| Sajak-Sajak Yohanes Manhitu Sajak-sajak berikut pernah terbit di Harian Pos Kupang NTT |
|||||||||
![]() |
|||||||||
| Balasan dari Firdaus Setiap tidur malamku kuantar dengan diam, Segala mimpi indah kuharapkan ucap salam; Sebaris kata kuulangi dari malam ke malam, Seutas kalimat kuucap dengan rasa dalam. Tak kusangka surga dengarkan seruan hatiku, Tak kuduga firdaus sedengkan telinga sucinya. Kini lembah ketakpastian tinggal bersama buih Dan keretaku tampak terus melaju dengan pasti. Separuh tahun kumenyelam dalam lautan tanya, Terus bertanya tentang hari esok dua hati maya. Kini sosok keraguan bertakhta dan bertitah. Biarlah biduk kegembiraanku terus melaju. Kupang, 24 Januari 2004 Mawar Kota Karang Di antara gugusan karang yang menjulang, Kutatap kuntum-kuntum mawar mekar. Karang jadi pagar taman yang kokoh. Semoga kaktus liar enggan melukai. Sekeras karangkah duri-duri mawar? Seliar kaktuskah wangi mawar mekar? Biarlah indera perasa yang bakal berujar Di antara kuntum-kuntum mawar mekar. Kuimpikan sebuah taman mawar yang luas Di antara batu karang tersusun menawan, Di tepi hutan cendana yang kembali hijau. Dan kasih-sayang jadi hujan tahu musim. Kupang, 10 Februari 2004 Gadis Nokia Setiap saat bila kutemui, Di mana saja, kapan saja: Di bus, di kampus, juga Di pasar dan di caf� mall; Pada pagi hari, siang, sore, Atau malam, padanya ada Aroma Nokia menyengat. Hand phone-nya Nokia, Bajunya bertuliskan Nokia, Tasnya pun �dibaptis� Nokia. Bagaimana dengan wajahnya? Oh, menawan laksana Nokia. Hobinya? Bertelemesra Nokia. Berpaham No-kis-me-kah dia? Kupang, 10 Februari 2004 Pesan Pengukir Lara Saat itu malam baru saja tiba, Ketika handphoneku menjerit. Kuterima pesan pembawa iba. Kini hatiku bukan lagi favorit. Impian dua hati jadi kisah bisu Yang berujung di lidah mandul, Tembang kasih kini terasa kaku Bak biduan yang baru muncul. Kenapa mesti dilanda duka lara, Akibat ulah kata pengirim bara? Bukankah hayat masih menyala Walau sejuta khianat menjala? Biarlah pesan duka segera sirna Bersama prahara dalam sanubari. Bukankah rembulan masih setia? Bukankah esok �kan ada mentari? Kupang, 12 Februari 2004 Wanita Itu Ia yang tlah temaniku tatap rembulan, Ia yang tlah bersamaku mandi mentari. Tapi kini ia tlah pergi, saatnya tlah tiba Untuk tatap rembulan tanpa bujukan, Untuk dapat mandi mentari mandiri. Bukan kehendak hatiku untuk lepas Kepergian dian di titian masa depan. Kuhanya terpaku bisu bak sbuah arca, Tatap langkah tak terduga di seberang. Pantang kucegah wujud satu keputusan. Wanita itu kini tlah pergi, ia tlah berlalu. Dan mungkin tak pernah ingin kembali, Walau di dermagaku masih ada ruang Buat biduknya yang ingin berlabuh. Smoga ia slamat sampai ke tujuan. Kupang, 12 Februari 2004 Senja di Samosir Sang raja siang baru berlalu, Meninggalkan hamparan air. Segala makluk beranjak ke sarang, Terbang dan berlari dalam tenang. Dari balkon yang hadap ke danau, Kutatap gelombang air gerak riang, Sebuah kapal yang menuju ke bandar, Sekelompok gadis cilik selesai basuh diri, Dan seberkas sinar lampu dari kejauhan. Inilah senja di Tuktuk, Pulau Samosir. Segalanya amat tenang dan damai, Walau harga sepiring nasi amat mahal. Di sini, damai dan tenang pasti kaumiliki. Tuktuk, Samosir, 25 April 2003 Sebuah Penantian Suci Kini kutahu, kunantikan seorang penyelamat negeri, Yang singkirkan duka dan taburkan benih veritas. Sesepuh negeri dan sahabat karib sang dunia, Yang selalu ajarkan, cintai dan tulis kebajikan, Yang pelihara persahabatan juga kebijaksanaan, Yang hantarkan negeri kepada hidup penuh madu. Kulihat seekor garuda datang dari gerbang luas nan baru Bawa malaikat yang �kan tebus dunia dengan kebenaran. Ia yang berucap, �Bila rindu selamat, sucikan jiwamu!� Kuyakin, kini sang negeri tak lagi cucurkan air mata. Yang cinta pada negeri, cinta dirinya juga firdaus, Dan yang coreng durja negeri, mengukir maut. Kupang, 15 Maret 2003 |
|||||||||
| Kembali | Berikut | ||||||||