|
Sambungan dari
Cerita Hot : 03
Part 2.
SARA
Setelah aku pindah kontrakan, aku banyak murung.
Aku selalu teringat Titin. Untuk menghilangkan pikiran itu, aku
konsentrasikan pada pelajaran. Akhirnya aku lulus dengan nilai
memuaskan. Sangat memuaskan.
Sekarang aku harus bisa sekolah
ke STM. Aku ingin bisa bekerja untuk meringankan beban orang tuaku.
Oh ya, Warungku selain menjual rokok, barang-barang pokok seperti
sabun, beras, dll juga sekarang sudah menjadi warung makan. Ini
berkat kepandaian bapakku mengelola keuangan. Kalau dulu uangnya
hanya disimpan oleh ibu. Terkadang bapakku juga menerima pesanan
pembuatan lemari dari kayu atau memperbaiki mesin mobil yang
rusak.
Akhirnya aku bisa diterima di STM Negeri di daerah
Santa, Kebayoran. Dikarenakan saat test masuk, aku termasuk 10
besar, maka otomatis aku mendapat bea siswa selama 1 tahun. Ini bisa
dipertahankan asal aku selama sekolah bisa mendapat rangking di
kelas. Minimal rangking 3.Titin, lihatlah prestasiku, seharusnya aku
berbagi kebahagiaan ini denganmu.
Akhirnya aku sekolah di STM
itu tanpa bayar malah dibayar sebagai uang saku. Bapak ibuku sangat
bangga dengan hal itu. Bapak Ibu sering cerita kepada orang-orang
yang datang minum kopi. Aku sudah bisa melupakan Titin. Mungkin
karena temanku laki-laki semua.
Pada akhirnya, saat aku kelas
2, saat umurku 17 tahun, aku mendapat tawaran dari tetanggaku Om
Candra untuk mengajari Matematika anaknya yang kelas 2 SMP. Karena
ibuku cerita bahwa nilai Matematikaku di ijasah SMP adalah 9. Dia
cerita kalau anaknya lemah di Matematika dan IPA. Sedangkan nilai
untuk pelajaran IPS adalah lumayan.
Aku belum menyanggupinya,
karena aku belum pernah mengajar kecuali pada Titin. Hingga suatu
saat dia membawakan raport anaknya. Aku kaget sekali ternyata nilai
raport untuk Matematika-nya tak pernah lebih dari 5. Sedangkan
Fisika-nya paling tinggi adalah 6, yang lain 7 dan 6.Tak ada yang 8.
"Ini pasti naik kelasnya dikatrol," batinku. Aku kasihan sekali
akhirnya kusanggupi. Kulihat photonya, namanya, umurnya dll. Siti
Maesaroh 13 tahun. "Hmm.. cantik juga," batinku.
Setelah
perjanjian mengenai target, berapa dia membayarku serta jadwalnya,
akhirnya les privat tersebut akan dimulai bulan depan. Satu minggu 3
kali masing-masing selama 2 jam. Dimulai jam 4 sampai jam 6 sore.
Selasa, kamis dan sabtu setiap pulang sekolah. Matematika, Fisika
dan Kimia. Ibu sangat bangga karena yang diajari adalah anak orang
kaya yang terpandang di daerahku.
Aku harus membaca kurikulum
Matematika dan Fisika untuk SMP. Kubeli bukunya di tukang loak di
daerah cipete lalu kubuat daftar pengajaran serta daftar kemajuan.
Akhirnya saat itupun tiba.
Dengan naik sepeda kebanggaanku
(kubeli sepeda bekas murah dan memperbaikinya), sampailah akudi
rumah Om Candra. Dengan sedikit grogi, kuketok rumahnya. Akhirnya
pembantunya yang keluar."Mas Pri yaa. Ayo masuk Mas," kata Siti nama
pembantunya. Wah, rumahnya besar banget. Aku celingak celinguk
mengagumi rumah itu. Lalu aku diantarkan ke ruang belajar di lantai
atas. Sementara itu di atas meja sudah terhidang segelas kopi susu
dan pisang goreng.
Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya
seorang gadis keluar dari kamarnya. Aku melongo melihatnya. Ini
bidadari atau apa..? Cantiknya melebihi yang ada diphoto raportnya.
Titinku yang cantik kalah jauh bila dibandingkan dia. Dia memakai
baju terusan warna krem. Matanya bulat, hidungnya mancung, bibirnya
tipis, alisnya cukup tebal, giginya putih berbaris rapi, rambutnya
sebahu, kulitnya putih, tinggi semampai, dadanya sudah menonjol
cukup besar. Maklumlah sekolahku yang STM semuanya laki-laki dan
lingkungan rumahku adalah lingkungan kampung, makajarang sekali
kulihat wanita cantik. Ada yang mulai mengeras. "Seandainya..
Aahhh.. Ini adalah muridku dan dia bukan levelku," batinku
memperingatkanku.
"Lho, kok bengong Mas." "Oh.. eehhh..
Mas lupa kalau yang diajarin itu perempuan. Seingat Mas laki-laki,"
kataku mengelak. "Namanya siapa Mas.. aku Maesaroh, biasa
dipanggil Sara." "Aku Prihatin, biasa dipanggil Pri atau Atin.
Panggil aja Mas Pri," sahutku. "Maesaroh dipanggilnya Sara..?"
batinku. "Oke bisa kita mulai..? Mau Matematika dulu, Fisika atau
Kimia?" sambungku lagi. "Mmmhh.. matematika aja dulu deh Mas.."
sahutnya.
Lalu aku mulai mengajarkannya. Ternyata Sara
bukanlah bodoh tapi karena dasarnya kurang, maka kukonsentrasikan
dia dulu kepada dasar Matematika kelas 1 SMP. Baru setelah itu
Fisika dan Kimianya.
Setelah beberapa kali pertemuan,
akhirnya dia bisa mendalami dan memahami dasar-dasar Matematika yang
merupakan dasar Fisika dan Kimianya. Ini terbukti kadang-kadang
sengaja aku berbuat salah dan dia mengkoreksinya. Selebihnya tugasku
jadi ringan, karena tinggal menerangkan sebentar, dia langsung
mengerti. Dan aku tinggal mengoreksi saja. Bahkan dia kubekali dua
tingkat lebih tinggi dari kurikulum sekolahnya. Aku bangga ternyata
muridku bukanlah anak yang bodoh.
Aku jadi tahu segala
sesuatu tentang keluarganya. Dia adalah anak kedua dari tiga
bersaudara. Semuanya perempuan. Kakaknya Siti Fatimah, 16 tahun,
panggilannya Fatty sekolah di SMA kelas 2 di Jogyakarta. Adiknya
Siti Khodijah, panggilannya Ketty baru kelas 6 SD. Dia sendiri
bernama Siti Maesaroh. Ayahnya adalah seorang Cina keturunan.
Bekerja di Mandala Airways sebagai kepala pemasaran. Ibunya adalah
orang Pakistan yang bekerja di kedutaan. "Pantas aja anaknya
cantik-cantik semua." batinku. "Udah cantik, kaya lagi." Mobilnya
saja saat itu ada 3 buah. Ibunya, bapaknya, dan satu lagi untuk
antar jemput sekolah anak-anaknya. Pembantunya ada 3, tukang
kebunnya 1, sopirnya 3. Bapaknya berangkat jam 7 pagi dan pulangnya
rata-rata jam 8 malam.Ibunya dua minggu sekali pergi ke Pakistan.
Seringnya 3 hari kadang-kadang pernah sampai 8 hari. Pergaulannya
sangat dibatasi oleh bapaknya. Jadi kalau pulang sekolah harus
pulang, tidak boleh ke mana-mana. Kalau mau pergi, malamnya harus
ijin dulu ke bapaknya dan itupun harus diantar oleh sopirnya. Jadi
dia bisa dibilang kesepian untuk anak seumurnya. Walaupun semua
fasilitas dia punya.
Selama mengajar, aku tak berani kurang
ajar padanya. Pertama aku takut targetku supaya raportnya tak merah
tak berhasil, kedua karena aku sangat minder dengannya. Terutama
dari segi kekayaan. Walaupun itu milik orang tuanya. Paling-paling,
aku hanya melirik ke bukit kembarnya dan menatap wajahnya saat dia
menulis, mengintip celana dalamnya saat dia memakai rok
mini.Terkadang malah curi-curi mencium harum rambutnya saat
menerangkan sesuatu. Memang kadang-kaadang kami belajar di meja
belajar atau sambil duduk di karpet. Sepertinya aku jatuh cinta sama
muridku ini. Tapi terus terang aku takut.
Suatu hari, kulihat
dia sangat murung. Belajarnya kurang semangat. Wah, bisa kacau nih.
Bisa-bisa aku nanti nggak dibayar sama bapaknya. Perjanjiannya
adalah kalau terima raport nanti masih merah, maka aku tidak
dibayar. Padahal 1 bulan lagi dia mau ulangan umum. "Sar, kamu
kenapa? kok kayaknya ada masalah..?" tanyaku. "Ngaak.. nggak
pa-pa kok." sahutnya tidak bersemangat.
Setelah diplomasi
sambil belajar, akhirnya setelah selesai belajar dia mau juga
ngomong. Ternyata dia itu naksir Joko, anak kelas 3 yang jadi
bintang basket di sekolahnya. Sedangkan Joko lebih memilih Susi yang
satu kelas dengan Joko. Oh, masalah cinta monyet toh. Aku senyum
seorang diri.
"Lhoo.. Mas kok senyum-senyum sendiri kayak
orang gila. Bukannya bantuin gimana gitu." gerutunya. "Wah kalau
soal cinta, Mas nggak bisa ngapa-ngapain. Mas khan cuman jadi guru
Matematika sama IPA. Kalau ditambahin jadi guru cinta, Mas mau
bantuin," sahutku bercanda. "Oke deh, sekarang kalo Mas aku
angkat jadi guru cinta, Mas berbuat apa kalau jadi aku?"
tanyanya. "Yaa.. nggak tahu. Mas khan laki-laki,"
bantahku. "Oke deh, kalau lelaki itu ngeliat perempuan dari
apanya." "Walaupun Mas belum pengalaman sama perempuan, Mas juga
sekolahnya di STM, tapi karena Mas menang umur dari kamu, Mas coba
jelasin semampu Mas ya."
Lalu kujelaskan semampuku tentang
pandangan lelaki terhadap perempuan. Kalau lelaki itu melihat
perempuan dari penampilannya, bentuk tubuhnya, kepribadiannya, dll
juga karena sering ketemu. Dia memperhatikanku dengan seksama. Kami
jadi lebih sering beradu pandang, berdebat. Aku jadi makin tertarik
dengan muridku ini.
Aduh gimana sih nih.. Kok jadinya
begini. "Menurut mas, Sara ini cantik nggak?" tanyanya. "Sara
itu gadis yang tercantik yang Mas pernah liat," sahutku jujur sambil
menatap wajahnya. "Bayangin sudah tercantik ditambahin paling..."
tambahku lagi. Wajahnya langsung bersemu merah dan tersenyum.
Bukan main cantiknya kalau lagi begitu. "Bener.. Mas.. kalau
body-ku?" tanyanya lagi sambil berdiri, muter-muter di depanku.
Dadanya disorongkan ke depan. Oh ya, saat itu dia memakai celana
pendek agak gombrong, kaos Mickey Mouse sehingga BH-nya membayang
sedikit. "Body kamu juga bagus banget. Tinggi, sory ya.. dada
kamu juga bagus, pantatmu bulet, kakimu jenjang," kataku lagi sambil
melihat seluruh tubuhnya. Saat aku bilang dadamu bagus, dia
langsung memegang dadanya. "Mas nggak bohong khaannn..?" katanya
sambil memegang lenganku ditempelkan ke dadanya. Lunak dan hangat.
Mau nggak mau penisku jadi tegang saat itu. "Jujur demi Tuhan,"
kataku meyakinkan.
Karena aku sudah tidak kuat lagi, aku
minta ijin pulang padanya. "Yaa.. Mas kok pulang
siicchh." "Iyaa.. Mas ada perlu. Besok kalau nggak ada keperluan,
Mas mau nemenin Sara deh.." sahutku. Aku bangun agak tertunduk,
maklum terpedoku ketekuk. "Knapa Mass," tanya Sara. "Aku
kesemutan nih," elakku. Dibantunya aku berdiri, entah kenapa
lenganku menyentuh susunya lagi dan dia pun tidak merasa risih.
Teras lunak dan hangat. Makin sakit rasa terpedoku. "Udah ya..
sampe besok Sabtu." kataku.
Hari Sabtunya aku datang lagi.
Kok rumahnya sepi. Pada kemana..? Biasanya kalau Sabtu bapak dan
ibunya sudah pulang. Dan mereka pergi jalan-jalan malam
harinya. "Pada kemana Sar, kok sepi," tanyaku ke Sara saat
ketemu. "Papa tugas ke Palembang 3 hari, Mama ke Pakistan,
katanya sih sekitar 4 harian. Si Siti sama Imah izin ke Garut.
Tinggal Mang Ujang (sopirnya), Pak Parno (tukang kebun) sama Bi
Inah," katanya. Ternyata sopir bapak dan ibunya adalah sopir
kantor. "Mas.. boleh nggak hari ini Sara izin nggak belajar?"
tanyanya. "Lho.. kok nggak bilang kemaren. Mas udah dateng baru
bilang. Emangnya kamu kenapa? Sakit..?"kataku. "Nggak.. tadi aku
pijam video bagus sama Sari (temannya), dia bilang nontonnya nggak
boleh sendirian harus berdua. Tadinya mau nonton sama Ketty, eehh..
si Ketty pake ikut papa segala.. Ya aku tunggu Mas dateng
aja." "Kamu ada PR nggak?" tanyaku. "Barusan udah aku kerjain
kok. Coba aja Mas cek.." katanya sambil menyodorkan buku
Matematika-nya.
Aku cek ternyata betul semua. "Ya udah
kalau begitu. Film apa sih, kok nontonnya harus berdua?" tanyaku
sambil melihat ke judul filmnya. American Angel terbaca disampulnya.
Tak ada gambar. "Terima kasih ya Mas. Yuuk.. ke kamar Sara.
Videonya ada di sana." katanya sambil menggandeng tanganku ke
kamarnya.
Kamar Sara ternyata besar sekali. Ada rak yang
penuh dengan boneka, ada TV besar, ada stereo set lengkap, ada
AC-nya, ada kamar mandinya, meja belajarnya bagus, tempat tidurnya
luas (ukuran kingsize) dan ada pintunya ke balkon. Eh.. ada
teleponnya lagi. Bukan main. Rumahku sama kamarnya masih luas
kamarnya. Aku keliling terkagum-kagum. "Kalau si Ketty tidurnya
di mana?" tanyaku. "Lho.. Ketty khan kamarnya di sebelah.. Mas
belum tahu ya." katanya sambil memasukkan video ke
playernya.
Aku makin kagum aja, kamar segini luas dipake
sendiri. Bermimpi pun aku tidak pernah punya kamar seperti ini.
Apalagi membayangkan. Takut tidak kesampaian. Aku duduk di karpet
bersandarkan tempat tidur melihat ke TV. Mana gambarnya? "Oh
yaa.. Mas mau minum apa? Bi Inah lagi tidur katanya dia lagi masuk
angin." tanyanya sambil keluar kamar. "Air putih aja deh,"
jawabku takut ngerepotin dia.
Oh ya, aku lupa. Saat itu Sara
tumben memakai daster agak tipis. Biasanya dia memakai celana pendek
sama kaos. Dasternya itu lho yang nggak nahan. BH sama celana
dalamnya terbayang. Dia masuk sambil membawa sebotol air dan gelas,
lalu ditaruh di meja belajarnya. "Kalau haus ambil sendiri ya
Mass, aku taruh di sini," katanya lalu mem-play-kan
videonya. "Pantesan dari tadi nggak ada gambarnya." gumanku dalam
hati. Dia duduk di sebelahku. Tercium harum badannya. Bau sabun
mandi. Oh, ternyata dia habis mandi. Pantes kelihatan
segar.
"Mas, tadi khan guru sejarahku nggak masuk, lalu aku
ke kantin sama temen-temen. Mereka cerita tentang pacar mereka,
pengalaman mereka pacaran. Aku malu lho.. Mas, masak cuman aku aja
yang nggak punya pacar." "Lho.. emang kamu belum punya pacar?"
pancingku. "Ihh.. Mas ngledek. Ya belum doongg.." "Mau nggak
jadi pacar Mas," godaku. "Emangnya Mas juga belum punya pacar?"
tanyanya. "Siapa yang mau sama Mas, orang jelek miskin gini."
kataku merendah. "Tapi Sara kan belum punya pengalaman pacaran,
Mas.." "Emang Mas udahh. Mas khan juga belum pernah."
sahutku.
Hening sekejap. Sementara di TV ada adegan orang
ciuman. "Mas, apa enaknya sih ciuman seperti itu?" katanya sambil
matanya menatap TV. "Dibilang Mas belum pernah.. ya.. mana tahu
rasanya.." "Kayaknya sih enak, liat tuh sampe merem-merem
segala," sambungku.
Hening lagi, yang ada adalah adegan yang
kian merangsang di TV. Si lelaki sedang bergelut sambil melucuti
pakaian perempuannya, begitu pula sebaliknya. Mereka saling
melucuti. Lalu mereka saling meremas. "Aaahh.. ohhh.. sshhh..
shshshs.." begitu suara di TV. Kurasakan nafas Sara semakin cepat.
Lalu menyandarkan kepalanya ke pundakku. Kakinya yang tadi
diselonjorkan, kini ditekuk. Penisku mulai menegang. Ketika si
perempuan sedang mengulum penis lelaki, siSara mendesah, "Ihhh.."
Aku tak tahu apa maksud desahannya. Jijik atau apa.
Tiba-tiba
Sara berbisik, "Mass.. ajarin Sara ciuman doongg.." "Supaya Sara
nggak malu kalo cerita sama temen-teman." sambungnya. "Si Rina
malah susunya pernah dicium sama pacarnya.. seperti yang divideo
itu," katanya menambahkan. Aku seperti mendapat durian runtuh.
Disaat penisku keras, nafsuku naik karena adegan TV, ada yang minta
dicium, Bidadari lagi.
"Mumpung sepi nggak ada orang nihh."
batinku.
Kurangkul dia, lalu kupangku menghadapku. Sara
pasrah saja terhadap apa yang kulakukan. Kucium pipinya, matanya,
hidungnya. Dia menikmati semua yang kuberikan. "Aaahh.. Maassss..
hmmm.."Kuelus-elus punggungnya, kupegang pantatnya sambil kuremas.
Bulat dan keras. Tangannya pun mulai memeluk pinggangku. Kukecup
bibirnya. Mula-mula dia tidak membuka mulutnya. Hanya bibir kami
yang bertautan. Kumainkan lidahku, akhirnya mulutnya terbuka.
Lidahku dan lidahnya saling membelit. Terasa manis ludahnya.
"Ternyata muridku pintar sekali belajar. Dia mengikuti apa yang aku
lakukan." Kucoba meraba susunya. Dia tersentak. Tapi ciumanku tak
kulepaskan. Tangannya memegang tanganku tapi tidak ditarik hanya
dipegang saja. Pertanda dia pun menikmatinya. Kuremas dari luar
perlahan bukit kembarnya. "Aaahh.. Maasss.."
desahnya.
Kuberdirikan dia, kuplorotkan dasternya. Dia kaget
sekali. Langsung kucium lagi bibirnya, tangan kiriku meremas-remas
pantatnya, tangan kananku meremas susunya. Lama-kelamaan dia sudah
tak peduli lagi dengan tubuhnya yang setengah telanjang. Hanya
dengan BH dan CD cream-nya. Kudorong dia ke tempat tidur. Tanganku
sekarang berusaha memegang susunya dari balik BH-nya. Kuangkat BH
kirinya, kupegang langsung ke putingnya yang menonjol. "Aaacchhh..
Masss.. sshhh.. ssshh.." desahnya disela-sela nafasnya yang memburu.
Sambil menatap matanya yang mulai sayu, tangan kananku mencoba
melepas BH-nya. Tak ada penolakan sama sekali. Bukan main muridku
ini.
Bersambung ke Cerita Hot : 05 |