh sesuatu yang hangat. Aduh, rasanya seluruh penisku
seperti terjepit oleh sesuatu yang hangat dan berkedut-kedut.
Rasanya linu, sakit, enak, semuanya jadi satu.
"Tiinnn..
tahan sedikit ya.." kataku. Lalu aku menarik pantatku dan
menekannya secara perlahan-lahan. Berulang kali. Kulihat Titin
meringis-ringis. Begitu juga aku ikut meringis. Tapi kami sama-sama
tidak mau berhenti.Setelah mungkin ada sekitar 15 kali naik turun,
vagina Titin mulai agak licin. Dan Titin pun mulai tidak meringis
lagi. "Ayoo.. Mass.. ayoo Mas.. enak.. aaduuuhh enaaakkk Masss..
aaacchh.. ssshh.." Aku pun merasa sudah tak begitu linu
lagi. "Ayooo Mass.. yang cepet Mass.. yang dalem Masss.. Sshhh..
aaacch.."
Mendengar desahan itu aku makin cepat memompa
penisku naik turun. Makin cepat, secepat aku bisa. Titin kepalanya
bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tangannya memegang sisi dipan.
Susunya bergoyang-goyang. Badannya basah oleh keringat begitu juga
rambutnya. Pantatnya yang tadi diam, sekarang mulai bergoyang. Naik,
turun, kiri dan kanan. Tak lama aku merasa penisku semakin linu dan
geli yang tak tertahan, dan terasa ada sesuatu yang mau keluar. Tapi
aku merasakan tak ingin berhenti memompa.
Tiba-tiba Titin
merangkulku dengan keras, menggigit pundakku. "Aaahh.. Aaauuw.. Aku
pipiiss.. Masss.." Aku yang juga merasa mau pipis, kutekan sekuat
tenaga penisku sampai mentok dan kutahan. "Samaaa.. Massss juga
pipisss.. aaacchh.." dan, "Crooott.. crooott.. crooottt.." Empat
kali penisku menyembur ke vagina Titin. Aku tergolek lemas di atas
tubuh Titin. Tubuh kami sama-sama banjir oleh keringat. Kami diam
beberapa saat. Penisku sudah lemas tapi masih tertancap di
vaginanya.
Setelah mengatur nafas masing-masing, Titin
berbisik, "Terima kasih banyak Mas.. bukan main.. Masss.. enak
banget ya Maaass.." "Eee.. Tiiinnn.. jangan gerak dulu. Masih
linuuu.." desahku. Karena tak tahan kucabut punyaku, dan aku
tergolek di sebelahnya. "Pantesan aja Mbak Nunung sering
beginian. Nggak taunya enak banget." desahku setelah bisa
mengendalikan diri.
Tiba-tiba kami sadar bahwa ada tugas yang
harus kukerjakan. Aku langsung bangun. Dan kulihat ada bercak-bercak
kemerahan di dipan Titin dekat selangkangannya. "Tiinnn.. punya
kamu berdarah ya.. masih sakit..?" "Sedikit Mas.. Linunya ini
yang belum hilang." "Udaahh bangun aja. Nanti siapa tahu ilang
sendiri." kataku.
Lalu kubantu dia bangun, mengelap dipan
dengan kain basah sambil melirik jam beker. Ya ampun 2 jam lebih aku
bergelut dengan Titin. Setelah dia berpakaian, kubantu dia merendam
cucian sementara dia mencuci beras. Dia mencuci baju, aku
memotong-motong ubi dan singkong. Karena sudah hampir terlambat,
kami mandi bareng berdua. Di dalam kamar mandi itu kami saling
ciuman lagi, saling meremas lagi.
Sesampainya di warung,
ibuku bertanya, "Titin Kenapa, kok jalannya agak
pincang?" "Terpeleset waktu nyuci baju Bu.." aku yang yang
menyahut. Memang Titin jalannya agak sedikit pincang. Siang itu
kami sekolah bergandengan tangan seakan tak mau
dipisahkan.
Malam harinya saat belajar, Titin datang lagi.
Kali ini sebelum belajar kami bercumbu dulu. "Tiinnn.. maafin Mas
ya.. Mas khilaf.. Mas sudah mengambil keperawanan Titin." "Nggak
Mass, Titin dong yang seharusnya minta maaf. Khan Titin yang minta.
Mas nyesel ya.. perjaka Mas udah ilang?" "Lho, yang seharusnya
nyesel itu khan yang perempuan bukan laki-laki." "Tapi Titin
nggak nyesel sama sekali, malah bangga bisa ngasih sama
Mas." "Sekarang Titin nggak mau pisah sama Mass.. Titin mau sama
Mas terus.. Dan Titin janji nggak mau sama yang lain selain Mas."
sambungnya lagi. Kok air matanya netes? kucium dia dengan
lembut. "Terima kasih Tin.. Mas juga janji. Mas juga nggak mau
dengan orang lain selama ada Titin." Dia memelukku lama sekali.
Seakan tidak mau dipisahkan.
Aku sekarang sudah terbiasa
kalau sedang mencium, tanganku mengelus-elus punggungnya, lalu
meremas-remas dadanya. Eh, dia nggak pake kaos lagi. "Aaahh..
Masss.." dia mendesis. Tanganku mulai turun ke arah bongkahan
pantatnya, kuremas-remas. Desahannya semakin keras saja. Tangganya
pun mulai masuk ke dalam sarung. Mulai memegang sesuatu yang mulai
mengeras. "Mass.. Titin mau lagi doonng.." Busyet, ini anak
sepertinya maniak banget.
Beberapa saat kemudian kulepaskan
daster dan celana dalamnya. Dia pun menurunkan sarung dan celana
dalamku, lalu kaosku. Bugillah kami berdua. Kukecup lehernya sambil
kuremas-remas dadanya. Kupuntir putingnya, dia mendesah. "Ssstt..
jangan berisik dong.. nanti Ibu bangun.." dia pun mengecilkan
suaranya. Hanya mulutnya yang meringis-ringis saja. Tangannya tidak
tinggal diam. Mulai menggenggam penisku dan mengocok dengan
perlahan. "Mass.. kuhisap yaa.." katanya.
Lalu dia berbalik
arah. Mulutnya yang mungil mulai menjilati kepala penisku. Seperti
ada tegangan tinggi yang mengalir di tubuhku. "Aaahh.. Tiiinn.."
desahku perlahan saat dia mulai mengulum kepala penisku. Sementara
itu vaginanya ada di depanku. Posisi 69 kata orang. Kucium aromanya.
Aaahh segarnya. Mulailah lidahku menjelajah ke lubang yang merah
membasah. Kucari kacang kedelenya dengan lidahku. Setiap kujilat
kedelenya, hisapan di penisku terhenti. Cairan vaginanya makin lama
makin banyak.
Tiba-tiba dia berbalik dan terlentang, sambil
menarik penisku ke vaginanya. "Auwww.. pelan-pelan dong Tiinn..
Sakit khan.." kataku karena penisku ditarik. "Cepetan doongg..
Masss."
Kemudian kupegang penisku, kuarahkan ke vaginanya,
kugesek-gesekkan di pintunya. "Aaahh.. Masss.. jangan nakal
doong.. cepetan.." Kutekan perlahan-lahan. Masuk kepalanya, masih
agak linu rasanya. "Aahhh.. ssshh.." dia mengerang
keenakan. "Pelan-pelan Mass.." Kutekan perlahan sekali. Takut
dia kesakitan seperti tadi siang. Dia meringis. Kutahan, tarik
sedikit, tekan lagi pelan-pelan, tarik lagi sedikit, tekan
pelan-pelan. Mili demi mili penisku mulai ditelan oleh vaginanya
yang amat sempit.
Setelah semuanya masuk, kudiamkan sebentar
sambil menikmati sensasi yang ada. Sekarang seluruh penisku seperti
dipijat-pijat. "Tiinnn.. Mas sayaaang banget sama Titin.."
kubisikkan di telinganya. "Iii..iiyyaaa.. Maaass.. aahhh..
Masss.." katanya sambil mecium bibirku. Kami lalu berciuman.
Saling mengadu lidah.
Lalu kunaik-turunkan pantatku pelahan.
Kuresapi setiap garakanku. Tiba-tiba Titin memelukku. Dia berguling
sehingga posisinya ada di atasku. "Maasss.. Titin mau di
atas.." "Iiiyaa tapi pelan-pelan Tiinn.. nanti Ibu
banguunn.." Rupanya dia ingin tahu gimana rasanya di atas. Dia
jongkok sambil melihat ke selangkangannya, lalu naik turun
pelahan-lahan. Wajahnya merah padam.
Lama-lama dia semakin
cepat naik turunnya. Dadanya berguncang-guncang. "Aaacchh..
ooohh.. Maaass.. Ooohh.." "Ayooo.. Tiinnn dicepetiinnn.. ayooo..
ssshh.." Kuremas-remas kedua susunya. Keringatnya sudah di
sekujur tubuhnya.
Kira-kira 10 menit kemudian dia menjepitkan
kedua pahanya. Tangannya menjambak rambutku. "Maaass.. Tiitiiinn..
piipiiiss.." Terasa ada cairan hangat menyembur di kepala
penisku. Bersamaan dengan itu aku merasa ada yang mau keluar dari
penisku. Kubalikkan dia, lalu kugenjot sekuatku. "Maasss..
udaaahh.. geliii.. aduuhh.." Aku tidak peduli. Kugenjot terus.
Sampai akhirnya, "Tiinnn.. Maasss juugaaa.. pipiisss.." Dan,
"Crooott.. crroottt.." Kusemprotan maniku 3 kali berturut-turut ke
vaginanya. "Aaahhh.."
Kucabut penisku dan aku tergolek lemas
di sebelahnya. Bukan main, setelah sensasi dahsyat tadi mereda,
kucium dia. "Terima kasiihhh.. yaaa Tiiinn.." "Aaahhh..
Masss.." Kami tidur berpelukan berdua sampai kami terbangun
karena badan kami dingin karena tidak memakai selimut. Lalu kami
berpakaian, mencium pipiku, kuantar sampai pintu rumahnya. Ah..
perjakaku hilang diumur 13 tahun.
Sejak saat itu Titin kalau
datang belajar pasti tidak memakai kaos dalam atau BH. Karena Titin
sejak kelas 2 SMP sudah memakai BH. Malu sama teman katanya. Bahkan
kalau sudah kepingin dia datang tanpa mengenakan celana dalam. Kami
melakukannya siang dan malam. Kadang di rumahku atau di rumahnya.
Paling sering di rumahnya. Berbagai posisi sudah kami lakukan.
Berdiri, sambil duduk (dia kupangku menghadapku), dia di atas, model
anjing. Kecuali kalau saat dia mens, atau saat bapaknya di rumah.
Itupun dia masih rela mengemut punyaku.
Ketika terdengar
kabar bahwa Tapol G30S PKI dibebaskan, aku menemani ibuku mencari
bapakku ke kota Bandung. Tidak ketemu. Di Jogya, di rumah
keluarganya juga tidak ditemukan. Apa bapakku sudah tiada? Padahal
pada daftar orang-orang yang dibebaskan tercantum nama bapakku,
dibebaskan di Bandung.
Pada suatu sore, saat itu ibuku sedang
shalat maghrib, ada seseorang dengan pakaian lusuh dan tampang sedih
mampir ke warungku meminum kopi dan makan pisang goreng.
Kuperhatikan dia sering melamun dan pandangannya kosong.
Kuperhatikan lebih seksama lagi. Sepertinya aku pernah mengenalnya.
Tapi dimana?
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh teriakan
ibuku. "Maasss.." teriak ibuku. Rupanya ibuku sudah lama
memperhatikan pria itu selagi minum kopi. Orang itupun kaget.
Setelah saling pandang beberapa saat, mereka saling berpelukan erat.
Ibuku menangis meraung-raung. Aku bingung harus berbuat apa. Aku
diam saja.
"Mass itu anakmu yang kukandung dulu saat Mas
pergi. Sini Pri kasih salam sama Bapakmu," kata ibuku. Kucium
tangannya lalu kami bertangisan bertiga. Tangisan bahagia. Aku
bahagia sekali. Aku sekarang ditemani bapakku. Orang yang dulu
sangat kudambakan. Tapi akibatnya hubungan dengan Titin jadi tidak
sebebas dulu lagi. Kami harus curi-curi waktu untuk bersama-sama
pada saat bapakku mencari kerja sebagai tukang kayu atau saat bapak
dan ibuku jaga warung berdua.Akhirnya bapakku memutuskan untuk
membesarkan warung saja.
Keadaan itu berakhir ketika pemilik
kontrakan datang dan memberitahukan bahwa kontrakan akan dijual 3
bulan lagi. Orang tuaku pindah kontrakan tak jauh dari tempat
semula, sedangkan Titinku pindah ke Ciamis.
Sebelum
perpisahan, Titin memberiku servise yang tak terlupakan. Kami
bergumul di kebun selama kurang lebih tiga jam. Kenangan yang takkan
terlupakan. Selamat jalan Titinku...
Bersambung
ke Cerita Hot : 04
|