|
Sambungan dari
Cerita Hot : 01
Tiba-tiba dia melepaskan pelukannya
dengan wajah yang merah padam dan berkata, "Maass.. Titin sayaangg
banget sama Mas. Mas sayang nggak sama Titin?" tanyanya. "Lho..
tadi kan Mas udah bilang kalau Mas juga sayang sama Titin,"
sahutku. "Masss.. tadi waktu Mas pegang susuku, rasanya enaak
sekali.. habis sewaktu cerita-cerita tadi susu sama tempek Titin
jadi gatel lagi," sahutnya. "Singkong Mas sekarang keras nggak?"
sambungnya.
Tiba-tiba tangannya memegang penisku dari luar.
Memang saat itu aku hanya memakai celana dalam sama sarung saja. Aku
kaget setengah mati. Langsung kutepis tangannya. "Huusss jangan..
nggak sopan.." kataku. "Udah sekarang kamu tidur giihh udah
malem. Besok kamu khan harus ke pasar. Nanti telat.." kataku
lagi. Akhirnya Titin pulang. Tapi sebelum pulang Titin mencium
pipi kananku. "Titin sayang Mas," katanya
singkat.
Sepulangnya Titin, segala macam perasaan berkecamuk
di dadaku. Ada perasaan apa antara aku dan Titin? Apa ini yang
dinamakan cinta? Kalau cinta, berarti kita akan pacaran seperti
cerita teman-temanku di sekolah? Tanpa kusadari akhirnya aku
tertidur dan dibangunkan ibuku keesokan harinya.
Keesokan
harinya, sepulang dari pasar, aku bingung kemana si Titin ya?
Biasanya setiap aku pulang dari pasar, dia sedang mencuci baju di
sumur. Aku masuk ke rumahnya dari pintu belakang, melewati dapur
terus ke kamarnya. Ternyata dia sedang tidur, masih memakai daster
yang semalam. Mungkin masih ngantuk karena tidurnya terlambat tadi
malam pikirku. Ketika aku akan meninggalkan kamarnya, dia
menggeliat. Kaki kanannya menekuk ke samping sedang kaki kirinya
lurus. Maka terpampanglah kemaluannya yang masih terbungkus celana
dalam nilon tipis warna cream.
Aku deg-degan melihat hal itu,
kudekati dia. Wajahnya tampak damai sekali. Dadanya yang sedikit
membusung itu turun naik dengan teratur. Sepertinya dia pulas
sekali. Makin ke bawah kulihat pahanya yang putih mulus, makin
deg-degan aku. Kuperhatikan dengan seksama vaginanya yang sedikit
menggembung di selangkangannya. Ada garis samar-samar melintang dari
atas ke bawah. Bulu-bulu halus tipis membayang. Kuelus
perlahan-lahan. Terasa ada alur melintang. Kugesek-gesek perlahan
takut dia bangun. Aku dekatkan wajahku ke sana. Ada aroma yang khas
sekali, kucium perlahan. Baunya tak bisa aku definisikan tapi yang
pasti segar sekali.
Kutempelkan hidungku, kutarik nafas
dalam-dalam. "Aaahh.. segar sekali.." Berkali-kali kulakukan itu
sampai kudengar dia mendesah. "Aaahhh..." Kukaget langsung mundur.
Tapi dianya kok nggak bangun ya.. Aku jadi sedikit mengerti mengapa
lelaki yang tidur sama Mbak Nunung suka menjilati kelaminnya Mbak
Nunung. Menjilat? Apa nggak jijik ya. Tak terasa penisku mengeras.
Aku betulkan posisi penisku karena miring kanan.
Setelah
beberapa saat, aku beralih ke dadanya. Kuperhatikan ada tonjolan
samar di puncak bukitnya. Kupegang susunya perlahan-lahan,
kubelai-belai, kucium dari luar dasternya. "Aaahh.." baunya pun
segar. Kuulangi bergantian kiri dan kanan. Lama-lama kok tonjolannya
semakin keras? Kenapa? Tiba-tiba dia menggeliat. Aku kaget sekali.
Refleks kugoyang-goyangkan badannya. "Tin.. Tin.. banguuunnn..
udah nyuci beluuumm?" kataku supaya dia tidak curiga. Dia bangun
sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia kaget ada aku di
sebelahnya. "Terima kasih Mas, udah mbangunin aku. Aku belum
nyuci," balasnya. "Udah cepetan bangun. Nanti telat.."
kataku.
Dia duduk sebentar lalu bangun dan mengambil
cuciannya. Direndam, lalu dia mencuci beras. Aku menemaninya sambil
memotong-motong pisang, singkong dan ubi. Setelah itu dia masak dan
keluar lagi untuk mencuci baju. Aku membuat adonan. Aku agak heran
dia kok jadi pendiam gitu ya. Setelah aku selesai, aku langsung
mandi dan siap-siap berangkat.
Dalam perjalanan ke sekolah
dia cerita. "Mas, waktu aku tidur tadi aku mimpi aneh lho
Maass.." "Mimpi apa?" tanyaku. "Aku mimpi aku sedang seperti
Mbak Nunung." Aku kaget sekali. Apa karena kuraba-raba
ya. "Kamu begituan sama siapa?" tanyaku. "Sama Mas Pri,"
sahutnya. "Aaahhh.. kamu siang-siang kok mimpi. Itu namanya mimpi
di siang bolong," kataku. "Udah jangan dipikirin banget entar di
sekolah kamu banyak bengongnya lho," sambungku lagi.
Malam
itu aku belajar seperti biasa. Dengan celana dalam dan sarung.
Sekarang Titin datang dengan persoalan Fisika-nya. Masalah gelombang
elektromagnetik. Seperti biasa kujelaskan panjang lebar. Akhirnya
dia mengerti. Saat dia sedang mengerjakan tugas, kuperhatikan
seluruh tubuhnya. Dia duduk di sebelahku. Kok dia tidak memakai kaos
dalam lagi? Apa masih basah?Sambil dia mengerjakan tugas, kutanya
dia, "Tin, kaos dalemmu masih basah ya.. kok nggak dipake?"
tanyaku. "Lho Mas Pri kok merhatiin Titin siihh.." Aku diam
saja. Bingung mau ngomong apa. Hening karena masing-masing
mengerjakan tugasnya.
Setelah selesai semua, Titin membuka
pembicaraan. "Maasss.. Titin sengaja nggak pake kaos karena Titin
pengen Mas Pri pegang susu Titin seperti kemarin. Abis enak lhoo..
Mas.. Mas mau khaannn.." kata Titin. "Mas kan sayang aku,"
sambungnya. Penisku mengeras dengan perlahan-lahan mendengar
permintaan Titin. "Eeee.. mmm gimana yaa.." jawabku bingung dan
senang. "Oke deh Mas mau. Tapi Mas mau tutup dulu pintunya. Takut
ada yang liat.."
Setelah menutup pintu, aku berkata,
"Sekarang Titin duduknya mepet Mas.." Dia menggeser duduknya,
kurengkuh pundaknya, dia menatapku. Kukatakan, "Mas sayang sama
Titin.." Lalu dengan penuh perasaan kucium pipi, kening, mata,
hidung akhirnya bibirnya. Dia hanya merem saja. Seperti biasa kami
hanya berciuman bibir. Tangan kananku memeluknya, tangan kiriku ke
dadanya. Kuremas perlahan-lahan kiri dan kanan bergantian.
"Aaacchhh.. Enak banget Masss.. aaaccchh.." desahnya. Saat dia
mendesah, tanpa sengaja lidahnya bertemu dengan lidahku. Aku
memainkan lidahnya dengan lidahku. Dan dia sepertinya mengerti dan
membalas. Lidah kami saling membelit. Senjataku sekarang sudah keras
sekali. Agak sakit karena posisinya miring. Aku biarkan. Terbayang
semua adegan Mbak Nunung. Kuturunkan ciumanku ke lehernya. Dia makin
mendesah-desah. "Aduuuhh.. Maasss.. ooohh.. ooohh.."
Aku
ingin memegang susunya langsung tapi Titin marah nggak ya?. Kucoba
telesupkan tangan kiriku melalui celah ketiak dasternya. Oh halusnya
daging kenyal itu. Besarnya kira-kira sebesar bola tennis. Ternyata
Titin tidak marah. Malah dadanya makin dibusungkan ke depan.
Kurasakan putingnya makin menonjol. Aku sentuh. Dia tersentak dan
mendesah, "Ya.. ya.. Mas.. yang sebelah situ enak Mass. Terusin
Mass.. aaacchhh.." Kupuntir puttingnya, dia makin
menggelinjang.
Akhirnya aku tak tahan lagi. Aku bilang ke
Titin, "Tin, Mas mau cium susumu boleh khaann?" Titin diam saja
sambil memandangiku tapi jawabannya adalah dia melepaskan dasternya.
Aku kaget atas reaksi Titin. Di hadapanku sekarang Titin sudah
telanjang dada. Dadanya bagus sekali bentuknya. Susunya bulat.
Kira-kira sebesar bola tennis. Putingnya merah muda agak ke atas
dengan putingnya yang menonjol keluar. Aku terpana.
"Mass..
ayo dong jangan diliatin aja. Katanya mau nyusu.." Aku tersadar dan
langsung mencium susunya. Kulumat putingnya bergantian. Kurebahkan
dia di bangku. Nafasnya semakin memburu. Susunya semakin keras.
"Ochh.. Masss. ooohh.. aaahh.. aduuhhh.. aaahh Mass
nakaalll.."Tanganku yang tadinya memeluknya, secara refleks mulai
mengusap-usap pahanya. Dari dengkul sampai selangkangan.
Berkali-kali kulakukan hal itu. Setiap sampai di selangkangannya,
pahanya membuka. Kusentuh vaginanya dari luar CD-nya. Dia makin
menggelinjang dan makin keras pula desahannya. Kok basah? Ah
paling-paling keringat. Memang saat itu badannya sudah basah dengan
keringat. "Mass.. oohhhh.. hhaahh.. oohh ahhh.."
Takut ibuku
bangun, kucium mulutnya. Kami saling melumat lagi. Lumatannya sudah
seperti orang yang kesetanan. Tangan kiriku di dadanya, dan tangan
kananku di atas vaginanya. Tanganku mulai menyelusup ke dalam
CD-nya. Terasa olehku bulu-bulu halus. Makin ke bawah kutemukan
garis belahan. Kumasukkan jari tengahku ke belahan vaginanya. Basah
dan licin. "Ooohh.. ternyata basahnya dari sini," pikirku. Kumainkan
jari tengahku. Kutekan dan kugosok dengan pelan, makin lama makin
cepat. Pantatnya bergerak-gerak seirama dengan gosokanku. Tak lama,
tiba-tiba dia menjerit dan tersentak, "Maasss.. aku pipiisss..
aaahh.." Tanganku basah dengan cairan lengket licin. Dia langsung
terlentang lemas dengan nafas yang tersengal-sengal seperti orang
yang habis dikejar anjing.
Wajah Titin merah, berkeringat dan
terlihat amat cantik dengan senyumnya yang mengembang.Saat itu aku
tidak tahu apa itu orgasme, G-spot, atau istilah seks
lainnya. "Maass.. Titin lemeesss.." katanya. "Mas.. tangannya
ada pipis Titin tuuhh.." sambungnya lagi. Kutarik tanganku dari
celana dalamnya. Aku bingung. Kok pipisnya lengket begini? kucium.
Kok nggak pesing yaa?
Aku teringat lelaki yang bersama Mbak
Nunung. Dia saja mau jilatin punyanya Mbak Nunung. Kucoba
jilat cairan yang ada di tanganku. Rasanya asin semu manis gurih dan
agak sepet. Ini apa ya..? Kucoba jilat lagi. Enak kok. "Mas Pri
joroookkk.. pipis Titin kok dijilat.." "Tin, pipismu kok lengket
begini?" tanyaku pada Titin sambil kudekatkan tangan kananku ke
wajahnya. Dia perhatikan dengan seksama tanganku. "Biasanya
nggak begini Mass.. biasanya seperti air. Tapi yang ini kok lengket
ya..?" gumannya dengan bingung. "Dan waktu Titin pipis tadi,
Titin rasanya seperti melayang-layang lho Mas. Enaakkk banget.
Sekarang Titin lemes," sambungnya.
Tiba-tiba dia bangkit
seperti teringat sesuatu. Padahal tadi dia mengaku masih
lemes. "Singkongnya Mas Pri keras nggak?" tanyanya sambil
tangannya masuk ke dalam sarungku. Aku kaget karena tiba-tiba Titin
memegangnya, kutepiskan tangannya. Tapi sepertinya dia tidak
rela. "Tadi Mas Pri megang-megang tempekku, aku diemin. Sekarang
kok aku pegang singkong Mas Pri Masa nggak boleh?" rajuknya. Aku
bingung. Akhirnya kudiamkan, dia pegang penisku. Aku didorongnya
supaya tiduran terlentang.Dia mengangkat sarungku, dia pegang dari
luar CD-ku. "Besar sekali Maass.." katanya. "Kok celana
dalemnya basah? Mas Pri pipis ya?" sambungnya. Mungkin dia
membandingkan dengan saat kita mandi bersama dulu. Dulu memang
penisku tidak tegang karena sudah terbiasa bersama. Dielus-elus
penisku. Waaahh.. rasanya penisku jadi tegang lagi setelah agak
melunak. "Waahh.. Mass makin besar tuuhhh.. sakit nggak?" katanya
sambil terus mengelus. "Aaahh.." aku mengerang keenakan dielus
seperti itu.
Karena semakin tegang, kepala penisku akhirnya
nongol di atas karet celana dalamku. Kepala penisku
diusapnya. "Aaahh.." aku seperti kena setrum listrik. "Air apa
ini Mas, kok bening, agak licin?" tanyanya. "Akuuu nggak
tttaaauuu.. ooohh.." sahutku keenakan. Ditariknya celana dalamku
sehingga penisku pun berdiri tegak. "Maaass lucu seperti tiang
listrik," katanya. Lalu penisku digenggamnya,
diremasnya. "Aaahh.." aku mendesah-desah keenakan. Didekatkan
wajahnya ke penisku, diperhatikan denganseksama. "Maasss.. yang
coklat-coklat ini isinya apa?" katanya sambil telunjuk tangan
kirinya menusuk-nusuk bijiku. Tangan kanannya tetap menggenggam
penisku. Lalu digenggamnya bijiku dan diremas-remas. "Lho.. lho..
kok isinya lari-lari.. lucuuu.. Maasss.." katanya lagi. Aku sudah
kehabisan kata-kata untuk menimpalinya karena
keenakan.
Mungkin waktu dia mengintip, dia melihat Mbak
Nunung mengocok-ngocok penis, dia bertanya, "Mas, kalau aku giniin
sakit nggaakkk?" katanya sambil tangannya mengurut penisku naik
turun. "Aaahh.. Tiiinnn eeennnuuaaak baangeeettt Tiinnn.." kataku
sambil mendesah. "Ya.. ya.. gitu Tiiinnn.. ennaakkk
Tiiinnn.." "Dicepetin doonngg Tiiinnn.." Aku merasakan penisku
seperti diurut-urut. Sakit sedikit, geli, enak rasanya jadi
satu.
Tiba-tiba aku merasakan ada yang mau keluar dari dalam,
lalu aku teriak, "Cepeettiinn.. Tiiinnn.. aku.. akuuu.." Dan belum
selesai aku ngomong, "Croot.. crooott.. crooottt.." tiga kali
spermaku muncrat ke wajahnya. Dia kaget, langsung mengelap wajahnya
dengan sarungku. "Mas.. Mas.. kenapa Mas.. sakit ya.." tanyanya
sambil menatap wajahku. "Nggak Tiinn.. Enaakkk banget Tiinnn.."
kataku sambil terengah-engah. Lalu dia melihat ke
penisku. "Lho, Mas kok jadi kecil siich.." tanyanya
heran. "Nggak tau kenapa," sahutku.
Kemudian kurangkul dia
dan kupeluk sambil kucium pipinya. Kami tiduran sambil
berangkulan. "Terima kasih Tiinn. Tadi itu enaaakkk sekali. Mas
Pri sekarang lemas." "Sekarang Titin pulang gih.. udah malam.
Besok kesiangan.." Lalu kucium pipinya, keningnya dan bibirnya.
Dia bangkit dan memakai dasternya. Lalu mencium pipiku dan pamit
pulang. "Da..da Maaasss.. Titin pulang dulu yaa. Terima kasih
Maasss.." Aku bangun memakai celana dalamku yang tadi
dipelorotkan Titin, dan tidur karena kelelahan.
Seperti
biasa, setelah aku pulang dari pasar, kucari Titin. "Kemana lagi
ini anak.. pasti ketiduran lagi," pikirku. Aku masuk ke dalam
rumahnya. Benar, dia lagi tidur memakai selimut. "Ngapain ini
orang siang-siang tidurnya kok selimutan? Apa sakit?" batinku.
"Jendelanya juga ditutup?" Kupegang keningnya, "Nggak panas kok..
kuperhatikan tubuhnya. Kok putingnya kelihatan menonjol? Dia
selimutan memakai kain jarik tipis. Jadi aku tahu kalau putingnya
menonjol. Aku sibakkan selimutnya pelan-pelan. "Lho.. kok nggak pake
baju..?" batinku. Kutarik selimutnya semua. Melihat tubuh indah
terpampang di hadapanku, penisku mulai berkedut. "Kok tangan
kanannya ada di dalem celana dalemnya? Abis ngapain dia?" batinku.
Melihat dadanya, penisku mulai tegang, kudekatkan wajahku, kucium
pipinya, hidungnya, matanya. Eh.. dia menggeliat bangun. Mungkin
kena angin. Jadi terasa dingin.
Dia kaget melihatku. Langsung
menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya. "Eh.. Mas Pri. Lagi
ngapain," katanya. "Tadi kamu aku panggil-panggil tapi nggak
jawab, lalu aku masuk. Aku kaget liat kamu tidur kok telanjang,
selimutnya berantakan. Mas mau betulin selimut kamu," kataku membela
diri. "Jadi Mas udah ngeliatin aku tidur dari tadi?" "Lhaaa..
abis kamu tidur kok nggak pake baju. Salah kamu doong." "Lho..
Mas aja yang masuk ke rumah orang nggak permisi.." "Yaa.. udah
Maass pulang. Bangun sana nyuci sama masak." kataku sambil
meninggalkannya. "Yee.. gitu aja Mas marah. Sini dulu dong
Maasss.." katanya manja sambil menarik tanganku agar duduk di
dipannya. "Maaass aku kepingin seperti semalem doongg." katanya
sambil menatapku. "Nggak ah.. masak siang-siang gini. Entar malem
aja ya." "Nggak.. maunya sekarang.." rengeknya. Tau-tau dia
merangkulku dan mencium bibirku. Aku tidak bisa menolaknya, kubales,
kumainkanlidahku di mulutnya. Dia membalas. Nafasnya mulai
tersengal-sengal. Selimutnya kusingkirkan, kuremas-remas susunya.
Ciumanku mulai turun ke lehernya, turun lagi ke pundaknya, lalu
mulutku melumat puting kanannya. Kepalanya menengadah sambil
mendesis-desis. Persis seperti suara Mbak Nunung. "Oohhh.. Mas Pri..
enak Maasss.."
Lalu kurebahkan dia ke dipan. Tangannya mulai
masuk ke dalam celanaku. Memegang penisku di dalam celana. Mungkin
karena kurang leluasa, Titin mulai menurunkan celana pendekku dengan
CD-nya sekalian. Aku bantu dengan mengangkat pantatku. Tanganku pun
mulai menurunkan celana dalamnya. Akhirnya dia bugil di
depanku. "Mas curaaang.. kok kaosnya nggak dilepas.." "Lho..
usaha doong." Lalu dia melepas kaosku. Kami lalu berguling-guling
di dipan sempit tersebut, kutindih badannya. Mulut kami saling
mengunci tidak bisa berkata apa-apa. Tangannya memegang penisku.
Agak sakit. Kuraba seluruh badannya termasuk paha, punggung, perut.
Setiap kuraba vaginanya, pahanya selalu direnggangkan.
Aku
lalu teringat Mbak Nunung. Dulu si lelaki kok menjilati kelamin Mbak
Nunung. "Kucoba ke Titin aahhh.." batinku. Lalu ciuman kuturunkan ke
lehernya, kedua susunya. Jari tengah tangan kananku masuk ke belahan
vaginanya. Sudah basah. "Aaahh.. ooohh.. sshhh.. ssshh.." dia
mendesah agak keras, kudiamkan karena aku yakin saat sekarang di
sekeliling kontrakanku pasti sepi.Lalu ciumanku turun ke perutnya.
Kujilat-jilat pusarnya. Dia makin menggelinjang. Ciumanku terus
turun sampai akhirnya wajahku tepat di depan vaginanya. Aku tak
peduli gimana rasanya, kucium vaginanya. Baunya segar
sekali.
Titin kaget sekali saat kucium kewanitaannya. Dia
bangun dan melihat saja. "Mas Pri.. Joroookk.. tempppeeek Tittiiin
kok dicium.." desahnya tapi tidak tampak adanya penolakan. Saat
kumasukkan lidahku, Titin mendesah, "Aaahh.. Maaass.. tempek Titiinn
diapainn.. aaahh Masss.. jangan.. adduuuhh.." Aku terus saja
menjilat benjolan kecil di dalam kemaluan Titin. Sementara Titin
menggelinjang tidak karuan.
Kira-kira lima menit, tiba-tiba
Titin menekan kepalaku dan mengangkat pantatnya sehingga aku agak
sulit bernafas. "Maaasss.. Titin mau piippiiiss.." Menyemburlah
cairan hangat seperti tadi malam. Karena aku sudah tahu rasanya,
kujilat semuanya sampai habis. Uh, enak sekali rasanya.Manis, asin,
gurih jadi satu. Aku naik ke atas dan memeluknya sambil
tiduran.
"Mas.. Titin capek.." sambil wajahnya ditaruh di
dadaku. "Mas kok nggak jijik sih jilatin tempek Titin?"
tanyanya. "Mas kan sayang Titin. Jadi Mas nggak akan jijik."
sahutku sekenanya. "Terus, pipis Titin juga dijilat? emang
enak?" "Enak kok.. kayak tajin."
Bersambung ke
Cerita Hot : 03 |