|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BUNDA, AKU INGIN MENIKAH, -- rahasia di balik bukit Cinta
Seketika
mata tua itu berbinar senang seraya menatap anak laki-lakinya.
Terlintas di pikirannya, gubuk kecil ini akan penuh dengan limpahan
kebahagiaan.Ditemankan seorang gadis cantik yang kelak menjadi
menantunya, hingga terbayang pula celoteh, canda dan tawa cucu-cucu
yang memenuhi setiap sudut rumah. Ditatapnya
kembali pemuda tanggung yang berdiri dengan gagah di depannya. Ia
telah tumbuh besar, bukan lagi bocah kecil yang dulu sering dijewer
telinganya saat nakal. Tak pula sepotong kue yang disodorkan akan
membuatnya menghentikan tangisan. Bocah ingusan itu telah dewasa,
bahkan terlihat lebih dewasa dari usianya. Sorot matanya tajam
laksana elang, rahang kukuh
dan ditumbuhi cambang, serta tubuh yang tegap bagaikan prajurit yang
tak sabar menanti genderang perang ditabuhkan. Seakan
tak percaya pada sekian waktu yang telah berlalu, tangan yang telah
keriput dimakan usia itu bergerak perlahan menyentuh wajah di
hadapannya. Lalu dielusnya dengan lembut, penuh dengan selaksa cinta.
Paras wajahnya mewarisi ketampanan asy Syahid suaminya tercinta.
Ia memang telah dewasa dan saatnya telah tiba untuk menikah, hati
kecilnya bergumam bahagia. Sepekan
pun berlalu dalam guliran usia dan waktu. Seiiring itu pula, alunan
bacaan al Qur'an semakin terdengar merdu dan syahdu. Hampir setiap
saat, lelaki itu selalu bersama mushab al Qur'an kecil yang tak
pernah jauh dari sisinya. Menjelang saat pernikahan, ia memang
semakin dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ibadah wajib bahkan
sunnat pun tampak semakin khusyuk
dilakukan. Saat
ini, pemuda itu kembali berdiri di hadapan ibunda tercinta. Ia
semakin tampan, wajahnya tampak bercahaya, gagah walaupun tanpa
mengenakan pakaian pesta seperti layaknya mempelai yang akan menikah.
Ia tersenyum, sedikit menganggukkan kepala lalu memeluk dengan
penuh kasih sayang wanita yang melahirkannya. Pelukannya lambat laun
semakin erat, bagaikan sebuah salam perpisahan. Ibunda
pun menangis, isakannya terdengar saling memburu dan membasahi
kafeyah. Mata hatinya sebagai seorang ibu, telah menerka makna
pernikahan sesungguhnya yang diinginkan buah hati tercinta.Sekelebat
kebahagiaan yang terlintas beberapa hari lalu di pikirannya,
semata-mata hanyalah pelipur lara bagi fitrahnya sebagai seorang
ibunda. Pemuda yang lahir dari rahimnya, dibuai dan telah dibesarkan
ini bukanlah miliknya, tapi milik zamannya. Kini anak panah
itu telah siap meluncur dari busur, pedang siap terayun menebas
musuh, butir peluru pun siap ditembakkan dan melaju. Untaian
do'a, baluran cinta dan alunan senandung jihad yang senantiasa
menemani lelap tidur anaknya telah menjelma dalam setiap helaan
nafas dan butiran darah. Hidup bagi seorang laki-laki sejati di bumi
al Aqsa hanyalah perjuangan yang tak pernah padam, mengusir zionis
jahanam, laknatuLlah. Dilepaskannya
kepergian buah hati tercinta dengan ikhlas, penuh keredhaan dan
iringan do'a. Tak ada lagi tangis, apalagi sedu sedan dari sudut
mata tuanya. Hanya tatapan kasih sayang dan senyum kebanggaan. Sang
pemuda melangkah dengan penuh keyakinan menuju gerbang pernikahan
yang dihiasi mahligai cinta. Mahar yang akan diberikan pun telah
siap di balik baju, melilit sekujur tubuhnya. Malam
itu, hanya sepenggal bulan bergelayut di awan.Angin berhembus lirih,
burung malam pun enggan bersenda gurau. Senyap dan kelam membalut
kesunyian. Pecah... Menggelegar
membelah angkasa. Lalu tanah pun merekah oleh suara-suara tapak
sepatu bot dan deru mesin pembunuh. Mereka bergerak menuju semburat
titik api yang memancar dari Jalur Gaza. Kata makian dan sumpah
serapah berhamburan, meracau tak karuan. Wajah-wajah itu
berang, marah dan menyeringai bagaikan srigala yang mulutnya masih
berlumuran darah. Sisa kebisingan itu menelisik dari celah-celah dinding, menyapa seorang perempuan yang baru saja selesai menunaikan sholat malamnya di sebuah gubuk tua. Ia tersenyum, lalu diambilnya sebuah mushab kecil, dan didekapnya dengan selimut kasih sayang. Lembut dibelainya, bagaikan membelai syuhada saat masih bocah. Ia bernyanyi kecil dengan senandung jihad,
seraya beringsut menuju sebuah kamar. Perlahan dikuaknya daun pintu
kayu agar buah hati tercinta tidak terjaga dari tidur. Dengan kasih
sayang lalu diletakkannya di pembaringan, dan ia pun beranjak keluar. Semerbak... Bau
harum menyeruak dan merebak dari kamar syuhada, harum bagaikan khas
keharuman sebuah kamar mempelai yang akan mereguk cinta di malam
pertama. *MERENGKUH
CINTA DALAM BUAIAN PENA* Al-Hubb
FiLlah wa LiLlah, Abu
Aufa (Sebuah api persembahan cinta untuk Amir Syuhada dan syuhada-syuhada lainnya) |
|
wind and fire, Republik Of Dreams, |
|
presented by JVM -prokeys |