|
"
Ya,
Allah, Engkaulah Satu Tuhan Yang Maha Penting, mengapa Segala
Awal, dan tujuan Segala Akhir bila
dimanakah Kekasih kan datang menepati janji .. kecuali
untuk memohon hanya pada sisi-Mu , jalan-Mu "
|
| dunia
dan air mata, ataukah tangis abadi ..?
pertanyaan, pencarian,
keputusan dan kepuasan
seisi bumi, sejagat raya,
seluruh yang pernah tercipta bersama mimpi
hamba hanya bawakan sesuatu
kehinaan dari nurani, gelap dan luka, penderitaan .. !
keterpisahan .....
cacat dan durhaka, kelemahan
diri, kebekuan hati
maafkan aku Ibu, maafkan aku
ayah, semua yang mendapat luka, maafkan ..
Allah sudah menentukan
Allah , Tuhan-Nya Muhammad,
Tuhan segala Rasul dan yang tersembunyi
hamba-Mu, yang paling hina
ingin kembali ..... menemukan Kekasih
sebagai bukti
bahwa makna yang tak
terucap ketika sentuhan berpadu, akan bersemi kembali
Wahai Allah Pengenggam Alam
Semesta,
Engkaulah Sang Pengampun DOSA-DOSA
dan DOSA ..... kami,
meski terlampau sering kami
berlebih-lebihan dan melupakan-Mu untuk kesenangan kami,
hanya belai kasih-Mu yang mampu
menyelamatkan kami semua
selamatkan kami ya Allah ..
kaum sidik-hati |
“Aku
Tidak Bersedih” : Dari
Seorang Putera Syuhada Kashmir
I Am Not Sad -
Translated by Umm Rawhiyah
Ini
adalah terjemahan (dari Bahasa Urdu) dari sebuah surat yang
ditulis oleh seorang anak, putera salah seorang Syuhada
Kashmir. Surat ini ditujukan kepada Allah SWT, setelah sang
Ayah tercinta gugur syahid di Tanah Jihad Kashmir.
Yang
aku sayangi, Allah. Betapa Agungnya Engkau. Rahmat dan
karuniaMu tak berhingga kepada kami, tetapi tak sedikit kami
lupa berterima kasih kepadaMU.
Betapapun,
Engkau tak pernah berhenti memberkati kami.
Allah,
yang aku sayangi. Betapa Agung Engkau. Engkau membimbing kami
ke Jalan Lurus, Engkau ajari kami segala amal kebajikan yang
dapat mengantar kami menuju Gerbang Surga, tetapi betapa
sering kami melalaikan amal kebajikan yang dapat mengantarkan
kami sampai ke Gerbang Surga.
Allah,
bagaimana kabar ayahku? Apakah ia sehat dan baik? Engkau tentu
telah ijinkan ayahku memasuki Negeri Abadi, Iya kan?!
Ya
Allah! Ayahku telah telah meninggalkan segalanya dan
mengorbankan seluruh yang ia punya, untuk meninggikan DinMu.
Dalam hidupnya, ia tak punya ambisi apapun untuk dikejar,
apakah harta, kekayaan, bahkan kenyataannya, ia telah
melupakan segalanya kecuali satu…….. bahwa Din Islam harus
tegak berjaya di bumi ini. Allah….! Karena itulah, ia sering
membacakan kepada kami kisah tentang Muhammad Qasim, tentang
Mahmood Ghazwani, tentang Tariq Bin Ziyaad, tentang Khalid bin
Walid. Bahkan, ia juga, seperti Para Pahlawan tadi, telah ikut
serta mengangkat senjata, berjuang menahan musuh, dan tidak
mundur hingga tetes darah terakhir.
Allah,
yang aku sayang…. Aku titip salam rindu untuk Ayah.
Sampaikan padanya Ya Allah… bahwa putera ciliknya ini dalam
keadaan baik dan sehat. Oh ya, ceritakan juga padanya ya
Allah, bahwa putera ciliknya ini tengah belajar berpuasa
pertama kalinya di bulan Ramadlan ini. Alhamdulillah, belum
ada yang bolong puasanya.
Ya
Allah… katakan pada Ayah, supaya ia jangan mengkhawatirkan
kami; hidup di atas dunia ini begitu pendek. Ibu sering
berkata, akan tiba satu saat ketika seluruh kehidupan di dunia
ini tiba-tiba berakhir, lalu tak ada lagi ayah, ibu, abang,
kakak, anak, semuanya. Tetapi pada Hari itu, para penjuang
yang Syahid diijinkan memohon syafaat untuk tujuhpuluh orang
keluarganya, lalu memimpin mereka memasuki Surga, Tanah Abadi.
Allah…
sampaikan pada ayah, bahwa setiap kali ibu bercerita tentang
diri ayah, ibu jadi sedih sekali, tapi ibu selalu membesarkan
hatiku. Di depan kami ibu jarang menangis. Tapi aku tahu, ia
sering menangis diam-diam. Allah yang aku sayang… bilang
sama ayah supaya ia jangan merasa sedih juga. Ibu seorang yang
tabah, insya Allah. Untuk mendapatkan nafkah sehari-hari, ibu
kini bekerja menjahit baju, juga mencuci piring dan pakaian di
rumah-rumah tetangga kita. Kalau pagi ibu mengantar aku ke
sekolah. Sorenya ibu mengantar aku ke masjid. Aku belajar
mengaji pada ustadz di masjid. Allah…. Katakan pada ayah,
bahwa ibu tak pernah mengeluh pada siapapun.
Setiap
malam, setelah ibu menyelesaikan pekerjaannya, kini ibu yang
menggantikan ayah, menceritakan kisah-kisah sejati, kisah
keteladanan para Mujahid dan Syuhada, kisah orang-orang dari
Kaum Abadi…. Ibu juga selalu berpesan, jika aku dewasa nanti,
aku juga harus mengikuti jejak ayah.
Allah
yang aku sayang… Hari Raya Idul Fitri sebentar lagi tiba.
Kawan-kawanku membeli sepatu dan baju baru dengan ayah mereka.
Kawan-kawanku telah juga memiliki hadiah untuk saling
ditukarkan di Hari Raya. Aku juga ingin punya sepatu dan baju
baru. Tapi setiap kali aku meminta ibu membelikannya, ibu
tidak menjawab. Ibu hanya diam lalu pergi meninggalkan aku.
Kini aku tidak lagi ingin baju dan sepatu baru. Aku sayang
pada ibu.
Tapi,
Allah! Katakan pada ayah, supaya jangan merasa khawatir.
Walaupun aku tidak punya sepatu baru, walaupun aku tidak punya
baju baru, lalu apa masalahnya? Idul Fitri hanyalah satu hari,
seperti hari-hari yang lain. Ia pasti berlalu. Dari pada
melalui Idul Fitri bermain dengan kawan-kawan, daripada pergi
ke pasar-pasar, aku akan menemani ibu. Lagi pula, aku kan
bukan anak kecil lagi. Aku sudah besar.
Allah!
Sampaikan pada ayah, betapa kami bahagia, sangat bahagia.
Betapa kami bangga padanya. Kawan-kawanku punya ayah di dunia,
tapi aku punya ayah dari Kaum Abadi……
Sampaikan
pada ayah, kami tidak kekurangan apa-apa. Allah Penjamin dan
Pembela. Allah kini jadi ‘ayahku’ di dunia. Sampaikan pada
ayah, supaya selalu ingat pada kami, doakan kami, dan jangan
bosan menantikan kami, di Gerbang Surga….
Oh
ya, katakan juga pada ayah, sekarang aku tidak lagi suka
menangis.
Tak
ada lagi orang yang akan menasehati aku, tak ada lagi sosok
yang suka mengajak aku bergulat dan berkelahi, tak ada lagi
ayah yang akan memarahi aku……….. tapi aku tidak menangis
kok. Ibu selalu membesarkan hatiku. Kami bahagia, insya Allah.
Jika
aku mendengar nasib kawan-kawanku di Afghanistan, di Palestina,
atau di Iraq, bagaimana rumah-rumah mereka dihancurkan, dan
orang tua mereka dibunuh oleh kafir penindas, aku lupa akan
kesedihanku. Aku suka lihat gambarnya di koran dan majalah;
mereka duduk lunglai, di sela reruntuhan rumahnya, di antara
jasad orang tuanya. Karena itulah, Allah, aku ingin Engkau
katakan pada ayah supaya ia jangan bersedih. Karena aku tidak
lagi bersedih
Abdul
Hameed Hamzah
|