| Sajak-Sajak Yohanes Manhitu |
|||||||
![]() |
|||||||
| Dalam Keheningan Fajar Di kala fajar menyingsing hendak menerangi alam yang dilepas malam, aku berjalan menyusuri beberapa bangunan tua yang tergusur oleh gedung-gedung percakar langit, bahkan nyawa, yang mengepung mereka. Mungkin pemiliknya pergi karena takut ditimpah gedung yang runtuh. Di dekat bangunan-bangunan tua itu, aku menghentikan langkahku di pinggir sebuah telaga kecil: telaga yang dahulu aku kenal sebagai telaga indah dengan ikan-ikan yang berwarna-warni dan berenang kian kemari, berkejar-kejaran dengan gembira. Dahulu aku sering berhenti sebentar di sana untuk menatapnya, lalu meneruskan lari pagiku, tanpa mempedulikan pemilik kolamnya yang selalu menatapku dengan tanda tanya. Namun sekarang telaga itu mulai kekurangan air, seiring dengan perginya para penghuni bangunan-bangunan tua itu. Aku menatapnya sesaat, kemudian berlalu, sambil membayangkan hatiku yang hancur. Membayangkan gejala ketidaksetiaanmu, ketidakjujuranmu yang mungkin akan membawa aku kepada ketidakpastian yang tak berkesudahan. Laksana telaga yang mulai kekurangan air, aku mulai merasakan kurangnya curahan kasihmu padaku. Mungkinkah suatu saat nanti hatiku ini akan menjadi telaga yang kehabisan cinta? Aku tak tahu. Aku tak suka menebak teka-teki. Yang kusukai hanyalah kepastian, ya kepastian yang pasti. Mengapa aku harus berandai-andai? Dari telaga itu aku mengayunkan langkahku ke sebuah taman nan menawan dan menyegarkan kalbu. Di sana kutatap rumput yang tumbuh subur menghijau, bagaikan permadani indah yang terbentang luas dari singgasana hingga tangga-tangga istana para sultan Arab dalam cerita seribu satu malam. Aku ingin jiwaku setegar rumput yang tak gentar menghadapi terpaan angin lembah yang mengancam hayat. Aku bertanya pada diriku sendiri, �Apakah aku sedang bermimpi saat ini?� Oh, tidak....tidak. Aku sungguh-sungguh sedang berada di sebuah taman, taman impian yang nyata. Hatiku memang sangat mengharapkan tetesan-tetesan embun jiwamu, bagaikan semak-semak kering di padang sabana Afrika yang menantikan hujan yang entah kapan akan tiba. Hati kecilku berbisik tanpa kusadari, �Oh, Tuhanku, bawalah dia kembali ke haribaan kalbuku.� Jogjakarta, 21 Agustus 2002 Senandung Senja Sang surya hampir mengucapkan �selamat tinggal� kepada sekalian makluk; sang raja siang hampir lenyap terkubur senja; sang kegelapan hampir menampakkan kuasanya atas alam raya. Di sana, di langit, di cakrawala nan luas lagi gelap, di balik mega yang mengkhawatirkan keselamatan sang surya, sang dewi malam beranjak meninggalkan peraduannya. Walau tersipu malu, ia nampak juga dari balik awan yang nakal mempermainkannya. Di senja itu, ya di senja itu, aku mengingatnya dengan jelas sekali, aku berdiri di atas bukit yang baru saja dimakan si jago merah siang harinya, menantikan cintaku yang hampir jadi. Ya hampir jadi Namun sayang seribu sayang, rupanya aku belum beruntung. Cinta yang kuharapkan hampir jadi itu tak pernah kunjung jadi. Aku hanya melongo menyesali kejadian itu, yang membuat sakit hatiku menjadi-jadi. Akhirnya, terjadi juga kejadian yang tak pernah terjadi Sakit rinduku semakin menjadi-jadi Kuharapkan ini tak terjadi lagi. Ternyata dalam hidup ini tak semuanya harus jadi. Banyak yang sudah jadi, ada yang hampir jadi, yang mungkin juga masih banyak yang tak akan pernah jadi. Aku mungkin hanya seorang insan yang hampir jadi Jadi apa? Hampir jadi kasihmu? Oh, maafkan daku, sekali lagi maaf. Bukan itu yang aku maksudkan, sayangku. Yang ingin kukatakan adalah aku hampir jadi makluk tak berarti karena kehilangan harapan akan cinta suci. Ya, demikianlah cerita tentang kejadian yang kualami di senja yang penuh harapan nan sirna. Jogjakarta, 21 Agustus 2002 Sebuah Tatapan Sejak semalam, ketika jarum jam hendak menunjukkan pukul dua belas tengah malam, aku belum mampu memejamkan sepasang mataku ini. Aku telah berusaha semampuku untuk membuat keduanya beristirahat sejenak, berhenti menatap dinding bercat putih yang tak dapat memahami perasaan hatiku. Oh, dinding bercat putih, seandainya dikau dapat sedikit saja mengerti segala yang kurasakan, barangkali dikau akan berusaha memberiku sepatah dua kata yang membuat aku senantiasa ingat akan tujuan perjalanan hidupku yang masih panjang ini. Saat ini aku baru saja memasuki hari keempat di tahun yang baru ini, tahun dua ribu tiga - tahun yang kuharapkan menjadi tahun yang penuh berkah dan harapan akan terlaksananya selaksa rencana hidupku. Tuhan�aku telah berusaha merancang segalanya bagi hidupku, namun Engkau jualah yang harus merestuinya. Kuharap Engkau akan mengatakan: �Anakku yang masih bimbang, aku telah mengetahui segala keinginan baikmu dan akan mengijinkanmu mencapainya.� Dan aku akan membalas demikian: �Syukur kepada-Mu, O, Tuhanku.� Sebentar lagi aku akan kembali mencoba untuk memejamkan kedua mataku ini untuk kesekian kalinya. Semoga mereka tidak bertahan untuk terus menatap tembok putih bisu lagi, tembok yang memang telah ditakdirkan hanya untuk membentengi tanpa berkata-kata, apalagi menyodorkan sekeping makna. Betapa malang nasibmu, tembok putih! Aku merasa bersalah karena telah memaksa kedua mataku untuk terus menatap dengan menghabiskan dua cangkir kecil coffee mix. Maafkan aku, oh, kedua mataku. Sekarang aku akan segera berbaring karena aku telah kehabisan kata, apalagi makna. Jogjakarta, 4 Januari 2003 Buat Sosok Kucing di Dermaga Tua Wahai engkau, Sang Kucing penunggu dermaga, yang enggan beranjak� Hamba telah mencoba mencerna bait demi bait untaian kata-katamu yang elok, namun menghembuskan hawa ketakutan sekaligus keraguan dalam benakku yang tulus lagi damai. Hamba belum genap sewindu belajar memilah kata; belum genap sepekan belajar menimba makna, sehingga hamba masih sangat ragu untuk mengucapkan kata "mengerti", "paham", atau apalah, akan setiap butir kata yang engkau tuangkan dengan jemarimu yang menari-nari lincah dan indah di atas secarik kertas. Ketahuilah, wahai Sang Kucing� Hamba ragu untuk mencari sejengkal landasan, setitik pijakan, dan sebentuk jati diri di cela-cela barisan kata-katamu yang penuh tanda tanya dan sayap yang berkepak-kepak manja mengitari kalbu. Tapi, andaikan saja hambalah dia yang berada di alam berselubung kabut nun jauh di sana, yang kau sebut "kekasih dalam kabut", hamba akan berseru dengan suara nyaring dan dengan segenap ketulusan hamba kepada setiap malaikat bersayap ganda untuk memboyong engkau, wahai Sang Kucing bermata sendu, pergi dari alam kabut dan dermaga keenggananmu, menuju sang surya di depan pelupuk matamu. Waspadalah, wahai kucing yang manja, agar engkau tidak terperosok ke dalam alam berselimutkan kabut, karena di sana mungkin engkau akan tersesat dalam berlaksa rumpun onak duka yang menusuk nakal lagi kejam. Janganlah engkau mencoba untuk mengikuti jejak dia yang tak bernama, yang mungkin pada saat ini sedang bergumul dengan tetesan darah dan hujan peluh guna membebaskan dirinya dari perangkap kabut kesunyian yang menghalangi tibanya pancaran cahaya sang dewi malam. Wahai Sang Kucing di tepi dermaga tak tersentuh raga, walau mungkin sukma� Janganlah sekali-sekali engkau memuja lara dan merengek manja kepada keengganan karsa, apalagi berpaling dari pancaran dan kehangatan sang surya yang sedia menerangi! Jadikanlah selalu nurani - pengiring sukmamu nan ajaib - lentera sejati, penerang jalan panjang tak bertepi yang mesti engkau tempuh dengan senyuman manis di bibirmu yang mungil, dan dengan sebentuk keyakinan murni yang kuat terpatri di dalam dadamu yang lapang! Jogjakarta, 04 Januari 2003 Supir Becak Kau yang setiap saat mengayuh tanpa mengenal lelah; kau yang selalu bermandikan peluh di bawah pancaran cahaya sang surya di musim panas yang melelahkan dan mengundang sejuta keluhan; kau yang selalu menjadi sasaran empuk tetesan air mata sang langit, di musim hujan yang datang tak beraturan; dan, kau yang sering disingkirkan karena semakin padatnya arus lalu-lintas yang dikuasai para pengemudi kendaraan modern kurang tenggang rasa. Dahulu kau masih dapat menikmati sebentuk kebahagiaan yang terpancar lewat senyuman di wajahmu dan kayuhanmu yang lincah menerjang jalan berbatu-batu yang menanjak; dahulu kau masih bangga menjadi pahlawan pelestarian lingkungan hidup, walau tak selalu disukai, apalagi menyandang tanda penghargaan bertaraf nasional; namun sekarang aku tak tega membayangkan nasibmu, istrimu, dan anak-anakmu untuk tahun-tahun yang akan tiba. Akankah engkau terus bertahan manja? Seiring dengan meningkatnya kebahagiaan manusia untuk menciptakan hembusan asap tebal dari pipa mesin angkutannya, dan menghiasi segala penjuru jalan kota dan desa dengan kendaraan super elok, engkau harus bergelut untuk mencari jalan lain ke Roma. Ya, jalan lain kepada terpenuhinya segala idaman dan impian engkau, istri, dan anak-anakmu. Bila pada suatu saat engkau merasa tak berarti lagi atau tersingkir karena desakan jaman, janganlah engkau jadikan setiap keping kayu yang membentuk kendaraanmu kayu bakar untuk menghangatkan tubuh kurusmu yang kedinginan, dan roda-rodanya mainan anak-anakmu yang membayangkan sebuah masa depan nan cemerlang. Letakkanlah kendaraan anti-pencemaran udaramu seutuhnya di salah satu sudut museum sebagai monumen untuk mengenang masa lampau. Biarkanlah angkatan yang akan datang tetap mengenang kehadiranmu, tetapi tidak untuk mengulangi saat-saat sulit yang telah engkau lalui. Jogjakarta, 04 Januari 2003 |
|||||||
| Kembali | |||||||